Rekam Jejak Mona Fandey — Mona Fandey namanya. Penyanyi dari Negeri Jiran ini adalah salah seorang pelaku dalam peristiwa kriminal yang cukup santer di Malaysia pada tahun 90-an silam.

Mona bisa dibilang ambisius dalam mengejar popularitasnya. Namun sayang, karir wanita kelahiran 1956 ini ternyata tak semulus yang ia kira. Meskipun mulai dikenal, namun namanya sempat redup karena kalah bersaing dengan penyanyi lokal lainnya.

Segala upaya ia lakukan untuk mengejar mimpinya menjadi orang terkenal. Bahkan, beberapa sumber media lokal pada masa itu mengatakan bahwa pernikahannya dengan Mohamad Nor Affandi Abdul Rahman—yang di masa itu merupakan pengusaha kaya—adalah salah satu caranya agar mendapat suntikan dana guna melambungkan karirnya.

Tak disangka, Mona Fandey malah memilih untuk banting setir. Melepas statusnya sebagai penyanyi, ia justru tak lagi mengadu nasib di dunia hiburan. Siapa yang mengira kalau pada akhirnya wanita ini memilih untuk menjadi dukun?

Karir Cemerlang di Dunia Perdukunan

Setelah merintis karir sebagai paranormal, justru namanya melejit. Tak hanya popularitas, pundi-pundi uang pun berhasil ia kumpulkan dari praktik pseudo-science yang kala itu masih tertanam kuat di kalangan rakyat Malaysia.

Seiring berjalannya waktu dimana karirnya semakin moncer, datanglah salah seorang klien yang merupakan politisi ternama. Mazlan Idris namanya. Permintaannya sudah bisa ditebak, tak jauh dari kelancaran agar menang dalam kontestasi politik dan kekuasaan.

Merasa telah menjadi dukun dengan rekam jejak yang baik dan jam terbang yang tinggi, tentu saja Mona Fandey tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Biaya yang ia patok untuk klien istimewanya itu sangatlah besar. Mona Fandey meminta Mazlan Idris untuk membawa tanda jadi berupa uang sejumlah RM 300.000. beberapa sumber bahkan mengatakan bahwa politisi itu juga membawa sertifikat tanah sebagai jaminan.

Pembunuhan Mazlan Idris

Sebagai seseorang yang berkonsultasi dengan hal yang dianggap tabu, tentu saja Mazlan Idris merahasiakan kunjungan tersebut ke seluruh anggota keluarga maupun teman-temannya. Kemudian sampailah dimana tanggal kunjungannya tiba.

Mazlan yang saat itu sendirian ke tempat praktik dukun langsung disambut oleh Mona dengan antusias. Kemudian, Mona membawa Mazlan di ruang ritual yang sudah didesain agar memberikan kesan klenik. Di ruangan itu, terdapat pula seorang bernama Juraimi yang merupakan asisten Mona.

Ritual dimulai. Mazlan diinstruksikan untuk berbaring dan memejamkan mata seiring dengan mantra-mantra yang dibacakan oleh Mona. Bukannya diberkati, Mazlan malah harus mati dipenggal di tangan dukun yang ia percayai.

Juraimi sempat kaget. Namun akhirnya ia paham kalau bosnya yang ternyata telah merencanakan semua ini. Masuklah suami Mona ke area pembantaian. Bukannya terkejut karena melihat sesosok mayat dengan kepala yang dipenggal, namun ia malah membantu istri dan karyawannya memutilasi jenazah mayat tersebut. Total bagian yang dimutilasi yaitu sebanyak 18 potongan, dan semuanya dikubur di gudang rumah mereka.

Apa yang terjadi setelahnya? Tentu saja mereka langsung merongrong harta yang dibawa oleh politisi malang itu. Hasil jarahan mereka bagi tiga. Juraimi mendapat uang bagiannya. Dan Mona bersama suami langsung membeli mobil baru serta barang-barang mewah lainnya.

