Fakta mencengangkan tentang Jepang — Sebagai sebuah negara maju, kesan positif tentunya melekat di kepala kita ketika mendengar negara Jepang. Terbayang kecanggihan teknologi, kesopanan dan kedisiplinan budayanya, serta paras tampan dan cantik penduduknya.

Sayangnya, semua yang kasat mata ternyata tak sepenuhnya istimewa. Negara yang pernah memainkan peran antagonis di benua Asia ini ternyata memiliki banyak fakta mencengangkan nan kelam yang tak banyak diketahui orang. Apa saja? Berikut fakta mencengangkan tentang Jepang:

1) Fenomena Hikikomori yang Semakin Meresahkan

Hikikomori di Jepang

Di Jepang, Hikikomori adalah kondisi psikologis yang membuat orang menutup diri dari masyarakat, sering tinggal di rumah mereka, dan enggan bersosialisasi. Tak tanggung-tanggung, mereka yang terjerat dalam fenomena ini bisa berdiam diri di rumah sampai berbulan-bulan!

Kita mengenal Jepang sebagai negara yang sangat sistematis, terstruktur, dan maju. Terdengar elegan, namun ternyata inilah faktor pendorong timbulnya fenomena ini. Kemajuan itu menuntut masyarakatnya untuk selalu perfeksionis, hingga menciptakan kesan kaku dan dipenuhi tekanan.

Fenomena yang diidap oleh setengah juta penduduk Jepang ini kebanyakan dialami oleh penduduk berusia remaja hingga pemuda. Tekanan sosial dari lingkungan dan bahkan keluarga sendiri membuat mereka merasa lebih nyaman dengan kesendiriannya di rumah. Selain itu, bullying adalah penyebab terbanyak lainnya.

Para Hikikomori menjadi semakin banyak karena banyaknya siswa atau orang muda yang frustrasi dengan lingkungan mereka yang penuh dengan bully, kesempatan kerja yang sempit, atau bosan dengan kehidupan yang ada di sekitar mereka. Mereka akhirnya mengandalkan orang tua untuk terus menopang hidup mereka, tak sedikit yang berujung dengan bunuh diri karena merasa sia-sia.

2) Masalah Etika yang Begitu Kompleks

Di Jepang, hal yang mungkin dianggap remeh oleh manusia di belahan bumi lain dapat menjadi besar. Ketatnya budaya disiplin dan malu yang secara turun temurun melekatlah sebabnya. Sekali lagi, terdengar begitu ideal. Akan tetapi, dampaknya terhadap individu dapat berbuntut panjang.

Di Jepang, ada sebuah tradisi bernama Harakiri. Tradisi yang cukup fenomenal di zaman dahulu itu adalah cara orang Jepang untuk mempertahankan harga dirinya, baik karena kesalahan maupun rasa malu. Sayangnya, Harakiri ternyata bukanlah sesuatu yang enteng. Harakiri adalah jenis tindakan bunuh diri dengan menyobek perut menggunakan katana.

Fenomena Harakiri di Jepang

Meskipun dewasa ini praktik tersebut semakin menurun, akan tetapi para pelaku Harakiri masih ada, terutama dari mereka yang lahir dari latarbelakang keluarga yang kental budaya. Mirisnya, penyebabnya kebanyakan sepele. Rasa malu atau bersalah akibat perbuatan yang tak sejalan dengan konsep etika Jepang.

3) Jam Kerja yang Sangat Panjang, Namun Kontras dengan Produktivitas

Di Jepang, waktu untuk bekerja seakan mengisi 75 persen dari aktivitas harian orang dewasa. Budaya malu yang besar membuat mereka masih akan terus bekerja untuk pulang lebih larut dari senior mereka. Mereka juga malu bila harus membawa pulang pekerjaan mereka, sehingga negara tersebut masuk ke dalam salah satu negara dengan jumlah jam kerja paling panjang di dunia.

