Saiful Mujani Research & Consulting SMRC, Kamis (26/11) merilis hasil survei opini publik terhadap Front Pembela Islam FPI dan pemimpinnya Rizieq Shihab. Hasilnya 69 persen responden mengatakan mengenal organisasi massa yang berpusat di Petamburan, Jakarta Barat ini, tetapi hanya 43 persen yang menyukainya.

Dalam konferensi pers virtual, Direktur Eksekutif SMRC Sirajuddin Abbas mengatakan “kita menemukan dari total 69 persen warga yang tahu FPI ini, 43 persen diantaranya mengaku suka, 41 persen tidak suka dan 16 persen tidak menjawab.”

Hasil Survei SMRC terbaru hasil survei terkait FPI, Rizieq Shihab dan respon pemerintah, Kamis (26:11). (Foto:VOA/Yudha Satriawan)

Hasil Survei SMRC terbaru hasil survei terkait FPI, Rizieq Shihab dan respon pemerintah, Kamis (26:11). (Foto:VOA/Yudha Satriawan)

Survei SMRC dilakukan pada rentang waktu 18-21 November 2020 atas 1.201 reponden yang dipilih dengan metode simple random sampling dan margin error 2,9 persen. Tingkat kepercayaan pada survei ini 95 persen.

Jika dibandingkan dengan survei yang sama pada Januari 2018, Abbas mengatakan ada peningkatan jumlah warga yang mengetahui sepak terjang FPI dari 59 persen pada tahun 2018, menjadi 69 persen pada tahun 2020. Sementara jumlah mereka yang menyukai juga naik dari 33 persen pada tahun 2018, menjadi 43 persen pada tahun 2020.

77 Persen Responden Setuju Aparat Bubarkan Acara FPI

Lebih jauh Abbas mengatakan survei juga menunjukkan secara umum warga menilai negatif terhadap serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak tibanya Rizieq Shihab di bandara Soekarno-Hatta 10 November lalu hingga resepsi pernikahan putrinya yang dihadiri ribuan orang, yang sebagian besar tidak mengenakan masker.

Direktur SMRC, Sirajuddin Abbas, saat merilis secara daring hasil survei terkait FPI, Rizieq Shihab dan respon pemerintah, Kamis, 26 November 2020. (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

Direktur SMRC, Sirajuddin Abbas, saat merilis secara daring hasil survei terkait FPI, Rizieq Shihab dan respon pemerintah, Kamis, 26 November 2020. (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

“Dari 49 persen responden yang tahu acara Rizieq itu, mayoritas 77 persen setuju jika aparat keamanan dan pemda membubarkan acara itu dengan alasan pandemi Covid-19. Responden lebih banyak berpihak pada aparat keamanan dibanding Rizieq Shihab,” ujar Abbas.

Survei juga menunjukkan 42 persen responden setuju bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dinilai gagal menjalankan PSBB [pembatasan sosial berskala besar] secara adil. Meskipun ada 33 persen lainnya yang tidak setuju dan 26 persen tidak menjawab pertanyaan tentang hal ini.

Empat puluh delapan persen responden mendukung sikap Kapolri Idham Aziz yang mencopot Kapolda Metro Jaya Nana Sudjana dan Kapolda Jawa Barat Rudy Sufahriadi dari jabatannya sebagai dampak kegagalan aparat kepolisian menegakkan protokol kesehatan terhadap FPI. Delapan puluh enam persen mendukung langkah Kemenkopolhukam menegur pihak kepolisian.

Hasil Survei SMRC terbaru hasil survei terkait FPI, Rizieq Shihab dan respon pemerintah, Kamis (26:11). Foto - VOA: Yudha Satriawan1 .jpg

Hasil Survei SMRC terbaru hasil survei terkait FPI, Rizieq Shihab dan respon pemerintah, Kamis (26:11). Foto – VOA: Yudha Satriawan1 .jpg

Beberapa pelanggaran yang dinilai telah dilakukan FPI pada masa pandemi virus corona ini antara lain pengerahan ribuan orang pendukung untuk menjemput Rizieq Shihab di bandara Soekarno-Hatta, Rizieq Shihab tidak menjalani karantina sepulang dari luar negeri, serta menggelar acara keagamaan dan pernikahan putrinya dengan mengundang ribuan orang.

Ketidaktegasan aparat dan pemda DKI Jakarta menyikapi pelanggaran yang dilakukan FPI dinilai tidak saja merugikan masyarakat lain, tetapi juga semakin melegitimasi FPI di mata publik. Hal ini diungkapkan Noorhaidi Hasan, pakar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Oke ada masalah terkait FPI dan Rizieq. Ketika pemerintah tegas dengan law enforcement, penegakan hukumnya, polisi dan Pemda yang melakukan itu, kalau ada yang melanggar ya ditindak tegas. Kalau berani melakukan itu, bolehlah tentara mem-back-up di belakangnya. Ini kan tugas kepolisian. Ternyata kan tidak bisa apa-apa juga. Saya meyakini law enforcement dikedepankan. Jangan terlalu banyak konflik atau polemik yang tidak perlu.”

Hal senada disampaikan Jajang Jaroni, pakar di Universitas Islam Negeri Jakarta. “Pada saat pandemi seperti ini kita harus kita sebagai warga melakukan pembatasan-pembatasan. Tetapi ini semua dilanggar Rizieq, modelnya dia selalu melakukan hal-hal seperti itu. Pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan Rizieq justru akan mendelegitimasi dirinya sendiri,” komentarnya.

Sebelumnya aparat mengambil tindakan tegas terhadap beberapa kasus pelanggaran protokol kesehatan. Misalnya kerumunan massa dalam pentas musik yang digelar Wakil Ketua DPRD Tegal, Jawa Tengah, yang kini sedang memasuki tahap persidangan, atau pencopotan seorang bupati di Pontianak, Kalimantan Barat karena melanggar protokol kesehatan. Berbagai pelanggaran oleh warga juga dikenai sanksi sosial mulai dari membersihkan sungai hingga membayar denda.

Sementara kegiatan yang berpotensi memicu kehadiran ribuan orang, seperti Haul Habib Ali di Solo yang sedianya digelar awal Desember, telah dibatalkan. Ini belum termasuk ratusan acara konser musik, pentas seni, pesta pernikahan hingga demonstrasi yang semuanya dibatalkan demi mematuhi protokol kesehatan dan mencegah perebakan luas Covid-19.

Popularitas Rizieq Shihab

Secara khusus SMRC juga menanyakan kepada para responden tentang kesukaan mereka pada beberapa tokoh, termasuk Rizieq Shihab.

“Survei ini menunjukkan Ridwan Kamil Gubernur Jabar, Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah, Khofifah Gubernur Jawa Timur ada di lapisan satu. Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan, di lapisan ke dua. Sedangkan Rizieq di lapisan ke tiga atau di bawah 50 persen. Rizieq tergolong tokoh yang kurang disukai masyarakat,” papar Abbas.

Sosiolog di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Neng Dara Afifah menilai meskipun kecil, prosentase dukungan pada Rizieq Shihab tidak bisa dianggap remeh.

“Persentase popularitas FPI dan Rizieq dari hasil survey ini jangan dianggap remeh! Responden yang suka dengan tidak suka sangat tipis selisihnya. Ini pandangan publik lho, tentang FPI dan Rizieq, ini bukan sesuatu yang kecil dan remeh, artinya ini sesuatu yang serius bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” komentarnya. [ys/em]ora

Terpilihnya film “Perempuan Tanah Jahanam” atau “Impetigore” sebagai perwakilan film Indonesia untuk bersaing meraih nominasi di kategori film internasional terbaik di ajang Academy Awards 2021 atau Oscar ke-93 mendatang merupakan sebuah kejutan bagi insan perfilman Indonesia.

