Mengapa Berita Hoax Semakin Mudah Tersebar ? – Milyaran pertukaran informasi terjadi setiap harinya di lalu lintas internet. Seseorang di titik paling timur dapat bertukar kabar dengan individu lain di titik paling barat dalam hitungan detik.

Digitalisasi telah mengubah pola komunikasi manusia di bumi. Terutama semenjak pandemi ini, pertukaran informasi secara daring semakin marak dan masif improvisasinya oleh para penggiat digital.

Globalisasi bisa dibilang adalah pedang bermata dua. Di satu sisi mampu menghapus sekat dan penghambat akibat jarak, namun di sisi lain dapat menciptakan konflik antar sesama akibat misinformasi. Misinformasi ini kebanyakan timbul akibat berita hoax.

Secara umum, berita hoax terbagi menjadi beberapa kategori. Konten bernuansa satire atau parodi, konten menyesatkan, konten tiruan, konten palsu, konten yang salah, dan konten yang dimanipulasi. Semua jenis dari hoax di atas dapat kita temui di internet setiap harinya.

Mereka yang Paling Rentan Termakan Berita Hoax

Orang Marah-marah Karena Hoax

Meskipun berita-berita hoax di atas kerap ditemui di internet, namun sudah banyak pula warganet yang dapat membedakan mana konten asli dan hoax. Apalagi mereka yang sedari kecil telah terpapar dengan pengetahuan akan internet, pastinya kemampuan untuk mengidentifikasi parameter keakuratan sebuah berita sudahlah bukan hal yang sulit.

Akan tetapi, tak dapat dipungkiri kalau angka dari mereka yang belum memiliki kemampuan tersebut masihlah tinggi. Mereka yang masuk dalam kategori ini biasanya adalah orang-orang dari lingkungan dengan tingkat edukasi rendah, lingkungan terpencil, atau orang-orang dengan usia lanjut.

Jangan salah, meskipun rasionya rendah, namun justru ini cukup berbahaya. Hoax bagaikan sebuah virus. Sekali dipercaya satu individu, maka individu tersebut akan menyebarkan ke orang lain. Begitu terus, hingga jumlahnya semakin banyak. Ketika jumlahnya tinggi, tak menutup kemungkinan bilamana orang yang tadinya tidak percaya berbalik menjadi percaya. Apalagi, terutama di Indonesia, kita hidup di lingkungan dimana mereka yang berjumlah lebih banyak cenderung lebih dijadikan acuan benar atau tidaknya sebuah informasi.

Kapan Pertama Kalinya Berita Hoax Muncul?

Tak ada yang dapat memastikan kapan pertama kalinya berita hoax muncul. Namun yang pasti sudah ada dari zaman dulu. Bedanya, zaman dulu penyebaran informasi tidak semasif saat ini.

Orang-orang di masa lampau cenderung menjadikan media cetak sebagai acuan informasi mereka. Dimana tentunya, media cetak yang dikelola oleh sebuah organisasi perusahaan pastinya adalah sarana informasi yang memiliki kredibilitas tinggi.

Belakangan Ini, Mengapa Berita Hoax Semakin Mudah Tersebar?

Internet. Di zaman dulu, internet belumlah muncul. Beda halnya dengan sekarang dimana seseorang bisa mengakses informasi melalui internet hanya dengan jari dalam hitungan detik. Belum lagi tren media sosial, media pemberitaan “pesanan” pihak tertentu, hingga forum-forum diskusi yang cenderung memiliki moderasi yang kurang ketat.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Bahkan di negara sekelas Amerika Serikat sekalipun, mereka menghadapi maraknya kampanye hitam pada saat Pemilu kemarin yang dikemas dalam kemasan hoax. Sebuah bukti dimana sekalipun angka mereka yang dapat menangkal hoax telah tinggi, namun bukan berarti hoax dapat dihindari.

Di kala pandemi ini, orang-orang cenderung menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Sosialisasi secara langsung mau tak mau dicekal guna meminimalisir penyebaran COVID-19 yang sedang mewabah. Orang-orang mau tak mau lari ke internet. Ada yang memaksimalkan untuk bertukar kabar, koordinasi saat bekerja, hingga sekedar mencari hiburan.

Masifnya penggunaan internet ini pula yang secara statistik mempengaruhi melonjaknya peristiwa persebaran hoax. Jadi, semua menjadi masuk akal untuk memahami mengapa berita hoax semakin mudah tersebar belakangan ini.

Melawan Hoax, Menyelamatkan Masyarakat

Ya, subjudul di atas tidaklah dibuat-buat. Hoax tak seremeh yang kita pikirkan. Hoax dapat mengeskalasi terjadi konflik, yang tadinya berawal dari individu ke individu, sampai berubah menjadi kelompok ke kelompok. Potensi kericuhan akibat hoax bukanlah hal yang mungkin.

Kita bisa melawan hoax dengan beragam cara. Namun poin fokus yang paling perlu diberi marka yaitu dengan cara mengedukasi diri sendiri terlebih dahulu. Sebelum membaca sebuah informasi yang beredar, pastikan terlebih dahulu bahwa informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Caranya? Dengan meriset kata kunci berita yang tersebar menggunakan mesin pencari, menganalisis dan mengedepankan logika dalam menentukan untuk percaya atau tidak terhadap sebuah informasi, hingga yang paling sederhana, tak perlu menyebarluaskan informasi yang kita sendiri pun masih ragu akan kebenarannya.

Prostitusi Virtual Secara Daring — Aella namanya. Beliau adalah salah seorang konten kreator dari belahan bumi bagian barat sana. Melalui kanal OnlyFans, wanita yang memiliki pengikut sebanyak kurang lebih 3,200 itu mampu mengumpulkan pundi dollar hingga 100,000, atau bilamana dirupiahkan sebesar kurang lebih 1,4 miliar.

Tak dapat ditampik. Nominal yang luar biasa fantastis itu mampu membuat mata siapa saja menghijau. Tak perlu keluar rumah, tak perlu memeras otak. Ambil kamera, lepas busana, dan rekening pun terisi dana. Dari sini, jawaban sederhana pun terungkap. Uang instan dan kemudahan adalah alasan mengapa fenomena ini semakin digandrungi kaum hawa. Tak hanya di barat sana. Profesi konten kreator pornografi juga mulai mencuat di belahan bumi Asia.

Tak terkecuali Indonesia. Asumsi.co, salah satu portal berita di Indonesia pernah mewawancarai seorang konten kreator yang kini telah menetap di Singapura. Dalam sesi wawancara yang dikemas dalam panggilan video jarak jauh tersebut, sang narasumber membeberkan bahwa ia mampu menghasilkan 50 hingga 300 juta per bulannya.

