Indonesia mampu menjadi negara maju – Pada tahun 1967 silam, Indonesia pernah menjadi salah satu bangsa termiskin di Asia. Wajar saja, 97% dari pendahulu kita adalah buta huruf ketika Indonesia merengkuh kemerdekaan. Ya, kita pernah berkubang di lumpur yang menyedihkan.

Kira-kira separuh abad yang lalu, hanya bangsa Rwanda, Burundi dan Mali yang memiliki nasib lebih mengenaskan dari Indonesia. Sungguh sebuah ironi pada masa itu dimana negara yang memiliki sumber daya alam melimpah harus masuk ke daftar di atas. Alasannya tak lain karena ketidakstabilan dan kompleksnya situasi politik di Indonesia.

Indonesia Kini; 2020

“Kami menggoyang langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang bekerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”

Ir Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia

Nyatanya, frasa bangsa tempe, bangsa kuli, dan banhsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari cukup mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia kala itu. Seakan sebuah dongeng, kita mungkin tak akan percaya kalau Indonesia pernah memiliki nasib sekelam demikian.

Puluhan tahun berlalu, Indonesia telah bertransformasi menjadi negara yang begitu kontras dengan kesedihannya dulu. Ya, negara kita tak lagi muncul di papan klasemen negara termiskin. Baik di dunia, maupun di Asia.

Negara termiskin di dunia 2020

Dari urutan terbawah, saat ini kita telah sukses menyalip Filipina, Myanmar, bahkan India. Kita sukses menjadi negara papan tengah, dan tentunya memiliki peluang yang besar untuk lebih maju lagi di masa depan.

Negara dengan infrastruktur terbaik di Asia tenggara

Dari segi infrastruktur transportasi, nama kita bertengger di posisi yang cukup menggiurkan. Hal yang tentunya dapat memantik investor untuk menanamkan modalnya di kita.

Jangan lupakan pula aspek kompetitif. Dari negara urutan terbontot, kita sukses menanjak tangga hingga menjadi urutan ke-empat di Asia Tenggara dan nomor 45 di dunia. Ya, 50 besar dari ratusan negara di dunia ini!

Ketika bangsa ini menjalani kehidupan tahun 1960-an, kita disibukkan dengan urusan kelaparan, gizi buruk, polio, buta huruf, dan pembunuhan senegara.

Sekarang bangsa Indonesia disibukkan oleh perkara investasi, infrastruktur jalan tol, kereta peluru, MRT, pemerataan ekonomi, ekspor lobster, hutan, kualitas pendidikan, mobil listrik, korupsi anggaran, kedaulatan data, alutsista, demo buruh, demokrasi, dan debat agama.

Betul. Masalah semakin kompleks. Tapi coba perhatikan, levelnya sudah berbeda. Suka tidak suka, begitu jauh bangsa ini sudah berubah dalam enam puluh tahun.

Belajar dari Korea Selatan yang Mampu Berevolusi menjadi Raksasa

Korea Selatan berangkat dari negara miskin pada tahun 1965, sampai menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-sebelas di dunia pada tahun 1995. Dari sebuah negara yang bertahan dengan mengirimkan pekerja-pekerja kasar di tambang batu bara Jerman, hingga kini menjadi manufaktur teknologi kelas dunia. Berawal negara yang ibukotanya tidak mempunyai bentuk, menjadi salah satu kota metropolitan termodern di dunia.

Seoul, pernah disebut sebagai ‘neraka urban’. Sungai Han yang bercorak kecokelatan diapit oleh rumah-rumah berdinding tripleks kumuh. Warganya hidup di kemiskinan akut, pencemaran di mana-mana, dan angka kejahatan begitu tinggi. Di negara ini hanya terdapat 50 perusahaan aktif yang memperkerjakan tidak sampai seribu orang karyawan. Sisa penduduknya semua bekerja serabutan.

Di waktu musim dingin melanda Korea, mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Masyarakatnya berpendidikan rendah, oligarki dan mafia menguasai negeri, alamnya tidaklah mempunyai SDA yang bisa diandalkan, dan pemimpinnya tidak kompeten.

Dalam peringkat perekonomian dunia, Korea Selatan di masa sulitnya memiliki posisi papan tengah. Posisi yang sama yang dimiliki Indonesia saat ini. Bahkan secara kasat mata, tentunya kita tahu walau di posisi yang sama, kondisi kita sekarang jauh lebih menguntungkan ketimbang mereka.

Satu Generasi Adalah Kunci Perubahan

Korea telah mengubah nasibnya dalam satu generasi. Singapura mengubah nasibnya dalam satu generasi. China mengubah nasibnya dalam satu generasi. Selanjutnya, barangkali negara tetangga kita, Vietnam, yang akan mengubah nasibnya dalam satu generasi mendatang.

Lantas, apakah kita akan mengikuti jejak yang sama? Tidak perlu waktu lama. Untuk mengubah negeri Indonesia menjadi negara kaya atau menjadi negara miskin. Menjadi negara sejahtera atau menjadi negara gagal. Menjadi Macan Asia atau kembali menjadi Raksasa Tidur Asia Tenggara. Semua itu hanya perlu satu generasi.

Setiap generasi mempunyai tantangan masing-masing. Mengatakan bahwa “masalah Indonesia saat ini begitu berat sehingga tidak mungkin jadi negara maju” adalah satu penghinaan terhadap leluhur kita, yang telah membawa bangsa ini dari papan bawah menuju papan tengah, dari negara termiskin di Asia menjadi negara menengah.

Meskipun perjalanan tidak selalu lancar, Indonesia sudah pernah beranjak dari negara termiskin di Asia menjadi anggota G-20. Indonesia sudah pernah lolos kekacauan dari periode 1945, 1949, 1953, 1961, 1965, 1974, 1984, 1998, dan luput dari Balkanisasi.

Siapkah Generasi Z Membawa Indonesia Menjadi Negara Maju?

Angkatan terbaru dalam generasi dunia karir di Indonesia mulai diisi oleh generasi Z, penerus generasi Y atau yang kerap disebut milenial. Di masa depan, pos-pos strategis dalam lingkup organisasi swasta maupun pemerintah akan diisi oleh generasi pembaharu ini.

Seperti yang sebelumnya telah dipaparkan, sekarang adalah kesempatan generasi Z untuk menyetir kemana negara ini kan mengarah. Ke arah yang lebih baik sehingga bisa mengantarkan Indonesia agar mampu menjadi negara maju, atau justru sebaliknya?

Jawabannya; tergantung. Dan percayalah, ini akan sulit, jauh lebih sulit dari perjuangan generasi sebelumnya. Namun bukan berarti mustahil. Karena ingat, posisi kita saat ini bisa dibilang tidaklah buruk.

Terkecuali kalau generasi Z hanya bisa berkoar “Hidup saya susah. Birokrasi berbelit, pemerintah korup, dan rakyatnya tidak terdidik. Indonesia tidak akan maju!” seraya menyeruput kopi di Starbucks, kemudian memposkan keluh-kesahnya di Instagram, hanya gara-gara membaca berita politik.