Perkembangan dan popularitas kelompok-kelompok gamelan ini karena peran dan dukungan perorangan yang memiliki hobi dan kecintaan pada seni musik gamelan maupun berbagai universitas yang memfasilitasi ketersediaan guru, perangkat gamelan, serta wadah bagi civitas academica yang berminat untuk berlatih dan berpentas.

Selain karena peran dan dukungan perorangan yang mencintai seni musik gamelan, banyak warga Amerika mengenal dan kemudian berminat untuk belajar dan bermain gamelan karena peran perguruan tinggi yang memperkenalkan dan ikut mempopulerkan seni musik itu di kampus.

Banyak perguruan tinggi memasukkan seni gamelan dalam daftar mata kuliah pilihan maupun sebagai konsentrasi dalam jurusan musik. Selain itu, beberapa perguruan tinggi juga menyediakan wadah (tempat dan peralatan) serta guru gamelan bagi kalangan civitas academica yang berminat untuk mengikuti latihan atau sekedar mengapresiasi musik gamelan sebagai kegiatan ekstra kurikuler.

Banyak tokoh musik gamelan dan wayang di Amerika mengakui peran kampus-kampus itu dan mengatakan tidak sedikit dari mereka yang jatuh cinta dengan musik gamelan dan wayang ketika menyelesaikan studi di alma mater mereka.

Pertunjukan wayang kulit dan musik gamelan dari Keraton Yogyakarta digelar di Universitas Yale, New Haven, Connecticut, AS. (Foto: VOA).

Pertunjukan wayang kulit dan musik gamelan dari Keraton Yogyakarta digelar di Universitas Yale, New Haven, Connecticut, AS. (Foto: VOA).

Peran universitas dalam mempopulerkan gamelan dan wayang ini dibenarkan oleh beberapa tokoh gamelan dan wayang Jawa atau Bali di Amerika.

Profesor Sumarsam, diaspora Indonesia yang kini menjabat sebagai guru besar tetap etnomusikologi serta mengajar gamelan di Universitas Wesleyan di Connecticut sejak tahun 1971, mengatakan Universitas California di Los Angeles (UCLA) merupakan perintis berkembangnya musik gamelan di Amerika karena universitas itulah yang pertama kali mamasukkan musik gamelan sebagai salah satu program studi yang ditawarkan.

Prof. Sumarsam, guru besar etnomusikologi, Universitas Wesleyan (foto: dok. pribadi).

Prof. Sumarsam, guru besar etnomusikologi, Universitas Wesleyan (foto: dok. pribadi).

“Gamelan khususnya itu lebih banyak dikenalkan melalui Universitas. Dari awalnya yang memasukkan gamelan dalam kurikulum Universitas yaitu UCLA – University of California Los Angeles – awal 1960an. Lulusan-lulusan dari UCLA yang disiplinnya adalah etnomusikologi mendapatkan pekerjaan di beberapa universitas di Amerika,” paparnya.

Dari universitas, gamelan kemudian dibawa ke luar kampus dan berkembang di masyarakat, hingga membentuk kelompok ensembel gamelan.

“Berkembang memang, berkembang dari hubungannya dengan universitas lalu sekarang ada masyarakat-masyarakat yang punya perkumpulan gamelan. Pernah dihitung sampai 200-an perkumpulan gamelan yang ada di Amerika , tapi saya kira ada yang aktif ada yang nonaktif,” imbuh Sumarsam.

Anggota kelompok gamelan jegog Artha Negara di Santa Cruz, California menujukkan kebolehan mereka.

Anggota kelompok gamelan jegog Artha Negara di Santa Cruz, California menujukkan kebolehan mereka.

Profesor Sumarsam mengatakan bahwa Universitas Wesleyan tempatnya mengajar sangat peduli dengan program world music (musik dunia), terutama dari Afrika, India, dan gamelan dari Indonesia. Ketiga program musik dunia ini terus bertahan dari tahun 1960-an, dan jumlah mahasiswa gamelan sejak itu hingga sekarang tidak mengalami banyak perubahan. Bahkan, katanya pada semester musim semi biasanya banyak mahasiswa yang ditolak karena jumlah pendaftar melebihi kapasitas.