Selain OnlyFans, masih ada lagi beberapa kanal lain yang dipakai untuk bisnis ini. Seiring berjalannya waktu, praktik ini pun tak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan salah satu media sosial berlogo burung biru juga turut dijadikan portal transaksi. Transaksi yang dilakukan juga beragam. Ada penjualan konten pornografi, hingga layanan panggilan video seks atau yang sering disebut sebagai VCS.

Digitalisasi Adalah Penyebabnya?

Ilustrasi Video Call

Semenjak kemunculan internet, sekat lintas dunia seakan sirna. Seseorang yang berada di titik tertimur dan terbarat sekalipun dapat bertukar kabar dalam hitungan detik. Informasi dapat tersebar luas dalam hitungan detik. Teks, gambar, video, dan suara.

Semuanya seakan melayang di dunia maya. Dapat dipublikasikan ke khalayak luas secara instan, serta bersifat abadi. Sekali diunggah, video, foto, dan konten berformat lainnya tak akan pernah bisa dihapus. Termasuk konten seksual itu sendiri.

Dari sini, para konten kreator ini seharusnya sadar akan risiko yang bisa saja mereka temui. Apalagi, beberapa konten seksual mengekspos wajah mereka secara gamblang. Entah apa yang mendorong mereka untuk siap menerima risiko itu, namun uang pun seharusnya tidaklah sepadan.

Feminisme yang Kebablasan

Ilustrasi Feminisme

Perempuan bukanlah objek yang bisa dikontrol. Perempuan memiliki hak dan konsesi penuh atas tubuhnya. Ya, setuju, sangat setuju. Namun sayangnya, pertanyaan di atas dapat menjadi berbahaya bilamana salah diinterpretasikan.

Gerakan feminis yang disusupi oleh liberalisme dan revolusi seksual menciptakan sebuah kondisi dimana sanksi sosial terhadap pelaku komersialisasi dan objektifikasi tubuh perempuan menjadi rendah. Sebuah hal yang justru menjadi bumerang akan cita-cita feminisme itu sendiri.

Apakah ada perempuan yang bercita-cita mengkomersilkan tubuh mereka walau secara visual digital, untuk memancing birahi orang banyak demi uang? Lalu untuk apa makna pendidikan? Mau dikemanakan nilai kemanusiaan dan moral?

Mirisnya, ketika pernyataan di atas dilontarkan, maka penanya akan dilabeli polisi moral.


Ada yang membuat manusia berbeda dengan binatang; akal budi. Kita tak selayaknya binatang yang bebas melakukan apapun demi ambisi, tanpa memikirkan aspek risiko. Ya, kita memiliki hak. Namun yang perlu digarisbawahi, hak kita tak boleh menyinggung batas garis hak orang lain.

Apakah dengan berjalannya praktik ini, ada yang dirugikan? Entahlah. Namun tak dapat disangkal, banyak sekali pernikahan yang kandas akibat seksualitas orang ketiga. Tak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun begitu pula. Mungkin, beberapa orang berpikir bahwa pihak pria yang salah karena membeli layanan prostitusi daring ini. Akan tetapi, it takes two to tango, bukan?

Maraknya prostitusi virtual secara daring bukanlah kesalahan teknologi. Ini murni karena pudarnya moral. Bergesernya keutuhan nilai manusia. Kebebasan yang kebablasan. Sementara teknologi adalah medianya.

Kristen Gray Gentrifikasi Bali — Tak dapat dipungkiri bahwa media sosial adalah pedang bermata dua. Beragam hal baik maupun buruk dapat diakses oleh siapapun di sana. Bahkan di era digital ini, banyak sekali kasus dan berita yang terendus dari sana.

Di awal tahun 2021 ini, jagat Twitter diramaikan oleh cuitan pengguna yang diketahui merupakan warga negara Amerika Serikat. Cuitan yang kini telah dihapus oleh penulisnya itu cukuplah kontroversial karena menyangkut urusan kenegaraan. Selain itu, kasus ini juga menciptakan banyak opini dari berbagai kalangan, karena disangkutpautkan dengan tensi rasisme dan menjadi perhatian internasional pula.

Kronologi Viralnya Cuitan Kristen Gray di Twitter

Kristen Gray namanya. Melalui akunnya yang bernama @kristentootie, wanita berumur 20-an itu mengisahkan tentang kisah hidupnya di Bali. Cerita ia awali dengan penjabaran tentang nasibnya saat di Amerika Serikat, dimana hidupnya terasa berkekurangan. Sepanjang 2019, wanita itu curhat kalau mendapatkan pekerjaan di Amerika sangatlah sulit.

Cuitan Kristen Gray

Tak tahan dengan kondisi itu, akhirnya ia dan kekasihnya yang juga seorang wanita memutuskan membeli tiket penerbangan ke Bali untuk satu kali jalan. Poin pertama yang dipermasalahkan pun muncul. Kristen Gray dan kekasihnya mengurus izin visa untuk berlibur. Namun hanya membeli tiket sekali jalan (bukan pulang-pergi selayaknya orang berlibur).

Cuitan Kristen Gray

Sesampainya di Bali, wanita itu mencoba peruntungan di bidang yang ia kuasai; desain grafis. Ia bercerita bahwa usahanya bisa dibilang penuh perjuangan. Namun dengan kerja kerasnya, ia pun berhasil mencapai stabilitas finansial di Pulau Dewata.

Cuitan Kristen Gray

Kristen Gray begitu puas dengan kehidupan barunya di Indonesia. Ia merasa banyak kebahagiaan yang dapat ditemukan di Bali. Salah satunya keamanan, biaya hidup yang sangat terjangkau sekalipun untuk bermewah-mewah, serta komunitas kulit hitam dan LGBT yang ia rasa begitu pas dengan mimpinya.

Merebaknya pandemi di Indonesia membuat wanita itu harus menetap lebih lama. Hingga menimbulkan asumsi bahwa visa kunjungannya telah kadaluwarsa. Di utas itu pula, Kristen Gray menjual buku yang berisi tips yang memiliki narasi ajakan agar banyak WNA yang pindah dan memulai hidup di Bali.

Muncullah masalah utamanya. Salah seorang warganet yang membeli buku tersebut membeberkan bahwa Kristen Gray memaparkan secara gamblang tentang tips untuk mengakali visa kunjungan ke Indonesia. Hal yang tentunya sangat bertentangan dengan prinsip negara kita yang mengacu pada hukum.

