Mengapa Berita Hoax Semakin Mudah Tersebar ? – Milyaran pertukaran informasi terjadi setiap harinya di lalu lintas internet. Seseorang di titik paling timur dapat bertukar kabar dengan individu lain di titik paling barat dalam hitungan detik.

Digitalisasi telah mengubah pola komunikasi manusia di bumi. Terutama semenjak pandemi ini, pertukaran informasi secara daring semakin marak dan masif improvisasinya oleh para penggiat digital.

Globalisasi bisa dibilang adalah pedang bermata dua. Di satu sisi mampu menghapus sekat dan penghambat akibat jarak, namun di sisi lain dapat menciptakan konflik antar sesama akibat misinformasi. Misinformasi ini kebanyakan timbul akibat berita hoax.

Secara umum, berita hoax terbagi menjadi beberapa kategori. Konten bernuansa satire atau parodi, konten menyesatkan, konten tiruan, konten palsu, konten yang salah, dan konten yang dimanipulasi. Semua jenis dari hoax di atas dapat kita temui di internet setiap harinya.

Mereka yang Paling Rentan Termakan Berita Hoax

Orang Marah-marah Karena Hoax

Meskipun berita-berita hoax di atas kerap ditemui di internet, namun sudah banyak pula warganet yang dapat membedakan mana konten asli dan hoax. Apalagi mereka yang sedari kecil telah terpapar dengan pengetahuan akan internet, pastinya kemampuan untuk mengidentifikasi parameter keakuratan sebuah berita sudahlah bukan hal yang sulit.

Akan tetapi, tak dapat dipungkiri kalau angka dari mereka yang belum memiliki kemampuan tersebut masihlah tinggi. Mereka yang masuk dalam kategori ini biasanya adalah orang-orang dari lingkungan dengan tingkat edukasi rendah, lingkungan terpencil, atau orang-orang dengan usia lanjut.

Jangan salah, meskipun rasionya rendah, namun justru ini cukup berbahaya. Hoax bagaikan sebuah virus. Sekali dipercaya satu individu, maka individu tersebut akan menyebarkan ke orang lain. Begitu terus, hingga jumlahnya semakin banyak. Ketika jumlahnya tinggi, tak menutup kemungkinan bilamana orang yang tadinya tidak percaya berbalik menjadi percaya. Apalagi, terutama di Indonesia, kita hidup di lingkungan dimana mereka yang berjumlah lebih banyak cenderung lebih dijadikan acuan benar atau tidaknya sebuah informasi.

Kapan Pertama Kalinya Berita Hoax Muncul?

Tak ada yang dapat memastikan kapan pertama kalinya berita hoax muncul. Namun yang pasti sudah ada dari zaman dulu. Bedanya, zaman dulu penyebaran informasi tidak semasif saat ini.

Orang-orang di masa lampau cenderung menjadikan media cetak sebagai acuan informasi mereka. Dimana tentunya, media cetak yang dikelola oleh sebuah organisasi perusahaan pastinya adalah sarana informasi yang memiliki kredibilitas tinggi.

Belakangan Ini, Mengapa Berita Hoax Semakin Mudah Tersebar?

Internet. Di zaman dulu, internet belumlah muncul. Beda halnya dengan sekarang dimana seseorang bisa mengakses informasi melalui internet hanya dengan jari dalam hitungan detik. Belum lagi tren media sosial, media pemberitaan “pesanan” pihak tertentu, hingga forum-forum diskusi yang cenderung memiliki moderasi yang kurang ketat.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Bahkan di negara sekelas Amerika Serikat sekalipun, mereka menghadapi maraknya kampanye hitam pada saat Pemilu kemarin yang dikemas dalam kemasan hoax. Sebuah bukti dimana sekalipun angka mereka yang dapat menangkal hoax telah tinggi, namun bukan berarti hoax dapat dihindari.

Di kala pandemi ini, orang-orang cenderung menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Sosialisasi secara langsung mau tak mau dicekal guna meminimalisir penyebaran COVID-19 yang sedang mewabah. Orang-orang mau tak mau lari ke internet. Ada yang memaksimalkan untuk bertukar kabar, koordinasi saat bekerja, hingga sekedar mencari hiburan.

Masifnya penggunaan internet ini pula yang secara statistik mempengaruhi melonjaknya peristiwa persebaran hoax. Jadi, semua menjadi masuk akal untuk memahami mengapa berita hoax semakin mudah tersebar belakangan ini.

Melawan Hoax, Menyelamatkan Masyarakat

Ya, subjudul di atas tidaklah dibuat-buat. Hoax tak seremeh yang kita pikirkan. Hoax dapat mengeskalasi terjadi konflik, yang tadinya berawal dari individu ke individu, sampai berubah menjadi kelompok ke kelompok. Potensi kericuhan akibat hoax bukanlah hal yang mungkin.

