Jumlah korban tewas akibat tanah longsor di wilayah timur Indonesia telah meningkat menjadi 126 sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang, menurut keterangan sejumlah pejabat, Rabu (7/4), sebagaimana dikutip kantor berita Associated Press. Sementara itu, hujan terus mengguyur wilayah itu sehingga menghambat upaya pencarian.

Kabupaten Flores Timur di pulau Adonara, sejauh ini, mencatat jumlah korban tewas tertinggi dengan 67 mayat ditemukan sementara enam orang lainnya masih dinyatakan hilang. Puluhan orang tewas akibat terendam banjir lumpur dari bukit-bukit sekitarnya Minggu pagi, saat mereka masih terlelap tidur. Beberapa lainnya tersapu banjir bandang setelah hujan semalaman menyebabkan sungai-sungai meluap.

Banjir bandang di Lembata, Flores Timur, puluhan orang hilang, lebih dari 70 orang tewas, 5 April 2021. (Foto: dok).

Banjir bandang di Lembata, Flores Timur, puluhan orang hilang, lebih dari 70 orang tewas, 5 April 2021. (Foto: dok).

Di pulau Lembata di dekatnya, hujan lebat yang dipicu oleh Topan Tropis Seroja membuat lava yang membeku dari letusan gunung berapi November lalu jatuh menenggelamkan belasan desa di dekatnya. Sedikitnya 28 tewas dan 44 lainnya belum ditemukan di pulau itu, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Ratusan polisi, tentara, dan warga setempat menggali puing-puing dengan tangan kosong, sekop, dan cangkul untuk mencari mereka yang terkubur. Pada hari Selasa, banyak orang meratap ketika mereka menyaksikan tim penyelamat mengeluarkan sesosok tubuh berlumur lumpur, meletakkannya di atas tandu bambu dan membawanya untuk dimakamkan.

Secara keseluruhan, tanah longsor dan banjir telah menewaskan sedikitnya 126 orang di beberapa pulau di Indonesia serta 27 orang di negara tetangga, Timor Leste. Ribuan rumah rusak dan ribuan orang mengungsi akibat cuaca buruk yang diperkirakan akan berlanjut hingga setidaknya Jumat saat badai bergerak ke selatan menuju Australia.

Upaya penyelamatan terhambat oleh hujan dan keterpencilan daerah-daerah yang dilanda bencana, di mana jalan-jalan dan jembatan-jembatan rusak di banyak tempat.

Tim penyelamat dengan sejumlah ekskavator dan berton-ton makanan dan obat-obatan dikerahkan dari Makassar, tetapi terhalang oleh kurangnya transportasi laut. Kepala BNPB Doni Monardo meminta sektor swasta mendukung upaya pengiriman bantuan.

Tiga helikopter mulai mencapai daerah-daerah terpencil di pulau-pulau itu pada hari Selasa, dan Presiden Joko Widodo mengadakan rapat Kabinet di Jakarta untuk mempercepat operasi tersebut.

Juru bicara BNPB Raditya Jati mengatakan tiga helikopter lagi dengan persediaan bantuan dan personel penyelamat tiba Rabu, dan sebuah kapal rumah sakit yang membawa lebih banyak barang diharapkan tiba pada Jumat untuk membantu klinik-klinik kesehatan yang kewalahan menangani korban. [ab/uh]

Kota Kupang masih gelap-gulita hingga Senin (5/4) malam karena angin kencang, yang dipicu siklon tropis Seroja, merobohkan jaringan kabel listrik di Ibu Kota Provinsi NTT itu. Pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang terbatas juga mengakibatkan warga tidak bisa menyalakan genset.

“Listrik sampai sekarang betul-betul belum bisa diharapkan karena semua kabel baik dari rumah maupun kabel-kabel utama itu semua putus. Dan kabel utama itu banyak yang sampai di tanah. Tiang-tiangnya miring, roboh,” kata Arifin, seorang warga Kota Kupang kepada VOA.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus melakukan pemulihan kelistrikan terdampak badai siklon tropis Seroja di NTT. Hingga Senin (5/4) pukul 24.00 WITA, PLN telah berhasil memulihkan 359 gardu listrik yang sebelumnya terdampak badai. (Foto: Courtesy/PT PLN

 

Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus melakukan pemulihan kelistrikan terdampak badai siklon tropis Seroja di NTT. Hingga Senin (5/4) pukul 24.00 WITA, PLN telah berhasil memulihkan 359 gardu listrik yang sebelumnya terdampak badai. (Foto: Courtesy/PT PLN

Pria berusia 53 tahun itu mengatakan warga juga kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) untuk menyalahkan genset karena seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kota itu tidak beroperasi. Pasar-pasar dan toko-toko yang tutup juga menyebabkan warga kesulitan mendapatkan kebutuhan sehari-hari.

