Hakim Inggris, Jumat (11/12), memutuskan dua pelaku kekerasan seksual paling berbahaya Inggris, termasuk seorang warga negara Indonesia (WNI), harus mendekam dalam penjara sedikitnya 40 tahun.Jaksa penuntut umum Inggris tadinya menuntut agar Reynhard Sinaga dan Joseph McCann dipenjara seumur hidup karena beratnya kejahatan yang mereka lakukan.

Namun, lima hakim pengadilan banding, termasuk Kepala Pengadilan Inggris dan Wales, Hakim Ketua Ian Burnett, menolak menjatuhkan hukuman seumur hidup.

“Kasus McCann dan (Reynhard) Sinaga, kendati sangat serius, menurut penilaian kami, tidak layak untuk diberlakukan hukuman seumur hidup,” kata Burnett dalam putusan itu.

Para hakim mengatakan kejahatan kedua laki-laki itu termasuk perkosaan paling serius yang pernah diadili di pengadilan Inggris dan Wales.

Mereka menambahkan kedua terdakwa itu tidak menunjukkan penyesalan. Para hakim menaikkan masa hukuman minimal yang harus dijalani dipenjara, dari 30 menjadi 40 tahun.

Reynhard, seorang WNI, dinyatakan bersalah melakukan 159 pelanggaran, termasuk 136 perkosaan dan delapan percobaan perkosaan, dalam empat persidangan berbeda yang dimulai pada Juni 2018 dan berakhir Desember lalu.

Laki-laki 36 tahun itu membujuk banyak laki-laki ke apartemennya di Manchester, Inggris, membius mereka dengan obat lalu memerkosa mereka, dan merekam tindakan perkosaan itu dengan kamera.

Polisi yakin dia mungkin telah menyerang 195 laki-laki. Hakim menyebutnya sebagai “seorang predator seksual berantai yang kejam” dan seorang “monster.”

McCann, 34 tahun, dipenjara pada Januari setelah mabuk dan menyerang 11 orang yang berusia antara 11 dan 71 di dan sekitar London, dan Inggris barat laut.

Hakim yang menghukumnya 37 tahun penjara atas dakwaan perkosaan, kekerasan seksual, penculikan dan pemenjaraan palsu, mengecam McCann sebagai seorang “pengecut, perundung (bully) yang kejam dan pedofil.”

JPU berwenang untuk mengajukan banding atas putusan tertentu di Inggris dan Wales, apabila putusan itu tampaknya “terlalu ringan.”

Hukuman seumur hidup biasanya hanya diberikan pada kasus pembunuhan yang paling serius.

Dalam sidang banding pada Oktober, Jaksa Michael Ellis mengatakan kejahatan kedua laki-laki itu termasuk “yang terburuk dan paling kejam di negara ini.”

Pada Jumat (11/12), dia mengatakan dia berharap agar putusan para hakim itu “memberi semacam penghiburan bagi para korban kejahatan yang keji itu.” [vm/ft]

Indonesia telah mengajukan protes resmi terhadap Inggris, setelah pemimpin separatis yang berbasis di Inggris itu mendeklarasikan pemerintahan Papua Barat di pengasingan. Provinsi Papua telah dilanda pemberontakan separatis tingkat rendah serta kemiskinan dan ketegangan komunal selama puluhan tahun.Benny Wenda, Ketua United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), pekan ini mendeklarasikan diri sebagai presiden pemerintahan sementara baru di Papua, klaim yang dikecam pemerintah pusat.

Dilaporkan oleh AFP, Teuku Faizasyah, juru bicara Kementerian Luar Negeri pada Jumat (4/12), mengatakan Kemenlu memanggil Duta Besar Inggris Owen Jenkins untuk menyampaikan “protes keras” terhadap pernyataan dan aktivitas Benny Wenda.

“Dubes Inggris menjanjikan akan menyampaikan protes keras Indonesia tersebut. Dubes Jenkins juga menegaskan posisi Pemerintah Inggris atas kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI,” katanya dalam pernyataan pada Sabtu (5/12). Kedutaan Inggris tidak berkomentar.

Benny, yang tinggal di Inggris sejak awal 2000an, memimpin salah satu kelompok yang memperjuangkan kemerdekaan Papua. Pemerintah telah menyatakan bahwa dia sudah bukan warga negara Indonesia (WNI). TNI yang ditugaskan memberantas pemberontakan di Papua kerap dituduh melakukan kekejaman terhadap warga sipil Papua.

Provinsi yang miskin itu juga sering dilanda kekerasan komunal dan etnis dalam beberapa tahun belakangan. Seorang juru bicara Kantor HAM PBB pada Senin (30/11) mengatakan organisasi itu “sangat terusik dengan meningkatnya kekerasan dalam beberapa minggu dan bulan belakangan” di Papua. [vm/ft]