Kejahatan Mereka “Hampir” Sempurna, Sampai Akhirnya…

Beberapa hari kemudian, polisi mendapat laporan kehilangan dari keluarga mendiang. Setelah pengembangan kasus yang cukup rumit, aparat berwajib sempat hampir putus asa mengingat tak ada satupun jejak yang mengarah guna kebutuhan investigasi kasus orang hilang tersebut.

Waktu berselang, sekelompok polisi melakukan operasi penggrebekan terhadap sebuah tempat yang mana di dalamnya diyakini sedang ada pesta narkoba. Sungguh sebuah kebetulan, ada Juraimi di sana. Karena efek dari narkotika dan miras, ia pun teler dan berbicara melantur saat diseret aparat. Di tengah kicauannya, ia malah menyebutkan bahwa dirinya pernah membunuh salah seorang politisi bernama Mazlan Idris.

Mendengar keterangan itu, polisi pun kembali mengembangkan kasus yang padahal hampir saja ditutup. Setelah penelusuran dan interogasi yang ketat terhadap Juraimi, akhirnya polisi berhasil mengungkap kasus pembunuhan yang keji ini dan menemukan lokasi dimana jasad Mazlan berada.

Akhir Hidup Mona Fandey

Dua tahun setelah kasus pembunuhan tersebut, pada 1995 akhirnya pengadilan mengetuk palu agar ketiga pelaku dihukum mati. Beberapa kali banding diajukan, namun semuanya ditolak mentah-mentah oleh hakim yang mengadili kasus fenomenal ini.

Pada 2 November 2001, usia Mona Fandey yang saat itu telah berada di angka 45 pun harus ditutup. Jenis hukuman mati yang ia dapatkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya adalah hukum gantung.

MALUTPOST.WEDA – Karyawan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) berinisial FSP alias Fanly (25) warga Minahasa Selatan akan segera diadili. Pasalnya, kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dilakoninya hingga korban meninggal dunia itu, saat ini sudah tahap II. Ini berdasarkan surat dari Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Halmahera Tengah Nomor : B-33/Q.2.15/Eku./01/2021 tanggal 22 Januari 2021 perihal pemberitahuan penyidikan sudah lengkap (P.21). Kemudian Surat Pengantar Pengiriman Tersangka Nomor : B/43/1/2021/Reskrim tertanggal 25 Januari 2021 perihal penyerahan tersangka dan barang bukti.

Tersangka disangkakan melanggar pasal rumusan pasa 44 ayat (30 UU RI nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dengan ancaman paling lama 15 tahun dan atau pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiyaan dengan ancaman pidana paling lama 7 tahun. “Dua pasal ini yang disangkakan kepada tersangka. Kita pakai pasal alternatif setelah koordinasi dengan JPU,” kata Kasat Reskrim AKP Abd Halim Rangkuti, Jumat (29/1) kemarin.

Saat ini tersangka dan barang bukti juga sudah diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU), sehingga tersangka sudah resmi menjadi tahanan Jaksa. Sementara Kasi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Yasser Smahati yang dikonfirmasi membenarkan kasus tersebut sudah tahap II. “Polres sudah tahap II kasus ini dan kami sudah terima,” ucapnya. Diketahui kasus ini menewaskan Novelia Johana Magdalena Kemenangan (25) warga Minahasa Selatan. Korban tak lain adalah istri tersangka. Kasus itu terjadi di kamar kos Desa Lelief Swani Kecamatan Weda Tengah, Kamis (1/10) sekira pukul 10.00 WIT.

Saat itu tersangka Fanly bersama istrinya sedang adu mulut di dalam kamar kos. Cek-cok terjadi karena tersangka kesal dengan sikap dan tingkah laku korban. Di mana setiap keduanya bertengkar korban sering membuat status pada instagramnya terkait permasalahan rumah tangga mereka. Tersangka yang tidak lagi mengendalikan emosinya membanting semua barang dalam kamar. Sehingga dispenser, piring dan gelas termasuk air galon berserakan dilantai.

