Cara Keluar dari Kemiskinan — Tren kemiskinan struktural dalam aspek finansial di Indonesia seakan bukan lagi hal yang asing. Jika keturunan generasi pertama telah hidup dalam kemiskinan sedari lahir hingga akhir hayatnya, maka sampai generasi kelimanya pun tak menutup kemungkinan mengalami nasib yang sama. Sebaliknya, energi serupa pun terjadi pada mereka yang terlahir dengan mengecap kekayaan sedari nafas pertama. Bahkan sampai tujuh turunan sekalipun, harta tersebut seakan abadi.

Hal inilah yang membuat sila kelima seakan sangat sulit—atau mungkin mustahil—terimplementasi. Dalam kasus ini, tak ada yang bisa disalahkan. Karena sistem perekonomian itu sendiri yang membuat atmosfer ekonomi kita semua seakan memiliki kastanya tersendiri. Namun sebagai entitas yang hidup dan berekonomi, ada baiknya kita semua memahami faktor pendukung yang membuat lingkaran setan ini terus berputar.

Akses ke Segala Hal Terbaik Membutuhkan Uang

Akses ke Segala Hal Terbai

Fase bayi dan kanak-kanak adalah periode krusial yang menentukan kualitas seorang manusia di masa dewasanya kelak. Sialnya, mereka yang hidup di garis kemiskinan nyatanya tak memiliki akses apapun untuk membangun kualitas terbaik keturunannya kelak. Tak perlu jauh-jauh ke pelosok negara, di Jakarta sendiri pun yang notabene adalah ibukota, bayi yang diberi air tajin sebagai pengganti susu formula pun masih sering ditemukan.

Waktu berputar,…

bayi-bayi tersebut pun akan tumbuh menjadi manusia berusia belia. Tentu saja, opsi sekolah yang dipilih adalah yang ala kadarnya. Tak perlu tutup mata, pendidikan di Indonesia masih berkasta. Ada sekolah bagus, ada yang tidak bagus. Yang tidak bagus tentunya guru-gurunya pun tidak kompeten. Mungkin kompeten, tapi tentunya tidak seoptimal sekolah swasta yang biayanya hingga beratus-ratus juta. Akan tetapi ada yang lebih miris. Mereka yang tak mampu sekolah, atau bahkan sudah sekolah, namun harus putus di tengah jalan karena biaya. Dan lagi, hal ini pun mudah kita temui di kota-kota besar, bahkan Jakarta.

Setelah lulus sekolah…

dengan perjuangan keluarganya yang berdarah-darah, mereka berhasil melalui tahapan wajib belajar selama 12 tahun. Selanjutnya, tibalah mereka di tahap awal sebagai manusia dewasa. Perguruan tinggi? Ah, mimpi. Mereka berlomba mencari kerja karena dikejar tekanan untuk segera membalas budi terhadap keluarga yang selama ini mendukungnya. Tentunya di usia yang masih segar, pekerjaan akan mudah didapat. Tapi diiringi dengan gaji ala kadarnya. Yang menjadi miris, bagi mereka uang tersebut sangat besar.

Mimpi demi mimpi digantung, pembelian demi pembelian semakin impulsif. Bak serigala yang lepas dari rantai, mereka megap dengan gemerlap dunia. Uang dihambur-hamburkan untuk jalan-jalan dan kesenangan. Beberapa di antaranya juga memilih untuk langsung menikah. Karena ilmu dari pendidikan yang pernah dilalui tak seoptimal pendidikan mahal, mereka kurang paham yang namanya manajemen risiko. Pula, tak mengerti pentingnya sebuah tabungan.

Usia pun memasuki seperempat abad…

pekerjaan mulai terganggu. Ada yang memilih resign, ada yang memilih untuk bertahan. Sialnya di usia ini, lowongan pekerjaan yang muncul mulai tak sesuai ekspektasi. Maksimal umur 23 tahun, minimal Sarjana, dan format syarat-syarat lain yang kerap mengesampingkan kompetensi.

Masalah demi masalah muncul, padahal anaknya terus bertumbuh. Dan di detik-detik pertumbuhan anaknya itulah, kemiskinan generasi selanjutnya akan terulang.

