MALUT POST – TERNATE. Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Maluku Utara bersama dibantu sejumlah personil TNI dan Polri melakukan pengeledahan di Lambaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA. Dalam penggeladahan Jumat (9/4), semua blok dan kamar Napi disasar. Rizia kemarin upaya Kemenkumham dalam memperingati Hari Bakti Pemasyarakatan ke- 57 tahun.

Pengeledahan Kemarin dipimpin langsung Kepala Kanwil Kemenkumham Malut, Muhammad Adnan didampingi Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas), Maman Hermawan dan jajaran. Penggeledahan kemarin juga dikawal ketat oleh personil Brimob bersenjata lengkap ditambah personil dari Polsek Pulau Ternate.

Razia yang digelar pagi kemarin dilakukan secara acak. Termasuk 12 kamar yang dihuni Napi dalam perkara narkotika. Dari hasil penggeledahan miliknapi yang terjeret kasus narkotika, petugas tidak menemukan barang-barang terlarang seperti narkoba. Tapi satu handphone berhasil ditemukan. Demikian diakui Adnan, Kepala Kemenkumham Malut yang dikonfirmasi usai pengeledahan. “Alhamdulilah, razia pagi ini (Jumat kemarin, red) kami tidak menemukan satu HP. ketika ditemukan langsung disita,” akunya.

Katanya, upaya yang dilakukan bentuk peringatan terhadap para Napi sehingga ada efek jera. “Direktorat Jenderal Lembaga Pemasyarakatan ingin sekali merubah image masyarakat terhadap kami,” sambungnya.

Selain para Napi, ia juga mengingatkan seluru petugas Lapas supaya tidak terlibat pelanggaran. Apalagi sampai terlibat dalam peredaran atau penyalagunaan narkotika, yang bersangkutan akan ditindak sesuai ketentuan. Saya berharap kepada seluruh jajaran Kemenkumham, Khusus Lapas di seluruh Malut untuk tidak di seluruh Malut untuk tidak main-main,” tegasnya mengingatkan. (mg-03/aji)

Korban Hamil 9 Bulan

MALUT POST – TERNATE. Ini peringatan orang tua agar lebih memperketat pengawasan terhadap anak dan tidak mudah percaya terhada[p orang yang baru dikenal. Apalagi jika mereka baru saja hadir ditengah-tengah kita sebagai bagian dari keluarga.

Seperti yang dialami Bunga (Bukan naman sebenarnya). Anak yang masih berusia (15) tahun ini mengalami trauma dengan suami ternyata berinisial MF (36). Bagaimana tidak, MF diduga kuat melakukan persetubuhan terhadap Bunga hingga hamil 9 bulan. Berdasarkan informasi yang diterima menyebutkan, aksi bajat MF dilakukan sejak lama dan baru terbongkar tanggal 15 januari, awal tahun 2021 kemarin. Ini dilakukan MF pada siang dan sore hari, saat situasi rumah kontrakan yang dihuni korban dalam keadaan sepi. Diruma kontrakan yang ada disala satu Kelurahan Kecamatan Pulau Ternate, korban diketahui tinggal bersama sang nenek berinisial NT (46).

Sedangkan MF yang berprofesi sebagai petani sudah berkeluarga. Dalam aksinya, MF kerap berkujung ke rumah kontrakan yang dihuni korban bersama sang nenek. Dirimah kontrakan itulah, MF diduga menyetubuhi ponakan istrinya sendiri. Aksi bejat MF kerap dilakukan setiap kali melihat korban habis mandi. Karena hanya menggunakan handuk, gairah MF lalu memuncak. Lantaran tidak tahan dengan kemolekan tubuh si korban, MF dengan nekat menyetubuhi sang korban. Kejadian ini terbongkar pada awal tahun kemarin setelah korban memberanikan diri mengadukan perbuatan MF ke pihak keluarga. Setiap kali selesai melampiaskan nafsu bejatnya, pria dua anak ini selalu mengancam korban.