Kita bisa melawan hoax dengan beragam cara. Namun poin fokus yang paling perlu diberi marka yaitu dengan cara mengedukasi diri sendiri terlebih dahulu. Sebelum membaca sebuah informasi yang beredar, pastikan terlebih dahulu bahwa informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Caranya? Dengan meriset kata kunci berita yang tersebar menggunakan mesin pencari, menganalisis dan mengedepankan logika dalam menentukan untuk percaya atau tidak terhadap sebuah informasi, hingga yang paling sederhana, tak perlu menyebarluaskan informasi yang kita sendiri pun masih ragu akan kebenarannya.

Prinsip kerja antivirus — Tentunya profis pernah mendengar istilah virus dalam perangkat komputer maupun gawai, kan? Virus yang dimaksud di sini berbeda dengan virus di dunia nyata, ya. Melainkan sebuah program yang sengaja diciptakan untuk mengacaukan, meretas, hingga menghapus data-data yang berada dalam sistem komputerisasi.

Saat ini, ragam merk antivirus sendiri telah menjamur di internet. Berbagai perusahaan teknologi berlomba-lomba menciptakan sebuah antivirus canggih yang bisa diakses penggunanya. Tipenya pun ada yang gratis maupun berbayar. Namun tentunya, antivirus berbayar memiliki sistem proteksi yang lebih canggih dan minim risiko.

Akan tetapi, pernahkah profis penasaran dengan prinsip kerja antivirus itu sendiri? Tentunya rumit. Namun, kami akan menyajikan dengan sesederhana mungkin mengenai bagaimana cara sebuah antivirus bekerja dalam melindungi perangkat profis.

Cara Antivirus Perangkat Bekerja

Pada dasarnya, metode antivirus bekerja adalah dengan pemindaian atau scanning pada setiap aktivitas di dalam perangkat. Seperti ketika ingin membuka dokumen, mengunduh berkas, hingga mengakses sebuah situs. Bilamana antivirus menemukan program yang mencurigakan, maka program tersebut akan diindikasikan sebagai virus. Di sinilah peran antivirus menghapus berkas tersebut dan mencegahnya melakukan duplikasi.

Tak hanya itu, antivirus juga melakukan pengecekan secara rutin pada setiap berkas di penyimpanan perangkat profis. Pengecekan ini bisa dilakukan secara otomatis maupun manual. Namun biasanya, antivirus berbayarlah yang bisa disetel untuk melakukan pengecekan otomatis secara rutin.

Analogi Antivirus Perangkat

Bila dianalogikan, antivirus adalah seorang intelijen kepolisian. Antivirus melakukan pengawasan secara ketat terhadap setiap celah penyimpanan di komputer maupun gawai. Untuk mengidentifikasi setiap program yang aman dan mencurigakan, antivirus bekerja berdasarkan daftar signature atau ciri-ciri virus. Persis seperti ciri-ciri orang, misal tinggi badan, warna kulit dan sebagainya. Kalau virus cirinya berupa rangkaian hexadesimal seperti pada gambar dibawah, maka kotak merah adalah contoh signature virus.

Cara Kerja Pendeteksi Signature Antivirus

Anggaplah daftar signature virus ini seperti DPO (Daftar Pencarian Orang). Artinya, daftar signature tersebut harus rajin-rajin diperbaharui oleh pengembang program antivirus-nya. Setiap ada virus baru yang diketahui signature-nya, maka signature tersebut dimasukkan dalam program antivirus. Hal ini pula yang menjadikan kegiatan memperbarui versi aplikasi antivirus yang terpasang penting.

Seiring berkembangnya teknologi, kejahatan di internet pun semakin beragam. Para pemrogram virus seakan tak kehabisan akal untuk menciptakan virus yang minim terdeteksi antivirus. Signaturesignature baru tersebut disamarkan dengan teknik tertentu, salah satu contohnya teknik heuristic.

Kembali ke analogi, teknik menyamar ini diumpamakan sebagai penjahat yang sedang menyamar. Seperti misalnya, rambut aslinya hitam. Namun memakai wig berwarna pirang. Tujuannya satu, membuat si intelijen (antivirus) kesulitan untuk mengidentifikasi DPO (signature virus-virus baru).

Apakah Penggunaan Antivirus Efektif?

Secara teknis, tak ada satupun antivirus yang bisa memastikan keamanan sistem seratus persen. Terkadang, antivirus itu sendiri bahkan salah menafsirkan program, dimana sebenarnya program tersebut bersih, namun malah diidentifikasi sebagai signature virus.

Penjahat seringkali selangkah lebih maju dari intelijen kepolisian. Tak hanya di dunia nyata, di dunia virus pun demikian. Satu-satunya cara untuk menjauhi perangkat dari serangan virus adalah dengan tidak mengakses dan mengunduh berkas atau situs yang mencurigakan di internet.

Karena internet itu luas, dan kita tak akan pernah tahu ancaman apa yang ada di dalamnya.