Pasalnya, ini adalah film horor pertama dalam sejarah, yang pernah diikutsertakan oleh Indonesia, dalam perhelatan ajang bergengsi ini.

“Saya senang, karena berarti genre horor sekarang sudah dianggap bukan film dengan kasta rendah lagi ya, jadi sekarang memang ada pergeseran di dunia, bahwa film horor juga sekarang dianggap film dengan genre yang serius,” papar Joko Anwar dalam wawancara melalui Skype dengan VOA belum lama ini.

(Ki-ka) sutradara Joko Anwar, aktris Maera Panigoro, aktor Chicco Jerikho, dan aktris Tara Basro, saat mewakili film "A Copy Of My Mind" di ajang Venice Film Festival ke-27 di Venesia, Italia, 11 September 2015 (Dok: Joel Ryan/Invision/AP)

(Ki-ka) sutradara Joko Anwar, aktris Maera Panigoro, aktor Chicco Jerikho, dan aktris Tara Basro, saat mewakili film “A Copy Of My Mind” di ajang Venice Film Festival ke-27 di Venesia, Italia, 11 September 2015 (Dok: Joel Ryan/Invision/AP)

Judul “Impetigore” yang digunakan untuk film ini di luar negeri sebenarnya diambil dari kata yang diciptakan sendiri oleh Joko Anwar, untuk menggambarkan kondisi dari anak-anak yang ada di dalam film.

“Nama penyakit yang mereka alami itu saya kasih nama “Impetigore.” Jadi satu nama yang saya ciptakan sendiri,” jelas Joko Anwar.

Film “Perempuan Tanah Jahanam” bercerita tentang kisah Maya yang diperankan oleh Tara Basro, yang pada suatu malam saat tengah bekerja sebagai pegawai tol hampir dibunuh oleh seseorang yang mengetahui latar belakang keluarganya.

Maya pun teringat akan fotonya bersama kedua orang tuanya di depan sebuah rumah besar yang terletak di desa terpencil. Dihadapi kesulitan keuangan, Maya berusaha menelusuri misteri latar belakang keluarganya, dengan harapan bahwa rumah besar tersebut bisa membantu hidupnya.

Ia pun lalu diantar oleh sahabatnya, Dini, yang diperankan oleh Marissa Anita, untuk pergi ke desa tersebut. Siapa yang menyangka jika berbagai misteri dan teror pun telah menanti mereka di desa yang ternyata terkutuk itu. Anehnya, tidak ada satu pun anak kecil yang hidup di desa tersebut.

Film ini menampilkan ketegangan yang intens di setiap adegan, ditambah dengan alunan musik dan pengambilan gambar yang bisa membuat bulu kuduk penonton berdiri setiap saat.

Film Horor di Oscar

Dalam sepanjang sejarah Oscar, hanya ada 10 film horor yang pernah berjaya dan meraih nominasi, yaitu “Rosemary’s Baby,” “The Exorcist,” “Jaws,” “Alien,” “The Fly,” “Misery,” “The Silence of the Lambs,” “The Sixth Sense,” “The Swan,” dan “Get Out.”

Di ajang Academy Awards yang diselenggarakan pada tahun 2018, film “Get out,” berhasil meraih empat nominasi bergengsi dan bahkan memenangkan satu diantaranya, yakni naskah asli terbaik.

“Kalau kita lihat, memang sekarang sudah enggak ada lagi tuh, genre. Film horor kalau dikerjakan dengan baik, tentunya hasilnya juga akan baik juga,” tambah Joko Anwar.

Amelia Hapsari, anggota the Academy of Motion Picture Arts and Sciences asal Indonesia pertama (dok: Amelia Hapsari)

Amelia Hapsari, anggota the Academy of Motion Picture Arts and Sciences asal Indonesia pertama (dok: Amelia Hapsari)

Walau memang sangat jarang ada film horor di ajang sebesar Oscar, khususnya untuk kategori film internasional terbaik atau yang dulu disebut sebagai kategori film berbahasa asing terbaik, menurut salah satu anggota dari Academy of Motion Picture Arts and Sciences (A.M.P.A.S) asal Indonesia pertama, Amelia Hapsari, “kesempatan itu selalu terbuka.”

Enggak ada rules-nya bahwa itu enggak bisa atau enggak akan mungkin,” jawab Amelia Hapsari saat diwawancara melalui Skype dengan VOA.

Ini adalah tahun pertama Amelia menjadi anggota (A.M.P.A.S) khusus bidang dokumenter, namun selain itu, ia juga bertugas untuk melakukan voting atau menjadi juri di kategori animasi pendek, film pendek, film terbaik, dan film internasional terbaik di ajang Academy Awards.

Promosi dan Kampanye Oscar

Setelah resmi terpilih sebagai perwakilan film suatu negara yang akan dikirim untuk bersaing mendapatkan nominasi Oscar, sebuah film masih harus melalui proses yang panjang, hingga akhirnya bisa mendapat nominasi.

“Banyak yang enggak tahu, pada saat kita mengirim film, itu enggak cuman mengirim film gitu aja. Ada budget lagi yang harus dikeluarkan untuk promote this film di sana, kepada juri-juri yang ada di sana. Mereka harus mengadakan screening-screening ke juri-juri, jadi istilahnya harus ada biaya tambahan untuk itu, gitu,” jelas aktor Lukman Sardi kepada reporter VOA, Made Yoni.

Hal ini dibenarkan oleh Amelia Hapsari yang mengatakan, selain perlu menarik perhatian ribuan anggota A.M.P.A.S untuk akhirnya mau menonton dan memberikan nominasi kepada sebuah film, ada hal-hal lain yang juga berlu dilakukan.

“Biasanya, dalam kompetisi untuk menjadi nominasi ini, banyak hal yang dilakukan untuk film-film itu (untuk) promosi. Pastinya dia harus kemudian mengusahakan supaya ditulis oleh kritikus-kritikus utama dari seluruh dunia, diberitakan di media-media, sehingga film-film ini masuk ke dalam kesadarannya para anggota Academy (A.M.P.A.S.red). Karena kan pastinya ya, ada banyak, ada puluhan film-film yang berusaha untuk masuk menjadi nominasi,” jelas Amelia.

Aktor Lukman Sardi (Courtesy: FFI)

Aktor Lukman Sardi (Courtesy: FFI)

Lukman Sardi menambahkan, maka dari itu film tersebut perlu mendapat dukungan yang kuat, misalnya dari pemerintah, seperti yang dilakukan sebelumnya saat film karya sutradara Mouly Surya, “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak,” menjadi perwakilan Indonesia untuk Oscar tahun 2018.

“Nah, ini pasti juga akan pemerintah akan men-support itu sih, menurut aku ya, karena melihat potensinya. Dan memang harus seperti itu. Enggak bisa cuman didiemin aja, ya udah kirim, abis itu didiemin aja, enggak bisa,” tegas Lukman Sardi.

Menurut Joko Anwar, walau telah terpilih menjadi perwakilan film dari Indonesia, kalau tidak ada yang mengetahui keberadaannya dan tidak ada yang menonton, tidak akan ada gunanya.

Namun, Joko Anwar juga menyadari, bahwa untuk mengadakan kampanye tentunya membutuhkan dana yang sangat besar.

“Kita kan film kecil ya, budget-nya saja mungkin enggak sampai satu juta US Dollars gitu. Jadi ya, saya rasa sih enggak bakal ada campaign,” ucap Joko Anwar.

