MALUTPOST.DARUBA – Entah apa yang merasuki pikiran IF (34), sehingga dia tega mencabuli balita yang baru berusia 2 tahun. Padahal, korban adalah cucu tirinya sendiri. Aksi bejat kakek muda yang berprofesi sebagai tukang bentor ini dilakukan saat istrinya RN (39) yang merupakan nenek korban serta ibu korban (19) berada di luar rumah.

Kejadian ini diduga berlangsung sejak Januari lalu, namun baru terbongkar sekarang. Peristiwa ini terjadi di salah satu Desa pada kecamatan Morotai Selatan, Pulau Morotai. “Cucu saya akhir-akhir ini sering menangis. Ketika ibunya bertanya dia mengaku alat kelamin sakit. Tapi karena dianggap sakit biasa, saya bersama ibunya, tidak menaruh curiga,” cerita RN, kemarin (8/2).

Karena keseringan mengeluh sakit, ibu korban lalu menanyakan penyebab sakit tersebut. Akhirnya korban bercerita bila pelaku sering melakukan tindakan asusila. Awalnya mereka tidak percaya, namun pada suatu saat, ketika ibu korban pergi bekerja, anaknya dititipkan kepada pelaku. Saat di kamar, korban menangis, RN saat itu masih berada di rumah lalu mengintip melalui sela-sela dinding yang terbuat dari papan. Alangkah kagetnya, melihat pelaku berbuat tidak senonoh kepada balita berusia 2 tahun itu. “Saya langsung ketuk pintu dan masuk serta menanyakan apa yang pelaku lakukan kepada korban, dia hanya menjawab tidak lakukan apa-apa dan langsung pergi,” cerita RN.

Menyaksikan perbuatan pelaku secara langsung, RN bersama ibu korban W, lalu melaporkan kejadian ini ke Polres Pulau Morotai. Usai dari Polres, korban langsung di visum di RSUD. “Saya kaget ketika dokter bilang pada kelamin korban ada tindakan kekerasan. Ibu korban langsung menangis,” ujarnya. Saat ini, korban mengalami trauma dan takut tinggal di rumah saat ibunya pergi bekerja. Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pulau Morotai, AIPTU Ilham Banyo, dikonfirmasi membenarkan adanya laporan terkait kasus dugaan kekerasan seksual. “Laporan kemarin sudah masuk di SPKT, sementara kami lagi koordinasi dengan Dinas Sosial,” ucapnya.

Meski sudah dilaporkan, pelaku masih bebas berkeliaran dan belum di tahan. “Kami belum lakukan penahanan, karena masih merampungkan semua bukti-bukti. Kalau sudah lengkap baru kami lakukan penahanan,” tutupnya. (tr-04/rul)

MALUTPOST.TERNATE – Jumlah kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di tahun 2020, mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Ini berdasarkan data yang dilaporkan di dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kota Ternate. Pada tahun 2019 jumlah kekerasan terhadap anak hanya 5 kasus, dan 9 kasus kekerasan terhadap perempuan. Tetapi di tahun 2020 justru meningkat menjadi, 15 pada kekerasan anak dan pada perempuan.

Hal tersebut mendapat sorotan dari akademisi ilmu hukum Universitas Khairun Ternate Arisa Murni Rada SH.,MH. Menurutnya, perlindunan hukum terhadap anak maupun perempuan dijamin dalam undang-undang. Jaminan yang dimaksud yakni hak untuk tumbuh, berkembang, dan bebas dari tindakan diskriminasi dan penelantaran.

“Ini yang harus diperhatikan. Jika angkanya meningkat, artinya pemenuhan anak sebagai perwujudan perlindungan hukum masih belum maksimal. Harus dipastikan apakah hak-hak mereka sudah terpenuhi atau tidak,” ujarnya. Arisa mengatakan, memang faktanya di tengah pandemi ini mempengaruhi tingginya angka kekerasan, baik terhadap perempuan maupun anak. Banyak faktor yang mempengaruhi, misalnya buruknya kondisi finansial terutama bagi mereka yang tidak lagi bisa bekerja karena pandemi. Kemudian beban ganda orang tua yang harus mengurusi hal-hal domestik, sekaligus mendampingi anak belajar daring dan sebagainya.

“Kondisi ini mempengaruhi psikologi, sehingga tidak hanya Kota Ternate, tapi beberapa daerah juga melaporkan tingginya angka kekerasan khususnya terhadap anak dan perempuan,”ungkapnya.