Menurut Profesor Sumarsam, mahasiswa yang mengambil mata kuliah gamelan bukan hanya mahasiswa musik tetapi dari berbagai jurusan lain, misalnya matematika, sains, teknik, ilmu-ilmu sosial dan bahkan studi agama. Selain untuk apresiasi dan pengetahuan, mereka umumnya ingin mendalami rasa kesenian melalui gamelan.

Rasa ingin tahu yang akhirnya menjurus pada pendalaman dan pengabdian penuh pada seni gamelan juga dirasakan oleh Jody Diamond, seorang tokoh dan komonis musik gamelan di Amerika. Dia merasa terpanggil untuk mendalami musik gamelan pada usia 17 tahun ketika mulai kuliah di California Institute of the Arts (Institut Seni California/CalArts). Di kampus itu pula dia pertama kali dalam hidupnya melihat alat musik gamelan yang sangat unik.

Jody mengaku jatuh cinta dengan gamelan pada pandangan pertama di kampus yang didirikan oleh Walt Disney itu dan sejak itu hingga sekarang dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengembangkan dan mempromosikan gamelan di Amerika.

“Saya orang Amerika, tetapi di dalam jiwa saya juga ada orang Indonesia. Kenapa? Karena sejak saya berumur 17 tahun saya jatuh cinta dengan kesenian Indonesia terutama gamelan. Karena saya pengalaman saya dengan gamelan sejak pertama kali saya ketemu, selama hidup saya terlibat dengan kesenian gamelan dalam beberapa peranan, termasuk sebagai murid, sebagai mahasiswa, menjadi guru, juga penulis dan komponis gamelan,” tuturnya.

Jody menceritakan pengalamannya pada awal belajar gamelan ketika dia merasakan ketenangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya,

“Saya mendengar suara kecil di dalam kepala saya, I am going to play this music the rest of my life. Selama saya hidup, saya akan memainkan musik ini. Gamelan menjadi jiwa seni saya. Saya tidak merencanakan belajar musik tetapi gamelan menangkap saya dan saya tetap di dalam kamar gamelan itu sampai sekarang,” tukasnya.

Jody Diamond mengutip seorang gurunya yang mengatakan bahwa dari gamelan orang tidak hanya mendapat pelajaran musik tetapi juga pelajaran kehidupan, tidak hanya pelajaran tentang bagaimana memainkan alat musik tetapi juga “pelajaran tentang bagaimana menjadi orang yang bagus, orang yang halus”, dan karena itulah banyak orang Amerika jatuh cinta dengan gamelan.

“Sebenarnya di dalam pelajaran gamelan ada ilmu kehidupan. Tidak hanya musik, tetapi bagaimana seseorang dapat hidup di dalam dunia ini dengan baik. Saya tahu banyak orang Amerika yang jatuh cinta dengan gamelan karena itu, karena mereka merasa wah saya mendapat ilmu bagaimana saya bisa bekerja sama dengan orang lain, bagaimana saya tidak selalu menonjolkan diri, Saya tidak berperasaan saya orang yang paling penting,” tambah Jody.

Menurut Jody saat ini gamelan Indonesia, termasuk Jawa, Bali, Sunda, Banyumas, sudah ada di lebih dari 25 negara dan menurutnya gamelan merupakan kendaraan kebudayaan Indonesia ke seluruh dunia. “Di Amerika saja ada lebih dari 180 kelompok gamelan,” pungkasnya.

Seorang warga Amerika lainnya, Larry Reed, seorang dalang yang sangat dikenal di dunia perwayangan di seluruh dunia, jatuh cinta dengan gamelan dan wayang Bali sejak dia berkunjung ke Pulau Bali, pada tahun 1970. Sebagai seorang aktor dan sutradara, dia sebelumnya tidak pernah belajar musik, apalagi gamelan. Kunjungannya ke Bali dimaksudkan untuk mempelajari hal yang baru, utamanya seni topeng Bali, tetapi ketika tiba di Pulau Dewata itu, orang-orang yang ditemuinya mengatakan bahwa dia mesti belajar gamelan Bali terlebih dahulu.

“Pada waktu itu saya hanya tertarik dengan teater, terutama dengan topeng-topeng yang ada di Bali. Lantas, ketika saya baru tiba di Bali mereka bilang saya harus belajar main musik dulu, padahal saya sama sekali belum pernah punya pengalaman main musik, bahkan menyanyi pun saya tidak bisa. Waktu di Bali saya melihat topeng dan wayang kulit dan saya tertarik sekali. Itu tahun 1970,” ujar Larry.