Kelebihan “Perempuan Tanah Jahanam”

Prestasi film “Perempuan Tanah Jahanam” di industri film memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Film ini telah memborong 17 nominasi di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2020 mendatang, jumlah nominasi terbanyak yang pernah diraih oleh sebuah film dalam sepanjang sejarah FFI.

“Perempuan Tanah Jahanam menurut aku layak (jadi perwakilan film Indonesia di Oscar.red),” tegas Lukman Sardi, yang menjabat sebagai ketua FFI, kepada VOA.

Tidak hanya berprestasi di dalam negeri, film ini juga sudah diputar di berbagai festival film internasional, seperti Sitges Film Festival di Spanyol, International Film Festival Rotterdam di Belanda, Bucheon International Fantastic Film Festival di Korea Selatan, dan Sundance Film Festival di Amerika Serikat, Januari lalu.

Walau tidak mau berkomentar mengenai peluangnya, sebagai juri Oscar, Amelia Hapsari melihat “Perempuan Tanah Jahanam” sebagai film yang “punya nilai yang berbeda,” jika dibandingkan dengan perwakilan film-film Indonesia sebelumnya di ajang Oscar.

“Dia sudah datang ke Sundance ya, berarti sudah lebih dekat kan ke industri (film.red) di Amerika. Karena kan, Oscar itu tempatnya di Amerika. Mau enggak mau, amat banyak si anggota Academy (A.M.P.A.S.red) itu adanya di Amerika dan tentu saja amat banyak dari mereka yang sering datang ke Sundance,” ujar Amelia.

Film “Perempuan Tanah Jahanam” juga bisa ditonton secara online di Amerika Serikat, melalui platform layanan streaming berbayar, Shudder.

“”Impetigore” atau “Perempuan Tanah Jahanam” sudah masuk di berbagai list di Amerika, sebagai salah satu film horor terbaik tahun ini. Bahkan dibanding-bandingkan dengan beberapa judul film Amerika yang punya prestasi tahun ini, termasuk “Midsommar,” ungkap Joko Anwar.

“Ini membuat banyak publik Amerika kepengin menonton film “Perempuan Tanah Jahanam,” dan mudah-mudahan anggota Academy Awards juga, karena memang “Perempuan Tanah Jahanam” atau “Impetigore” sudah punya gaung, mereka juga ingin menontonnya, tanpa ada campaign dari kita,” tambahnya.

Dilirik Kritikus Film AS

Film “Impetigore” atau “Perempuan Tanah Jahanam” sudah banyak diberitakan di berbagai media bergengsi di Amerika Serikat, seperti Variety dan Hollywood Reporter. Banyak kritikus film Amerika yang juga telah mengulasnya. Salah satunya adalah situs ternama, RogerEbert.com, yang didirikan oleh mendiang kritikus film pemenang Pulitzer asal Amerika, Roger Ebert.

Melansir dari RogerEbert.com, situs ini memberi film “Perempuan Tanah Jahanam” 3,5 bintang, dan memuji Joko Anwar yang telah menciptakan suasana tegang di setiap adegan, juga kekuatan tokoh utama, Maya, yang diperankan oleh Tara Basro yang sangat memikat. Situs ini menyebut, “ketika darah mulai mengalir, para penonton akan ketagihan. Joko Anwar juga dianggap telah menghasilkan karya film yang efektif, cerdas, dan provokatif, namun juga menyeramkan.”

Rama Tampubolon (kiri) bersama aktor Iko Uwais (dok: Rama Tampubolon)

Rama Tampubolon (kiri) bersama aktor Iko Uwais (dok: Rama Tampubolon)

Pengamat sekaligus kritikus film di California, Rama Tampubolon, untuk RamaScreen.com yang telah banyak mengulas film Hollywood, memuji gaya pembuatan film Joko Anwar yang “berani dan penuh gaya,” ditambah lagi dengan “sinematografinya yang menarik.”

“Mengingat faktanya bahwa ini adalah film Indonesia, telah memberikan nilai tambah,” tutur Rama Tampubolon kepada VOA belum lama ini.

“Saya berharap “Impetigore” sukses. Semoga film ini bisa terus maju di musim penghargaan kali ini. Walau bagaimana pun nantinya, kita tahu kebenarannya. Joko dan sineas Indonesia lainnya telah membuat kami, orang Indonesia, sangat bangga,” tambah kritikus film asal Indonesia ini.

Kolaborasi Dengan Rumah Produksi Asing

Selain Rapi Films dan Base Entertainment Film, rumah produksi Ivanhoe Pictures dan CJ Entertainment ikut memproduksi film ini. Asal tahu saja, Ivanhoe Pictures – yang berbasis di AS – terlibat dalam pembuatan film-film blockbuster seperti “Crazy Rich Asians.”

Sedangkan CJ Entertainment yang berbasis di Korea Selatan, adalah rumah produksi untuk film “Parasite,” yang pernah mencetak sejarah di panggung Academy Awards. “Parasite” adalah film berbahasa asing pertama, yang berasih meraih piala Oscar untuk kategori film terbaik.

Namun, Joko Anwar menegaskan bahwa filmnya ini dipilih sebagai perwakilan film Indonesia di Academy Awards, bukan karena semata-mata diproduksi oleh perusahaan-perusahaan internasional. Hal ini juga tidak menentukan bagaimana nanti persaingannya di perhelatan Academy Awards.

“Belum tentu nanti perusahaan-perusahaan besar ini akan bikin campaign sih,” kata Joko Anwar sambil tertawa.

“Bagaimana nantinya dengan produser,” tambahnya.

Walau begitu, Amelia Hapsari melihat hal ini lagi-lagi sebagai salah satu nilai tambah dari film ini.

“Jadi di belakang “Perempuan Tanah Jahanam” ini ada mesin-mesin yang sudah pernah melakukan kampanye Oscar sebelumnya. Kemudian mereka pasti juga akan mengusahakan supaya “Perempuan Tanah Jahanam bisa kemudian lolos sebagai nominasi,” ujar Amelia Hapsari.

Terobosan di Dunia Film

Bagi Joko Anwar, terpilihnya film “Perempuan Tanah Jahanam” sebagai perwakilan film Indonesia di Academy Awards merupakan sebuah “terobosan” baru bagi Indonesia. Tidak hanya itu, film ini juga mendapatkan apresiasi yang baik di luar negeri.

“Banyak yang bilang, bahwa mereka pertama kali nonton film Indonesia dan mereka sangat menikmati “Perempuan Tanah Jahanam.” Jadi mereka kepengin lagi tahu film-film Indonesia yang lain, ‘seperti apa sih?’” ucap Joko Anwar.

Hal ini tentu membuat Joko Anwar senang bahwa hasil karyanya ini bisa menjadi “representasi yang baik untuk film Indonesia.”

“Kalau film horor, di setiap negara itu memang punya fans yang jumlahnya sama. Maksudnya, tidak pernah tidak ada,” tambahnya.

Walau perjalanan untuk meraih nominasi piala Oscar masih jauh bagi “Perempuan Tanah Jahanam,” Joko Anwar berharap, orang-orang di luar negeri akan tertarik untuk menontonnya.

“Ada antusiasme dari orang Amerika, terutama Academy Awards’ members, untuk menonton “Perempuan Tanah Jahanam,” itu sudah sesuatu yang menurut saya, misi “Impetigore” untuk jadi representasi film Indonesia sudah tercapai,” pungkas Joko Anwar.