Setelah dilaporkan ke Polsek Pulau Ternate, MF yang kini ditetapkan sebagai tersangka sudah mendekam di sel penjara. Kapolsek Pulau Ternate. IPTU Indah Fitria Dewi melalui Kepala Unit (Kanit) Reserse Kriminal (Reskrim), Bripka Azwar P. Sirajudin, saat dikonfirmasi Sabtu (3/4) kemarin, membenarkan informasi tersebut.

Pasca ditetapkan sebagai tersangka, berkas perkara MF sudah diserahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) untuk diperiksa. Penyerahan berkas memiliki tersangka dilakukan penyidik, Maret kemarin. “Kami sedang menunggu petunjuk dari Kejari,” akunya. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang dilakukan, pria dua anak ini dijerat pasal 81 ayat (1) dan ayat (2) Jo pasal 76D undang-undang RI nomor 35 tahun 2014, sebagaiman diubah kedalam undang-undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak. (mg-03/aji)

Sebuah laporan yang disusun Perkumpulan Advokat HAM (PAHAM) Papua dan KontraS Papua menunjukkan tren kekerasan tetap tinggi pada tahun 2020. Konsentrasi aparat keamanan dan pendekatan persoalan yang diterapkan diduga menjadi faktor.

Laporan berjudul “Orang Papua Dilarang Bicara” itu disusun berdasar monitoring dan investigasi kasus-kasus kekerasan di Papua, yang melibatkan TNI dan Polri. Kedua lembaga itu memberi perhatian lebih pada empat wilayah konflik, yaitu Kabupaten Intan Jaya, Nduga, Maybrat dan Kota Timika. Menurut Yohanis Mambrasar dari PAHAM Papua, laporan ini tidak terkait konflik bersenjata yang melibatkan Organisasi Papua Merdeka (OPM) maupun Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TNPB).

Yohanis Mambrasar, advokat dari PAHAM Papua, dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi)

Yohanis Mambrasar, advokat dari PAHAM Papua, dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi)

“Saya tidak bicara soal kontak tembak atau konflik antara pihak TNI dengan OPM. Saya bicara soal dampaknya terhadap masyarakat sipil. Orang-orang, masyarakat biasa, yang tidak tahu apa-apa tetapi kemudian menjadi korban kekerasan,” kata Yohanis.

PAHAM Papua dan KontraS Papua membagi kasus kekerasan yang dilakukan aparat TNI dan Polri di Papua tahun 2020 dalam tiga motif. Ketiganya adalah motif politik dengan 35 kasus, motif ekonomi tiga kasus dan motif arogansi 25 kasus.

Kekerasan bermotif politik berkaitan dengan kegiatan politik, seperti. pembubaran paksa demonstrasi damai menolak Otonomi Khusus (Otsus) mahasiswa Universitas Cenderawasih pada 28 September 2020 yang disertai penangkapan dan penganiayaan sejumlah mahasiswa. Contoh lainnya adalah penangkapan 55 orang Papua peserta Rapat Dengar Pendapat (RDP) Majelis Rakyat Papua (MRP) di Kota Merauke pada 17 November 2020; dan penembakan Elias Karungu dan anaknya, Selu Karunggu pada 8 Juli 2020 di Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga.

Tentara dan polisi duduk di atas mobil saat berpatroli di Wamena, Papua, 9 Oktober 2019. (Foto: Antara/M.Risyal Hidayat via REUTERS)

Tentara dan polisi duduk di atas mobil saat berpatroli di Wamena, Papua, 9 Oktober 2019. (Foto: Antara/M.Risyal Hidayat via REUTERS)

Kekerasan bermotif ekonomi terkait dengan aktivitas pengamanan proyek investasi. Contohnya adalah penangkapan Pontius Wakom pada 21 April 2020 di Aifat, Maibrat. Kemudian penembakan dua warga Timika, yaitu Eden Armando Babari dan Roni Wandik pada 13 April 2020, dan terbunuhnya warga Boven Digoel, Marius Batera, pada 16 Mei 2020.