Selanjutnya tersangka kemudian mengambil bensin yang berada didekat pintu lalu menyiram kasur yang disandarkan ke tembok kamar kurang lebih 1/2 liter. Sialnya saat itu tersangka yang sedang memegang korek api gas tanpa sadar menyalahkan korek tersebut. Alhasil uap bensin yang berada di lantai seketika langsung menyambar percikan api yang berasal dari korek gas tersebut. Akibatnya didalam kamar terjadi kebakaran. Keduanya pun terbakar. Namun istrinya meninggal saat mendapat perawatan di RSUD Chasan Boesoirie Ternate. (mpf/met)

Pengadilan Negeri Bantaeng, Sulawesi Selatan, akhir November lalu menjatuhkan vonis hukuman penjara terhadap dua laki-laki yang terbukti membunuh adik kandungnya sendiri karena motif siri.

Rosmini (tengah, foto: facebook/privat) di antara kedua kakak kandung yang menghabisi nyawanya, Rahman (kiri) dan Suyanto (kanan). (Foto: courtesy/dok)

Rosmini (tengah, foto: facebook/privat) di antara kedua kakak kandung yang menghabisi nyawanya, Rahman (kiri) dan Suyanto (kanan). (Foto: courtesy/dok)

Diwawancarai melalui telepon Jumat pagi (18/12) Hakim Juru Bicara PN Bantaeng Imran Marannu Iriansyah SH mengonfirmasi kabar tentang vonis yang dijatuhkan dalam pengadilan daring itu.

“Perkara pembunuhan atas adik kandungnya sendiri itu, majelis hakim PN Bantaeng telah menjatuhkan vonis pada 25 November terhadap dua orang dalam dua berkas yang berbeda. Untuk terdakwa dengan inisial S divonis lima tahun penjara dan denda satu miliar rupiah. Sedangkan terdakwa dengan inisial R divonis 13 tahun penjara,” ujarnya.

Terbukti Pembunuhan Bermotif Siri

Keterangan sejumlah saksi, termasuk saksi ahli, membuktikan bahwa motif pembunuhan ini adalah siri. “Saya tidak dapat menjelaskan dengan rinci pernyataan kedua terdakwa dan saksi-saksi, tetapi memang berhasil dibuktikan bahwa motif tindakan mereka adalah siri,” tambah Imran.

Dua terdakwa pelaku yang merupakan abang kandung korban, Rahman yang berusia 30 tahun dan Suryanto yang berusia 20 tahun, bersama kuasa hukum keduanya, mengikuti jalannya sidang dari rutan Bantaeng lewat jaringan internet, sementara seluruh hakim dan jaksa berada ruang sidang pengadilan.

Dalam penyelidikan awal polisi dan sebagian dokumen pengadilan, yang kemudian dibuktikan selama proses persidangan, diketahui Rahman dan Suryanto membunuh adik kandungnya sendiri Rosmini binti Darwis pada 9 Mei lalu karena dinilai telah mempermalukan keluarga.

Polisi: Korban Pasrah Ketika Diadili Keluarga

Menurut keterangan pers yang dirilis Polres Bantaeng ketika itu, malu dengan kondisi Rosmini yang kerap muntah dan kehilangan kesadaran, pihak keluarga sempat meminta pertanggungjawaban Usman, abang sepupunya yang telah berkeluarga dan dikenal dekat dengan Rosmini.

Upaya itu gagal dan Usman melarikan diri ketika pihak keluarga menyidang Rosmini di rumah mereka di kampung Katabung, desa Pattaneteang, kecamatan Tompobulu, kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Keluarga juga sempat menyandera dua laki-laki dan menawari seorang di antaranya untuk menikahi Rosmini, yang kemudian ditolak.

Kapolres Bantaeng AKBP Wawan Sumantri (foto: courtesy).

Kapolres Bantaeng AKBP Wawan Sumantri (foto: courtesy).

Polisi yang mengetahui proses penyanderaan ini sempat mendatangi rumah keluarga Rosmini dan melemparkan gas air mata, tetapi nyawa gadis itu tak tertolong lagi.

“Gadis itu pasrah dengan apa yang dilakukan keluarganya. Ia dibunuh oleh kedua abang kandungnya, di hadapan ayah, ibu, dan beberapa anggota keluarga lain, termasuk satu sandera yang ditahan keluarga,” ujar Kapolres Bantaeng AKBP Wawan Sumantri ketika diwawancarai VOA.