Lingkungan

anak miskin

Selain pendidikan, lingkungan adalah aspek lain di mana seorang individu menyerap banyak ilmu dan perspektif baru. Pola pergaulan kita sudah terbiasa dengan pengkotak-kotakan sesuai dengan kelas kita masing-masing, baik di sekolah maupun di lingkungan. Orang yang besar dari keluarga miskin akan tinggal di lingkungan dengan derajat ekonomi serupa. Hingga pada akhirnya, informasi yang bertukar pun hanya sekedar putaran ilmu yang dapat melestarikan kemiskinannya saja.

Sebagai contoh,…

hal-hal yang berbau mistis dan non-sains akan jauh lebih diminati ketimbang topik ilmu pengetahuan di pergaulan mereka. Kemudian dalam hal pengelolaan uang, obrolan akan jauh dari tema tabungan, apalagi investasi, mengingat pola kehidupan mereka yang miskin lebih bertumpu ke “yang penting bisa survive di hari ini dulu, yang besok ya lihat saja besok”. Singkatnya, kehidupan yang dijalani hanya fokus ke tujuan dasar, yaitu tetap bergerak dan bernafas. Yang implikasinya membuat orang yang berasal dari lembah kemiskinan sulit bangkit dari keterpurukannya.


Terlepas dari dua faktor utama yang telah dipaparkan, sering juga kita temui kasus di mana mereka yang lahir dari keluarga miskin berhasil bangkit dari keterpurukan. Dan sebaliknya pula, mereka yang lahir dari keluarga kaya justru bisa jatuh sejatuh-jatuhnya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Tentu, ada beberapa hal yang bisa diubah yang semuanya berbalik kembali ke diri kita sendiri sebagai individu yang berakal budi. Hal tersebut secara garis besar mencakup menjadi dua kategori.

1) Mental

Mental ini sendiri terbagi lagi menjadi beberapa aspek, seperti pola pikir, kemauan dan tekad untuk berubah, serta mencari tahu dan memperjuangkan cara-cara yang bisa dilakukan untuk menggapai pintu keluar dari label kemiskinan yang disandang. Utamanya kita yang hidup di era informasi terbuka, hal-hal seperti ini bukanlah sesuatu yang sulit diakses. Setelahnya, hanya tinggal menyesuaikan cara-cara yang ada dan mengimplementasikan pada kehidupan masing-masing.

2) Relasi

Menjaga relasi dengan orang yang sekiranya memiliki power lebih dalam membantu diri keluar dari jurang kemiskinan akan sangat bermanfaat. Namun yang perlu digarisbawahi, memanfaatkan dalam konteks ini patutnya tidak dilakukan dalam ranah yang negatif. Hal-hal yang bisa dilakukan yaitu dengan memanfaatkan modal berupa ilmu atau koneksi yang

Anak Tidak Minta Dilahirkan — Problematika kehidupan setiap manusia yang terlahir ke dunia ini memang kompleks. Banyak sekali ambiguitas, paradoks, dan hal-hal yang tak dapat dimengerti, disimpulkan, dan diterima yang terjadi pada kita semua. Terutama bagi mereka yang saat ini menyandang gelar sebagai Generasi Z dan Generasi Alpha. Sayangnya, mayoritas dari beberapa di antara kita harus menanggung beban masalah yang lebih kuat dalam ranah internal, ketimbang eksternal, di mana pada akhirnya, jiwa-jiwa yang muda itu berteriak di depan telinga orang tuanya; “Sebagai anak, saya tak pernah meminta untuk dilahirkan!”

Secara kebahasaan, sejatinya jargon “anak tidak minta dilahirkan” adalah sesuatu yang mengandung logical fallacy atau sesat pikir. Hal ini disebabkan karena pernyataan ini lebih mengarah ke permintaan akan sesuatu yang tidak ada (atau mustahil). Karena kalau seorang individu bisa meminta agar dia dilahirkan, maka seharusnya eksistensi individu tersebut ada, dan tentu akan mematahkan pernyataan itu sendiri.

Namun mari kita kesampingkan terlebih dahulu hal tersebut. Sebagai orang tua—baik di umur muda maupun tua—, mari kita “mengosongkan gelas” terlebih dahulu dari semua naluri ego yang kita miliki dan meresapi baik-baik makna dari ungkapan ini.