Sementara motif arogansi, semata-mata muncul karena sikap aparat keamanan. Contoh kasusnya adalah penganiayaan terhadap tiga warga Sorong Selatan — Saulus Melkior Wugaje, Dominggus Aifufu, dan Chiko Momot – pada 16 Agustus 2020. Serta kekerasan terhadap empat warga Tambrauw, yaitu Neles Yenjau, Karlos Yeror, Harun Yewen, dan Piter Yenggren, pada 28 Juli 2020.

“Jadi tren kasus ini ikut meningkat, seiring dengan gejolak politik Papua yang beberapa tahun ini semakin meningkat. Jadi ada faktor gerakan politik, yang dikendalikan oleh perlawanan politik kelompok-kelompok yang di hutan dan di masyarakat sipil,” tambah Yohanis.

Rasio Aparat Keamanan Tinggi

Peneliti Papua di Universitas Georgetown, Amerika Serikat, Dr Veronica Kusumaryati, mencoba mengaitkan kondisi yang dilaporkan itu dengan jumlah aparat keamanan di Papua dan Papua Barat. Mengutip pernyataan TNI pada 16 Juli 2019, direncanakan akan ada penambahan 31 Kodim baru di Maluku, Papua dan Papua Barat. Di Papua dan Papua Barat akan dilakukan penambahan sekitar 12 ribu Bintara Pembina Desa (Babinsa), dari 50 ribu yang saat ini sudah ada.

Peneliti Papua di Universitas Georgetown, Amerika Serikat, Dr Veronica Kusumaryati dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi)

Peneliti Papua di Universitas Georgetown, Amerika Serikat, Dr Veronica Kusumaryati dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi)

Data polisi menyebut jumlah personel mereka di Papua pada 2019 adalah 11.984 dan di Papua Barat ada 4.300 personel. Kapolda Papua Barat, menurut catatan Kusumaryanti, juga menargetkan penambahan 10 ribu personel pada 2021-2022.

Kusumaryanti kemudian menyandingkan angka itu dengan jumlah penduduk Provinsi Papua, yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) adalah 4.338.916. Dengan angka itu, disertai penambahan Babinsa dan personel polisi, maka rasio aparat keamanan dibanding penduduk Papua adalah 14,5 : 1.000.

“Saat ini Papua rasionya sudah 15 aparat per seribu penduduk. Jadi ini adalah konsentrasi aparat keamanan paling tinggi di Indonesia. Dan kalau kita melihat bahwa orang Papua (asli) itu setengahnya, dan kebanyakan polisi atau operasi keamanan ditargetkan ke orang Papua, maka itu bisa dikalikan dua, jadi sekitar 30 aparat per seribu orang Papua,” kata Kusumaryati.

Dia kemudian membandingkan dengan Provinsi Jawa Tengah yang memiliki 34,5 juta penduduk. Provinsi ini memiliki 38 Kodim, 26 ribu anggota TNI dan 35 ribu polisi. Jika dihitung, kata Kusumaryati, hanya ada dua aparat keamanan untuk setiap seribu penduduk di Jawa Tengah.

Perbandingan lain yang menurut Kusumaryati cocok disandingkan adalah dengan Aceh. Pada tahun 2002, dalam status darurat militer, jumlah penduduk Aceh 4,1 juta. Sementara ada 40 ribu anggota TNI dan 14 ribu polisi di sana ketika itu.

Data kekerasan yang disusun PAHAM Papua dan Kontras Papua.

Data kekerasan yang disusun PAHAM Papua dan Kontras Papua.

“Kalau kita lihat Aceh waktu itu, rasio aparat dengan penduduk ini 13 per seribu penduduk. Jadi kesimpulannya, jumlah aparat per penduduk jauh lebih banyak di Papua, daripada di Aceh ketika darurat militer,” tambahnya.