Digorengnya Isu Rasisme Terhadap Kulit Hitam dan LGBT

Cuitan Pendukung Kristen Gray

Bisa ditebak, warganet Indonesia pun mengeluarkan jurus ketikan pedasnya. Mulai dari kritik yang santun hingga hujatan mulai memenuhi beranda akun sosial media Kristen Gray. Opini pun terpecah. Ada yang fokus terhadap kesalahan yang Kristen Gray lakukan, ada yang hanya sekedar melontarkan ledekan rasis dan orientasi seksualnya, bahkan ada juga yang mendukungnya.

Merasa diserang, Kristen Gray dan beberapa warganet lain yang kebanyakan berasal dari luar negeri pun melakukan pembelaan. Lucunya, pembelaan yang dilakukan pun bukannya fokus pada inti konflik.

Kristen Gray malah playing victim (memainkan narasi kalau seakan-akan ia adalah korban) seolah hujatan yang ia dapat tak lain karena dirinya berkulit hitam dan LGBT. Yang menyedihkan, para pendukungnya juga menyebut kalau masyarakat kita terbelakang, tidak berpikiran terbuka, dan dengki dengan kehidupan orang lain. Padahal, Kristen Gray sendiri melanggar hukum.

Fenomena Ini Sejatinya Telah Berjalan Cukup Lama

Konten YouTube Mencari Uang di Bali

Ketika mengetik kata kunci mengenai mencari uang di Bali, YouTube akan menampilkan banyak konten yang dibuat oleh para WNA di sana. Video yang tampil juga telah diunggah cukup lama oleh kreatornya. Hal ini tentu menjadi bukti kalau praktik serupa tentu sudah menjamur cukup lama di Bali.

Akankah Gentrifikasi Terjadi di Bali Kelak?

Kasus Kristen Gray dan banyak warga asing ilegal lainnya seharusnya cukup kuat untuk menjadi alarm bagi Ditjen Imigrasi. Tak dapat disangkal, mungkin hal ini akan tetap terpendam kalau kasus ini tidak viral. Entah sudah berapa banyak kerugian dari pajak yang dialami negara oleh maraknya praktik yang berjalan sejak lama ini.

Di sisi lain, mencuatnya pemberitaan Kristen Gray di media sosial juga harus diperhatikan agar pihak terkait mengambil tindakan preventif guna mencegah gentrifikasi di Bali. Karena bilamana ini terjadi, akan sangat berdampak pada penduduk lokal yang mayoritas penghasilannya tidak sebesar WNA yang menetap di sana.

Secara sederhana, gentrifikasi adalah kondisi dimana nilai (harga) sebidang tanah di sebuah wilayah yang mengalami kenaikan yang signifikan dan timpang dengan penghasilan masyarakat di sana. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pendatang yang memiliki uang lebih banyak dari segi kurs yang memutuskan untuk menetap di wilayah itu.

Ya, Kristen Gray menampar segenap Indonesia dan memperingatkan kita bahwa peluang terjadinya gentrifikasi di Bali sangatlah besar bilamana pemerintah beserta jajaran terkait tidak ambil langkah tegas.

Indonesia mampu menjadi negara maju – Pada tahun 1967 silam, Indonesia pernah menjadi salah satu bangsa termiskin di Asia. Wajar saja, 97% dari pendahulu kita adalah buta huruf ketika Indonesia merengkuh kemerdekaan. Ya, kita pernah berkubang di lumpur yang menyedihkan.

Kira-kira separuh abad yang lalu, hanya bangsa Rwanda, Burundi dan Mali yang memiliki nasib lebih mengenaskan dari Indonesia. Sungguh sebuah ironi pada masa itu dimana negara yang memiliki sumber daya alam melimpah harus masuk ke daftar di atas. Alasannya tak lain karena ketidakstabilan dan kompleksnya situasi politik di Indonesia.

Indonesia Kini; 2020

“Kami menggoyang langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang bekerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”

Ir Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia

Nyatanya, frasa bangsa tempe, bangsa kuli, dan banhsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari cukup mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia kala itu. Seakan sebuah dongeng, kita mungkin tak akan percaya kalau Indonesia pernah memiliki nasib sekelam demikian.

Puluhan tahun berlalu, Indonesia telah bertransformasi menjadi negara yang begitu kontras dengan kesedihannya dulu. Ya, negara kita tak lagi muncul di papan klasemen negara termiskin. Baik di dunia, maupun di Asia.

Negara termiskin di dunia 2020

Dari urutan terbawah, saat ini kita telah sukses menyalip Filipina, Myanmar, bahkan India. Kita sukses menjadi negara papan tengah, dan tentunya memiliki peluang yang besar untuk lebih maju lagi di masa depan.

Negara dengan infrastruktur terbaik di Asia tenggara

Dari segi infrastruktur transportasi, nama kita bertengger di posisi yang cukup menggiurkan. Hal yang tentunya dapat memantik investor untuk menanamkan modalnya di kita.

Jangan lupakan pula aspek kompetitif. Dari negara urutan terbontot, kita sukses menanjak tangga hingga menjadi urutan ke-empat di Asia Tenggara dan nomor 45 di dunia. Ya, 50 besar dari ratusan negara di dunia ini!

Ketika bangsa ini menjalani kehidupan tahun 1960-an, kita disibukkan dengan urusan kelaparan, gizi buruk, polio, buta huruf, dan pembunuhan senegara.

Sekarang bangsa Indonesia disibukkan oleh perkara investasi, infrastruktur jalan tol, kereta peluru, MRT, pemerataan ekonomi, ekspor lobster, hutan, kualitas pendidikan, mobil listrik, korupsi anggaran, kedaulatan data, alutsista, demo buruh, demokrasi, dan debat agama.

Betul. Masalah semakin kompleks. Tapi coba perhatikan, levelnya sudah berbeda. Suka tidak suka, begitu jauh bangsa ini sudah berubah dalam enam puluh tahun.

Belajar dari Korea Selatan yang Mampu Berevolusi menjadi Raksasa

Korea Selatan berangkat dari negara miskin pada tahun 1965, sampai menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-sebelas di dunia pada tahun 1995. Dari sebuah negara yang bertahan dengan mengirimkan pekerja-pekerja kasar di tambang batu bara Jerman, hingga kini menjadi manufaktur teknologi kelas dunia. Berawal negara yang ibukotanya tidak mempunyai bentuk, menjadi salah satu kota metropolitan termodern di dunia.

Seoul, pernah disebut sebagai ‘neraka urban’. Sungai Han yang bercorak kecokelatan diapit oleh rumah-rumah berdinding tripleks kumuh. Warganya hidup di kemiskinan akut, pencemaran di mana-mana, dan angka kejahatan begitu tinggi. Di negara ini hanya terdapat 50 perusahaan aktif yang memperkerjakan tidak sampai seribu orang karyawan. Sisa penduduknya semua bekerja serabutan.

