Korban Hamil 9 Bulan

MALUT POST – TERNATE. Ini peringatan orang tua agar lebih memperketat pengawasan terhadap anak dan tidak mudah percaya terhada[p orang yang baru dikenal. Apalagi jika mereka baru saja hadir ditengah-tengah kita sebagai bagian dari keluarga.

Seperti yang dialami Bunga (Bukan naman sebenarnya). Anak yang masih berusia (15) tahun ini mengalami trauma dengan suami ternyata berinisial MF (36). Bagaimana tidak, MF diduga kuat melakukan persetubuhan terhadap Bunga hingga hamil 9 bulan. Berdasarkan informasi yang diterima menyebutkan, aksi bajat MF dilakukan sejak lama dan baru terbongkar tanggal 15 januari, awal tahun 2021 kemarin. Ini dilakukan MF pada siang dan sore hari, saat situasi rumah kontrakan yang dihuni korban dalam keadaan sepi. Diruma kontrakan yang ada disala satu Kelurahan Kecamatan Pulau Ternate, korban diketahui tinggal bersama sang nenek berinisial NT (46).

Sedangkan MF yang berprofesi sebagai petani sudah berkeluarga. Dalam aksinya, MF kerap berkujung ke rumah kontrakan yang dihuni korban bersama sang nenek. Dirimah kontrakan itulah, MF diduga menyetubuhi ponakan istrinya sendiri. Aksi bejat MF kerap dilakukan setiap kali melihat korban habis mandi. Karena hanya menggunakan handuk, gairah MF lalu memuncak. Lantaran tidak tahan dengan kemolekan tubuh si korban, MF dengan nekat menyetubuhi sang korban. Kejadian ini terbongkar pada awal tahun kemarin setelah korban memberanikan diri mengadukan perbuatan MF ke pihak keluarga. Setiap kali selesai melampiaskan nafsu bejatnya, pria dua anak ini selalu mengancam korban.

Setelah dilaporkan ke Polsek Pulau Ternate, MF yang kini ditetapkan sebagai tersangka sudah mendekam di sel penjara. Kapolsek Pulau Ternate. IPTU Indah Fitria Dewi melalui Kepala Unit (Kanit) Reserse Kriminal (Reskrim), Bripka Azwar P. Sirajudin, saat dikonfirmasi Sabtu (3/4) kemarin, membenarkan informasi tersebut.

Pasca ditetapkan sebagai tersangka, berkas perkara MF sudah diserahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) untuk diperiksa. Penyerahan berkas memiliki tersangka dilakukan penyidik, Maret kemarin. “Kami sedang menunggu petunjuk dari Kejari,” akunya. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang dilakukan, pria dua anak ini dijerat pasal 81 ayat (1) dan ayat (2) Jo pasal 76D undang-undang RI nomor 35 tahun 2014, sebagaiman diubah kedalam undang-undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak. (mg-03/aji)

Tangan Nyaris Putus

MALUT POST – LABUHA. Diduga perkosa AM, bocah 11 tahun, Yuwel Sarabu (46), warga Likupang, Minahasa Utara, dibacok orang tua korban hingga lengan kiri nyaris putus.

Kasus ini terjadi di Desa Sember Makmur, Kecamatan Gane Timur, Halmahera Selatan (halsel), pada Rabu lalu. Kapolsek Gane Timur, Ipda zulkifli Muchmud, kepada koran ini menceritakan, Minggu Uda, orang tua bocah AM yang baru pulang dari kebun, Rabu (24/3) sekira pukul 13.30 wit. Mendengar suara jeritan anaknya dari dalam ruma, tak pikir panjang, Minggu lalu masuk mengecek suara anak tersebut. Betapa kagetnya Minggu, dia mendapati putrinya berada di dalam toilet rumah bersama Yuwel.

“Jadi menurut keterangan awal yang kita peroleh, oreng tua korban masuk mencari tahu teriakan putrinya, setelah didalam rumah, dia melihat pelaku Yuwel keluar dari kamar mandi menggunakan celana dilapisi handuk. Sementara putrinya tidak menggunakan busana dan duduk memeluk lutut sambil ketakutan. Minggu yang saat itu memegang parang dari kebun langsung menyerang dan membecok Yuwel,” jelas Kapolsek.

Dilanjutkan Kapolsek, usai dibacok, Yuwel kabur kedalam hutan, sementara Minggu yang berusaha mengejar Yuwel tidak menemukan keberadaan Yuwel. “Yuwel kemudian ditemukan warga yang dalam keadaan lemas karena alami luka bacok di lengan kiri hingga nyeris putus. Sekitar pukul 11.00 malam. Oleh warga Yuwel, lalu dibawa ke Puskesmas Sumber Makmur, kemudian diamankan ke Polda Gane Timur,” lanjutnya.