Kebijakan pemerintah pusat juga berdampak pada jumlah kasus kekerasan. Melihat kasus Aceh, di masa pemerintahan Presiden Habibie tercatat ada 949 korban kekerasan. Sementara di masa Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, korban turun drastis menjadi 294 orang, dan kemudian naik lagi di masa Presiden Megawati menjadi 662 orang. Kusumaryanti mengatakan, penambahan pasukan non organik berbanding lurus dengan peningkatan jumlah korban.

Otsus dan Pendekatan Keamanan

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua, Emanuel Gobay, menilai kekerasan yang terjadi tidak lepas dari kebijakan pendekatan keamanan yang diambil. UU Otonomi Khusus Papua nomor 21/2021, pasal 4 ayat 1 jelas menyebutkan bahwa pertahanan dan keamanan langsung dikendalikan pemerintah pusat. Menurut Gobay, ketentuan itu menunjukkan bahwa pemerintah pusat diberikan legalitas mengatur kebijakan keamanan di Papua.

Para pengunjuk rasa berteriak dari truk polisi menyusul demonstrasi yang menyerukan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri di wilayah Papua yang dikuasai Indonesia, di Jakarta, 1 Desember 2016. (Foto: REUTERS/Darren Whiteside)

Para pengunjuk rasa berteriak dari truk polisi menyusul demonstrasi yang menyerukan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri di wilayah Papua yang dikuasai Indonesia, di Jakarta, 1 Desember 2016. (Foto: REUTERS/Darren Whiteside)

“Yang kemudian sangat-sangat disayangkan yaitu, yang memiliki kewenangan pengawasan dalam hal ini DPR Papua, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang Otsus memberikan legitimasi kepada pemerintah pusat untuk melakukan pengedropan (pengerahan aparat keamanan-red),” kata Gobay.

Gobay juga mempertanyakan, apakah pendekatan keamanan dalam bentuk pengerahan aparat keamanan tambahan di Papua, sudah dibicarakan di DPR. Atau, dalam bentuk berbeda, apakah Presiden memiliki dasar hukum yang khusus, seperti Perppu atau Keppres untuk mengatur persoalan ini.

Seorang petugas polisi mengevakuasi warga Papua setelah bentrokan antara aparat keamanan dan pemberontak separatis, di Mimika, Papua, 8 Maret 2020. (Foto: Antara/Sevianto Pakiding via REUTERS)

Seorang petugas polisi mengevakuasi warga Papua setelah bentrokan antara aparat keamanan dan pemberontak separatis, di Mimika, Papua, 8 Maret 2020. (Foto: Antara/Sevianto Pakiding via REUTERS)

Gobay juga mengingatkan, Indonesia telah meratifikasi Konvensi Jenewa 1949. Terlepas dari siapa yang dihadapi aparat keamanan di Papua, TNI dan Polri yang menjadi representasi alat keamanan negara, harus tunduk dan mengimplementasikan prinsip-prinsip dalam konvensi itu.

“Dalam hal ini kemanusiaan. Kan sangat lucu, ketika kita melihat masyarakat sipil menjadi korban, baik itu korban pelanggaran hak hidup maupun pelanggaran lain seperti pengungsian,” ujarnya. [ns/ab]

Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, mengatakan polisi telah menangkap 23 orang yang berkaitan dengan bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, yang terjadi pada Selasa (28/3) pekan lalu.

“Total sampai hari ada 23 orang dari tiga tempat tersebut,” kata Sigit, Rabu (31/3) malam.

Sigit memerinci, puluhan orang itu diamankan di tiga lokasi berbeda yakni Makassar, Jakarta, dan Bima. Polisi menangkap lima orang di Jakarta, dan lima lainnya di Bima. Tiga belas terduga teroris sebelumnya telah diamankan di Makassar, bahkan di antaranya merupakan otak perakit bom.

“Satu orang inisial W adalah pelaku otak perakit bom, ini sudah kami amankan,” sebutnya.

Saat ini polisi masih terus melakukan pengembangan terkait bom bunuh diri yang terjadi di Makassar.