Di waktu musim dingin melanda Korea, mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Masyarakatnya berpendidikan rendah, oligarki dan mafia menguasai negeri, alamnya tidaklah mempunyai SDA yang bisa diandalkan, dan pemimpinnya tidak kompeten.

Dalam peringkat perekonomian dunia, Korea Selatan di masa sulitnya memiliki posisi papan tengah. Posisi yang sama yang dimiliki Indonesia saat ini. Bahkan secara kasat mata, tentunya kita tahu walau di posisi yang sama, kondisi kita sekarang jauh lebih menguntungkan ketimbang mereka.

Satu Generasi Adalah Kunci Perubahan

Korea telah mengubah nasibnya dalam satu generasi. Singapura mengubah nasibnya dalam satu generasi. China mengubah nasibnya dalam satu generasi. Selanjutnya, barangkali negara tetangga kita, Vietnam, yang akan mengubah nasibnya dalam satu generasi mendatang.

Lantas, apakah kita akan mengikuti jejak yang sama? Tidak perlu waktu lama. Untuk mengubah negeri Indonesia menjadi negara kaya atau menjadi negara miskin. Menjadi negara sejahtera atau menjadi negara gagal. Menjadi Macan Asia atau kembali menjadi Raksasa Tidur Asia Tenggara. Semua itu hanya perlu satu generasi.

Setiap generasi mempunyai tantangan masing-masing. Mengatakan bahwa “masalah Indonesia saat ini begitu berat sehingga tidak mungkin jadi negara maju” adalah satu penghinaan terhadap leluhur kita, yang telah membawa bangsa ini dari papan bawah menuju papan tengah, dari negara termiskin di Asia menjadi negara menengah.

Meskipun perjalanan tidak selalu lancar, Indonesia sudah pernah beranjak dari negara termiskin di Asia menjadi anggota G-20. Indonesia sudah pernah lolos kekacauan dari periode 1945, 1949, 1953, 1961, 1965, 1974, 1984, 1998, dan luput dari Balkanisasi.

Siapkah Generasi Z Membawa Indonesia Menjadi Negara Maju?

Angkatan terbaru dalam generasi dunia karir di Indonesia mulai diisi oleh generasi Z, penerus generasi Y atau yang kerap disebut milenial. Di masa depan, pos-pos strategis dalam lingkup organisasi swasta maupun pemerintah akan diisi oleh generasi pembaharu ini.

Seperti yang sebelumnya telah dipaparkan, sekarang adalah kesempatan generasi Z untuk menyetir kemana negara ini kan mengarah. Ke arah yang lebih baik sehingga bisa mengantarkan Indonesia agar mampu menjadi negara maju, atau justru sebaliknya?

Jawabannya; tergantung. Dan percayalah, ini akan sulit, jauh lebih sulit dari perjuangan generasi sebelumnya. Namun bukan berarti mustahil. Karena ingat, posisi kita saat ini bisa dibilang tidaklah buruk.

Terkecuali kalau generasi Z hanya bisa berkoar “Hidup saya susah. Birokrasi berbelit, pemerintah korup, dan rakyatnya tidak terdidik. Indonesia tidak akan maju!” seraya menyeruput kopi di Starbucks, kemudian memposkan keluh-kesahnya di Instagram, hanya gara-gara membaca berita politik.

Calling Visa Israel diaktifkan — Meskipun riskan menimbulkan gesekan dalam internal kenegaraan, lagi-lagi Bapak Presiden Joko Widodo berpartisipasi dalam keputusan kontroversial. Yaitu memberi dukungan terhadap pengaktifan Calling Visa terhadap negara Israel.

Tak dapat dipungkiri, stigma negatif terhadap negara di Timur Tengah itu masih melekat pada banyak kepala masyarakat Indonesia. Tak lain dan tak bukan, alasannya disebabkan oleh karena konflik politik berkepanjangan antara Israel dan negara tetangganya, Palestina.

Walau kebencian ini masih acapkali disalahartikan sebagai konflik keagamaan, namun doktrin turun temurun yang didapati dari lingkungan dan keluarga membuat kebencian terhadap Israel seakan begitu besar.

Apa Itu Calling Visa?

Calling Visa adalah Visa khusus yang diberikan kepada negara-negara dengan kondisi yang rawan pada apek ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lain-lain. Pemberian Calling Visa dari Indonesia dapat diartikan sebagai sebuah tanda percaya terhadap negara-negara yang dianggap rawan tersebut, agar warga negaranya seakan-akan diajak untuk melakukan kegiatan berlibur, atau bahkan berbisnis di Indonesia.

Tak hanya Israel yang mendapat keistimewaan ini. Negara-negara rawan lain seperti Korea Utara, Afghanistan, Guinea-Bissau, Kamerun, Nigeria, Somalia, dan Liberia juga mendapatkan fasilitas yang sama. Konflik politik yang masih terjadi di sana membuat negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam mengasingkan bahkan memboikot produk mereka.

Pada penerapannya, Calling Visa di Indonesia memiliki tim khusus yang berperan untuk menyaring, sebagai upaya penyeleksian ketat sebelum Visa warga-warga negara tersebut disetujui.

Apakah Keputusan Mengaktifkan Calling Visa Israel oleh Pemerintah Sudah Benar?

Ranah benar dan salah dalam aspek pengambilan keputusan sangatlah abu-abu. Setiap individu memiliki pola pikir dan prioritasnya sendiri, sehingga setiap kebijakan tentunya tak dapat memuaskan hati semua orang. Apalagi, Indonesia memiliki pandangan politik yang beragam. Namun tetap, kepentingan umum adalah langkah yang wajib diambil.

Dalam sudut pandang beberapa pihak, hal ini mungkin dianggap mencederai langkah yang pernah diambil Presiden Soekarno. Dimana pada masanya dikenal sebagai sosok yang vokal dalam menyuarakan integritas Palestina.

Kemudian ada lagi perspektif keagamaan, dimana tak dapat dipungkiri beberapa ajaran menstigmatisasi Israel sebagai tokoh antagonis dalam peradaban manusia. Lantas, apakah langkah-langkah untuk meredam kesalahpahaman dan menyukseskan program ini telah diambil oleh pemerintah?

1) Komunikasi Terhadap Pihak-pihak yang Dianggap Memiliki Posisi Krusial dalam Kehidupan Bernegara

Berkaca dari rentetan demonstrasi RUU Cipta Kerja beberapa waktu lalu, pemerintah seharusnya belajar dari kesalahan yang nampaknya sepele. amun berbuntut panjang, yaitu komunikasi. Pemerintah harus mengakui bahwa pada Pancasila sendiri, suara musyawarah masih menempati posisi tertinggi.