Ditambahkannya, “Pembunuhan ini merupakan bagian dari tradisi yang disebut siri, atau tindakan untuk mempertahankan martabat keluarga. Motif ini penting disampaikan agar tidak menimbulkan hoaks.”

Pembunuhan dilakukan di hadapan sembilan anggota keluarga, termasuk ayah dan ibu kandung Rosmini, Darwin bin Daga dan Anis binti Kr. Pato. Namun dari hasil penyelidikan, polisi hanya menetapkan dua orang sebagai tersangka, yaitu Rahman dan Suryanto; sementara tujuh anggota keluarga lainnya, yaitu ayah, ibu, kakak dan menantu, semuanya dibebaskan.

Sejarawan : Tradisi Mempertahankan Martabat Keluarga Masih Kuat di Sebagian Kelompok Masyarakat

Beberapa sejarawan yang diwawancarai VOA sebelumnya membenarkan adanya tradisi mate siri di Sulawesi Selatan, yang berarti lebih baik mati karena mempertahankan harga diri, daripada hidup tanpa harga diri. Namun sebagaimana polisi, di mata hukum, alasan menegakkan adat istiadat untuk melakukan pembunuhan seperti ini tetap tidak dapat dibenarkan.

Sejarawan Dr. Anhar Gonggong (foto: courtesy).

Sejarawan Dr. Anhar Gonggong (foto: courtesy).

Sejarawan Dr. Anhar Gonggong kepada VOA mengatakan siri ini adalah budaya mempertahankan martabat, harga diri, reputasi, atau kehormatan yang sejak lama ada di sebagian budaya masyarakat Indonesia.

“Di Sulawesi Selatan dikenal sebagai siri, di Madura dikenal sebagai carok. Bentuknya sama, bahwa mereka yang merasa harga dirinya dilecehkan atau dihina, akan menuntut balas. Siri ini salah satu yang membuat Kahar Muzakkar melakukan pemberontakan tahun 1955,” tegas pakar sejarah kelahiran Pinrang ini.

Tetapi ia buru-buru menambahkan bahwa tradisi ini tidak serta merta diterapkan dalam semua kasus, “Hanya ketika kehormatannya dilanggar. Inti siri adalah membela kehormatan diri dalam bentuk menghormati diri sendiri dan masyarakat, sehingga tidak boleh dilanggar. Siri tidak digunakan misalnya hanya karena soal pacaran, atau perkelahian. Tapi ketika ada martabat keluarga yang dilanggar.”

Lebih jauh Dr. Anhar Gonggong mengakui bahwa budaya siri, khususnya yang memiliki konsekuensi sangat buruk seperti kehilangan nyawa, mulai jarang terdengar karena mulai membaiknya pendidikan dan penegakan hukum.

Tradisi Menguat Ketika Menyangkut Perempuan

Diwawancarai secara terpisah, antropolog Universitas Indonesia Dr. Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah mengatakan setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi budaya menjaga martabat yang berbeda, tetapi ada satu persamaan utamanya yaitu ketika menyangkut anggota keluarga perempuan, terutama istri, adik perempuan dan anak perempuan.

“Istri atau anak perempuan ditempatkan dalam posisi untuk menjaga nama baik keluarga. Hal ini ada di beberapa daerah. Tapi khusus kasus di Bantaeng di mana anak perempuan malang itu dibunuh demi menjaga nama baik keluarga, itu baru pertama terjadi di Indonesia.”

Human Rights Watch Indonesia mengecam keras insiden yang disebut sebagai pembunuhan bermotif siri pertama yang terjadi dalam sejarah modern Indonesia.

Kedua Terdakwa Ajukan Banding

Kedua terdakwa, Rahman dan Suryanto, yang merupakan abang kandung korban, dijerat dengan “dakwaan kombinasi,” antara lain UU Perlindungan Anak No.23/Tahun 2002 dan KUHP Pasal 338 dan 340 tentang pembunuhan berencana.

Kuasa hukum kedua terdakwa menyatakan banding terhadap putusan pengadilan, sementara kedua klien mereka dikembalikan ke rutan Bantaeng menunggu putusan banding tersebut. [em/es]