Jam kerja tertinggi di dunia

Dari tabel di atas, mungkin masih ada negara-negara gila kerja lain di atas Jepang. Akan tetapi, tabel produktivitas di Jepang juga menduduki urutan yang jomplang.

Produktivitas kerja tertinggi di dunia

Lagi-lagi, inilah yang menjadi faktor lain yang mendorong penduduk Jepang semakin merasa stres dalam menjalani kehidupan mereka. Pekerjaan dengan beban dan waktu yang menggembung, namun produktivitas dan penghasilan yang tak seberapa.

4) Masalah Populasi I; Tergerusnya Populasi Muda

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan dimana ras Jepang dapat punah dalam beberapa puluh tahun kedepan apabila masalah populasi tak kunjung terselesaikan. Miris, ungkapan tersebut bukanlah omong kosong semata. Semenjak tahun 2008 silam, angka kematian sudah melebihi angka kelahiran di Jepang.

Angka kelahiran dan kematian di Jepang

Penyebabnya bervariasi, namun rendahnya angka pernikahan adalah salah satu pendulang utamanya.

Angka pernikahan dan perceraian di Jepang

Dari grafik di atas, kita dapat melihat bahwa angka perceraian masih rendah, namun angka pernikahan terus menurun. Begitu pula dengan angka kelahiran yang lebih rendah daripada kematian. Hal ini menarik, karena rupanya ada kecenderungan dari penduduk Jepang yang cukup umum saat ini untuk menunda pernikahan, tidak menikah sama sekali, dan banyak juga yang menikah namun berkomitmen untuk tidak punya anak.

Selain itu, isu ketimpangan gender juga membuat wanita di Jepang enggan menikah, atau menikah tanpa mau memiliki anak. Dalam indeks Gender Gap oleh PBB, dari 149 negara, wanita Jepang ada di peringkat 110 sebagai negara dengan perbedaan status terbesar antara Lelaki dengan Wanita. Para wanita menyiasati hal ini dengan mengurangi “beban” mereka, dengan tidak mau mempunyai anak.

Untuk mengatasi tingkat kelahiran yang terus menurun ini, pemerintah Jepang melakukan banyak upaya seperti menjamin biaya sekolah anak, mendukung wanita untuk berkarir dan memiliki emansipasi sesuai perkembangan jaman. Bahkan Jepang mendukung para wanita untuk tidak berganti nama belakang setelah menikah, agar memberikan kesan bahwa wanita kini sudah setara dengan pria.

5) Masalah Populasi II; Overpopulasi Lansia

Lansia Jepang

Pola hidup sehat masyarakat Jepang membuat jumlah manula di sana sulit berkurang, karena hampir seluruhnya berumur panjang. Tercatat, Jepang memiliki lansia dengan jumlah terbanyak di dunia.

Negara Jepang memiliki lansia terbanyak

Hal ini tidak diinginkan pemerintah, karena lansia sudah tidak produktif. Mereka cenderung menjadi beban negara karena tidak bekerja, akan tapi terus membutuhkan biaya hidup. Banyak diantara mereka tidak memiliki pensiun sehingga mengandalkan pemerintah. Beberapa bahkan rela dipenjara demi bisa terjamin hidupnya.

Mereka beranggapan bahwa di penjara jauh lebih baik, karena makan mereka ditanggung. Mereka bahkan mendapat perawatan kesehatan gratis di penjara. Biaya panti jompo sangat mahal, mereka malu jika terus bergantung pada anak-anak mereka, sehingga penjaralah yang menjadi pilihan.

6) Maraknya Pernikahan Aneh

Bukan, ini bukan pernikahan sesama jenis. Bukan juga pernikahan dengan hewan. Melainkan;


Berefleksi dari fakta mencengangkan tentang Jepang di atas, sejatinya pencipta jargon Cahaya Asia itu bukanlah negara yang sempurna. Banyak masalah internal yang terjadi dalam dinamika kehidupan mereka.

Apakah profis siap tinggal di Jepang?