MALUT-POST-SOFIFI Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku Utara (Malut), terpaksa mengalihkan dana embarkasi haji yang dialokasikan sebesar RP 2 miliar tahun ini. Langkah pengalihan anggaran ini, seiring dengan pembatalan keberangkatan jama haji asal Indonesia. Ini diakui Ketua tim Anggaran pemerintah Daerah (TAPD) Provinsi Samsuddin A. Kadir, kepada Malut Post, dua hari lalu.

Sekertaris Provinsi (Sekprov) ini menyampaikan, pengalihan anggaran tersebut baru akan dilakukan pada perubahan APBD nanti.” Anggaran emberkasi haji masih ada di Biro Kesra, Kita tunggu pembahasan perubahan anggaran barulah dialihkan ke pos kegiatan lain,” aku Samsuddin Dia menjelaskan, Keberangkatan Ibadah haji telah dibatalkan pemerintah pusat, karena pemerintah arab saudi tidak memberikan kepastian kuota untuk indonesia tahun ini. Sehingga anggaran emberkasi haji yang telah dialokasikan RP 2 miliar terpaksa diahlikan ke pos kegiatan lain yang sifatnya urgen.” Kegiatan apa yang urgent, nanti diputuskan saat pembahasan APBD perubahan nanti,” tambahnya.

Keterangan Samsuddin ini, berbeda dengan pihak Kesra. Menurut Kabag Agama Biro Kesra, setdapov Maluku Utara, Fadly U. Muhammad, anggaran embarkasi haji RP 2 miliar tidak bisa lagi digeser ke pos kegiatan lain, karena sudah masuk dalam perhitungan refocusing anggaran tahun ini. “Kebijakan refocusing ini Biro kesra juga kena,salah satu item kegiatan yang masuk adalah anggaran emberkasi,” akunya.

Fadly menjelaskan, setah adanya keputusan pembatalan keberangkatan haji dari pemerintah pusat. Dan bertepatan dengan kebijakan refocusing anggaran, pihaknya langsung memasukan anggaran emberkasi haji sebagai salah satu anggaran yang direfocusing.” Ya kita langsung ajukan refocusing kegiatan emberkasi, karena ibadah haji sudah dibatalkan,” tutupnya (din/udy)

MALUT-POST-SOFIFI Audit rumah ibadah yang dilakukan Inspektorat pemprov Maluku Utara (pemprov) Malut, ternyata jauh dari ekspektasi publik. Lihat saja temuan kerugian yang dihasilkan, hanya mencapai RP 135 juta, temuan itupun hanya pada pembangunan Masjid Desa Leleo Jaya, sementara pembangunan Masjid Desa Marituso Nihil.

Meski begitu, Komisi III DPRD Provinsi (pemprov), tidak bisa berbuat banyak.” kita hanya ikut hasil audit dari Inspektorat, karena itu menjadi wewenang mereka yang melakukan audit,” kata Ketua Komisi III DPRD Maluku Utara, Zulkifli Hi. Umar, Rabu (16/7).

Zulkifli menambahkan, sesuai hasil diskusi bersama komisi III dengan Inspektorat, audit yang melakukan hanya pada pelaksanaan kegiatan, sementara proses perencanaan tidak dilakukan audit. Sehingga temuan Ispektorat hanya berkisar RP 135 miliar.” kenapa yang diaudit hanya pekerjaannya, karena Inspektorat beralasan tidak dilibatkan dalam proses perencanaan,” katanya. Bahkan Masjid Desa Marituso yang anggaranya RP 418 juta, kemudian pekerjaan hanya 20 persen, lalu hasil audit nihil, Zulkifli mengaku, tidak bisa mengomentarinya.” Iya kalau kita lihat dari progres pekerjaan, ya sudah pasti temuanya besar, tapi dari hasil audit Inspektorat tidak ada temuan. Kita mau bagaimana lagi,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, pansus LKPJ 2019, pada pembangunan Masjid Al Mubaraq Desa Kukupang Kasiruta Barat, nilai kontrak RP 409.567, pembangunan Masjid Loleo jaya Kecamatan Kasiruta Timur, nilai kontrak tahap II tahun 2019 RP 784.298 juta dan tahap I tahun 2018 RP 804.492, juta dengan total anggaran RP 1,5 miliar dan proyek pembangunan Masjid Desa Marituso, Kecamatan Kasiruta Timur nilai kontrak RP 418.866 juta, laporan progres keuangan 100 persen, progres fisik 100 persen, namun fakta dilapangan pekerjaan hanya sekitar 20 persen. (din/udy)