Kontrol Penuh Terhadap Kehidupan Anak Telah Menjadi Budaya yang Dianggap Baik

Tak dapat dipungkiri, sedari dulu hingga sekarang, budaya di mana orang tua hadir sebagai “mesin pembentuk anak” merupakan hal yang tak dapat dipisahkan dalam ranah sosial kehidupan. Karena biar bagaimanapun, lingkungan pertama yang anak kenal setelah lahir di dunia ini tak lain adalah keluarganya sendiri. Dan di situ pulalah ada orang tua, baik kandung maupun tiri, orang tua adalah orang yang sosok yang memiliki andil besar dalam membesarkan seorang jiwa.

Namun di sinilah hal klise itu terjadi. Andil besar yang dimiliki orang tua ini seakan menjadi alasan untuk menghaturkan ego tersendiri di mana orang tua tersebut merasa berhak untuk membentuk anaknya menjadi apa pun yang dia mau. Tak peduli dengan jenis bakat yang dimiliki sang anak, kepribadiannya, maupun sumber daya internal maupun eksternal yang si anak miliki.

Tak terasa, waktu berganti hingga sang anak tumbuh menjadi sosok yang dewasa. Si anak mengenal lingkungan baru, bersosialisasi dengan ekosistem asing yang pastinya dapat mentransfer pemikiran baru kepada si anak. Anak tersebut juga akan mulai menyadari apa kekurangan dan kelebihannya, serta membandingkan dengan apa yang orang tuanya paksakan kepadanya. Sang anak sadar bahwa ia tak dapat memenuhi apa yang orang tuanya inginkan, namun si orang tua tak mau tahu. Inilah yang menjadi landasan munculnya istilah toxic parenting.

Kamu Harus Jadi PNS supaya bisa bikin Ayah dan Ibu bangga!

orang tua memaksa anak anak tidak minta dilahirkan

Ucapan ini nampaknya sangat tidak asing bagi kita yang hidup di Indonesia. Atau mungkin, kalian adalah salah satu penerima perintah tersebut? Jangan khawatir, kalian tidak sendiri. Banyak orang tua yang menjadikan anak sebagai pelampiasan terhadap egonya dan menghantui mereka dengan berbagai tanggung jawab yang membebani kehidupan anaknya. Anak juga sering dikotak-kotakkan dengan berbagai standar dan dipaksa menuruti ego orang tuanya demi gengsi semata.

Ketika si anak menolak keinginan tersebut karena ia memiliki impian lain, lantas sang orang tua akan mengeluarkan jurus sakti; mengomeli, mulai selembut sindiran, hingga caci maki berbalut bentakan. Tak lupa embel-embel “kami sudah mengurus kamu dari kecil” dikeluarkan. Dan pada tahap terakhir, melabeli anak dengan gelar “durhaka”. Ketika dikritik, tamengnya pasti satu; “sebagai orang tua, kami hanya mau yang terbaik untuk anak“. Padahal nyatanya, yang baik bagi orang tua bukan berarti baik bagi si anak, bukan?

Mari merenung sejenak. Apakah pembentukan akan sesuai yang diinginkan seorang manusia kepada manusia lain secara paksa bukan bagian dari pelanggaran HAM? Setiap individu yang dewasa, berhak menentukan tujuan hidupnya sendiri. Dan sekali lagi, standar baik dan buruk setiap manusia berbeda.

Anak Sebagai “Mesin Pahala” Orang Tua

anak menyalim ibu orang tua anak tidak minta dilahirkan

Beberapa anak yang masuk ke pesantren mengeluh karena tak dapat mengikuti pelajaran agama dengan dosis tinggi. Belum lagi, pola hidup yang harus begitu disiplin. Hal ini tentu sangat menyiksa individu yang memiliki kepribadian fleksibel. Anak-anak tersebut sempat menolak, tapi apa daya, mereka dipaksa. Daripada tak mengenyam bangku pendidikan karena orang tuanya tak mau membiayai pilihan pendidikan lain?

Saat dipertanyakan alasannya, orang tua tersebut pasti akan berkelit, “Saya mau ilmu agama yang terbaik untuk anak saya. Karena ketika saya membiarkan ia menjadi pendosa, maka saya pun akan berdosa.” Lantas apakah merampas hak untuk bahagia anak sendiri bukanlah sebuah dosa?