Selain merobohkan jaringan kabel listrik, Arifin mengatakan, angin kencang juga menumbangkan pohon-pohon dan merusak rumah-rumah. Banyak rumah yang kehilangan bagian atap karena terbawa angin.

Siklon Seroja

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melaporkan dua bibit siklon tropis yang berpotensi membawa curah hujan lebat dan angin kencang di wilayah NTT pada 3 – 9 April 2021.

Koordinator Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agie Wandala Putra, menjelaskan pada Senin (5/4) pagi, siklon tropis Seroja yang berkecepatan hingga 75 kilometer per jam, bergerak meninggalkan wilayah NTT.

“Seperti kita catat tadi bahwa siklon tropis Seroja semakin meninggalkan Indonesia. Namun ke depan kita tetap perlu mewaspadai akan dampak tidak langsungnya karena BMKG memprediksi potensi hujan lebat akibat siklon tropis Seroja ini bisa muncul di beberapa kawasan akibat dampak tidak langsung,” ujar Agie.

Agie mengatakan hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi hingga di atas tiga meter akibat dampak tidak langsung siklon tropis Seroja berpeluang terjadi di NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali dan Pulau Jawa.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, menginformasikan hingga pukul 14.00 WIB, Selasa( 6/4) terdapat 10 kabupaten dan satu kota di Nusa Tenggara Timur yang terdampak siklon tropis Seroja, yaitu Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Malaka Tengah, Lembata, Ngada, Alor, Sumba Timur, Rote Ndao, Sabu Raijua, Ende dan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

“Dari 11 kabupaten dan kota yang terdampak ini hasil dari pendataan kami saat ini adalah 84 jiwa meninggal dunia. Jadi kesepakatan kemarin adalah yang dinyatakan sudah meninggal dunia yang telah ditemukan jenazahnya dan telah diverifikasi. sekali lagi ini data sangat dinamis dan akan selalu kami update,” papar Raditya Jati dalam konferensi pers secara daring, Selasa (6/4).

Perincian korban meninggal, yaitu 49 meninggal di Kabupaten Flores Timur, 16 di Kabupaten Lembata, satu di Kabupaten Ende, 2 di Kabupaten Malaka, satu di Kota Kupang dan 15 di Kabupaten Alor.

Data BNPB mengenai dampak siklon tropis Seroja di NTT. (Foto: Courtesy/BNPB)

 

Data BNPB mengenai dampak siklon tropis Seroja di NTT. (Foto: Courtesy/BNPB)

Bantuan untuk Anak

Save the Children Indonesia dalam siaran pers yang diterima VOA mengatakan penanganan dampak bencana cuaca ekstrem di NTT perlu berfokus pada kelompok rentan termasuk, anak-anak yang terpaksa tetap bertahan di rumah mereka yang rusak karena sulit mendapat tempat yang lebih aman.

Dewi Sri Sumanah, Media and Brand Manager Save the Children Indonesia, mengatakan bantuan kebutuhan dasar untuk anak-anak penyintas bencana di provinsi itu harus disegerakan agar mereka tidak menjadi korban karena sakit dan hal-hal lainnya.

Untuk tahap awal, Save the Children Indonesia akan mendistribusikan 100 paket perlengkapan hunian, 100 paket kebersihan, dan 250 selimut. Selain bantuan non-pangan, Save the Children Indonesia juga memberikan layanan dukungan psikososial untuk anak-anak yang terdampak. [yl/ft]

VOA — Pemerintah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menyatakan setidaknya 20 meninggal dunia akibat peristiwa banjir bandang yang melanda 14 desa di kecamatan Ile Ape dan kecamatan Ile Ape Timur, Minggu, 4 April 2021.

Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday kepada VOA, Senin (5/4), mengatakan banjir bandang itu terjadi sekitar pukul 03.00 WITA di saat warga umumnya sudah tertidur di rumah mereka.

“Jadi batu-batu yang ada di gunung itu terbawa semua sampai ke kampung-kampung dan ke pantai. Jadi rumah-rumah warga yang terkena banjir, batu-batu, pohon yang tumbang itu terbawa semua ke pantai, ke laut termasuk orang-orangnya. Nah banyak penduduk yang diperkirakan tertimbun di material longsoran dan banyak juga yang kemungkinan hanyut ke laut,” jelas Thomas Ola Langoday ketika dihubungi dari Palu.