Sudahkah pemerintah melakukan komunikasi terhadap petinggi-petinggi organisasi masyarakat yang selama ini dikenal memiliki basis masyarakat bervolume tinggi? Juga terhadap pemuka agama dan adat yang memiliki sudut pandang kontra terhadap kebijakan ini? Poin ini perlu menjadi perhatian penting guna mencegah terjadinya retakan akibat selisih paham.

Pemerintah cukup menjelaskan alasan-alasan penting mengapa kebijakan Calling Visa Israel perlu diaktifkan, serta menegaskan ulang posisi awal yang tetap membela Palestina guna meminimalisir luapan kemarahan beberapa bagian masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga harus bisa meyakinkan kalau program ini nantinya akan menyeleksi WNA Calling Visa dengan proses yang ketat dan rumit. Dengan ini, ak sembarang orang dari Israel bisa memasuki Indonesia.

2) Menjamin Keamanan WNA dengan Calling Visa dalam Menjalankan Aktivitas di Indonesia

Stigma negatif zionisme sukses menciptakan kebencian tersendiri terhadap Israel, bahkan kepada warga negaranya secara keseluruhan. Jangan sampai hal ini menimbulkan masalah baru di lingkup masyarakat apabila nantinya ada turis maupun pebisnis dari Israel yang berkunjung ke Indonesia.

Persekusi dan main hakim sendiri adalah budaya memalukan yang sampai saat ini masih mengakar pada pola berkehidupan masyarakat, terutama di lingkungan menengah ke bawah. Bilamana hal-hal tersebut kejadian pada WNA Israel, bukan tak mungkin Israel akan menutup pintu diplomasi yang Indonesia berusaha tawarkan.

3) Bersiap akan Risiko Jatuhnya Legitimasi Partai Politik Penguasa Rezim Sekarang

Sebaik-baiknya komunikasi tetaplah tak menutup kemungkinan dimana beberapa pihak masih tidak menerima kebijakan ini. Apalagi mengingat kebijakan ini memiliki sangkut paut dengan keyakinan dan agama. Maka langkah pengaktifan Calling Visa Israel harus siap pula disambut dengan gejolak yang ada.

Sekalipun pemerintah berhasil membuat kondisi secara umum tetap kondusif. Namun tetap, nama dan partai asal mereka yang saat ini menyatakan kesetujuannya akan kebijakan ini akan selalu diingat oleh segelintir pihak dengan stigma negatif. Hal ini dapat berpengaruh panjang pada perjalanan karir politik mereka. Juga bisa pula menimbulkan jatuhnya citra dan legitimasi partai yang memboncengi mereka.

Demi Kepentingan Umum

Presiden Joko Widodo Calling Visa Israel

Terlepas dari semua penjabaran di atas, langkah ini tentu bisa dibilang bijaksana mengingat Israel memiliki fasilitas teknologi potensial. Yang tak menutup kemungkinan dapat diadopsi demi kemakmuran rakyat Indonesia itu sendiri.

Ambillah contoh pertanian. Israel yang secara geografis memiliki tanah tandus mampu menyulap lahan mereka. sampai menjadi salah satu negara yang memiliki teknologi pertanian modern sekelas Belanda.

Melihat pola ini, nampaknya pemerintah memang sedang menyetir Indonesia ke arah kemajuan teknologi. Dengan dibukanya pintu diplomasi terhadap negara-negara maju, maka proses Transfer of Technology (ToT) pun dapat terwujud.

Apalagi dengan megaproyek pemindahan ibukota dan wacana pembangunan food estate yang kerap digadang-gadang. aka bantuan teknologi modern dari negara yang sudah lebih dulu menguasai kecanggihan itu perlu kita manfaatkan.

Apakah profis memiliki teman yang mengaku-ngaku sebagai pengidap gangguan mental? Atau justru profis sendiri yang bertingkah demikian? Ada baiknya profis lebih menjaga jarak terhadap orang-orang tersebut. Karena sejatinya, sikap tersebut merupakan sesuatu yang sangat tidak etis.

Fenomena yang merangkak menjadi tren baru ini seakan menjadi momok tersendiri bagi banyak pihak, seperti orang tua dan tentunya individu-individu yang betul-betul mengidap penyakit ini. Sederhananya, romantisasi gangguan mental adalah kondisi dimana gangguan mental digambarkan sebagai sesuatu yang elegan, keren, unik, dan membuat pengidapnya seakan-akan berbeda dari yang lain.

Dengan gangguan yang diidap, penyandangnya seakan-akan harus mendapat prioritas dan kekhususan perhatian dari pergaulannya. Hal yang tentunya diidamkan banyak orang. Inilah yang membuat beberapa pelaku romantisasi ini seakan ketagihan dengan drama yang mereka ciptakan. Memangnya, siapa yang tak mau mendapatkan prioritas dari lingkungan sehari-hari?

Munculnya Fenomena Romantisasi Gangguan Mental

Ilustrasi Gangguan Mental
Ilustrasi Gangguan Mental

Siapa yang paling bertanggungjawab atas munculnya fenomena ini? Sederhana saja, film, novel, dan media sosial. Bisa dibilang, film dan novel yang mengambil latar belakang tokoh utama sebagai pengidap gangguan mental memiliki popularitas dan penggemar yang cukup tinggi di Indonesia.

Dalam film-film itu, sang tokoh seakan-akan begitu disiksa oleh batinnya sendiri. Namun namanya film, lika-liku kehidupan sang tokoh tentu saja akan menemui ujung yang bahagia. Premisnya seringkali berujung dimana sang tokoh akhirnya menemukan cinta sejatinya, orang yang menerima dirinya dan segala kekurangan yang ia miliki, serta banyak hal-hal indah lain.

Sebagai penikmat karya yang kebanyakan masih muda, hal tersebut tentunya dapat menjadi inspirasi bagi mereka dengan harapan dapat memiliki skenario hidup yang sama. Akan tetapi, para pelaku tidak sadar kalau tindakan mereka tak lebih dari sekedar pelarian dari kehidupan yang mungkin berada di bawah ekspektasi mereka sendiri.

Selfclaim Melalui Perwujudan Simbol dan Gambar di Media Sosial Remaja-Pemuda

Profis familiar dengan gambar-gambar di atas? Gangguan mental yang paling banyak diromantisasi ini kalau kita lihat adalah depresi, kecemasan, bipolar, OCD (Obsessive Compulsive Disorder), dan bahkan kondisi kepribadian seperti introvert—yang sejatinya adalah contoh miskonsepsi—. Sederhananya, punya gangguan mental itu dianggap anti mainstream.