Ajang Academy Awards ke-93 rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 25 April 2021 mendatang, di Los Angeles, California. Acara ini terpaksa mundur dua bulan, karena dampak dari penutupan bioskop, yang menunda banyak perilisan film, terkait pandemi COVID-19. Rencananya, nominasi akan diumumkan tanggal 15 Maret 2021. [di/ab]

Perkembangan dan popularitas kelompok-kelompok gamelan ini karena peran dan dukungan perorangan yang memiliki hobi dan kecintaan pada seni musik gamelan maupun berbagai universitas yang memfasilitasi ketersediaan guru, perangkat gamelan, serta wadah bagi civitas academica yang berminat untuk berlatih dan berpentas.

Selain karena peran dan dukungan perorangan yang mencintai seni musik gamelan, banyak warga Amerika mengenal dan kemudian berminat untuk belajar dan bermain gamelan karena peran perguruan tinggi yang memperkenalkan dan ikut mempopulerkan seni musik itu di kampus.

Banyak perguruan tinggi memasukkan seni gamelan dalam daftar mata kuliah pilihan maupun sebagai konsentrasi dalam jurusan musik. Selain itu, beberapa perguruan tinggi juga menyediakan wadah (tempat dan peralatan) serta guru gamelan bagi kalangan civitas academica yang berminat untuk mengikuti latihan atau sekedar mengapresiasi musik gamelan sebagai kegiatan ekstra kurikuler.

Banyak tokoh musik gamelan dan wayang di Amerika mengakui peran kampus-kampus itu dan mengatakan tidak sedikit dari mereka yang jatuh cinta dengan musik gamelan dan wayang ketika menyelesaikan studi di alma mater mereka.

Pertunjukan wayang kulit dan musik gamelan dari Keraton Yogyakarta digelar di Universitas Yale, New Haven, Connecticut, AS. (Foto: VOA).

Pertunjukan wayang kulit dan musik gamelan dari Keraton Yogyakarta digelar di Universitas Yale, New Haven, Connecticut, AS. (Foto: VOA).

Peran universitas dalam mempopulerkan gamelan dan wayang ini dibenarkan oleh beberapa tokoh gamelan dan wayang Jawa atau Bali di Amerika.

Profesor Sumarsam, diaspora Indonesia yang kini menjabat sebagai guru besar tetap etnomusikologi serta mengajar gamelan di Universitas Wesleyan di Connecticut sejak tahun 1971, mengatakan Universitas California di Los Angeles (UCLA) merupakan perintis berkembangnya musik gamelan di Amerika karena universitas itulah yang pertama kali mamasukkan musik gamelan sebagai salah satu program studi yang ditawarkan.

Prof. Sumarsam, guru besar etnomusikologi, Universitas Wesleyan (foto: dok. pribadi).

Prof. Sumarsam, guru besar etnomusikologi, Universitas Wesleyan (foto: dok. pribadi).

“Gamelan khususnya itu lebih banyak dikenalkan melalui Universitas. Dari awalnya yang memasukkan gamelan dalam kurikulum Universitas yaitu UCLA – University of California Los Angeles – awal 1960an. Lulusan-lulusan dari UCLA yang disiplinnya adalah etnomusikologi mendapatkan pekerjaan di beberapa universitas di Amerika,” paparnya.

Dari universitas, gamelan kemudian dibawa ke luar kampus dan berkembang di masyarakat, hingga membentuk kelompok ensembel gamelan.

“Berkembang memang, berkembang dari hubungannya dengan universitas lalu sekarang ada masyarakat-masyarakat yang punya perkumpulan gamelan. Pernah dihitung sampai 200-an perkumpulan gamelan yang ada di Amerika , tapi saya kira ada yang aktif ada yang nonaktif,” imbuh Sumarsam.

Anggota kelompok gamelan jegog Artha Negara di Santa Cruz, California menujukkan kebolehan mereka.

Anggota kelompok gamelan jegog Artha Negara di Santa Cruz, California menujukkan kebolehan mereka.

Profesor Sumarsam mengatakan bahwa Universitas Wesleyan tempatnya mengajar sangat peduli dengan program world music (musik dunia), terutama dari Afrika, India, dan gamelan dari Indonesia. Ketiga program musik dunia ini terus bertahan dari tahun 1960-an, dan jumlah mahasiswa gamelan sejak itu hingga sekarang tidak mengalami banyak perubahan. Bahkan, katanya pada semester musim semi biasanya banyak mahasiswa yang ditolak karena jumlah pendaftar melebihi kapasitas.

Menurut Profesor Sumarsam, mahasiswa yang mengambil mata kuliah gamelan bukan hanya mahasiswa musik tetapi dari berbagai jurusan lain, misalnya matematika, sains, teknik, ilmu-ilmu sosial dan bahkan studi agama. Selain untuk apresiasi dan pengetahuan, mereka umumnya ingin mendalami rasa kesenian melalui gamelan.

Rasa ingin tahu yang akhirnya menjurus pada pendalaman dan pengabdian penuh pada seni gamelan juga dirasakan oleh Jody Diamond, seorang tokoh dan komonis musik gamelan di Amerika. Dia merasa terpanggil untuk mendalami musik gamelan pada usia 17 tahun ketika mulai kuliah di California Institute of the Arts (Institut Seni California/CalArts). Di kampus itu pula dia pertama kali dalam hidupnya melihat alat musik gamelan yang sangat unik.

Jody mengaku jatuh cinta dengan gamelan pada pandangan pertama di kampus yang didirikan oleh Walt Disney itu dan sejak itu hingga sekarang dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengembangkan dan mempromosikan gamelan di Amerika.

“Saya orang Amerika, tetapi di dalam jiwa saya juga ada orang Indonesia. Kenapa? Karena sejak saya berumur 17 tahun saya jatuh cinta dengan kesenian Indonesia terutama gamelan. Karena saya pengalaman saya dengan gamelan sejak pertama kali saya ketemu, selama hidup saya terlibat dengan kesenian gamelan dalam beberapa peranan, termasuk sebagai murid, sebagai mahasiswa, menjadi guru, juga penulis dan komponis gamelan,” tuturnya.

Jody menceritakan pengalamannya pada awal belajar gamelan ketika dia merasakan ketenangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya,

“Saya mendengar suara kecil di dalam kepala saya, I am going to play this music the rest of my life. Selama saya hidup, saya akan memainkan musik ini. Gamelan menjadi jiwa seni saya. Saya tidak merencanakan belajar musik tetapi gamelan menangkap saya dan saya tetap di dalam kamar gamelan itu sampai sekarang,” tukasnya.

Jody Diamond mengutip seorang gurunya yang mengatakan bahwa dari gamelan orang tidak hanya mendapat pelajaran musik tetapi juga pelajaran kehidupan, tidak hanya pelajaran tentang bagaimana memainkan alat musik tetapi juga “pelajaran tentang bagaimana menjadi orang yang bagus, orang yang halus”, dan karena itulah banyak orang Amerika jatuh cinta dengan gamelan.

“Sebenarnya di dalam pelajaran gamelan ada ilmu kehidupan. Tidak hanya musik, tetapi bagaimana seseorang dapat hidup di dalam dunia ini dengan baik. Saya tahu banyak orang Amerika yang jatuh cinta dengan gamelan karena itu, karena mereka merasa wah saya mendapat ilmu bagaimana saya bisa bekerja sama dengan orang lain, bagaimana saya tidak selalu menonjolkan diri, Saya tidak berperasaan saya orang yang paling penting,” tambah Jody.

Menurut Jody saat ini gamelan Indonesia, termasuk Jawa, Bali, Sunda, Banyumas, sudah ada di lebih dari 25 negara dan menurutnya gamelan merupakan kendaraan kebudayaan Indonesia ke seluruh dunia. “Di Amerika saja ada lebih dari 180 kelompok gamelan,” pungkasnya.

