Negara Paling Islami di Dunia — Setiap jam-jam salat, merdunya kumandang adzan tak pernah absen menggema di telinga kita. Masjid-masjid sahut menyahut, berusaha memanggil setiap umat Muslim di sekitarnya untuk menuntaskan kewajiban mereka. Apalagi kalau bukan ibadah. Wujud syukur dari seorang insan kepada Penciptanya.

Kondisi yang sama dapat ditemui pula di negara-negara lain, terutama yang penduduknya mayoritas pemeluk agama Islam. Bahkan, beberapa negara yang Islam bukanlah agama mayoritasnya pun mengizinkan praktik ini diberlakukan. Toleransi, sebuah kondisi indah dimana sesama umat saling menerima diversitas beragama.

Di balik kebiasaan ini, fakta mencengangkan justru menampar banyak umat Islam di dunia. Ketika banyak negara Timur Tengah yang berusaha menjadi seislami mungkin, ternyata harus kalah bilamana dikomparasikan dengan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an itu sendiri.

Negara manakah yang paling taat terhadap inti dari keislaman? Iakah, Arab Saudi? Palestina? Yaman? Suriah? Bukan, negara ini berada tenggara peta Dunia. Negara yang ternyata mayoritas penduduknya bukanlah orang Islam. Dan yang lebih menjadi pecut teguran, lima besar tertingginya bukanlah negara dengan mayoritas penduduk Islam.

Selandia Baru, Negara Paling Islami di Dunia

Pada tahun 2019 silam, cendikiawan Muslim dari seluruh dunia—termasuk Indonesia—menyusun sebuah data yang menampilkan hasil di luar prediksi. Negara paling Islami dalam tata kelola dan masyarakatnya yaitu Selandia Baru. Diikuti oleh Swedia, Islandia, Belanda, dan Swiss. Negara-negara Islam sendiri malah kurang Islami tata pemerintahan dan masyarakatnya.

Indeks Negara Paling Islami di Dunia
Indeks Negara Paling Islami di Dunia

Peringkat ini tidak menghitung ibadah personal seperti salat, berpuasa, haji. Aspek penghitungan diukur berdasarkan faktor-faktor masyarakat dan pemerintahan Islami sesuai Al Qur’an dan Hadits. Faktor yang dimasukkan ada 46, dipisah dalam empat kategori, mulai dari ekonomi, hukum dan pemerintah, kemanusiaan dan hak asasi, serta hubungan internasional.

Sudahkah Keislaman Tercermin dari Negara-negara yang Mengaku Islam?

Ini Emirat Arab adalah negara Islam pertama yang menduduki posisi paling tinggi dalam indeks tersebut. Sayangnya, peringkatnya cukup bontot, ke-44 dari 151. Kita pun demikian, peringkat 61. Sebagai negara dengan penduduk Muslim yang sangat tinggi, hal ini adalah sebuah pukulan telak agar kita lebih menginstropeksi diri.

Mengapa yang unggul justru adalah negara-negara yang penduduk mayoritasnya bukan Islam? Karena nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Islam yang terutama adalah nilai kemanusiaan. Rendahnya kepastian hukum, korupsi yang tinggi, sampai kebijakan ekonomi yang tidak konsisten, adalah alasan mengapa kita tak cukup Islami dari ketentuan yang tertera pada Al-Qur’an dan Hadits itu sendiri.

Sudahkah masyarakat dan pemerintah kita bersinergi dalam membangun kedisplinan, keadilan, dan kejujuran? Ah, mungkin teramat jauh. Tak perlu berangan-angan tinggi, barang yang tergeletak saja masih sering raib bilamana diletakkan sembarangan. Parahnya, kita malah menyalahkan pemilik barang dengan dalih “siapa suruh ditaruh sembarangan?”

Jepang, contohnya. Negara yang menduduki peringkat ke-16 pada indeks tersebut. Di Jepang, kalau pergi ke foodcourt misalnya, tas berisi barang berharga bisa ditinggal begitu saja di meja saat kita ke counter atau toilet. Dijamin tidak hilang. Islam mengajarkan kejujuran dan melarang keras praktik pencurian, bukan?

Soal lain-lain, misalnya suap. Islam mengajarkan bahwa baik yang disuap maupun yang menyuap itu dikutuk oleh Allah. Tapi berapa banyak diantara kita yang menyuap saat ada masalah birokrasi? Berapa yang kita bayar saat buat KTP yang mestinya gratis? Berapa yang kita bayar saat melanggar lalu lintas agar prosesnya dipercepat?