“Usut sampai tuntas, dan informasi lebih lanjut akan kami informasikan,” pungkas Sigit.

Seperti diketahui, bom bunuh diri terjadi di pintu gerbang Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3) pagi. Dalam ledakan itu, polisi menyebut dua orang yang merupakan pasangan suami istri berinisial L dan YSF merupakan pelaku bom bunuh diri tersebut. Polisi juga mengatakan keduanya berafiliasi dengan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Sedikitnya 20 orang luka-luka dalam insiden yang terjadi pada Misa Minggu Palma seminggu menjelang Paskah. [aa/em] 

Kantor berita Antara, Rabu (31/3), melaporkan seorang tak dikenal yang diduga teroris menerobos masuk ke dalam salah satu gedung di Mabes Polri, Jakarta pada pukul 16.30 WIB.Menurut kesaksian pewarta Antara yang berada di dekat tempat kejadian, terdengar setidaknya enam hingga tujuh kali suara tembakan di dalam gedung Mabes Polri.

Beberapa video amatir yang beredar dan diperoleh Antara, Rabu (31/3), menunjukkan terduga teroris yang berbaju hitam, bercelana panjang hitam dan berkerudung jatuh tergeletak. Sejumlah aparat tampak bersiaga dengan bersenjata lengkap. Beberapa dari mereka tampak mendekati terduga teroris tersebut.

Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari Mabes Polri. [ah/ft/em] 

Tersangka Sempat Kabur ke Sangihe dan Manokwari

MALUT POST – TERNATE. Kepolisian Resort (Polres) Halmahera Barat menggelar Press Release kasus Pencurian dan pencabulan anak di bawa umur di Mapolres Kompol Moch Arinta Fauzi,S. IK didampingi Kasat Reskrim IPTU Elvin Saptian akbar,S.TK,S.IK, Kasubang Humas Polres dan kanit Buser IPDA Gian C Jumario Laapen ini mengungkap kronologis dan pelaku dua kasus tersebut.

Untuk kasus pencurian tersangkanya adalah IN alias Lani perempuan (21) yang berstatus mahasiswa dan IRB alias Iki (20) yang juga mahasiswa. Korbanya adalah Jusmiati alamat Desa Soakonora Kecamatan Jailolo. Aksi kedua pelaku ini dilakukan, Rabu (17/3) sekitar pukul 14.30 WIT di kios atau tempatjualan korban Desa Soakonora.” Modusnya menggunakan kendaraan roda empat. Saat di TKP tersangka IRB bertugas memantau situasi. Setelah dinyatakan aman, ia memerintahkan tersangka Lani masuk kedalam kios dan mengeksekusi,” ungkap Wakapolres Kompol Moch Arinta Fauzi.

Barang bukti yang diambil adalah, 1bua tas dan dompet yang berisi emas kurang lebih 32 gram dan uang tunai 21 juta lebih. Setelah dilaporkan korban, Tim Opsnal Polres Halbar melakukan pengintian dan menemukan pelaku IN yang diperiksa 20 Maret 2021 lalu. Atas pengakuan IN alias Lani ini, maka Tim Opsnal melakukan pengejaran terhadap tersangka Iki karea informasinya yang bersangkutan melarikan diri ke Sangihe Sulawesi Utara. Setelah dikejar, ternyata tersangka sudah melarikan diri ke Manokwari Papua Barat, dan akhirnya kembali ke Ternate dan ditangkap Tim Opsnal 27 Maret 2021.” Pengakuan Tersangka, hasil curiannya sudah dijual di Ternate. Yakni emas dengan harga Rp12.295.00. Uwang ini digunakan membeli 1 unit televisi 32 inci dan 1 buah speaker aktif, ucapnya.