MALUT POST – TERNATE. Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate tidk mengizinkan pelaksanaan pawai takbir keliling pada malam ke 29 Ramadan. Takbiran akan dilakukan di masjid masing-masing kelurahan.

“Saya tidak melarang kegiatan ela-ela (juga takbir, red), yang dilarang itu takbir keliling. jadi takbir dilaksanakan di mesjid masing-masing,” ucap Wali Kota Ternate, M Tauhid soleman, kemarin (7/5).

Disamping itu, Dinas Kebudayaan Kota Ternate merencanakan prosesi penyalaan api obor pada malam ela-ela, dipusatkan di mesjid Kesultanan Ternate, tepatnya pada malam ke 27 Ramadan (malam ini).

Plt kepala dinas Kebudayaan Kota Ternate, Mohdar Din mengatakan, karena saat ini masi dalam masa pandemi Covid-19, maka digelar secara sederhana guna menghndari kerumunan.

Sebelum penyelaan api obor, akan diawali dengan acara buka puasa bersama antara Wali Kota, Wakil Wali Kota, Sekda, Dinas Kebudayaan, Serta Bubato akhirat danBubato Dunia dari Kesultanan Ternate. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembacaan doa dari pihak kesultanan, dan kemudian pidato singkat dari Wali Kota.

“Setelah itu baru dilanjutkan dengan ritual bakar ela-ela, sederhana itu saja, setelah itu selesai sudah,” terang Muhdar. Bersama Pemkot Ternate Muhdar juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Kota Ternate, karena penyelanggaraan malam ela-ela kali ini tanpa diiringi pawai obor, atau pun perlombaan sebagaimana tanhun-tahun sebelumnya.

“Saya bersama pemerintah kota ternate menyampaikan permohonan maaf, kalau lomba ela-ela tidak dapat dilaksanakan tahun ini, karena masih dalam kendisi pandemi covid-19,” tuturnya. (tr-01)

Alya Sarah Lawindo, 19 tahun, tak seperti kebanyakan remaja di Amerika. Setiap akhir pekan, Alya mengajari anak-anak belajar mengaji secara virtual, dari rumahnya di Arlington negara bagian Virginia.

Souma (5 tahun), salah seorang murid Alya Lawindo di madrasah. (Photo courtesy orang tua Souma)

 

Souma (5 tahun), salah seorang murid Alya Lawindo di madrasah. (Photo courtesy orang tua Souma)

“Bunda dari dulu pernah jadi guru ngaji di madrasah sudah bertahun-tahun. Dan pas Alya sudah remaja, Alya mikir udah waktunya buat ngajarin anak, apalagi di komunitas Muslim Indonesia di Amerika sini,” ujar Alya kepada VOA.

Murid-murid yang diajarinya berusia lima hingga 12 tahun, seperti Souma.
“Dia baik… sabar… dan cantik,” kata bocah lima tahun ini kepada VOA.

Menjadi relawan madrasah telah dijalani Alya sejak lima tahun lalu.“Yang paling besar reward-nya jadi guru ngaji itu bisa lihat improvement anak-anak. Bulan pertama ngaji masih agak kaku, atau masih belajar tadjwid-nya. Pas sudah selesai, bisa keluar, bisa move on ke kelas yang berikutnya.”

Ketekunan Alya dalam menjadi relawan, diakui oleh IMAAM, organisasi yang mengelola madrasah, dengan memberinya Penghargaan Relawan Muda pada 2019.

Lestarikan Budaya Minang

Selain mengajar sukarela, mahasiswi S1 Hubungan Internasional di American University ini juga aktif melestarikan seni budaya Minang bersama Rumah Gadang USA. Sanggar itu didirikan pada 2007 oleh kedua orangtuanya yang berasal dari Sumatera Barat.