Rumah-rumah yang rusak terlihat di daerah yang terkena banjir bandang setelah hujan lebat di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 4 April 2021. (Foto: Antara/Dok BPBD Flores Timur via REUTERS)

 

Rumah-rumah yang rusak terlihat di daerah yang terkena banjir bandang setelah hujan lebat di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 4 April 2021. (Foto: Antara/Dok BPBD Flores Timur via REUTERS)

Menurutnya, hingga saat ini masih ada 68 warga yang hilang dan masih dalam pencarian. Dijelaskannya cuaca buruk menyulitkan upaya pencarian warga yang terseret ke laut dalam banjir bandang itu. “Sampai siang hari ini masih dilakukan pencarian tetapi ombak besar sekali, jadi kita tidak bisa mencari di laut. Ketinggian ombak bisa dua meter,” kata Thomas.

Untuk warga yang luka-luka akibat banjir bandang sudah dirawat tiga puskesmas dan satu rumah sakit. 40 orang dirawat di puskesmas Lewoleba, enam orang di puskesmas Waikupang, dan 40 lainnya lagi di rawat di sejumlah rumah sakit.

Thomas menjelaskan jumlah pengungsi saat ini yang terdata berjumlah sekitar 332 jiwa, mereka sangat membutuhkan makanan, pakaian, obat-obatan, bantuan medis, pembalut, masker dan air minum.

Selain Kabupaten Lembata, BNPB dalam siaran pers hari, Senin (5/4), melaporkan bencana banjir juga terjadi di Kabupaten Sumba Timur, NTT pada Minggu (4/4), pukul 10.00 WITA. Meluapnya sungai akibat hujan intensitas tinggi selama beberapa hari ini telah merendam empat kecamatan, yaitu Kecamatan Kambera, Pandawai, Karera dan Wulawujelu.

BPBD Kabupaten Sumba Timur menginformasikan sebanyak 54 kepala keluarga (KK) atau 165 jiwa mengungsi, sedangkan 109 KK atau 475 KK terdampak.

Sementara angin kencang, longsor, banjir rob dan gelombang pasang di Kota Kupang, NTT, menimbulkan dampak pada 743 KK atau 2.190 warga. Sedikitnya 10 rumah warga mengalami rusak sedang dan 15 titik akses jalan tertutup pohon tumbang.

BPBD Kota Kupang bersama dinas terkait lain telah melakukan upaya penanganan darurat di lokasi bencana.

BNPB juga menerima laporan terjadinya bencana di Kabupaten Malaka Tengah dan Ngada. Angin kencang terjadi di dua kecamatan di Kabupaten Ngada. Desa terdampak, yaitu di Kelurahan Kisantara, Lebijaga, Bajawa, Tanalodu (Kecamatan Bajawa) dan Kelurahan (Riung).

Warga melihat kerusakan di desa yang dilanda banjir bandang di Flores Timur, Minggu, 4 April 2021. (Foto: AP)

 

Warga melihat kerusakan di desa yang dilanda banjir bandang di Flores Timur, Minggu, 4 April 2021. (Foto: AP)

Dampak dari insiden angin kencang terdiri enam KK terdampak dan satu luka berat. Sedangkan kerugian berupa rumah rusak sedang dua unit dan rusak berat empat unit, gedung pengadilan rusak sedang satu unit, kapal tenggelam satu unit dan enam titik ruas jalan tertutup pohon tumbang.

Raditya Jati Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB dalam siaran pers secara daring, Senin (5/4) sore, melaporkan jumlah korban tewas dampak bencana di NTT telah mencapai 68 orang. Sebanyak 44 korban meninggal berada di Kabupaten Flores Timur, 11 di Kabupaten Lembata, dua di Kabupaten Ende dan 11 korban meninggal di Kabupaten Alor. [yl/em]

Banjir bandang yang menerjang dua desa di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (4/4) pukul 01.00 WIT, mengakibatkan 23 orang tewas, sembilan orang luka-luka dan dua orang masih dalam pencarian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur melaporkan banjir bandang itu dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam situs webnya, Minggu (4/4), melaporkan peristiwa naas itu berdampak pada 49 kepala keluarga (KK) di Desa Lamanele di Kecamatan Ile Boleng dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur.

Menurut laporan BPBD Flores Timur, banjir bandang tersebut juga mengakibatkan rumah warga sekitar hanyut terbawa banjir, jembatan putus dan puluhan rumah di Desa Lamanele, tertimbun lumpur. BPBD mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi kendala di lapangan, yaitu sulitnya menjangkau Pulau Adora karena akses satu-satunya adalah melalui penyeberangan laut. Padahal otoritas setempat melarang kegiatan pelayaran saat ini karena faktor cuaca, yaitu hujan, angin dan gelombang yang tinggi.

Sementara itu, BMKG memprediksi dalam sepekan ke depan potensi hujan sangat lebat terjadi di wilayah Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan NTT. Potensi angin kencang juga diprediksi terjadi di wilayah Lampung, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, NTT dan Sulawesi Selatan. [ah]