Setelah kembali ke Amerika, Larry baru mengetahui bahwa di California ada perguruan tinggi musik, Center for World Music yang mengajarkan musik dari berbagai belahan dunia, termasuk gamelan dari Indonesia. Di situ pula bisa akhirnya menekuni gamelan dan wayang dengan guru dari Indonesia.

“Saya belajar main wayang Jawa dan saya senang sekali dengan itu. Selama beberapa bulan, setiap hari kami belajar dan dalangnya, Pak Umar Topo, menjelaskan berbagai hal tentang Mahabharata yang menarik sekali. Tetapi, sukarnya kalau mau main wayang Jawa alatnya berat dan banyak sekali dan mesti ada banyak penabuh dan sebagainya. Jadi, setelah beberapa tahun saya mulai belajar wayang Bali dengan Pak Nyoman Sumandi di sekolah yang sama, dan saya tertarik sekali dengan itu dan saya bertanya apakah ada kemungkinan saya pergi ke Bali untuk mendalami itu. Sejak itu saya bolak balik pergi ke Bali untuk mendalami lagi selama 20 tahun,” ungkapnya.

Larry Reed menambahkan bahwa dia hormat sekali dengan dunia wayang karena menurutnya filosofi wayang dalam sekali, “tidak kelihatan tetapi penting sekali, dan itulah yang ingin saya bagikan kepada orang lain, termasuk perasaan hormat dan apresiasi kepada orang lain di mana saja. Jadi, saya harus mengakui inspirasi saya datang dari Indonesia, dari wayang, karena filosofinya dalam sekali.”

Selain peran penting universitas-universitas di Amerika dalam memperkenalkan dan mempromosikan seni musik gamelan dan wayang di Amerika, kedutaan besar dan konsulat jenderal Republik Indonesia di Amerika juga memberikan andil yang besar dengan memfasilitasi ketersediaan perangkat gamelan, guru, dan tempat di kantor-kantor perwakilannya di Amerika Serikat. [lt/em]

Siapa sangka kalau negara kecil yang pernah menjajah kita itu memiliki keterampilan agraria yang lebih hebat dibanding dengan Indonesia? Pertanian modern Belanda-lah yang membuat kemampuan mereka menjadi raksasa kedua dalam pengekspor hasil tani. Dan ini bukan hanya di Eropa, melainkan seluruh dunia. Mengalahkan ratusan negara lain yang lahannya lebih luas dan tanahnya lebih subur. Bahkan, ekspor hasil pertanian Belanda mencapai nilai perkiraan 94,5 miliar Euro (1 Euro = 16 ribu rupiah) pada 2019.

Pemerintah Belanda beberapa puluh tahun silam telah paham. Lahan di negara mereka kecil, letak geografis tak bisa membuat mereka produktif di sisi pemenuhan pangan di sepanjang tahun, serta penduduk mereka tidaklah sebanyak negara lain. Kelemahan itulah yang mendorong hasrat mereka untuk memodernisasi pertanian, sehingga aktivitas agraria tak melulu mengandalkan bantuan alam secara natural.

Universitas Wageningen, Pengusung Pertanian Modern Belanda

Universitas Wageningen di Belanda
Universitas Wageningen di Belanda

Bersama Universitas Wageningen, pemerintah Belanda bersinergi untuk mempelajari pertanian dengan ilmu sains. Riset dan penelitian yang mereka lakukan juga tak tanggung-tanggung. Tak heran, banyaknya uang yang pada tahap awal digelontorkan kini terbayar lunas dengan eksisnya nama Belanda di pasar pertanian.

Di Eropa, terdapat sebuah program yang bernama subsidi pertanian. Kerennya, Belanda adalah negara dengan status penerima subsidi terendah. Dari 59 miliar Euro anggaran pertanian Uni Eropa, Belanda hanya menerima sekitar 800 juta Euro. Dan dana tersebut, hampir seluruhnya dialokasikan untuk mendanai proyek menakjubkan yang ditelurkan oleh Universitas Wageningen.