Alya Lawindo bersama orangtua, Muhammad Afdal dan Nani Afdal, pendiri sanggar Rumah Gadang USA. (Photo courtesy: Muhammad Afdal)

 

Alya Lawindo bersama orangtua, Muhammad Afdal dan Nani Afdal, pendiri sanggar Rumah Gadang USA. (Photo courtesy: Muhammad Afdal)

Sang Ayah, Muhammad Afdal, mengatakan, “Alhamdulilah waktu kita pertama kali (dirikan), Alya sangat berminat sekali karena waktu kecil kita kemana-mana selalu putar lagu Minang, di rumah pun kalau ada video, putar video Minang.”

Menurutnya penting untuk meneruskan budaya agar tidak luntur. “Saya melihat ini kalau kita tidak kenalkan, kita akan kehilangan generasi, mereka akan hanya kenal budaya Amerika saja,” tambah laki-laki yang berasal dari kabupaten Agam ini.

Sejak usia enam tahun, Alya mulai belajar tarian dan nyanyian Minang. Keterampilannya terus diasah. Kini dia fasih berbahasa Minang, pandai bermain biola, bermain Randai, teater khas Minangkabau, hingga berpantun.

“Tigo balai barumah gadang

adonyo di pakan sinayan

ambo ketek jolong ka gadang

kok salah tolong ingekan.”

Bersama Rumah Gadang USA, dia telah tampil dalam berbagai pertunjukkan di seluruh AS.

Alwa Lawindo melakukan tari piring dalam sebuah pertunjukkan di AS. (Photo courtesy Muhammad Afdal)

 

Alwa Lawindo melakukan tari piring dalam sebuah pertunjukkan di AS. (Photo courtesy Muhammad Afdal)

“Mengikuti bermacam festival di antaranya Richmond Folklife Festival, Smithsonian Folklife Festival, the Kennedy Center, dan negara bagian lain… Di samping itu kami sering mengisi acara budaya di KBRI Washington DC,” paparnya.

Dan saat pandemi, dia diundang mengisi seminar virtual sebagai “padusi milenial” oleh Minang Diaspora Network baru-baru ini.

Afdal mengaku bangga dengan putrinya yang tetap memegang teguh adat budaya, meski jauh di Amerika, seperti pepatah Minang, “Setinggi-tingginya bangau terbang, namun pulangnya ke kubangan jua. Sejauh-jauhnya pergi merantau, kampung halaman terbayang jua.” [vm/nr]

MALUTPOST.TERNATE – Meski sudah ada edaran Pemerintah Kota (Pemkot) TErnate, terkait larangan berjualan takjil buka puasa dibawah pukul 15.00 WIT, namun hal itu tampak belum diindahkan oleh sebagian pedagang.

Satpol PP selaku penegak Perda, kemarin (15/4) mulai melakukan sosialisasi kepada para pedagang yang masih bandel. Dalam pengecekan di lapangan, masih ditemukan banyak pedagang takjil yang berjualan di bawah pukul 15.00 WIT. Kepala Bidang Krantib Satpol PP Kota Ternate Usman Wakano mengatakan, pihaknya memaklumi bahwa kemarin baru memasuki hari ke tiga Ramadhan. Sehingga dimungkinkan masih ada sejumlah pedagang yang belum mengetahui, atau belum mendapat edaran tersebut.

“Maka hari ini (kemarin) kami mulai melakukan pengecekan di lapangan, serta memberikan sosialisasi. Karena edaran itu juga baru diedarkan pada H-1 Ramadhan.

Sehingga ada segaian besar pedagang yang belum terdistribusi,” kata Usman.

Namun, Usman menegaskan hari ini masih ditemukan pedagang yang berjualan tidak sesuai edaran, maka akan diterbitkan.