Seorang warga Amerika lainnya, Larry Reed, seorang dalang yang sangat dikenal di dunia perwayangan di seluruh dunia, jatuh cinta dengan gamelan dan wayang Bali sejak dia berkunjung ke Pulau Bali, pada tahun 1970. Sebagai seorang aktor dan sutradara, dia sebelumnya tidak pernah belajar musik, apalagi gamelan. Kunjungannya ke Bali dimaksudkan untuk mempelajari hal yang baru, utamanya seni topeng Bali, tetapi ketika tiba di Pulau Dewata itu, orang-orang yang ditemuinya mengatakan bahwa dia mesti belajar gamelan Bali terlebih dahulu.

“Pada waktu itu saya hanya tertarik dengan teater, terutama dengan topeng-topeng yang ada di Bali. Lantas, ketika saya baru tiba di Bali mereka bilang saya harus belajar main musik dulu, padahal saya sama sekali belum pernah punya pengalaman main musik, bahkan menyanyi pun saya tidak bisa. Waktu di Bali saya melihat topeng dan wayang kulit dan saya tertarik sekali. Itu tahun 1970,” ujar Larry.

Setelah kembali ke Amerika, Larry baru mengetahui bahwa di California ada perguruan tinggi musik, Center for World Music yang mengajarkan musik dari berbagai belahan dunia, termasuk gamelan dari Indonesia. Di situ pula bisa akhirnya menekuni gamelan dan wayang dengan guru dari Indonesia.

“Saya belajar main wayang Jawa dan saya senang sekali dengan itu. Selama beberapa bulan, setiap hari kami belajar dan dalangnya, Pak Umar Topo, menjelaskan berbagai hal tentang Mahabharata yang menarik sekali. Tetapi, sukarnya kalau mau main wayang Jawa alatnya berat dan banyak sekali dan mesti ada banyak penabuh dan sebagainya. Jadi, setelah beberapa tahun saya mulai belajar wayang Bali dengan Pak Nyoman Sumandi di sekolah yang sama, dan saya tertarik sekali dengan itu dan saya bertanya apakah ada kemungkinan saya pergi ke Bali untuk mendalami itu. Sejak itu saya bolak balik pergi ke Bali untuk mendalami lagi selama 20 tahun,” ungkapnya.

Larry Reed menambahkan bahwa dia hormat sekali dengan dunia wayang karena menurutnya filosofi wayang dalam sekali, “tidak kelihatan tetapi penting sekali, dan itulah yang ingin saya bagikan kepada orang lain, termasuk perasaan hormat dan apresiasi kepada orang lain di mana saja. Jadi, saya harus mengakui inspirasi saya datang dari Indonesia, dari wayang, karena filosofinya dalam sekali.”

Selain peran penting universitas-universitas di Amerika dalam memperkenalkan dan mempromosikan seni musik gamelan dan wayang di Amerika, kedutaan besar dan konsulat jenderal Republik Indonesia di Amerika juga memberikan andil yang besar dengan memfasilitasi ketersediaan perangkat gamelan, guru, dan tempat di kantor-kantor perwakilannya di Amerika Serikat. [lt/em]

Untuk memastikan keamanan dan keampuhan vaksin COVID-19 yang dikembangkan berbagai perusahaan farmasi di dunia dan sebelum mendapat izin resmi dari regulator yang berwenang, uji klinis tahap tiga sekaligus terakhir vaksin tersebut perlu melibatkan responden dalam jumlah besar. Ribuan orang di berbagai negara menjadi sukarelawan yang berpartisipasi dalam uji tersebut.

Dua partisipan, masing-masing seorang di Bandung, Indonesia, dan seorang lagi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, berbagi pengalaman mereka sebagai sukarelawan. Apa yang mereka harapkan seusai menjadi partisipan uji klinis ini?

Bermula dari SMS yang diterimanya, Herny Mulyani kemudian memutuskan untuk berpartisipasi dalam uji klinis tahap ketiga vaksin COVID-19. Perempuan yang berprofesi sebagai event manager di sebuah perusahaan berkedudukan di Abu Dhabi itu menduga departemen kesehatan setempat mengiriminya SMS tersebut berdasarkan data base rumah sakit yang pernah dikunjunginya.

SMS itu memberitahu tentang pelaksanaan uji vaksin tahap ketiga dan menyertakan tautan registrasi apabila ia berminat bergabung sebagai partisipan uji itu. Mengaku sebagai seorang risk taker, ia malah mengajak suaminya untuk bersama-sama mendaftarkan diri sebagai sukarelawan. Motivasinya?

Herny Mulyani, sukarelawan uji klinis fase tiga vaksin COVID-19 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (Foto: dokumentasi pribadi/Herny Mulyani)

Herny Mulyani, sukarelawan uji klinis fase tiga vaksin COVID-19 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (Foto: dokumentasi pribadi/Herny Mulyani)

“Aku nggak tahu bakal dapat benefit A B C D E. Yang terbersit dalam pikiran, aku ingin mendapatkan vaksin, ini saja,” jelas Herny.

Setelah melalui proses pendaftaran hingga cek kesehatan yang berlangsung dalam satu hari saja, Herny dan suaminya dinyatakan diterima sebagai volunteer.

Lain lagi kisah Adil Maulana, penyiar radio Klite di Bandung. Awalnya ia ragu-ragu ketika diajak istrinya, yang lebih dulu mendapat informasi mengenai kesempatan menjadi sukarelawan dalam uji klinis vaksin COVID-19, untuk bersama-sama mendaftarkan diri. “Dia sudah tahu informasinya lebih dulu, kemudian saya diajak. Saya pikir-pikir, nggak ada salahnya juga,” jelas Adil.

Lucunya, lanjut Adil, setelah keduanya mendaftarkan diri, justru sang istri yang tidak dipanggil menjadi sukarelawan. “Ada juga dorongan buat saya, motivasi saya. Kalaupun ternyata saya betul menerima vaksinnya dan saya kuat, berarti (vaksin) Sinovac memang cocok untuk orang Asia, atau untuk anak Bandunglah istilahnya. Saya bisa memberi gambaran buat yang mungkin nanti divaksin, bahwa tidak akan ada masalah,” imbuhnya.

Kedua sukarelawan ini sama-sama mengikuti uji klinis untuk vaksin yang dibuat oleh perusahaan farmasi China. Di Abu Dhabi, Herny mengikuti uji klinis untuk vaksin buatan Sinopharm, sedangkan Adil untuk Sinovac. Meskipun demikian, keduanya tidak tahu apakah suntikan yang mereka terima adalah vaksin yang dikembangkan kedua perusahaan itu ataukah plasebo.Karena tidak tahu persis itulah, mereka tetap menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan, seperti menerapkan social distancing dan mengenakan masker.

“Kewajibannya sama, kita tetap harus melakukan protokol kesehatan, social distancing, tetap harus memakai masker. Tetap lho, nggak mentang-mentang karena saya volunteer, saya boleh berbuat apa-apa, nggak,” jelasnya.

Kondisi mereka dipantau setiap satu atau dua hari sekali, dan setiap periode tertentu mereka menjalani pemeriksaan kesehatan.

Apa saja yang mereka alami selama mendapat suntikan-suntikan itu?

Herny mengaku merasakan gejala yang biasa dialami sewaktu diimunisasi yang kemudian hilang sendiri dalam tiga hari kemudian tanpa minum obat.