Sementara barang bukti yang disita, 1 bua tas berwarna abu-abu, 1 buah dompet warna hitam, 1 unit televisi merek sharp 32 inci, 1 unit speker aktif merek astron, uang Rp 10.800.00, 1 buah gelang mas dengan berat 21,9 gram dan 1 buah emas batangan 9,2 gram.”Kedua tersangka ini kita kenalkan pasal 363 ayat 1, huruf e KUHPidna dengan ancaman penjara maksimal 7 tahun,” tendasnya. (met)

Nyabu Polda Tangkap 5 Remaja, BNNP Amankan 198 Paket Ganja

MALUT POST – TERNATE. Peredaran ganja dan penyalagunaan narkotika di Malut Kian menghawatirkan. Bisnis barang haram ini mulai menyasar para remaja yang masi duduk di bangku sekolah. Selain sebagai pemakai para remaja ini ada yang masuk dalam jaringan peredaran narkotika, baik bertindak sebagai kurir atau pengedar. Polda Maliku Utara pada Sabtu (27/3) akhir pekan lalu, mulai Operasi Paket barhasilmenangkap lima pelaku penyalagunaan Narkoba. Para pelaku dibekuk pada kawasan Benteng Orang Kelurahan Gamalama Kecamatan Ternate Tengah. Ketika ditangkapmereka lagi asik mengkonsumsi barang haram tersebut. Barang bukti yang diamankan berupa tiga linting kecil ganja yang sudah dikemas dalam bentuk gulungan, dengan berat 0.87 gram.

Dari lima pelaku yang ditangkap, empat di antaranya masih berstatus sebagai pelajar di Sekolah Menengah Atas yang ada di Kota Ternate. “Penangkapan pelaku ini berdasarkan informasi yang di dapat dari masyarakat bahwa di lokasi Benteng Orange, ada yang menyalagunaan Narkotika. Dengan adanya informasi tersebut personel Operasi Paket Kie Raha team 2, yang dipimpin IPDA Agus Salim langsung menuju TKP dan berhasil menangkap 4 orang yang sementara mengkomsumsi atau mengisap narkotika dengan inisial R (17) pelajar, IS (17) pelajar, SI (17) pelajar,dan QA (17) pelajar,sedangkan untuk 1 pelaku lainnya diamankan di tempat berbeda yaitu di Kelurahan Mangga dua dengan inisial DAH (20). Hasil pemeriksaan tes urine, ke lima pelaku ini positif ganja,” terang Kabid Humas Polda Maluku Utara Kombes Pol. Adip Rojikan, S.I.K., M.H, saat di konfirmasi, Senin (29/3).

Juru bicara Polda Malut ini mengatakan, dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa peran dari pelaku yaitu, R memberi uang Rp 300 ribu kepada IS, dan keduanya pergi bersama untuk membeli ganja kepada DAH. DAH sendiri membeli ganja senilai Rp 300 ribu secara online melalui akun instagram. Paket ganja ini lalu dibuang di Tanah Tinggi dekat ruma sakit, tempatnya di samping tiang listrik. Selanjutnya paket ganja ini di ambil oleh DAH kemudian diberikan kepada R dan IS.

Untuk pelaku dan barang bukti telah diambil oleh Polda Malut yang nantinya akan dilakukan penyidikan dan pengembangan. “Saya menghimbau kepada masyarakat Maluku Utara apabila melihat dan mengetahui adanya tindak pidana narkotika agar segera melaporkan kepada pihak kepolisian guna di tindaklanjut, dan mari kita jaga Provinsi Malut ini dari kejahatan-kejahatan yang dapat mengganggu kamtibmas apalagi menjelang bulan suci Ramadhan, tentunya dibulan suci ini kita harapkan tidak ada lagi kejahatan-kejahatan yang terjadi,” imbau Kabid Humas.Operasi Kepolisian kewilayahan dengan sandi Paket Kie Raha 2021 akan berlangsung selama 20 hari mulai 22 Maret hingga 10 April 2021 mendatang.