Infografik Subsidi Pertanian Belanda
Infografik Subsidi Pertanian Belanda

Pemerintah Belanda juga menerapkan sistem yang unik bagi individu petani yang menerima subsidi tersebut. Setelah menerima dana, lahan milik petani akan dicek dan diteliti lebih dulu oleh pemerintah Belanda bersama ilmuwan dari Universitas Wageningen. Kemudian, pihak ilmuwan akan mengeluarkan rekomendasi tanaman yang paling ideal ditanam di lahan tersebut. Hal itu tentunya dapat membuat kegiatan pertanian lebih ekonomis dan tepat sasaran.

Dalam programnya, Universitas Wageningen akan meneliti berapa banyak air yang dibutuhkan satu jenis tanaman. Setelahnya, mereka akan membuat formulasi khusus yang dapat membuat kegiatan pertanian menjadi lebih hemat, produktif, dan menekan angka gagal panen. Salah satunya, tanaman tomat.

Budidaya Tomat dalam Ruangan di Belanda
Budidaya Tomat dalam Ruangan di Belanda

Menanam satu kilo tomat di lahan terbuka membutuhkan 60 liter air. Sementara dengan bantuan pertanian modern Belanda, hanya 15 liter air yang dibutuhkan.

Kombinasi Otak dan Teknologi yang Merupakan Kunci Keberhasilan Pertanian Modern di Belanda

Drone dan Tablet untuk Mengawasi Lahan Pertanian di Belanda
Drone dan Tablet untuk Mengawasi Lahan Pertanian di Belanda

Dengan bantuan komputer dan robot, segala sesuatu yang mustahil menjadi mungkin di tangan Belanda. Upaya pemanfaatan potensi pertanian juga dapat berjalan dengan presisi yang optimal. Mereka mampu menentukan dengan tepat di mana, bagaimana dan efisiensi suatu tanaman dapat tumbuh secara maksimal.

Salah satunya pemanfaatan lampu LED dan penghangat ruangan. Pertanian modern di Belanda mengusung konsep pertanian di dalam ruangan. Dengan bantuan cahaya LED yang dimodifikasi agar serupa dengan cahaya matahari, serta penghangat ruangan yang intensitasnya sesuai dengan suhu sinar ultraviolet, maka produktivitas pertanian dapat berjalan sepanjang waktu. Sekalipun pada saat musim dingin.

Selain itu, adapula konsep pertanian vertikal. Dimana tanaman dibuat dengan konsep hidroponik dan disusun secara vertikal. Susunan ini tentunya akan menghemat ruang penanaman, dan sudah pasti dapat meningkatkan hasil dari kegiatan pertanian itu sendiri.

Perkenalkan, Greenbot. Traktor robot yang bukanlah merupakan benda asing lagi bagi petani Belanda. Robot akan mengikuti jalurnya pada rute yang telah diprogram. Robot jenius ini juga akan berhenti secara otomatis jika dihalangi oleh hambatan, dan petani pengelolanya akan diinformasikan melalui pesan teks.

Tak hanya pembajakan lahan, robot-robot lain pun turut berkontribusi dalam pengelolaan sistem pengairan, hingga proses pemetikan saat musim panen telah tiba.

Dan atas seluruh bantuan teknologi yang dikombinasikan dengan otak yang tak lelah mencari inovasi, pertanian di Belanda dapat menjadi besar dan seteratur itu.

Pertanian Terorganisir yang Memikirkan Pula Tentang Keseimbangan Alam

Kawasan Pertanian di Utara Belanda
Kawasan Pertanian di Utara Belanda

Banyak wilayah di Belanda yang berada di dataran rendah. Selain itu, dua sungai besar di Eropa, sungai Meuse dan Rhine, bermuara di kawasan Belanda. Praktis, negara kincir angin ini memiliki potensi diserang banjir dengan frekuensi yang lumayan bilamana terjadi hujan lebat maupun salju di negara dataran tinggi, seperti Jerman dan Belgia.

Pemerintah Belanda yang menyadari celah ini telah melakukan antisipasi sejak tiga puluh tahun silam. Selain pembangunan tata wilayah yang dimodifikasi sedemikian rupa agar tidak terlalu merusak alam, mereka juga membuat agar tanah tetap cocok untuk dihuni dan dijadikan lahan produktif oleh penduduknya.