Adil Maulana bersama Wali Kota Bandung Yana Mulyana yang pernah menjadi pasien COVID-19. (Foto: pribadi)

Adil Maulana bersama Wali Kota Bandung Yana Mulyana yang pernah menjadi pasien COVID-19. (Foto: pribadi)

Begitupun Adil yang sempat merasakan ada yang berbeda seusai suntikan dosis kedua, dibandingkan dengan pengalamannya setelah suntikan pertama.

“Ada nyeri otot, kemudian ada agak lemas. Tapi kebetulan keluhan-keluhan itu tidak lama, semua normal kembali. Kurang lebih hampir empat hari,” jelasnya.

Meskipun tidak ada pembatasan yang ia rasakan, setelah tes ke-dua itu Adil diharuskan untuk meminta izin dulu ke dokter apabila ia harus bepergian keluar kota. Ia juga harus melaporkan tujuan, berapa lama bepergian serta keluhan yang mungkin ia alami selama itu.

Bagi Herny, menjadi sukarelawan mendatangkan hal yang tidak diduga-duganya. Ia bebas bepergian di antara tujuh emirat yang tergabung dalam Uni Emirat Arab tanpa menjalani tes COVID wajib. Asal tahu saja, warga nonsukarelawan akan terkena denda yang banyak apabila tidak melakukan tes wajib itu setiap keluar masuk suatu negara.

Beberapa peralatan kesehatan (hadiah) untuk sukarelawan. (Foto: dokumen pribadi/Herny Mulyani)

Beberapa peralatan kesehatan (hadiah) untuk sukarelawan. (Foto: dokumen pribadi/Herny Mulyani)

“Bahkan kalau lewat darat dari Dubai, ada jalur khusus untuk volunteer, red mark, lurus jadi tidak usah mengantre, tinggal memperlihatkan aplikasi saya yang ada tulisan nama, data dan status saya sebagai volunteer. Alhamdulillah saya tidak pernah kesusahan untuk ikut tes-tes itu,” tambah Herny.

Sejumlah alat kesehatan, serta voucher belanja di supermarket yang ia terima juga dianggapnya sebagai rezeki tidak terduga.

Serupa tapi tak sama bagi Adil. Meski tidak menerima kemudahan seperti sukarelawan di Abu Dhabi, Adil menerima uang saku sebagai pengganti ongkos transportasi sewaktu pemeriksaan kesehatan serta asuransi kesehatan selama menjadi sukarelawan.

Lantas setelah menjadi sukarelawan, apa yang mereka harapkan dari vaksin-vaksin yang diujicobakan di negara masing-masing?

Herny berharap vaksin produksi Sinopharm itu efektif. Ia telah mulai beraktivitas di luar rumah sejak Agustus lalu dan hingga kini ia bersyukur karena kondisi ia dan suaminya baik-baik saja. Selain itu, berdasarkan kabar yang ia terima, dari 31 ribu sukarelawan di Abu Dhabi dan Dubai di Uni Emirat Arab, hanya satu yang positif terjangkit virus corona.

Sementara itu, mengingat banyak di antara kasus meninggal adalah tenaga medis, Adil berharap apabila vaksin yang diujicobakan itu terbukti aman, maka, “Para tenaga medis dulu mungkin ya, yang didahulukan mendapatkan vaksinnya. Dan juga mungkin orang yang lebih tua.” [uh/ka/ab]

Dalam diskusi yang membahas pemenuhan hak anak berhadapan dengan kejahatan transnasional, Program Officer Migrant Care di Kuala Lumpur, Nor Zana binti Mohamad Amir, bercerita banyak anak pekerja migran asal Indonesia tidak memiliki kewarganegaraan.

Kondisi ini salah satunya disebabkan aturan keimigrasian Malaysia yang melarang sesama pekerja migran menikah atau antara pekerja migran dengan warga Malaysia, apalagi sampai mempunyai anak.

Menurut Nor Zana, anak pekerja migran dapat berstatus tanpa kewarganegaraan kalau pernikahan mereka tidak didaftarkan ke negara atau mendapat pengesahan dari negara. Dia mencontohkan lelaki Malaysia menikah siri dengan perempuan Indonesia yang merupakan pekerja migran tidak berdokumen hingga memiliki anak.

“Ketika orang tua tidak berdokumen, jadi mereka tidak bisa melakukan pendaftaran anak karena akses informasi yang kurang. Ketakutan mereka untuk bergerak dari tempat bekerja atau perkebunan mau ke KBRI karena sering banget razia. Mereka takut kalau sampai ditahan,” kata Nor Zana.

Para pekerja migran dari Indonesia di luar gubuk mereka di Kuala Lumpur, Malaysia, 19 Juni 2011. (Foto: Reuters)

Para pekerja migran dari Indonesia di luar gubuk mereka di Kuala Lumpur, Malaysia, 19 Juni 2011. (Foto: Reuters)

Nor Zana menambahkan Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ibu Kota Malaysia, Kuala Lumpur, sudah mengeluarkan kebijakan dengan menerbitkan surat keterangan kewarganegaraan dan surat pengenal lagi bagi anak-anak pekerja migran dari Indonesia. Namun, lagi-lagi pekerja migran Indonesia kesulitan untuk memperoleh akses informasi dan akses ke KBRI.

Karena itu, Nor Zana menyarankan agar KBRi bekerja sama dengan komunitas-komunitas pekerja migran Indonesia untuk mendata anak-anak pekerja migran Indonesia yang belum memiliki kewarganegaraan.

Persoalan lain yang dihadapi anak pekerja migran Indonesia di Malaysia adalah akses pendidikan. Bagi anak-anak tanpa kewarganegaraan, mereka sulit mendapat akses pendidikan di Malaysia. Mereka hanya bisa mengenyam pendidikan informal, seperti mengaji atau belajar mandiri dengan orang tua di rumah.

Namun bagi pekerja imigran yang telah berstatus warga negara Malaysia atau penduduk tetap, anak-anak mereka dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

“Biasanya situasi di lapangan, itu ketika mereka punya anak dari umur 6 tahun sudah dihantar pulang oleh ibunya nanti ditinggal lagi, ibunya yang ke sini lagi sama bapaknya. Jadi dihantarkan pulang untuk disekolahkan di Indonesia,” ungkap Nor Zona.

Beberapa organisasi masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Malaysia berusaha membantu dengan memberikan pengajaran dan pendidikan agama gratis kepada anak-anak pekerja migran Indonesia. Hal itu mereka lakukan dengan mendatangi komunitas-komunitas pekerja migran Indonesia.

Nor Zana mengatakan pemerintah Indonesia juga sudah mulai memperhatikan pendidikan anak-anak pekerja migran di Malaysia, yakni lewat pemberian beasiswa untuk belajar di Sekolah Indonesia di luar negeri dan Community Learning Center atau pusat belajar komunitas.

Anak-anak pekerja migran di Malaysia tanpa kewarganegaraan juga sulit mendapatkan akses pekerjaan. Mereka juga tidak bisa membuka rekening bank, mengajukan pinjaman, atau membeli kendaraan bermotor. Sedangkan anak-anak pekerja migran berkewarganegaraan Malaysia atau penduduk tetap sangat mudah memperoleh akses pekerjaan.

Para tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia berada di KBRI Kuala Lumpur saat menunggu dipulangkan dari Malaysia (foto: dok.).

Para tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia berada di KBRI Kuala Lumpur saat menunggu dipulangkan dari Malaysia (foto: dok.).

Dihubungi VOA melalui WhatsApp hari ini, Koordinator Penerangan Sosial Budaya KBRI di Malaysia, Agung Cahaya Sumirat menjelaskan KBRI memberikan bantuan keepada warga negara Indonesia yang ingin mendapatkan status kewarganegaraan, termasuk mereka yang tidak berdokumen resmi.