“Penjual takjil ini kan baru berjalan beberapa hari, dan saat pengecekan oleh pejabat wali kota mereka juga mengaku belum menerima edaran. Makanya kita sosialisasi. Jadi kalau besok (hari ini) masih melanggar, maka akan kita tertibkan,” tandasnya. (tr-01/yun)

Sejak lima tahun terakhir, aparat keamanan Indonesia terus melakukan penangkapan anggota JAD di Tanah Air. Upaya ini semakin gencar pada periode di mana anggota atau simpatisan organisasi tersebut baru saja melakukan aksi kekerasan. Namun, ini tidak mudah karena sel JAD lebih mandiri dan tidak terikat pada struktur utama.

Dalam perbincangan dengan VOA, peneliti terorisme asal Australia Jordan Newton, mengurai sejarah JAD, di mana ide sebuah organisasi pro-ISIS di Indonesia pertama muncul pada 2014. Ketika itu, sejumlah ekstremis Indonesia melakukan baiat atau janji setia kepada ISIS. Salah satu tokoh utamanya adalah Aman Abdurrahman, yang berbaiat dari dalam penjara.

Peneliti terorisme, Jordan Newton. (Foto: Dok Pribadi)

Peneliti terorisme, Jordan Newton. (Foto: Dok Pribadi)

“Mereka berharap untuk membentuk sebuah kelompok yang bertindak sebagai jembatan, antara ekstremis di Indonesia dan militan di Suriah dan Irak. Mereka berharap suatu hari akan menjadi provinsi resmi ISIS di Indonesia,” papar Jordan.

Jordan Newton adalah konsultan program-program melawan ektremisme dengan kekerasan dan telah bertahun-tahun mengkaji gerakan radikal di Indonesia. Dia juga mantan analis kontraterorisme yang bekerja untuk pemerintah Australia.

Sejarah Singkat JAD

Pada November 2015, JAD resmi berdiri di Batu, Jawa Timur, dan segera menarik ekstremis kelompok lain. Mereka terutama sisa-sisa simpatisan Darul Islam dan NII, anggota Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) binaan Abu Bakar Ba’asyir, dan simpatisan organisasi lain, seperti Majelis Mujahidin Indonesia dan Front Pembela Islam (FPI).

Pemimpin Jemaah Ansharut Daulah (JAD) Zainal Anshori dikawal oleh polisi bersenjata setelah sidang pengadilan di Jakarta pada 31 Juli 2018. (Foto: AFP/Bay Ismoyo)

Pemimpin Jemaah Ansharut Daulah (JAD) Zainal Anshori dikawal oleh polisi bersenjata setelah sidang pengadilan di Jakarta pada 31 Juli 2018. (Foto: AFP/Bay Ismoyo)

Jordan menyebut, JAD mengarahkan dan mendukung serangan teroris Thamrin 2016 yang dipuji ISIS. Mereka terlibat bom bunuh diri 2017 yang menarget polisi di Kampung Melayu dan bom bunuh diri 2018 yang menarget gereja dan polisi di Surabaya.

“Serangan paling merusak dari serangan-serangan ini adalah pengeboman Surabaya 2018, meskipun dalam serangan tersebut mungkin peran JAD sangat sedikit, karena sebagian besar perencanaan dan pelaksanaan diserahkan kepada sel kecil dalam keluarga yang terlibat,” tambah Jordan.

Namun, secara umum aksi JAD lebih sering gagal. Aksi Thamrin 2016 dikritik ekstremis lain dan mantan anggota JI karena tidak berhasil dan senjata yang digunakan berkualitas rendah. Ada juga pengeboman yang gagal di Bandung pada 2017, ledakan dini di Sidoarjo 2018 serta serangan yang hanya menjadikan anggota JAD sebagai korban dan bukan polisi sebagai target, seperti yang terjadi di Tuban pada 2017 dan Cirebon pada 2018.

“Kadang sulit mengetahui kapan JAD benar-benar terlibat penyerangan. Bagi polisi, JAD menjadi sebutan untuk pendukung ISIS. Dalam beberapa tahun terakhir, ketika polisi menyebut seseorang sebagai “anggota JAD”, maka yang mereka maksud adalah pendukung ISIS,” papar Jordan.