“Gue punya gangguan mental, dong! Lo punya, nggak?”

Dalam pergaulan remaja-pemuda, romantisasi gangguan mental digambarkan seperti petikan di atas.

Gangguan mental atau abnormalitas itu malah diinginkan, terutama oleh kalangan remaja. Tidak jarang, mereka dengan sengaja ‘memunculkan’ gejala gangguan mental agar terlihat benar-benar seperti itu. Mulai dari gambar yang diunggah di media sosialnya, hingga perilaku sehari-hari.

Mengapa? Karena mereka ingin terlihat berbeda. Normal itu mainstream. Abnormal itu keren dan unik. Mereka bisa meraup perhatian orang-orang dengan menjadi berbeda. Sampai di sini, apakah profis sudah mulai merasa miris dengan fenomena ini?

Dampaknya pada Pengidap Gangguan Mental Sungguhan hingga bagi Psikolog

Gangguan Mental dari Kacamata Psikolog
Gangguan Mental dari Kacamata Psikolog

Tak seperti awal kemunculannya, saat ini fenomena tersebut mulai diendus oleh sebagian orang yang peka terhadap efek domino dari eksistensinya. Bisa dibilang, stigma negatif bagi orang-orang yang mengaku sebagai pengidap gangguan mental mulai muncul di beberapa kalangan.

Hal ini tentunya sangat merugikan mereka yang betul-betul membutuhkan pertolongan dari gangguan yang mereka idap. Para pengidap gangguan mental akan merasa semakin minder, tertekan, dan tak menutup kemungkinan akan menarik diri dari lingkup pertemanan. Semuanya adalah ulah dari para pemuda labil yang menjadikan gangguan mental sebagai ajang keren-kerenan saja.

Selain itu, profesi dari para Psikolog pun seakan terlecehkan. Remaja-pemuda yang sejatinya tak memiliki gangguan mental apapun berlomba-lomba untuk mengklaim dirinya adalah salah satu dari “orang spesial” tersebut. Kondisi ini disebut selfclaim, dimana seseorang mendiagnosis dirinya sendiri sebagai pengidap sebuah gangguan. Padahal kenyataannya, psikologisnya normal-normal saja.

Rentan Dijadikan Ajang Penipuan hingga Kejahatan Tindak Lanjut

Penipu yang Memakai Topeng Gangguan Mental
Penipu yang Memakai Topeng Gangguan Mental

Di media sosial Twitter, para pengguna acapkali mencuitkan pengalaman tak mengenakkan mereka dengan orang lain. Salah satunya dengan orang-orang yang menjual kalimat gangguan mental kepada calon korbannya. Modusnya sama, meraih keuntungan dari kebohongan yang ia karang.

Biasanya, orang-orang tak bertanggungjawab ini akan mendekati calon korbannya dengan cara menjual cerita sedih terlebih dahulu. Korban yang secara refleks mulai menumbuhkan simpati pun semakin terpancing oleh kebohongan yang para pelaku ceritakan. Seiring berjalannya waktu, pelaku-pelaku ini mulai berani meminta hal-hal yang ia anggap menguntungkan. Akan tetapi akhirnya pasti sama; habis manis sepah dibuang.

Gangguan Mental Bukanlah Sesuatu yang Menyenangkan untuk Dimiliki

Gangguan Mental Tidak Sekeren yang Orang-orang Pikirkan
Gangguan Mental Tidak Sekeren yang Orang-orang Pikirkan

Penulis menyadari betul bahwa di luar sana, banyak para pengidap gangguan mental yang sesungguhnya benar-benar membutuhkan pertolongan dari kita. Namun yang perlu digarisbawahi yaitu benar-benar sebuah pertolongan. Bukannya perhatian atau validasi bahwa gangguan mental yang mereka miliki itu indah.

Memang, segala bentuk distres tidak ada yang bisa diremehkan, karena kekuatan mental setiap orang berbeda. Ada orang-orang yang baru dimarahi sedikit saja langsung merasa down. Ada. Namun inti yang tertuang di sini adalah kurangnya pemahaman orang awam tentang seberapa dalam makna sebuah depresi, kecemasan, keputusan bunuh diri, selfharm, OCD, bipolar, dan berbagai kondisi lainnya.

Saat profis merasa stres karena besok harus melaksanakan tugas penting, bukan berarti profis depresi. Profis tidak suka bersosialisasi, bukan berarti profis memiliki gangguan kecemasan. Juga ketika profis lebih nyaman dengan penampilan yang rapi, bukan berarti Anda mengidap OCD.

Berhenti selfclaim, berhenti meromantisasi gangguan mental. Karena hal tersebut sangat tidak etis!

Bagai arus yang deras, barang impor dari China seakan begitu agresif membanjiri pasar Indonesia, khususnya di dunia ecommerce. Harga yang murah dan kualitas yang semakin kompetitif adalah alasan utama mengapa masyarakat kita semakin melirik barang-barang dari negeri panda ini. Apalagi, beberapa distributor barang-barang yang dulu sempat mendapat cap jelek itu sudah membuka gerai-gerai resmi yang dilengkapi pusat servis. Langkah tepat yang diambil oleh China untuk melancarkan peredaran barang mereka di Indonesia.

Adapula alasan lain di samping itu karena barang impor dari China cenderung inovatif, unik, dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Mereka tak hanya mengedepankan kualitas dan desain, namun juga mengutamakan prinsip dimana teknologi haruslah diarahkan untuk memudahkan kehidupan manusia. Salah satu contohnya, robot pembersih ruangan yang diproduksi oleh produsen raksasa, Xiaomi. Barang yang stigmanya mahal dan mewah ini nyatanya hanya dibanderol dengan harga empat ratus ribuan di pasar daring Indonesia.

Masuknya Barang OEM

Ilustrasi Barang OEM hasil Impor dari China
Ilustrasi Barang OEM hasil Impor dari China

Barang-barang impor dari China yang beredar di Indonesia biasanya dikenal sebagai barang OEM, yang merupakan akronim dari Original Equipment Manufacturer. Sebutan lebih halus dari istilah KW Super ini adalah istilah yang merujuk pada sistem produksi di China yang spare part-nya mereka dapatkan dari produsen asli pemilik merk. Dengan cara ini, biaya produksi akan lebih dapat ditekan.

Soal kualitas, tentu saja akan kalah dari versi orisinilnya. Namun jangan salah, perbedaannya tidak sekontras itu. Hal ini tentunya wajar, mengingat produsen dari negeri tirai bambu pastinya selalu meriset kualitas produk mereka, agar dapat membuat pasar-pasar mereka berlabuh di produk yang mereka produksi.