Karena kondisi Yuwel menghawartirkan, petugas Polsek Gane Timur kemudian merujuknya ke Ruma Sakit Umum Daerah (RSUD). “Saat ini Yuwel sementara dirawat di RSUD Labuha, sementara untuk Minggu, orang tuan korban yang membacok Yuwel kita amankan di Polsek, dan untuk bocah korban yang diduga diperkosa, kita sementara melakukan pendampingan menunggu hingga proses kasus ini berjalan,” tutup Zulkifli mantan Kanit Buser Polres Ternate. (sam/lid)

MALUTPOST.MABA – Seorang anak di bawah umur di salah satu desa pada Kecamatan Kota Maba, Halmahera Timur (Haltim) menjadi korban pencabulan dan pemerkosaan 10 remaja.

Korban yang baru duduk di bangku kelas 1 SMP itu disetubuhi 10 remaja pada pada waktu yang berbeda. Kejadian itu baru terungkap setelah gadis 13 tahun ini menceritakan hal tersebut pada 13 tahu pada sang ibu. Tak membutuhkan waktu lama, mereka langsung melaporkan kejadian itu ke Polres Haltim. Saat ini kasusu tersebut tengah diitangani Reskrim Polres Haltim.

Informasi yang dihimpun Malut Post menyebutkan, kejadian tersebut terjadi sejak Oktober 2020 hingga Januari 2021 lalu. Para pelaku melakukan aksi itu pada malam hari dengan modus berpacaran lalu membujuk korban melakukan hubungan layaknya suami istri.

Seluruh kejadian yang di alami korban berlangsung di kamarnya. Mirisnya dari 10 pelaku itu tujuh diantaranya masih berusia belasan tahun, bahkan ada yang juga baru duduk di bangku kelas 1 SMP. “Jadi kejadian ini, tempatnya yakni di rumah atau kamar korban. Hanya waktunya yang berbeda-beda. Misalnya, malam ini, salah satu pelaku sudah melakukan persetubuhan dan pencabulan setelah itu malam atau hari berikutnya pelaku lain melakukan kejahatan yang sama.”

Jadi tidak bersamaan, Saat kita masih melakukan pendalaman, apakah ada keterkaitan antara para pelaku ini atau tidak,” terang Kapolres Halmahera Timur (Haltim) AKBP, Eddy Sugiarto, didampingi Kasat Reskrim, AKP Paultri Yustiam dan Kabag Humas, Iptu JUfri Adam, dalam jumpa pers, di aula Polres, Rabu (3/3).

Kapolres menyebutkan, 10 pemuda yang diduga menjadi pelaku dalam kasus itu adalah, ZA (14) Pelajar SMP kelas I, MA (16) Pelajar SMA kelas II, MH (20) belum bekerja, WN (13) pelajar SMP, JM (14) pelajar kelas III SMP, LY (15) pelajar SMP kelas III, RH (17) pelajar SMA kelas II, ZH (14) pelajar kelas II SMP, HH (19) pelajar SMA kelas II, dan NA (21) bekerja sebagai kurir jasa. “Dari sepuluh tersangka ini hanya tiga yang di tahan, sementara tujuh tersangka hanya dilakukan penahanan rumah karena masih di bawah umur,” jelasnya.

Sejauh ini, pihaknya sudah mengumpulkan sejumlah barang bukti, berupa baju yang digunakan para pelaku, serta barang bukti lainnya, seperti I buah seprei bermotif doraemon. “Jadi untuk kepentingan penyelidikan barang bukti semunya sudah kami simpan, untuk proses lebih lanjut. Untuk para tersangka anak di bawah umur yang saat ini belum di tahan, akan dilakukan penyerahan berkas atau P21, ke kejaksaan,” jabar Kapolres.

Dalam kasus ini, sambung Kapolres, bisa jadi ada tersangka tambahan. Sejauh ini pihaknya masih melakukan pendalaman untuk memastikan hal tersebut. “Ada kemungkinan tersangka lain juga, makanya kita masih terus melakukan pendalaman kasus ini,” ucapnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, para tersangka dijerat dengan pasal 81 ayat 2 dan pasal 82 ayat 1 Undang-Undang Nomor 17 tentang Perlindungan Anak, dengan hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan maksimal 15 tahun serta denda sebesar Rp 5 miliar. “Jadi pasal yang kita sangkakan juga berbeda-beda, karena ada yang melakukan pencabulan ada yang persetubuhan serta ada perbuatan berlanjut sesuai perbuatan para pelaku,” pungkasnya. (ado/rul)

Ayah, Paman dan Kakek Diancam 15 Tahun Penjara

MALUT POST – TOBELO. Remaja (16 tahun) asal Galela Selatan Halmahera Utara mengaku pasrah diperkosa sang kakek, paman serta ayah kandungnya sendiri karena diancam dibunuh. Hal ini disampaikan Kaur Bin Ops Polres Halut IPDA Muhammad Kurniawan mengutip pengakuan korban dalam konferensi pers di Mapolres, Kamis (4/2).