Sebutan ini lebih tepat, karena sejumlah pelaku serangan tidak berkontak dengan JAD, tetapi mendukung ISIS. Mereka menjadi radikal karena teman atau mengakses propaganda di media sosial. Karena investigasi masih berlangsung terkait serangan di Makassar dan Mabes Polri, Jordan menyarankan untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Informasi awal, ujarnya, menunjukkan bahwa serangan itu dilakukan oleh pendukung ISIS, bukan anggota JAD.

“Pakar seperti Sidney Jones bahkan menekankan bahwa mengatakan penyerang Makassar berasal dari JAD Makassar adalah kesimpulan yang problematik, karena ada perpecahan dan cabang-cabang yang terpisah di JAD Makassar,” tambahnya.

Polisi bersiap meledakkan bahan peledak di Sibolga pada 14 Maret 2019, menemukan dari tersangka dalam tahanan polisi yang diidentifikasi sebagai anggota Jemaah Ansharut Daulah (JAD). (Foto: AFP/Rommy Pasaribu)

Polisi bersiap meledakkan bahan peledak di Sibolga pada 14 Maret 2019, menemukan dari tersangka dalam tahanan polisi yang diidentifikasi sebagai anggota Jemaah Ansharut Daulah (JAD). (Foto: AFP/Rommy Pasaribu)

Seiring waktu, kata Jordan, JAD sebagai label menjadi kurang membantu untuk memahami kelompok ekstremis. Lebih banyak ekstremis mengidentifikasi diri mereka sebagai pendukung ISIS atau Anshar Daulah daripada sebagai anggota JAD. Mereka saling terkait, bukan oleh organisasi, tetapi komitmen bersama terhadap ideologi ISIS dan keinginan melawan pemerintah Indonesia.

Satuan kontraterorisme Indonesia, tambah Jordan, menjadi bagian penting yang membuat JAD sering gagal beraksi. Polisi menangkap ratusan anggota JAD sejak 2016, khususnya setelah pemboman Surabaya 2018. Penerapan undang-undang kontraterorisme baru membuat mereka lebih agresif menangkap anggota JAD, bahkan ketika mereka baru pada tahap awal rencana aksi. “Organisasi” nasional JAD sekarang vakum, sementara sejumlah cabang lokal terus aktif, tetapi mayoritas hanya memiliki sedikit kontak atau koordinasi dengan cabang lain.

Aksi Saling Terkait

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Muhammad Syauqillah, kepada VOA mengatakan ada sejumlah kaitan yang bisa menghubungkan pelaku aksi di Indonesia akhir-akhir ini dengan ideologi ISIS.

“Ada kesamaan kalau kita lihat dari sisi ISIS. Ada warga negara Indonesia yang pergi ke Suriah, salah satu motivasinya adalah dia berjihad, di mana dengan berjihad dia bisa memberikan syafaat. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Zakiah Aini, di mana dia juga punya keiginan untuk memberikan syafaat,” ujar Syauqillah.

Direktur Program Studi Kajian Terorisme, UI, M Syauqillah Ph.D. (Foto: Dok Pribadi)

Direktur Program Studi Kajian Terorisme, UI, M Syauqillah Ph.D. (Foto: Dok Pribadi)

Syafaat secara sederhana dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memberikan keselamatan bagi orang-orang terdekat dari hukuman akibat dosa yang dilakukan. Dalam surat wasiat pelaku bom dan serangan ke Mabes Polri baru-baru ini, hal tersebut memang disinggung.

Selain itu, penanda keterkaitan pelaku aksi JAD dan ISIS adalah keterlibatan perempuan. Di era Jamaah Islamiyah, laki-laki lebih berperan sebagai martir dan perempuan menjadi bagian pendukung. Sementara ISIS menempatkan perempuan juga sebagai aktor utama.

Kecenderungan ini, kata Syauqillah, tergambar dalam Global Terorism Index 2019 dan 2020, yang mencatat naiknya peran anak muda dan perempuan dalam aksi terorisme selama lima tahun terakhir. Syauqillah juga mengutip data penelitian yang menyebut hampir separuh dari sekitar 200 pelaku teror berusia 21-40 tahun, sedang 54 dari 200 itu rentang usianya 21-30 tahun.

