MALUT POST – TERNATE. Dugaan korupsi anggaran pengadaan kapal Nautika di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Malut terus diproses tim penyidik tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati Malut.

Setelah beberapa waktu lalu belasan saksi dipanggil dan dimintai keterangan secara marathon, tim penyidik kembali mengagendakan pemeriksaan saksi ahli. Ini disampaikan langsung oleh Plh Asipidsus Kejati, Damrah Muin saat dikonfirmasi, Senin (16/11).

“Untuk pemeriksaan ahli akan dijadwalkan Semua tergantung tim penyidik,” aku Damra di kantor Kejati. Saat ini, kata Damra, tim masih terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. “Kalau untuk saksi ahli ini berasal dari luar Malut. Jika semua sudah dilakukan pemeriksaan, tim ekspos kasus dalam ekpos nanti akan dihadiri pimpinan,” ungkapnya.

Karena itu, kepastian hukum sering dengan penetapan tersangka dalam kasus Nautika, sambung Darma, baru akan diketahui setelah gelar ekspos. “Tergantung hasil pemeriksaan dan masukan dari tim penyidik. Hasil ekspos akan disinkronkan lewat keterangan yang ada, baik saksi dari pihak terkait maupun saksi ahli,” tambahnya.

Untuk diketahui, tim penyidik Pidsus telah melakukan pemeriksaan terhadap 13 saksi. Mereka diantaranya Ketua Pokja ULP Malut berinisial R, Sekretaris Pokja insial M dan IS sebagai Tim Pemeriksa Barang.

Selain itu, tim penyidik juga sudah meminta keterangan Direktur Utama (Dirut) PT. Tamalanrea Karsatama berinisial IR diikuti tiga saksi lainnya. Sebanyak tiga saksi yang dimaksud yakni HT dari pihak rekanan ZH selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan RMN sebagai PPTK.

Tidak sampai di sini saja, sebelum itu, penyidik juga melakukan pemeriksaan terhadap 3 orang saksi lagi. Masing- masing mantan Plt Kadikbud Malut, JH serta mantan Kadikbud berinisial IY alias Imran dan mantan Bendahara berinisial N.

Proyek pengadaan kapal Nautika di Dikbud diperuntukkan bagi SMK Swasta di Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) tahun 2019 kemarin. Biaya pembelian kapal Nautika ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai Rp 7,8 miliar. Proyek pengadaan kapal lalu dikerjakan PT. Tamalanrea Karsatama.

Selain kapal, PT Tamalanrea Karsatama juga merupakan pemenang tender proyek pengadaan alat simulator yang dialokasikan ke tiga SMK. Yakni SMK Negeri 1 Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), SMK Sanana di Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) dan SMK Negeri 1 Kabupaten Halmahera Barat (Halbar). (mg-07/aji)