Kata Arisa, pada pasal 22 UU perlindungan anak menegaskan, negara dan pemerintah daerah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan sarana, prasarana dan ketersediaan sumber daya manusia dalam penyelengaraan perlindungan anak. Menurutnya rencana pembangunan teman religi bagi anak di setiap kecamatan sah saja,jika itu dinilai sebagai salah satu langkah atau upaya pencegahan.

Dosen hukum pidana ini mengatakan, pendekatan yang dilakukan Pemkot harus berbasis akar permasalahan. Menurutnya, rata-rata kasus kekerasan anak pelakunya orang dewasa. Jadi alangkah pendekatan yang dilakukan pemda itu lebih tepat sasaran.

Misalnya, dinas sosial bisa membantu memfasilitasi pemulihan ekonomi keluarga, dilakukan sosialisasi yang intens tentang perlindungan hukum terhadap perempuan dan anak. Serta penegak hukum mengoptimalkan langkah-langkah menindaklanjuti dan memproses pelaku agar ada efek jera.

“Secara teoritik, bicara upaya penanggulangan kejahatan dalam konteks menekan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, bisa diupayakan dari dua hal. Yakni upaya penal dan non penal atau sering kita dengar upaya preventif dan represif. Upaya penal menjadi ranah penegak hukum mulai dari tahap penyelidikan di kepolisian hingga persidangan dan pembinaan di lapas. Sedangkan sosialisasi, penyuluhan, pendampingan, penyediaan sarana prasarana itu bagian dari upaya preventif atau pencegahan,” jelasnya mengakhiri. (mg-03/yun)

MALUTPOST.WEDA – Karyawan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) berinisial FSP alias Fanly (25) warga Minahasa Selatan akan segera diadili. Pasalnya, kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dilakoninya hingga korban meninggal dunia itu, saat ini sudah tahap II. Ini berdasarkan surat dari Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Halmahera Tengah Nomor : B-33/Q.2.15/Eku./01/2021 tanggal 22 Januari 2021 perihal pemberitahuan penyidikan sudah lengkap (P.21). Kemudian Surat Pengantar Pengiriman Tersangka Nomor : B/43/1/2021/Reskrim tertanggal 25 Januari 2021 perihal penyerahan tersangka dan barang bukti.

Tersangka disangkakan melanggar pasal rumusan pasa 44 ayat (30 UU RI nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dengan ancaman paling lama 15 tahun dan atau pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiyaan dengan ancaman pidana paling lama 7 tahun. “Dua pasal ini yang disangkakan kepada tersangka. Kita pakai pasal alternatif setelah koordinasi dengan JPU,” kata Kasat Reskrim AKP Abd Halim Rangkuti, Jumat (29/1) kemarin.

Saat ini tersangka dan barang bukti juga sudah diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU), sehingga tersangka sudah resmi menjadi tahanan Jaksa. Sementara Kasi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Yasser Smahati yang dikonfirmasi membenarkan kasus tersebut sudah tahap II. “Polres sudah tahap II kasus ini dan kami sudah terima,” ucapnya. Diketahui kasus ini menewaskan Novelia Johana Magdalena Kemenangan (25) warga Minahasa Selatan. Korban tak lain adalah istri tersangka. Kasus itu terjadi di kamar kos Desa Lelief Swani Kecamatan Weda Tengah, Kamis (1/10) sekira pukul 10.00 WIT.

Saat itu tersangka Fanly bersama istrinya sedang adu mulut di dalam kamar kos. Cek-cok terjadi karena tersangka kesal dengan sikap dan tingkah laku korban. Di mana setiap keduanya bertengkar korban sering membuat status pada instagramnya terkait permasalahan rumah tangga mereka. Tersangka yang tidak lagi mengendalikan emosinya membanting semua barang dalam kamar. Sehingga dispenser, piring dan gelas termasuk air galon berserakan dilantai.

Selanjutnya tersangka kemudian mengambil bensin yang berada didekat pintu lalu menyiram kasur yang disandarkan ke tembok kamar kurang lebih 1/2 liter. Sialnya saat itu tersangka yang sedang memegang korek api gas tanpa sadar menyalahkan korek tersebut. Alhasil uap bensin yang berada di lantai seketika langsung menyambar percikan api yang berasal dari korek gas tersebut. Akibatnya didalam kamar terjadi kebakaran. Keduanya pun terbakar. Namun istrinya meninggal saat mendapat perawatan di RSUD Chasan Boesoirie Ternate. (mpf/met)