Di musim dingin, lahan-lahan pertanian yang kosong dijadikan sebagai kawasan banjir kanal agar air dapat mengalir dan tertampung dengan baik. Dengan metode dan sikap kooperatif dari para petani yang rela lahannya dijadikan aliran air di musim dingin, Belanda tak perlu lagi repot-repot membangun tanggul raksasa untuk mengatasi potensi banjir.

Selain itu, pemisahan wilayah pertanian dan perkotaan juga dilakukan secara terukur. Kawasan pertanian pun memiliki lahan khusus untuk beberapa habitat asli seperti burung air untuk dapat tetap merasakan kehidupan yang identik dengan spesies aslinya. Bahkan, di beberapa provinsi, dibuat pula cagar alam dan suaka margasatwa yang jauh dari pemukiman manusia agar kesejahteraan hewan dapat terwujudkan.

Dilirik oleh China

Alumni Mahasiswa/i dari Negeri Tirai Bambu di Belanda
Alumni Mahasiswa/i dari Negeri Tirai Bambu di Belanda

China diketahui merupakan salah satu negara yang cukup gemar mengirimkan mahasiswanya untuk menuntut ilmu ke Belanda. Mengingat besarnya populasi di China, pemerintah China merangsang pemuda-pemudi mereka untuk belajar di Universitas Wageningen. Dengan cara ini, China berharap mendapatkan pengetahuan tentang produksi massal barang-barang pertanian dan teknologi pertanian.

Tak hanya pemuda-pemudi China, orang-orang pemerintahan di China pun demikian. Mereka terus menjaga hubungan baik dengan Belanda dengan cara melakukan kunjungan rutin dengan harapan mendapat inspirasi mengenai pertanian modern di Belanda. Dengan cara ini, China optimis dapat mencukupi kebutuhan pangan warga mereka yang menyentuh angka miliaran.


Jujur, akuilah bilamana industri agraria Indonesia kalah dari Belanda, telak. Negara kita dikenal sebagai negara agraris, namun impor bahan makanan masih saja diberlakukan di sini. Sementara Belanda, lahannya kecil dan penduduknya jauh lebih sedikit, tetapi sanggup untuk merajai pasar pertanian internasional.

Namun bukan berarti kita pun tidak bisa. Selama ada kemauan dan niat yang tinggi dalam pengembangan teknologi dan sumber daya manusia, bukan tak mungkin di masa depan Indonesia akan menyabet predikat yang sama.

Di sisi lain, pengembangan teknologi di bidang pertanian jugalah hal yang mulia. Karena bilamana sebagian besar negara di dunia mampu mengimplementasikan sistem modern ini, maka niscayalah. Kelaparan akan sirna dari atas bumi manusia.

Dalam diskusi yang membahas pemenuhan hak anak berhadapan dengan kejahatan transnasional, Program Officer Migrant Care di Kuala Lumpur, Nor Zana binti Mohamad Amir, bercerita banyak anak pekerja migran asal Indonesia tidak memiliki kewarganegaraan.

Kondisi ini salah satunya disebabkan aturan keimigrasian Malaysia yang melarang sesama pekerja migran menikah atau antara pekerja migran dengan warga Malaysia, apalagi sampai mempunyai anak.

Menurut Nor Zana, anak pekerja migran dapat berstatus tanpa kewarganegaraan kalau pernikahan mereka tidak didaftarkan ke negara atau mendapat pengesahan dari negara. Dia mencontohkan lelaki Malaysia menikah siri dengan perempuan Indonesia yang merupakan pekerja migran tidak berdokumen hingga memiliki anak.

“Ketika orang tua tidak berdokumen, jadi mereka tidak bisa melakukan pendaftaran anak karena akses informasi yang kurang. Ketakutan mereka untuk bergerak dari tempat bekerja atau perkebunan mau ke KBRI karena sering banget razia. Mereka takut kalau sampai ditahan,” kata Nor Zana.

Para pekerja migran dari Indonesia di luar gubuk mereka di Kuala Lumpur, Malaysia, 19 Juni 2011. (Foto: Reuters)

Para pekerja migran dari Indonesia di luar gubuk mereka di Kuala Lumpur, Malaysia, 19 Juni 2011. (Foto: Reuters)

Nor Zana menambahkan Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ibu Kota Malaysia, Kuala Lumpur, sudah mengeluarkan kebijakan dengan menerbitkan surat keterangan kewarganegaraan dan surat pengenal lagi bagi anak-anak pekerja migran dari Indonesia. Namun, lagi-lagi pekerja migran Indonesia kesulitan untuk memperoleh akses informasi dan akses ke KBRI.