“Yang tergabung dengan ISIS banyak yang berusia muda, orang Indonesia yang pergi ke Suriah juga banyak generasi muda,” tambah Ketua Program Studi Kajian Terorisme SKSG UI ini.

Struktur organisasi JAD juga tidak begitu jelas dengan aksi yang cenderung sporadis dan kadang dilakukan sendiri atau lone wolf. Sementara JI sangat rapi, setidaknya tergambar dari kemampuan mereka mengorganisir upaya pendanaan yang melibatkan lebih dari 13 ribu kotak amal, seperti diungkap kepolisian akhir tahun lalu, lanjut Syauqillah.

Karena berbagai ketidakjelasan terkait JAD inilah, pencegahan berperan penting. Program kontra narasi, kontra radikalisasi, kontra terorisme, dan program sejenis harus terus didorong. Semangatnya adalah mencegah seseorang terpapar dan menjadi bagian dari kelompok teroris. Ditegaskan Syauqillah, operasi penangkapan yang terus dilakukan polisi memang legal.

Seorang polisi berjaga di lokasi ledakan di luar sebuah gereja di Makassar pada 28 Maret 2021. (Foto: AFP/Indra Abriyanto)

Seorang polisi berjaga di lokasi ledakan di luar sebuah gereja di Makassar pada 28 Maret 2021. (Foto: AFP/Indra Abriyanto)

“Karena perencanaan tindak pidana teror itu dimungkinkan untuk ditangkap. Kalau kita lihat, 228 pelaku tindak pidana terorisme di tahun 2020 itu kan kebanyakan perencanaan teror. Jadi secara hukum dilegalkan menurut Undang-Undang Nomor 5 tahun 2018,” kata Syauqillah.

Semangat Undang-Undang Terorisme, ujarnya lagi, adalah mencegah orang melakukan tindakan teror dan mencegah agar seseorang tidak melakukan atau terpapar ideologi terorisme. Tantangannya adalah kemampuan melakukan kontra narasi sebagai upaya pencegahan dan itu membutuhkan kerja keras.

“Apalagi ini sasarannya milenial, tantangannya adalah soal teknologi digital,” pungkas Syauqillah. [ns/ab]

Negara Paling Islami di Dunia — Setiap jam-jam salat, merdunya kumandang adzan tak pernah absen menggema di telinga kita. Masjid-masjid sahut menyahut, berusaha memanggil setiap umat Muslim di sekitarnya untuk menuntaskan kewajiban mereka. Apalagi kalau bukan ibadah. Wujud syukur dari seorang insan kepada Penciptanya.

Kondisi yang sama dapat ditemui pula di negara-negara lain, terutama yang penduduknya mayoritas pemeluk agama Islam. Bahkan, beberapa negara yang Islam bukanlah agama mayoritasnya pun mengizinkan praktik ini diberlakukan. Toleransi, sebuah kondisi indah dimana sesama umat saling menerima diversitas beragama.

Di balik kebiasaan ini, fakta mencengangkan justru menampar banyak umat Islam di dunia. Ketika banyak negara Timur Tengah yang berusaha menjadi seislami mungkin, ternyata harus kalah bilamana dikomparasikan dengan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an itu sendiri.

Negara manakah yang paling taat terhadap inti dari keislaman? Iakah, Arab Saudi? Palestina? Yaman? Suriah? Bukan, negara ini berada tenggara peta Dunia. Negara yang ternyata mayoritas penduduknya bukanlah orang Islam. Dan yang lebih menjadi pecut teguran, lima besar tertingginya bukanlah negara dengan mayoritas penduduk Islam.

Selandia Baru, Negara Paling Islami di Dunia

Pada tahun 2019 silam, cendikiawan Muslim dari seluruh dunia—termasuk Indonesia—menyusun sebuah data yang menampilkan hasil di luar prediksi. Negara paling Islami dalam tata kelola dan masyarakatnya yaitu Selandia Baru. Diikuti oleh Swedia, Islandia, Belanda, dan Swiss. Negara-negara Islam sendiri malah kurang Islami tata pemerintahan dan masyarakatnya.