Korban dalam keterangannya saat diperiksa penyidik PPA mengaku persetubuhan pertama kali dilakukan sang kakek berinisial AN di semak-semak sebanyak 2 kali. Yakni pada 2017 lalu dengan cara memeluk dan memegang penyudara.

Kakek mengancam membunuh cucunya ini jika tidak melayani untuk bersetubuh. “Kalau kakek bunuh kamu tidak ada yang tahu. Itu ancaman kakek sambil memegang penyudara cucunya (korban, red) ketika itu. Aksi kakek dilakukan di kebun pada 2017 lalu,” ungkap korban yang dikutip Kaur Ops Polres.

Belum puas, kakek bejatnya ini kembali mengulangi perbuatannya satu minggu setelah kejadian pertama. Yang kedua ini juga dilakukan di tempat yang sama. Saat itu sang kakek menarik korban lalu membuka celananya dan memangku sambil menyetubuhi korban. “Jadi kakek memperkosanya sebanyak dua kali,” ungkapnya.

Sementara aksi OH (35) yang juga pamannya itu terjadi 2020 lalu. Sang paman memperkosanya sebanyak 7 kali. “Pertama di bulan Oktober dan terakhir di November.” Saat itu korban dibonceng pamannya itu menggunakan sepeda motor dan menuju pantai. Karena tidak ada orang, paman langsung menarik korban ke salah satu pohon coklat lalu memperkosanya,” ucap korban.

Selain kakek dan pamannya, ayah kandungnya berinisial AK juga mengambil bagian. Ayah yang harusnya melindungi anaknya itu justru memperkosanya sebanyak 4 kali sejak Juli hungga Agustus 2020. “Kondisi korban saat ini trauma dan hamil sekitar 4 bulan,” ungkap IPDA Muhammad.

Kasus ini terungkap salah satu keluarganya berinisial YS dan melaporkannya ke SPKT Polres Halut, Jumat (29/2) pekan lalu. Penyidik dalam kasus ini telah mengantongi barang bukti berupa pakaian korban dan hasil visum. “Ketiga tersangka ini diancam 5 sampai 15 tahun penjara karena melanggar pasal 81 ayat 1 dan ayat 3 dan atau pasal 82 ayat 2 Undang-Undang Perlindungan Anak,” tandasnya. (rid/met)

MALUT POST – TOBELO. Sungguh malang nasib yang dialami gadis belia (16) asal Kecamatan Galela Utara, Halmahera Utara (Halut) ini. Dia diduga menjadi korban pemerkosaan kerabat dekatnya sendiri. Sejak berusia 13 tahun, kehormatannya telah dirusak oleh AK yang tidak lain adalah ayah kandungnya sendiri, OH (35) paman dan KA (64) kakek. Ketiga lelaki ini bukanya menjaga dan melindungi korban. Mereka justru dengan tega merusak masa depan korban. Informasi yang dihimpun Malut Post menyebutkan, ayah, paman dan kakek korban sudah merusak kegadisan korban sejak 2017.

Perbuatan bejat ketiganya ini baru terbongkar beberapa hari lalu. Setelah mengetahui kejadihan ini, YH (35), sang Ibu langsung mendatangi Unit Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Halmahera Utara (Halut), pada Jumat (29/1) pekan lalu, untuk mengadukan kejadian tersebut. “Kami baru menerima laporan dugaan pemerkosaan ini dari salah satu kerabat korban pada Jumat pekan lalu,” kata Kasubag Humas polres Halmahera Utara, AKP. Mansur Basing, kemarin (31/1).

Menurut dia, dugaan kasus pemerkosaan anak di bawah umur ini melibatkan orang dekat korban, yakni ayah kandung korban. Ketiganya diketahui berprofesi sebagai petani di wilayah Galela Utara. “Keterangan sementara dari pihak pelapor, bahwa perbuatan ayah korban serta paman dan kakek korban ini sudah berlangsung sejak 2017 hingga 2020,” beber Mansur.