Dia menambahkan situasi di Malaysia cukup rumit. Pekerja migran tidak boleh berkeluarga atau menikah. Tapi faktanya banyak pekerja migran yang menikah.

Meski begitu, lanjut Agung, KBRI Kuala Lumpur tetap melayani warga yang ingin anaknya diakui sebagai warga negara Indonesia.

“KBRI akan mewawancarai orang tua dan jika dapat mereka bisa meyakinkan bahwa mereka memang warga negara Indonesia, maka akan dikeluarkan dokumen Surat Bukti Pencatatan Kelahiran (SBPK),” kata Agung.

Staf KBRI Kuala Lumpur juga rajin mendatangi rumah tahanan imigrasi. Jika ada warga Indonesia yang mempunyai anak, KBRI segera membantu pengurusan SBPK.

Hingga November tahun ini, KBRI Kuala Lumpur telah mengeluarkan SBPK untuk 5.934 anak pekerja migran asal Indonesia. Jumlah ini belum termasuk SBPK yang diterbitkan oleh Konsulat jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Penang, Johor Baru, Kuching, dan Tawau. [fw/lt]

Dua korban penembakan yang masih pelajar itu bernama Atanius Murib (16) dan Manus Murib (16). Atanius tewas di lokasi, sedangkan Manus yang mengalami luka tembak masih menjalani perawatan di rumah sakit. Pelaku penembakan di Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, pada Jumat (20/11) masih belum terungkap.

Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom menuturkan bahwa penembakan terhadap dua pelajar itu dilakukan oleh pasukan TNI-Polri.

“Manajemen markas pusat Komnas TPNPB-OPM telah terima laporan resmi dari Ilaga, hari ini bahwa terjadi penembakan terhadap pelajar. Penembakan ini dilakukan oleh pasukan TNI-Polri,” kata Sebby saat dihubungi VOA, Sabtu (21/11) pagi.

Ilustrasi. Proses evakuasi salah satu korban penembakan di Kabupaten Intan Jaya, Papua, Sabtu, 26 Oktober 2019. (Foto: Kapendam XVII/Cenderawasih)

Ilustrasi. Proses evakuasi salah satu korban penembakan di Kabupaten Intan Jaya, Papua, Sabtu, 26 Oktober 2019. (Foto: Kapendam XVII/Cenderawasih)

Lanjut Sebby, pihaknya tak terima dengan tudingan dari TNI yang menyatakan bahwa pelaku penembakan adalah TPNPB-OPM. Menurutnya, tidak ada kontak senjata antara pihaknya dengan TNI-Polri di lokasi kejadian.

“TPNPB-OPM sampaikan kepada semua pihak bahwa TNI-Polri sedang melakukan penipuan publik dengan dalil bahwa pasukan kami yang tembak warga sipil. Dalam hal ini kami dari pihak TPNPB-OPM sampaikan kepada publik bahwa yang tembak warga sipil di Ilaga adalah anggota TNI-Polri. Mereka harus bertanggung jawab,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah III, Kolonel Czi IGN Suriastawa mengatakan KSB (sebutan TNI-Polri ke TPNPB-OPM) diduga merupakan pelaku penembakan terhadap dua pelajar itu.

“KSB kembali berulah, kali ini korbannya warga asli Papua. Penembakan kali ini diduga dilakukan oleh KSB terhadap dua di Distrik Sinak menuju Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua,” kata Suriastawa dalam keterangan tertulisnya, Jumat (20/11).

Suriastawa melanjutkan, aksi brutal KSB ini bermotif intimidasi kepada masyarakat karena tidak mendapat dukungan dari masyarakat setempat. Aksi KSB kepada warga asli Papua ini disinyalir sebagai upaya untuk memutarbalikkan fakta dengan menuduh TNI-Polri sebagai pelakunya.

“Motif pemutarbalikan fakta dan playing victim melalui media massa selalu menjadi trik dari kelompok pro KSB serta pendukungnya di dalam dan luar negeri untuk menyudutkan pemerintah Indonesia,” tegas Suriastawa. [aa/em]

Presiden Indonesia Joko Widodo berbicara melalui video yang tersambung ke pertemuan para CEO Asia-Pasifik. Jokowi menginginkan komitmen yang lebih dalam terhadap perdagangan bebas untuk meningkatkan ekonomi kawasan yang dilanda pandemi virus corona.

Acara hari Kamis (19/11) itu diadakan menjelang pertemuan para pemimpin Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang diselenggarakan Malaysia. KTT APEC itu akan dimulai Jumat dan dilakukan secara daring karena pandemi.

Presiden Jokowi membela Undang-undang Cipta Kerja yang baru yang kontroversial. Ia percaya undang-undang itu akan memperbaiki iklim bisnis dan menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Undang-undang itu disetujui bulan lalu, merevisi 79 peraturan yang ada dan memicu protes kekerasan dari para pekerja yang khawatir undang-undang itu akan mengebiri hak-hak pekerja dan merusak lingkungan. [ka/lt]

Hubungan Amerika-Indonesia, menurut pengamat, akan lebih baik di bawah pemerintahan Biden-Harris nanti. Pendekatan pemerintahan Biden yang dinilai lebih dialogis, diyakini membuka peluang hubungan baik dengan banyak negara, termasuk Indonesia, selain berlanjutnya normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara jazirah Arab, dikenal sebagai Abraham Accords.

Presiden terpilih AS Joe Biden

Presiden AS Terpilih, Joe Biden

Dalam tulisannya yang terbit pada awal tahun ini di Majalah Foreign Affairs, “Why America Must Lead Again,” Joe Biden mengatakan, sebagai presiden ia akan mempererat kemitraan dengan Indonesia untuk memajukan nilai-nilai bersama di kawasan yang akan menentukan masa depan Amerika.

Setelah Biden menjadi presiden terpilih, Prof. Tirta Mursitama, pengamat internasional dan kepala departemen Hubungan Internasional Binus University di Jakarta mengatakan, “Dianggap bahwa Indonesia masih sebagai mitra yang penting, sebagai jembatan ‘perseteruan’ antara Amerika dan Tiongkok. Ini hal yang tidak bisa disepelekan. Siapapun presiden Amerika Serikat, partai apapun, pasti dia akan datang mendekati Indonesia.”

Tetapi, Prof Tirta mengingatkan, tidak akan banyak perubahan pada Indonesia karena, “kalau demokrat itu berkuasa, isu-isu HAM kita pasti direcokin gitu. Mungkin ada isu Papua, mungkin juga penghormatan soal kaum minoritas. Itu mungkin akan menjadi PR buat kita tapi, menurut saya, kita tidak terlalu khawatir karena itu merupakan juga bunga-bunga dari satu hubungan luar negeri. Persoalan di domestik kita seperti apa, pasti juga kita akan meminta mereka menghormati juga masalah kita.”

Tirta kemudian mengajak masyarakat optimistis. Menurutnya, Biden menjadi kesempatan sekaligus tantangan, seperti apa politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, pada masa depan.

Dino Patti Djalal, Mantan Wakil Menlu RI dan Dubes RI untuk AS (foto: courtesy).

Dino Patti Djalal, Mantan Wakil Menlu RI dan Dubes RI untuk AS (foto: courtesy).