Karena itu, Nor Zana menyarankan agar KBRi bekerja sama dengan komunitas-komunitas pekerja migran Indonesia untuk mendata anak-anak pekerja migran Indonesia yang belum memiliki kewarganegaraan.

Persoalan lain yang dihadapi anak pekerja migran Indonesia di Malaysia adalah akses pendidikan. Bagi anak-anak tanpa kewarganegaraan, mereka sulit mendapat akses pendidikan di Malaysia. Mereka hanya bisa mengenyam pendidikan informal, seperti mengaji atau belajar mandiri dengan orang tua di rumah.

Namun bagi pekerja imigran yang telah berstatus warga negara Malaysia atau penduduk tetap, anak-anak mereka dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

“Biasanya situasi di lapangan, itu ketika mereka punya anak dari umur 6 tahun sudah dihantar pulang oleh ibunya nanti ditinggal lagi, ibunya yang ke sini lagi sama bapaknya. Jadi dihantarkan pulang untuk disekolahkan di Indonesia,” ungkap Nor Zona.

Beberapa organisasi masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Malaysia berusaha membantu dengan memberikan pengajaran dan pendidikan agama gratis kepada anak-anak pekerja migran Indonesia. Hal itu mereka lakukan dengan mendatangi komunitas-komunitas pekerja migran Indonesia.

Nor Zana mengatakan pemerintah Indonesia juga sudah mulai memperhatikan pendidikan anak-anak pekerja migran di Malaysia, yakni lewat pemberian beasiswa untuk belajar di Sekolah Indonesia di luar negeri dan Community Learning Center atau pusat belajar komunitas.

Anak-anak pekerja migran di Malaysia tanpa kewarganegaraan juga sulit mendapatkan akses pekerjaan. Mereka juga tidak bisa membuka rekening bank, mengajukan pinjaman, atau membeli kendaraan bermotor. Sedangkan anak-anak pekerja migran berkewarganegaraan Malaysia atau penduduk tetap sangat mudah memperoleh akses pekerjaan.

Para tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia berada di KBRI Kuala Lumpur saat menunggu dipulangkan dari Malaysia (foto: dok.).

Para tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia berada di KBRI Kuala Lumpur saat menunggu dipulangkan dari Malaysia (foto: dok.).

Dihubungi VOA melalui WhatsApp hari ini, Koordinator Penerangan Sosial Budaya KBRI di Malaysia, Agung Cahaya Sumirat menjelaskan KBRI memberikan bantuan keepada warga negara Indonesia yang ingin mendapatkan status kewarganegaraan, termasuk mereka yang tidak berdokumen resmi.

Dia menambahkan situasi di Malaysia cukup rumit. Pekerja migran tidak boleh berkeluarga atau menikah. Tapi faktanya banyak pekerja migran yang menikah.

Meski begitu, lanjut Agung, KBRI Kuala Lumpur tetap melayani warga yang ingin anaknya diakui sebagai warga negara Indonesia.

“KBRI akan mewawancarai orang tua dan jika dapat mereka bisa meyakinkan bahwa mereka memang warga negara Indonesia, maka akan dikeluarkan dokumen Surat Bukti Pencatatan Kelahiran (SBPK),” kata Agung.

Staf KBRI Kuala Lumpur juga rajin mendatangi rumah tahanan imigrasi. Jika ada warga Indonesia yang mempunyai anak, KBRI segera membantu pengurusan SBPK.

Hingga November tahun ini, KBRI Kuala Lumpur telah mengeluarkan SBPK untuk 5.934 anak pekerja migran asal Indonesia. Jumlah ini belum termasuk SBPK yang diterbitkan oleh Konsulat jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Penang, Johor Baru, Kuching, dan Tawau. [fw/lt]

Dalam Arria Formula Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang digelar secara virtual, Jumat (20/11), Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menekankan kepada masyarakat internasional untuk melipatgandakan upaya untuk mencapai kemajuan dalam proses perdamaian di Afghanistan. Menurutnya terciptanya perdamaian tersebut sangat penting bagi rakyat Afghanistan.Retno menambahkan ia sangat terganggu dengan peningkatan kekerasan di Afghanistan yang tahun ini sudah menewaskan sekitar enam ribu warga sipil.