Awalnya, hanya beberapa distributor besar yang berani bermain dalam bisnis ini. Namun seiring dengan melonjaknya pengguna ecommerce belakangan ini, para pelapak di marketplace raksasa pun mulai memberanikan diri untuk melakukan impor produk dari China. Itulah alasan mengapa peredaran barang-barang tersebut begitu masif di Indonesia.

Tren Penggunaan Barang Impor dari China di Kalangan Masyarakat Muda – Dewasa Indonesia

Ilustrasi Barang Impor yang Dipakai Pekerja Kantoran
Ilustrasi Barang Impor yang Dipakai Pekerja Kantoran

Penghasilan warga Indonesia saat ini bilamana dirata-ratakan bisa dibilang dominan di midlow class. Akan tetapi, penampilan dan gaya hidup seelegan mungkin seakan menjadi sebuah kebutuhan primer. Wajar saja, penampilan masih menjadi tolak ukur penilaian seseorang dalam mempercayai orang lain. Artinya, memaksimalkan tampak luar bisa dibilang merupakan salah satu investasi di sini.

Merujuk pada pernyataan di paragraf sebelumnya, produk China adalah jalan keluar. Bagaimana tidak, di saat seseorang butuh merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk mendapatkan jam pintar atau smartwatch produksi raksasa teknologi, tapi smartwatch produksi China bisa dimiliki dengan harga di bawah dua ratus ribuan saja. Dan yang perlu digarisbawahi di sini, dengan harga yang jomplang tersebut, spesifikasi yang disematkan pada perangkat tetaplah sama.

Sebagai pekerja kerah biru dan kerah putih, tentunya opsi barang China adalah pilihan. Memang, sekali lagi, kualitas dan ketahanan barang tentunya masih berada di bawah standar produsen non-China. Akan tetapi dengan harga yang sedemikian murah, sudah pasti pilihan akan dijatuhkan kepada barang OEM. Alhasil, promosi mulut ke mulut dari pembeli awal-awal pasti akan terjadi. Apalagi ketika ia mendapat barang yang kualitasnya bagus. Ini menjadi keuntungan tersendiri bagi produsen dari China.

Kombinasi dengan Smart Home System

Ilustrasi Smart Home System yang Memakai Perangkat Impor dari China
Ilustrasi Smart Home System yang Memakai Perangkat Impor dari China

Seperti yang sebelumnya telah dijelaskan, barang-barang yang diimpor dari China cenderung inovatif, modern, dan membantu memudahkan kehidupan manusia. Bisnis Smart Home System yang saat ini mulai merintis tentakel mereka di Indonesia pun bisa dibilang ditunjang oleh tren impor ini. Mengapa demikian? Karena barang dan perabot rumah yang dipasang dalam konsep Smart Home kebanyakan merupakan barang imporan China.

Bisa dibayangkan, volume masuknya barang dari China yang saat ini sudah cukup buncit, di masa depan akan lebih melonjak lagi. Apalagi ketika nantinya sistem Smart Home sudah mencapai level dimana konsep rumah seperti ini telah sampai pada tahapan menjadi bagian dari gaya hidup. Pastinya para produsen tadi akan kegirangan dan tentu lebih giat lagi dalam menelurkan produk yang berkualitas baik dari segi fungsi, harga dan keawetan barang.

Matinya Produksi Lokal atau Justru Tamparan Agar Indonesia Mengejar Ketertinggalan?

Ilustrasi Manufaktur Lokal
Ilustrasi Manufaktur Lokal

Di sisi lain, fenomena ini menciptakan sebuah kondisi yang cukup miris bagi Indonesia. Harga yang ekonomis dan kualitas yang lebih mumpuni membuat mayoritas konsumen di Indonesia lebih melirik barang China ketimbang barang produksi lokal—dalam kasus barang yang berhubungan dengan teknologi—. Sebuah alarm peringatan untuk Indonesia yang berpeluang membunuh karya anak bangsanya sendiri.

Bilamana pola ini berkelanjutan, bukan tak mungkin akan menciptakan ketergantungan tersendiri pada barang-barang imporan tersebut. Dalam segi politik, hal ini tentu sangat menguntungkan China dan juga mampu menciptakan kondisi yang membuat hubungan Indonesia dan China menjadi lebih teduh. Namun di situlah jebakannya, karena biar bagaimanapun, sebuah negara harus pintar-pintar memainkan peran integritas agar tak terlihat sebegitu membutuhkan terhadap negara lain.

Keadaan ini menciptakan sebuah opsi bagi Indonesia. Apakah akan terus mengandalkan produk impor dari China, atau justru memotivasi Indonesia untuk menggenjot produksi dalam negeri? Indonesia masih belum setertinggal itu. Masih ada peluang untuk mengejar ketertinggalan kita, yaitu dengan memfokuskan anggaran riset pada metode produksi dan tentunya pengembangan sumber daya manusia.


Akan tetapi, semuanya berbalik kepada pemangku kebijakan yang menahkodai negeri tercinta ini. Apakah berminat menyalip kapal China yang telah melaju pesat, atau justru pasrah dan hanya mengandalkan teknologi imporan negara tembok raksasa tersebut.

Beberapa tahun belakangan, gerakan organisasi PETA (People for the Ethical Treatment of Animals) dan jargon vegan seakan makin vokal dalam menyuarakan narasi Hak Asasi dan Kebebasan Hewan. Organisasi nirlaba yang didirikan pada tahun 1980 silam di Virginia, Amerika Serikat itu kini telah memiliki jutaan anggota dan simpatisan di seluruh dunia. Di luar Amerika Serikat sendiri, cabang organisasi PETA terdapat di Kanada, Prancis, Jerman, India, Italia, Belanda, Spanyol, Afrika Selatan, Taiwan, dan Inggris. Ingrid Newkirk adalah presiden internasional PETA.

Gerakan mereka memiliki slogan “animals are not ours to eat, wear, experiment on, or use for entertainment“, yang dalam Bahasa Indonesia artinya: “hewan bukanlah milik kita (manusia) yang bisa sembarangan dimakan, dikenakan (sebagai pakaian), dijadikan bahan eksperimen, dan dipakai untuk hiburan”. Sekilas, cita-cita yang mereka emban nampaknya begitu mulia. Namun kenyataannya, cara dan hasil yang mereka implementasikan tidaklah sebaik dan setepat itu.