Kemudian, masalah pendidikan. Kualitas otak anak-anak di negara muslim secara rata-rata tak mampu unggul dalam kancah internasional. Padahal ayat pertama yang turun bisa ditafsirkan agar kita selalu belajar. Perintah untuk membaca, Iqra. Mirisnya, dalih bahwa ilmu agama lebih penting dibanding ilmu pengetahuan seringkali dijadikan tameng untuk mengelak.

Hal-hal di atas barulah beberapa aspek. Masih teramat banyak aspek lainnya yang dijadikan indikator penilaian.

Sampai kapanpun, istilah “mantan saudara” tidak akan pernah ada. Ungkapan ini tentunya sangat cocok bilamana disandingkan dengan kondisi Indonesia dan Timor Leste saat ini. Merdeka secara utuh saat 2002 silam, negara yang terletak di sisi selatan Indonesia ini ternyata masih menyimpan hubungan yang mesra dengan pihak yang pernah menganeksasinya. Bahkan, ketergantungan Timor Leste pada Indonesia masih sangat tinggi.

Infografik; Ketergantungan Timor Leste pada Indonesia
Infografik; Ketergantungan Timor Leste pada Indonesia

Kebutuhan Pokok

Warung di Dili, Timor Leste
Warung di Dili, Timor Leste

Tak dapat dipungkiri, Indonesia masih merupakan negara importir terbesar untuk Timor Leste. Tak tanggung-tanggung, suplai bahan pokok dari Indonesia bahkan mencapai angka 80 persen! Kondisi ini tentu saja membuat Timor Leste merasakan kedekatan dan berupaya membangun hubungan baik dengan Indonesia. Hubungan ini juga bisa dibilang melampaui jauh dengan apa yang negara sahabatnya (Australia dan Portugal) kontribusikan.

Menurut duta besar Indonesia untuk Timor Leste, Sehat Sitorus, kebutuhan pokok mulai dari bahan makanan, keperluan sanitasi, hingga barang-barang konsumsi tersier diimpor dari Indonesia melalui jalur perdagangan Surabaya-Timor. Kerjasama ini juga tentunya merupakan hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Pembangunan

Bandara Suai, Timor Leste, yang digarap oleh Waskita Karya
Bandara Suai, Timor Leste, yang digarap oleh Waskita Karya

Dari segi pembangunan, Indonesia pun ikut turun tangan. Jalan-jalan raya, sarana transportasi, pembangkit listrik, hingga gedung kenegaraan, semuanya memakai kontraktor dari Indonesia. BUMN Wijaya Karya, Waskita Karya, dan Brantas Abipraya yang paling sering menerima amanat untuk mengambil pekerjaan ini.

Contoh suksesnya adalah pembangunan Gedung Kementerian Keuangan Timor Leste dibangun oleh PT PP dan Bandara Suai di bangun oleh Waskita Karya dengan dana yang dihabiskan hingga US$ 67 juta atau sekitar Rp 670 miliar.

Hiburan

Sinetron Cinta Fitri yang ngetren di Timor Leste
Sinetron Cinta Fitri yang ngetren di Timor Leste

Minimnya hiburan dalam negeri juga turut menyumbang persentase ketergantungan Timor Leste pada Indonesia. Sinetron Cinta Fitri contohnya. Sinetron yang cukup populer pula di Indonesia ini sempat merajai dunia hiburan di industri pertelevisian Timor Leste. Bahkan, enam media arus utama di Timor Leste mengapresiasi karya anak Indonesia ini. Padahal, Timor Leste sendiri sebenarnya memiliki film potensial.

Jadi, dulu sempat ada film bernama Balibo. Film Balibo Five diangkat dari kisah terbunuhnya lima wartawan asing oleh Indonesia di Balibo, wilayah perbatasan di Timor Timur (kini Timor Leste) pada tahun 1975. Lima wartawan asal Australia, Selandia Baru, dan Inggris tewas saat tengah meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Leste. Ternyata, film Balibo ini tidak mendapat respon positif dari rakyat Timor Leste. Bahkan mirisnya, film sejarah ini dikalahkan dengan sinetron Indonesia waktu itu.


Terlepas dari dosa yang pernah Indonesia perbuat terhadap Timor Leste, tak dapat dipungkiri bilamana pada saat ini, Indonesia bisa dibilang yang paling dekat. Kita memang tidak memberikan bantuan yang sangat signifikan, namun suplai yang konsisten kita impor ke mereka tentunya akan sangat membantu mereka mendongkrak produktivitas masyarakatnya.

Meskipun semenjak merdekanya hingga saat ini kemerdekaan Timor Leste masih stagnan, namun tentunya semua pihak mengharapkan perubahan pada negara yang masih remaja ini. Semoga saja, Timor Leste bisa lebih semangat menjemput kemakmurannya.