Sehari setelah, Polda berhasil menangkap lima pelaku pengguna narkoba, pada Minggu (21/3), Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Maluku Utara (Malut) berhasil meringkus IM alias Ilham, remaja 18 tahun dan RM alias Rahul 20 tahun. Keduanya diciduk usai mengambil paket narkotika jenis ganja di salah satu jasa pengirim barang. Penangkapan keduanya bermula dari laporan masyarakat bila ada pengiriman paket narkoba yang sengaja dipasok lewat jasa ekspedisi. Mendengar informasi ini tim BNNP langsung berangkat cepat dan melakukan penyelidikan. Tiba di lokasi, tim lalu melakukan pemantauan. Sekitar pukul 11.47 WIT saat keluar dari jasa pengiriman barang. keduanya langsung ditangkap. (mg-07/aji/pol/rul)

Tangan Nyaris Putus

MALUT POST – LABUHA. Diduga perkosa AM, bocah 11 tahun, Yuwel Sarabu (46), warga Likupang, Minahasa Utara, dibacok orang tua korban hingga lengan kiri nyaris putus.

Kasus ini terjadi di Desa Sember Makmur, Kecamatan Gane Timur, Halmahera Selatan (halsel), pada Rabu lalu. Kapolsek Gane Timur, Ipda zulkifli Muchmud, kepada koran ini menceritakan, Minggu Uda, orang tua bocah AM yang baru pulang dari kebun, Rabu (24/3) sekira pukul 13.30 wit. Mendengar suara jeritan anaknya dari dalam ruma, tak pikir panjang, Minggu lalu masuk mengecek suara anak tersebut. Betapa kagetnya Minggu, dia mendapati putrinya berada di dalam toilet rumah bersama Yuwel.

“Jadi menurut keterangan awal yang kita peroleh, oreng tua korban masuk mencari tahu teriakan putrinya, setelah didalam rumah, dia melihat pelaku Yuwel keluar dari kamar mandi menggunakan celana dilapisi handuk. Sementara putrinya tidak menggunakan busana dan duduk memeluk lutut sambil ketakutan. Minggu yang saat itu memegang parang dari kebun langsung menyerang dan membecok Yuwel,” jelas Kapolsek.

Dilanjutkan Kapolsek, usai dibacok, Yuwel kabur kedalam hutan, sementara Minggu yang berusaha mengejar Yuwel tidak menemukan keberadaan Yuwel. “Yuwel kemudian ditemukan warga yang dalam keadaan lemas karena alami luka bacok di lengan kiri hingga nyeris putus. Sekitar pukul 11.00 malam. Oleh warga Yuwel, lalu dibawa ke Puskesmas Sumber Makmur, kemudian diamankan ke Polda Gane Timur,” lanjutnya.

Karena kondisi Yuwel menghawartirkan, petugas Polsek Gane Timur kemudian merujuknya ke Ruma Sakit Umum Daerah (RSUD). “Saat ini Yuwel sementara dirawat di RSUD Labuha, sementara untuk Minggu, orang tuan korban yang membacok Yuwel kita amankan di Polsek, dan untuk bocah korban yang diduga diperkosa, kita sementara melakukan pendampingan menunggu hingga proses kasus ini berjalan,” tutup Zulkifli mantan Kanit Buser Polres Ternate. (sam/lid)

Puluhan Paket Ganja Berhasil Ditemukan

MALUT POST – TERNATE. Peredaran dan penyalagunaan narkotika di Kota Ternate semakin tidak terkendali. Pasalnya, para oknum pelaku yang menjalankan bisnis haram ini tidak tanggung-tanggung menjadikan Lapas Kelas IIA sebagai tempat yang aman. Buktinya, pihak Lapas kembali menemukan barang bukti jenis ganja, Senin (22/3) kemarin. Berdasarkan informasi yang diterima, barang bukti ganja yang berhasil ditemukan pihak Lapas berjumla 27 paket berukuran kecil dan satu paket sedang. Puluhan barang bukti ini merupakan hasil pengembangan yang dilakukan pihak Lapas atas temuan lima paket ganja di hari yang sama. Sebagaimana diketahui, lima paket ganja awalnya ditemukan di dalam area Lapas yang diduga kuat dibuang oleh Orang Tak Dikenal (OTK) ke dalam area Lapas, pagi hari. Menindaklanjuti temuan ini, sore harinya, pihak Lapas langsung melakukan razia.