“Keadaan ini menggarisbawahi sangat mendesaknya untuk memulai proses (perundingan intra Afghanistan). Kita tidak punya pilihan lain kecuali untuk memastikan pembicaraan damai bergulir. Pembicaraan damai yang berprinsip Afghan own Afghan let. Pembicaraan damai yang menempatkan rakyat Afghanistan sebagai sentral dari proses tersebut,” kata Retno.

Pada kesempatan itu, Retno juga mendesak masyarakat internasional untuk memperkuat komitmen dan kontribusi mereka supaya perdamaian dapat terwujud di Afghanistan.

Kekerasan di Afghanistan, tambahnya harus dihentikan. Dia mengungkapkan serangan terhadap pasukan keamanan pemerintah Afghanistan warga sipil meningkat 50 persen selama Juli hingga September.

Kekerasan yang terus berlanjut tambahnya hanya akan merusak upaya-upaya dalam membangun rasa saling percaya di kalangan rakyat Afghanistan sendiri dan akhirnya akan mendelegitimasi proses perdamaian. Karena itu, masyarakat internasional bertindak cepat untuk menghentikan semua kekerasan di Afghanistan.

Retno juga menyatakan sekaranglah saatnya bagi masyarakat internasional ambil bagian dalam penyelesaian konflik di Afghanistan. Dia menyerukan kepada 15 anggota Dewan Keamanan PBB untuk tetap bersatu untuk kepentingan rakyat Afghanistan. Dia meminta semua negara mengesampingkan perbedaan dan kepentingan nasional masing-masing.

Retno juga meminta kepada masyarakat internasional untuk meningkatkan bantuan untuk menciptakan kondisi kondusif di lapangan, memajukan kapasitas sumber daya manusia agar mampu mengelola negara sendiri, dan memberikan dukungan ekonomi bagi Afghanistan.

Menurut Retno, sinergi antara PBB dan proses perdamaian di Afghanistan harus diperkuat sehingga mampu menciptakan situasi dan kondisi yang sangat kondusif untuk terwujudnya perdamaian. Untuk memastikan proses perdamaian berlangsung inklusif, peran PBB juga penting, termasuk dalam isu pemberdayaan perempuan dalam bidang politik.

Retno menegaskan perdamaian bukan sekadar menguntungkan bagi rakyat Afghanistan tapi juga untuk neara-negara di kawasan dan dunia. Indonesia berkomitmen mendukung bangsa Afghanistan sampai berhasil mencapai perdamaian.

Presiden Afghanistan, Mohammad Ashraf Ghani, 14 November 2020.

Presiden Afghanistan, Mohammad Ashraf Ghani, 14 November 2020.

Dalam pertemuan informal Dewan Keamanan PBB tersebut, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menyampaikan perjuangan rakyat Afghanistan hanya bisa dicapai kalau semua rakyat dan masyarakat internasional bersatu untuk mewujudkan itu.

“Perdamaian adalah prioritas rakyat Afghanistan dan menjadi fokus pemerintahan saya. Pada Februari 2018, saya menyampaikan tawaran tanpa syarat kepada Taliban, menawarkan pentingnya perdamaian ke dalam dialog nasional dan internasional,” ujar Ghani.

Pada 2019, loya jirga (majelis besar rayat Afghanistan) membentuk kerangka kerja untuk proses perdamaian di Afghanistan. Kemudian pada Agustus 2019, loya jirga mengadakan pertemuan yang menyetujui pembebasan 400 anggota Taliban dari penjara.

Dalam dua tahun terakhir, lanjut Ghani, rakyat Afghanistan menyepakati sebuah konsensus nasional mengenai pentingnya perdamaian melalui kesepakatan politik dengan Taliban. Ghani menegaskan perdamaian adalah sebuah konsep yang sesuai dengan konstitusi Afghanistan dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Dalam pertemuan informal Dewan Keamanan PBB ini hadir pula menteri luar negeri dari Qatar, Estonia, Jerman, Finlandia, dan Norwegia. [fw/em]