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, yang juga mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika, Dr. Dino Patti Djalal menilai Biden sangat peka terhadap kepentingan umat dan dunia Islam. Salah satu alasannya, karena Biden adalah wakil presiden semasa pemerintahan Presiden Obama. Pendiri dan juga ketua Foreign Policy Community of Indonesia itu mengatakan pemerintahan Obama memang secara sistematis berusaha memperbaiki hubungan dengan dunia Muslim dan Biden bagian dari itu. Ia mengakui upaya Obama itu tidak 100% efektif karena ada polling di dunia Islam yang menunjukkan beberapa negara tidak mempan. Image Amerika masih tidak terlalu baik di negara-negara tersebut, termasuk di Timur Tengah.

“Saya sangat meragukan, mohon maaf sekali, meragukan Presiden Biden akan mendorong perdamaian Israel-Palestina karena sekarang ini prioritasnya adalah tentu, nomor satu adalah COVID dan kedua adalah pemulihan ekonomi. Paling tidak untuk dua tahun pertama, dia tidak akan bisa mendorong perundingan Palestina Israel, dan ini mungkin bad news bagi Palestina. Tapi good news-nya, presiden Biden nanti akan beda dari presiden Trump dalam arti dia tidak akan mau menuruti Israel,” ulas Dino Djalal.

Pengamat lain, Dr. Muhamad Ali, dosen dan juga ketua program Middle East and Islamic Studies pada University of California Riverside berharap solusi dua negara bagi hubungan Israel dan Palestina akan terwujud. Sedangkan untuk Indonesia, ia optimistis akan dicapai hubungan dan kerjasama dalam banyak bidang, termasuk pendidikan.

Pada masa pemerintahan Biden-Harris, menurut Muhamad Ali, kemungkinan akan ada lagi utusan khusus untuk negara-negara Islam. Sedangkan khusus untuk Indonesia, Ali memperkirakan, “Saya kira akan melanjutkan US Indonesia Strategic Partnership dalam bidang militer, sains dan teknologi, kemudian juga isu perubahan iklim, itu juga akan dilanjutkan kembali, kemudian juga mungkin pembangunan infrastruktur ya, ikut membantu jaringan internet komunikasi teknologi dan lain-lain. Kemudian interfaith building mungkin, kerjasama dialog antar agama di Indonesia juga mungkin akan semakin didorong mungkin dengan technical assistance atau mungkin dengan dana dan lain-lain.”

Ali juga memperkirakan, dalam pemerintahan Biden Harris kelak akan terjadi peningkatan dalam kerjasama bidang pendidikan. Dan itu, menurutnya, adalah kemitraan yang paling strategis. [ka/ab]

Penyelenggaraan FFI telah berlangsung sejak tahun 1955 meskipun sempat berkali-kali mengalami jeda, sebelum akhirnya rutin terlaksana setiap tahun mulai 2004. Tahun ini penyelenggaraan FFI tidak semegah tahun-tahun sebelumnya karena pandemi.

Lukman Sardi, Ketua FFI 2020, mengatakan pandemi justru menunjukkan pentingnya hiburan-hiburan melalui layanan streaming.

“Inikan membuktikan bahwa karya-karya film menjadi sebuah hal yang penting buat masyarakat,” kata Lukman Sardi sambil menambahkan industri perfilman Indonesia telah mengikuti tren ini meskipun produksi film yang beranggaran besar, masih tetap mengharapkan pulihnya bioskop, yang sebelum pandemi menarik lebih dari 52 juta penonton selama setahun.

Meskipun perhelatan perfilman ini dilakukan secara terbatas, FFI tetap menggelar Malam Penganugerahan Piala Citra pada 5 Desember 2020. Ini menunjukkan kelangsungan industri perfilman Indonesia.

“Festival Film Indonesia berbicara tentang kualitas film Indonesia dan akan selalu menjadi bench mark untuk FFI selanjutnya, tentunya harapan kita masyarakat melihat bahwa industri film itu tidak mati dan industri film itu tetap berkarya dan juga menghibur masyarakat,” ujar Lukman Sardi.

Tahun ini FFI ini juga menggunakan sistem voting untuk menentukan pemenang masing-masing kategori Piala Citra menyusul pengumuman nominasi 7 November lalu.

‘’Proses nominasi, dan pada akhirnya para anggota FFI akan memvoting dari nominasi-nominasi itu, ini penting menjelang malam anugerah, karena ini yang akan menjadi acara utama yaitu apresiasi tersebut,” ujar Lukman Sardi.

Dwi Sujanti Nugraheni, Sutradara Film Dokumenter Panjang Between the Devil and the Deep Blue Sea.

Dwi Sujanti Nugraheni, Sutradara Film Dokumenter Panjang Between the Devil and the Deep Blue Sea.

Dwi Sujanti Nugraheni (Heni) adalah sutradara film “Between the Devil and the Deep Blue Sea.” Film itu dinominasikan mendapat penghargaan Film Dokumenter Panjang Terbaik bersama film “You and I.”

Mengomentari sistem ini, ia mengatakan, “Kedua film berbicara mengenai perempuan. Yang satu mengenai eks 1965, sementara film saya mengenai Ona, kekerasan. Buat saya kedua film ini penting dan saya tidak begitu peduli siapa yang akan menang,” ujar Heni.

Between The Devil and The Deep Blue Sea (Courtesy: DJ Nugraheni).

Between The Devil and The Deep Blue Sea (Courtesy: DJ Nugraheni).

Berbicara mengenai perempuan dalam industri film Indonesia, Heni mengatakan, banyak tantangan yang harus dihadapi untuk membuktikan kesetaraan perempuan dan rekan sutradara laki-laki, terutama pada film fiksi.

“Sebenarnya kalau di dokumenter itu saya merasa perempuan justru mendapat tempat, karena di dunia film fiksi setahu saya itu dunia yang sangat laki-laki.”

Salah satu film yang dinominasikan mendapat penghargaan film terbaik FFI 2020, Perempuan Tanah Jahanam, juga akan diikutsertakan untuk bersaing meraih nominasi kategori film berbahasa asing terbaik OSCAR.

Film Perempuan Tanah Jahanam (Courtesy: Instagram FFI).

Film Perempuan Tanah Jahanam (Courtesy: Instagram FFI).

Lukman Sardi mengatakan banyaknya film-film Indonesia yang sudah menembus ajang perfilman Internasional, termasuk yang melibatkan pemeran. Ia yakin kurasi yang dilakukan FFI akan bisa merangkul dan menghasilkan film, kru dan pemeran yang berkualitas.

Seperti tahun lalu, jumlah penghargaan tetap 21 kategori, di antaranya untuk kategori:

Film Cerita Panjang Terbaik: The Science of Fictions, Humba Dreams, Imperfect, Mudik, Perempuan Tanah Jahanam dan Susi Susanti: Love All.

Film Humba Dreams (Courtesy: Instragram FFI).

Film Humba Dreams (Courtesy: Instragram FFI).

Sutradara Terbaik: Faozan Rizal – Abracadabra, Joko Anwar – Perempuan Tanah Jahanam, Riri Riza – Humba Dreams, Sim F – Susi Susanti: Love All, Yosep Anggi Noen – The Science of Fictions

Pemeran Utama Perempuan Terbaik: Faradina Mufti – Guru-guru Gokil, Jessica Mila – Imperfect, Laura Basuki – Susi Susanti: Love All, Putri Ayudya – Mudik, Tara Basro – Perempuan Tanah Jahanam dan Ully Triani – Humba Dreams

Pemeran Utama Pria Terbaik, Alqusyairi Radjamuda – Mountain Song, Ario Bayu – Perempuan Tanah Jahanam, Dion Wiyoko – Susi Susanti: Love All, Gunawan Maryanto – The Science of Fictions, Ibnu Jamil – Mudik, Reza Rahadian – Abracadabra, Reza Rahadian – Imperfect. [my/ka]