Indeks Negara Paling Islami di Dunia
Indeks Negara Paling Islami di Dunia

Peringkat ini tidak menghitung ibadah personal seperti salat, berpuasa, haji. Aspek penghitungan diukur berdasarkan faktor-faktor masyarakat dan pemerintahan Islami sesuai Al Qur’an dan Hadits. Faktor yang dimasukkan ada 46, dipisah dalam empat kategori, mulai dari ekonomi, hukum dan pemerintah, kemanusiaan dan hak asasi, serta hubungan internasional.

Sudahkah Keislaman Tercermin dari Negara-negara yang Mengaku Islam?

Ini Emirat Arab adalah negara Islam pertama yang menduduki posisi paling tinggi dalam indeks tersebut. Sayangnya, peringkatnya cukup bontot, ke-44 dari 151. Kita pun demikian, peringkat 61. Sebagai negara dengan penduduk Muslim yang sangat tinggi, hal ini adalah sebuah pukulan telak agar kita lebih menginstropeksi diri.

Mengapa yang unggul justru adalah negara-negara yang penduduk mayoritasnya bukan Islam? Karena nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Islam yang terutama adalah nilai kemanusiaan. Rendahnya kepastian hukum, korupsi yang tinggi, sampai kebijakan ekonomi yang tidak konsisten, adalah alasan mengapa kita tak cukup Islami dari ketentuan yang tertera pada Al-Qur’an dan Hadits itu sendiri.

Sudahkah masyarakat dan pemerintah kita bersinergi dalam membangun kedisplinan, keadilan, dan kejujuran? Ah, mungkin teramat jauh. Tak perlu berangan-angan tinggi, barang yang tergeletak saja masih sering raib bilamana diletakkan sembarangan. Parahnya, kita malah menyalahkan pemilik barang dengan dalih “siapa suruh ditaruh sembarangan?”

Jepang, contohnya. Negara yang menduduki peringkat ke-16 pada indeks tersebut. Di Jepang, kalau pergi ke foodcourt misalnya, tas berisi barang berharga bisa ditinggal begitu saja di meja saat kita ke counter atau toilet. Dijamin tidak hilang. Islam mengajarkan kejujuran dan melarang keras praktik pencurian, bukan?

Soal lain-lain, misalnya suap. Islam mengajarkan bahwa baik yang disuap maupun yang menyuap itu dikutuk oleh Allah. Tapi berapa banyak diantara kita yang menyuap saat ada masalah birokrasi? Berapa yang kita bayar saat buat KTP yang mestinya gratis? Berapa yang kita bayar saat melanggar lalu lintas agar prosesnya dipercepat?

Kemudian, masalah pendidikan. Kualitas otak anak-anak di negara muslim secara rata-rata tak mampu unggul dalam kancah internasional. Padahal ayat pertama yang turun bisa ditafsirkan agar kita selalu belajar. Perintah untuk membaca, Iqra. Mirisnya, dalih bahwa ilmu agama lebih penting dibanding ilmu pengetahuan seringkali dijadikan tameng untuk mengelak.

Hal-hal di atas barulah beberapa aspek. Masih teramat banyak aspek lainnya yang dijadikan indikator penilaian.

Hubungan Amerika-Indonesia, menurut pengamat, akan lebih baik di bawah pemerintahan Biden-Harris nanti. Pendekatan pemerintahan Biden yang dinilai lebih dialogis, diyakini membuka peluang hubungan baik dengan banyak negara, termasuk Indonesia, selain berlanjutnya normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara jazirah Arab, dikenal sebagai Abraham Accords.

Presiden terpilih AS Joe Biden

Presiden AS Terpilih, Joe Biden

Dalam tulisannya yang terbit pada awal tahun ini di Majalah Foreign Affairs, “Why America Must Lead Again,” Joe Biden mengatakan, sebagai presiden ia akan mempererat kemitraan dengan Indonesia untuk memajukan nilai-nilai bersama di kawasan yang akan menentukan masa depan Amerika.