Antara Kebebasan Hewan dan Kesejahteraan Hewan

Pawai PETA dan Jargon Vegan
Pawai PETA dan Jargon Vegan

PETA adalah organisasi yang memperjuangkan Animal Rights. Tujuannya adalah Animal Liberation (kebebasan hewan). Semua hewan tidak boleh dikandangkan oleh manusia dengan tujuan apapun. Harus dilepas dan jangan disentuh-sentuh. Sesuai slogan organisasinya. Aktivitas manusia apapun yang menggunakan hewan, termasuk kebun binatang, rehabilitasi satwa, breeding program, sampai memelihara hewan di rumah, mereka tentang. Minum susu dan memelihara anjing untuk menuntun orang buta berjalan pun mereka tafsirkan sebagai eksploitasi hewan.

Beda halnya dengan Animal Welfare (kesejahteraan hewan). Secara harfiah, Animal Welfare didefinisikan sebagai “how an animal is coping with the conditions in which it lives“. Hewan boleh digunakan untuk kepentingan manusia, selama semua kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh manusia. Tidak hanya pakan dan kandang, tapi juga kesehatan fisik-mental dan lingkungan, karakteristik, serta kebiasaannya. Ketika hewan harus mati pun, kematiannya harus seminim mungkin menimbulkan rasa sakit dan dilakukan secara bertanggungjawab.

Animal Welfare itu ilmiah, terukur, ada parameter yang berbeda untuk tiap jenis hewan. Tidak bisa dipungkiri, penggunaan hewan untuk menunjang kehidupan manusia sudah banyak memberi manfaat. Obat-obatan dan vaksin semuanya menggunakan hewan uji sebelum dinyatakan aman untuk manusia. Keberadaan kebun binatang juga sangat membantu program konservasi satwa liar, tidak hanya di dalam tapi juga di luar kebun binatang itu sendiri.

PETA dan Jargon Vegan-nya Mereka adalah Sebuah Kesalahan Mutlak

Jika konservasi hewan adalah sebuah ideologi, maka PETA adalah ormas radikal yang perilakunya mencederai semangat konservasi itu sendiri.

  1. Lebih dari 80% hewan di-euthanasia oleh PETA di shelter yang mereka bangun sendiri
Angka Euthanasia oleh PETA dan Jargon Vegan Mereka
Angka Euthanasia oleh PETA dan Jargon Vegan Mereka

Mereka rutin menggalang dana untuk membangun shelter yang katanya seperti hotel megah di Virginia, 1 ruangan untuk 1 hewan. Kemudian, mereka mengadopsi hewan-hewan terlantar dan “menyita” hewan peliharaan orang untuk ditempatkan di sana. Jumlahnya tidak sedikit, hingga 2.470 ekor anjing dan kucing pada tahun 2018.

Sayangnya, 1.771 ekor justru mereka euthanasia dengan alasan bahwa hewan-hewan itu layak mendapatkan kedamaian abadi karena penderitaan mereka selama ini di dunia. Padahal hewan-hewam malang itu sebelumnya dirawat dan dipelihara dengan baik oleh majikan mereka. Kejadian ini terus berlangsung sejak tahun 2011.

  1. Mencontohkan kekerasan dan cara main seperti gangster

Mereka menyamakan ayam potong seperti korban pembantaian Hollocaust. Mengolok korban serangan hewan buas sebagai korban aksi balas dendam hewan. Menyebut orangtua yang memberi anaknya makan daging dan susu sebagai “child abusers”. Bahkan, menari-nari di atas kuburan Colonel Sanders (pendiri KFC).

PETA juga tidak segan membayar orang untuk menjadi eksekutor mereka, membunuh peneliti yang menggunakan hewan lab atau menyerang pemburu menggunakan senjata api. Mereka juga diketahui bekerja sama dengan Animal Liberation Front (ALF), sebuah organisasi teroris, hingga berurusan dengan FBI.

  1. Melakukan propaganda ketakutan pada anak-anak

Pada 2017, PETA membagikan buku berjudul “Fetch: How a Bad Dog Brought Me Home” pada anak-anak. Isinya banyak mengandung kata-kata kasar, gambar kekerasan, dan perilaku bunuh diri dari tokohnya. Di buku komik lain berjudul “Your Mommy Kills Animals“, termuat gambar seorang wanita yang memegang pisau bersimbah darah sedang membunuh seekor kelinci.

Pada sebuah iklan natal, PETA juga pernah memuat karikatur Santa melihat ke celananya seperti ini

Iklan Santa yang dibuat oleh PETA dan Jargon Vegan Mereka
Iklan Santa yang dibuat oleh PETA dan Jargon Vegan Mereka
  1. Melakukan aksi yang tidak didasari ilmu pengetahuan

Di laman resminya, PETA mendorong pemberian pakan vegetarian pada anjing dan kucing. PETA juga menentang keras kegiatan perburuan apapun, termasuk perburuan legal yang padahal sejatinya dapat mendukung keseimbangan ekosistem. Hewan domestik dan satwa liar mereka anggap sama, sama-sama harus hidup di alam liar.

Mereka tak peduli dengan konsep rantai makanan di alam liar. Tak peduli dengan jenis satwa destruktif yang dapat mendorong kepunahan suatu spesies bilamana dibiarkan hidup di alam yang sama. Ketidakseimbangan ekosistem bagi mereka hanyalah dongeng. Dan untuk manusia, PETA menggaungkan ajakan untuk menjadi vegan. Yang artinya tidak mengonsumsi hewan apa pun.

  1. Mengumpulkan dana jutaan USD, tapi hanya menggunakan 2% untuk riset dan 1% untuk kegiatan konservasi

Laporan tahun 2010, PETA mengumpulkan 33 juta USD dari hasil donasi. Hanya 2% diberikan kepada peneliti untuk mencari alternatif pengganti hewan lab. Pada 2019, mereka berhasil menggalang dana hingga 49 juta USD menggunakan isu penyelamatan satwa akibat kebakaran hutan di Australia. Kenyataannya, kurang dari 1% yang benar-benar mereka berikan untuk rehabilitasi dan pemulihan habitat satwa.

Sisanya kemana?

Digunakan untuk melakukan demo dan penggalangan dana lagi. Plus untuk membayar tokoh terkenal sebagai juru bicara, duta dan model. Jangan lupa, ada juga biaya untuk eksekutor dan teroris seperti yang sudah dibahas pada poin nomor 2 di atas.


Berdasarkan fakta tersebut, penulis memandang bahwa aksi mereka melindungi satwa liar maupun domestik tidaklah tepat, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai keseimbangan alam dan rantai kehidupan yang telah semesta rancang sendiri.

Pakailah ilmu untuk menjustifikasi sebuah tindakan. Jangan hanya berlandaskan rasa “kasihan”.