Sesuai keterangan yang diperoleh, pemerkosaan yang dilakukan oleh sang kakek bermula saat ayah korban menyuruhnya pergi mengikuti kakeknya untuk mengambil sageru (minuman keras lokal) di kebun. Di tengah jalan menuju ke kebun, tiba-tiba kakek korban memeluknya dari belakang kemudian memaksa membuka celana korban. Dengan sekuat tenaga korban berusaha memberotak, tapi karena kondisi fisiknya yang kecil dia tak mampu melawan lebih lama. “Korban lalu diperkosa,” terangnya.

Kejadian yang membuat trauma korban ini kembali terjadi, kali ini ayah korban sendiri yang manjadi pelakunya. Bahkan kejadian itu berlangsung di rumah mereka. Dalam kondisi mabuk, korban dipaksa melakukan hubungan layaknya suami-istri. Karena berapa di bawah ancaman korban hanya bisa pasrah. “Diduga kejadian ini sudah berulang kali,” tukasnya.

Tak hanya kakek dan ayah korban. Pamannya juga tega melakukan perbuatan tersebut kepada keponakannya sendiri. “Pamannya dalam keadaan mabuk juga memperkosa korban. kejadiannya di tahun 2020,” ujarnya.

Setelah menerima laporan dari pihak keluarga, aparat langsung bergerak cepat dihari itu juga untuk meringkus para tersangka. Ketiganya lalu dijebloskan kedalam sel tahanan untuk proses penyelidikan lebih lanjut. “Para pelaku ini akan dijerat dengan pasal 82 ayat 1 UU Perlindungan Anak, nomor 35 tahun 2014, dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun maksimal 15 tahun penjara,” pungkasnya. (rid/rul)

MALUTPOST-WEDA. Seorang gadis dengan inisial Mawar (18), asal Kecamatan Weda Selatan, nyaris diperkosa MJ (28) yang merupakan warga Desa Waimili Kecamatan Gane Timur Halmahera Selatan. Kejadiannya yaitu pada Senin (4/1) sekira pukul 09.00 WIT di salah satu kebun warga tepatnya di kilometer 3. Awalnya pelaku yang menggunakan sepeda motor menghampiri korban di jalan dua jalur depan pendopo Weda dan mengajaknya naik ke sepeda motornya. Tanpa berpikir panjang, korban pun mnegikuti ajakan pelaku.

Keduanya lalu berjalan menggunakan sepeda motor ke arah rumah sakit. Setelah itu balik lagi ke Pendopo. Tak lama kemudian tersangka mengarahkan kendaraannya menuju kilometer 3. Dalam perjalanannya, pelaku menyuruh korban untuk ikut dengannya. Korban yang sudah curiga, melarikan diri di salah satu lebun warga. Pelaku pun mengejarnya dan menarik lalu mencekik leher korban dan membantingnya sebanyak dua kali.

Korban terbaring di kebun warga tersebut, kemudian tersangka membuka celana dan memasukkan kemaluannya kedalam mulut korban sampai mengeluarkan cairan. Belum puas, tersangka mencoba melucuti pakaian korba. Namun korban melakukan melakukan perlawanan dengan mencakar wajah tersangka. Selanjutnya korban berteriak histeris meminta pertolongan.

Beruntung saat itu ada seorang lelaki yang melintasi jalan tersebut mendengar teriakan korban dan berusaha menolongnya. Melihat ada orang yang datang, pelaku langsung melarikan diri. Setelah menolongnya, korban ditemani saksi mata ini melaporkan kasus tersebut ke Polsek Weda. Saat dilaporkan, petugas langsung turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Karena diketahui pelaku berdomisili di Desa Loleo, maka polisi pun mengejar tersangka di Desa tersebut sekira pukul 12.30 WIT. Sayangnya saat itu, pelaku tidak berada di tempat.

Kemudian pukul 14.15 WIT polisi kembali mencari tersangka di rumah mertuanya di Desa Waimili Gane Timur. Di sana mereka hanya menemukan istri tersangka berada di Oba Sofifi Kecamatan Oba. Bersama istrinya, polisi langsung balik haluan ke Weda, dan menyuruh istrinya menanyakan posisi terakhir tersangka.

Setelah mengetahui keberadaannya, selanjutnya pukul 20.00 WIT polisi bersama istri tersangka yang dipimpin Kapolsek Weda IPTU Yogie Biantoro melakukan perjalanan ke Desa Loleolamo, Kecamatan Oba Tengah.

Tiba di Desa Loleolamo, petugas langsung menangkap tersangka atas bantuan istrinya. Saat itu tersangka sedang berdiri di tepi jalan poros Loleolamo Weda. Sempat melarikan diri menggunakan sepeda motor. Namun Polisi melepaskan tembakan peringatan, dan akhirnya mengamankan tersangka. “Tersangka sudah kami amankan untuk dimintai keterangan,” tandasnya. (mpf/met)