MALUTPOST.LABUHA – Mayat tanpa identitas Jumat (29/1) pagi kemarin, ditemukan mengapung dipesisir pantai Pulau Makian, tepat didepan desa Rabutdaiyo. Dikatakan tidak memiliki identitas dan jenis kelamin sebab saat ditemukan kondisi mayat tidak lagi utuh. Menurut warga Rabutdaiyo, sebagian besar tubuh mayat yang kelihatan hanya tengkorak, sementara beberapa bagian tubuh masih terdapat daging manusia. “Kondisi mayat tidak lagi utuh, yang terlihat sebagian besar tengkorak, itu kenapa identitas dan jenis kelamin kita tidak tahu,” tutur warga Rabutdaiyo.

Kapolsek Pulau Makian, IPDA Sukraen H Nadar, dikonfirmasi membenarkan temuan mayat tersebut. Dikatakan Sukraen, orang yang pertama kali menemukan mayat itu adalah Arman dan Nasrul. Kedua warga ini membawa speed boat dari Desa Waigitang menuju ke Ternate dengan mengangkut penumpang. Dalam perjalanan tepat di depan perairan desa Rabutdaiyo, Arman dan Nasrul melihat benda berwarna putih tampak mengapung. Setelah didekati, ternyata yang ditemukannya adalah sesosok mayat manusia. Arman dan Nasrul lalu meminta pertolongan warga desa Rabutdaiyo dan Polsek Makian untuk dilakukan evakuasi mayat.

“Setelah kami koordinasi dengan kepala desa Rabutdaiyo, mayat tersebut langsung dikuburkan di tempat pemakaman umum desa Rabutdaiyo. Selain itu, saat dikonfirmasi ke seluruh Kades di Pulau Makian, tidak ditemukan adanya laporan terkait orang hilang,” terang Kapolsek menutup. (sam/lid)

MALUTPOST.TERNATE – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan warning kepada masyarakat Maluku Utara (Malut) untuk tetap waspada, mengingat dalam beberapa hari kedepan, cuaca di Malut masih ekstrem. Curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan terjadi begitu juga gelombang di beberapa perairan masih tinggi serta angin yang kencang.

“Jadi harus tetap waspada” kata Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun I Stasiun Babullah Ternate, Setiawan kepada Malut Post, kemarin (28/1). Hasil analisis BMKG curah hujan masih berpotensi terjadi dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin di wilayah Maluku Utara seperti Halmahera Utara, Morotai, Ternate, Tidore, Halmahera Timur, dan Halmahera Tengah. Selain curah hujan yang perlu juga diperhatikan adalah ketinggian gelombang. Karena itu para pengguna jasa laut maupun para nelayan tetap berhati-hati. “Untuk tinggi gelombang tiga hari kedepan diprediksi mencapai 2,5 meter di wilayah perairan Morotai, Ternate Batang Dua, Halut dan Kepulauan Sula dan Taliabu. Perlu juga diwaspadai kecepatan angin beberapa hari kedepan,” terangnya.

Menurut Setiawan, curah hujan terjadi disebabkan masa pertumbuhan awan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan adanya angin monsun Asia yang kuat menuju wilayah Maluku Utara dan berpeluang terjadi belokan angin sehingga membentuk awan hujan. “Kami menghimbau kepada masyarakat maupun pengguna jasa laut agar terus mencermati informasi dari kami dan waspadai dampak dari curah hujan serta tinggi gelombang,” imbaunya.

Mewaspadai hal ini di Kota Ternate pelayaran yang menggunakan speed boat di pelabuhan armada semut Mangga Dua dan pelabuhan Dufa-dufa diberlakukan sistem buka tutup. Danpos pelabuhan armada semut Mangga Dua, Supriyanto mengatakan, dengan kondisi curah hujan tinggi, penyeberangan terpaksa dilakukan dengan sistem buka tutup. Bila cuaca baik pelayaran dibuka namun kalau memburuk langsung ditutup. “Kami tak ingin ambil resiko, kalau cuaca buruk apapun alasannya kami tidak izinkan ada pelayaran,” tegasnya.

Senada, M Abdu, Danpos Pelabuhan Dufa Dufa menambahkan, pelabuhan Dua-dufa Jailolo juga diberlakukan sistem buka tutup pelayaran. Kemarin pada pukul 16.00 WIT, pelayanan di tutup karena cuaca yang tidak bersahabat. “Jarak pandang yang terganggu jadi terpaksa kami tutup,” pungkasnya. (mg-03/rul)