Setelah Biden menjadi presiden terpilih, Prof. Tirta Mursitama, pengamat internasional dan kepala departemen Hubungan Internasional Binus University di Jakarta mengatakan, “Dianggap bahwa Indonesia masih sebagai mitra yang penting, sebagai jembatan ‘perseteruan’ antara Amerika dan Tiongkok. Ini hal yang tidak bisa disepelekan. Siapapun presiden Amerika Serikat, partai apapun, pasti dia akan datang mendekati Indonesia.”

Tetapi, Prof Tirta mengingatkan, tidak akan banyak perubahan pada Indonesia karena, “kalau demokrat itu berkuasa, isu-isu HAM kita pasti direcokin gitu. Mungkin ada isu Papua, mungkin juga penghormatan soal kaum minoritas. Itu mungkin akan menjadi PR buat kita tapi, menurut saya, kita tidak terlalu khawatir karena itu merupakan juga bunga-bunga dari satu hubungan luar negeri. Persoalan di domestik kita seperti apa, pasti juga kita akan meminta mereka menghormati juga masalah kita.”

Tirta kemudian mengajak masyarakat optimistis. Menurutnya, Biden menjadi kesempatan sekaligus tantangan, seperti apa politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, pada masa depan.

Dino Patti Djalal, Mantan Wakil Menlu RI dan Dubes RI untuk AS (foto: courtesy).

Dino Patti Djalal, Mantan Wakil Menlu RI dan Dubes RI untuk AS (foto: courtesy).

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, yang juga mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika, Dr. Dino Patti Djalal menilai Biden sangat peka terhadap kepentingan umat dan dunia Islam. Salah satu alasannya, karena Biden adalah wakil presiden semasa pemerintahan Presiden Obama. Pendiri dan juga ketua Foreign Policy Community of Indonesia itu mengatakan pemerintahan Obama memang secara sistematis berusaha memperbaiki hubungan dengan dunia Muslim dan Biden bagian dari itu. Ia mengakui upaya Obama itu tidak 100% efektif karena ada polling di dunia Islam yang menunjukkan beberapa negara tidak mempan. Image Amerika masih tidak terlalu baik di negara-negara tersebut, termasuk di Timur Tengah.

“Saya sangat meragukan, mohon maaf sekali, meragukan Presiden Biden akan mendorong perdamaian Israel-Palestina karena sekarang ini prioritasnya adalah tentu, nomor satu adalah COVID dan kedua adalah pemulihan ekonomi. Paling tidak untuk dua tahun pertama, dia tidak akan bisa mendorong perundingan Palestina Israel, dan ini mungkin bad news bagi Palestina. Tapi good news-nya, presiden Biden nanti akan beda dari presiden Trump dalam arti dia tidak akan mau menuruti Israel,” ulas Dino Djalal.

Pengamat lain, Dr. Muhamad Ali, dosen dan juga ketua program Middle East and Islamic Studies pada University of California Riverside berharap solusi dua negara bagi hubungan Israel dan Palestina akan terwujud. Sedangkan untuk Indonesia, ia optimistis akan dicapai hubungan dan kerjasama dalam banyak bidang, termasuk pendidikan.

Pada masa pemerintahan Biden-Harris, menurut Muhamad Ali, kemungkinan akan ada lagi utusan khusus untuk negara-negara Islam. Sedangkan khusus untuk Indonesia, Ali memperkirakan, “Saya kira akan melanjutkan US Indonesia Strategic Partnership dalam bidang militer, sains dan teknologi, kemudian juga isu perubahan iklim, itu juga akan dilanjutkan kembali, kemudian juga mungkin pembangunan infrastruktur ya, ikut membantu jaringan internet komunikasi teknologi dan lain-lain. Kemudian interfaith building mungkin, kerjasama dialog antar agama di Indonesia juga mungkin akan semakin didorong mungkin dengan technical assistance atau mungkin dengan dana dan lain-lain.”

Ali juga memperkirakan, dalam pemerintahan Biden Harris kelak akan terjadi peningkatan dalam kerjasama bidang pendidikan. Dan itu, menurutnya, adalah kemitraan yang paling strategis. [ka/ab]