Penggeledahan insidentil itu dimulai pukul 15.30 WIT hingga 17.00 WIT. Tidak sia-sia, penggeledahan yang dipimpin langsung Maman Hermawan selaku Kalapas membuahkan hasil. Ini setelah petugas berhasil menemukan puluhan paket ganja di atap salasar blok A. Diketahui ini dihuni oleh oknum napi berinisial U dan N. Keduannya merupakan oknum napi yang menekam di sel Lapas karena kasus yang sama. Yakni narkoba. Saat ditemukan, barang bukti dalam bentuk paket ini diselipkan ke dalam kaleng rokok surya lalu disimpan di salasar. Ini sengaja dilakukan agar tidak muda ditrmukan petugas Lapas.

Setelah barang bukti di temukan, Kelapas, Maman Hermawan berkoordinasi dengan Direktur Ditresnarkoba Polda Malut, Kombes Pol Tri Setyadi Artono. Menerima informasi dari Lapas, tim Ops Ditresnarkoba Polda lalu menuju keLapas. Dari pengakuan singkat U dan N, barang haram itu memiliki sala satu rekan sesama napi berinisial J. Setelah itu, ketiga oknum napi beserta barang bukti langsung dibawa ke Polda untuk pengembangan lebih lanjut. Kamis (25/3) membenarkan informasi tersebut.

Diakui Maman, penggeledahan yang dilakukan adakah tindak lanjut atas lima paket ganja pada Senin pagi kemarin. “Ini tindak lanjut atas temuan lima sachet ganja yang dibuang ke dalam area Lapas. Setelah barang bukti lima paket kita serahkan ke Polda, dihari yang sama atau sore harinya kita langsung gelar razia. Hasilnya kita temukan lagi puluhan paket ganja yang sama,”aku Maman saat dikonfirmasi, Kamis (25/3). Lewat kesempatan ini Maman secara tegas menyatakan komitmen-nya untuk melakukan pembersihan di internal Lapas. (mg-07/aji)

Pemerintah Indonesia akan mendeportasi seorang terpidana narkoba Rusia, Selasa (23/3), setelah ia melarikan diri dari negara asalnya dan kabur diri dari upaya deportasi pertamanya pada Februari lalu di Bali.

Andrei Kovalenka, yang menggunakan alias Andrew Ayer, ditangkap pada 2019 dan didakwa memiliki lebih dari 500 gram ganja. Dia dijatuhi hukuman 18 bulan penjara, meskipun biasanya tuntutan untuk pelanggaran seperti itu minimal empat tahun dan maksimal 20 tahun penjara.

Ia melarikan diri bersama dengan rekannya selama pemindahan tahanan pada 11 Februari lalu. Polisi menemukan mereka di sebuah vila setelah 13 hari dalam pelarian dan menangkapnya. Ia diangkut dari Bali ke Jakarta pada Selasa (23/3) pagi.

“Serah terima ke polisi Rusia yang akan mengawalnya akan dilakukan di Jakarta, ” kata Kombes Polisi Tommy Arya Dwianto dari Biro Pusat Interpol Nasional Indonesia.

Menurut Tommy, Kovalenka pernah divonis kasus narkoba di Rusia pada 2011 namun kabur tanpa menjalani hukuman. Pemerintah Rusia meminta Interpol mengeluarkan perintah penangkapan pada 2015.

Jamaruli Manihuruk, Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Bali, menambahkan bahwa mitra Kovalenka, Ekaterina Trubkina, telah dideportasi sebelumnya.

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali mencatat 162 WNA dideportasi dari Bali pada 2020 dan 2021, sebagian besar karena pelanggaran visa. [ab/uh]