Hal serupa juga mungkin terjadi pada ranah institusi pendidikan lain. Si anak memiliki kecerdasan kinestetik, di mana otaknya dominan pada aktivitas keolahragaan, tapi orang tuanya memaksa agar anaknya masuk ilmu kedokteran. Beberapa di antara individu tersebut mungkin sukses melalui semua tempaan itu. Tapi kembali, tak semua. Mari kita berempati karena tak semua jiwa memiliki nyali dan mental yang kuat dalam menghadapi rutinitas yang tak ia sukai. Karena ujung-ujungnya bisa ditebak; putus sekolah, kabur, berbuat kriminal, atau skenario terburuknya, depresi hingga berakhir bunuh diri.

Anak Tetangga Sudah Pada Nikah, Tuh! Kamu Mau Nikah Kapan? Mama Mau Gendong Cucu!

Kalau ini, biasanya kaum hawa yang paling sering kena getahnya. Wajar, budaya patriarki yang ekstrem masih berkembang di negara ini. Biasanya kaum hawa juga ditakut-takuti dengan ungkapan “Kamu mau jadi perawan tua?” dan sebagainya. Alih-alih membuat semua pihak bahagia, hal ini malah menjadi buah simalakama bagi sang anak itu sendiri. Bilamana tak menurut, ia akan dicap pemberontak. Bilamana menurut, aksesnya untuk mengejar mimpi akan tersekat kehidupan rumah tangga.

Akhirnya, kehidupan pernikahan sang anak menjadi tidak harmonis. Perceraian pun terjadi, dan berimplikasi pada generasi keturunannya yang berikutnya.

And the Big One, KEMISKINAN STRUKTURAL

Banyak sekali orang tua yang bersikeras untuk memiliki anak. Padahal, ekonominya belum mampu untuk membesarkan anaknya tersebut dengan fasilitas yang layak. Biasanya mereka akan bersembunyi di balik kata “mengajari anak hidup dari nol alias miskin agar dia tidak jadi sosok yang sombong”. Alhasil, si anak hidup dalam kondisi yang dihasilkan oleh ego orang tuanya. Mau melawan? Takut dikira durhaka. Mau mengkritik atau mengeluh? Takut dikira tidak bersyukur.


meme kemiskinan struktural anak tidak minta dilahirkan

Kembali ke inti topik, mengapa jargonanak tidak minta dilahirkan” semakin populer? Kembali ke sebab dan akibatnya. Api tak serta merta muncul tanpa ada sesuatu yang memantik. Beberapa “pemantik” tersebut telah dipaparkan. Namun yakinlah, ini hanya setitik dari ribuan kasus yang berbeda.

Terlepas dari kesalahan logika istilah ini, pesan dari pernyataan tersebut tetaplah sangat bagus. Yaitu ajakan untuk menjadi orang tua yang baik, supaya anak merasakan indahnya dunia karena terlahir dari orang tua yang selalu memberi pola asuh yang baik dan benar, serta mendukung keinginan dan menerima atau menghargai segala kekurangan mereka.

Jangan membuat mereka menyesali keberadaan mereka, sambil mengeluh:Tahu begini, untuk apa saya lahir?

Mengapa Berita Hoax Semakin Mudah Tersebar ? – Milyaran pertukaran informasi terjadi setiap harinya di lalu lintas internet. Seseorang di titik paling timur dapat bertukar kabar dengan individu lain di titik paling barat dalam hitungan detik.

Digitalisasi telah mengubah pola komunikasi manusia di bumi. Terutama semenjak pandemi ini, pertukaran informasi secara daring semakin marak dan masif improvisasinya oleh para penggiat digital.

Globalisasi bisa dibilang adalah pedang bermata dua. Di satu sisi mampu menghapus sekat dan penghambat akibat jarak, namun di sisi lain dapat menciptakan konflik antar sesama akibat misinformasi. Misinformasi ini kebanyakan timbul akibat berita hoax.

Secara umum, berita hoax terbagi menjadi beberapa kategori. Konten bernuansa satire atau parodi, konten menyesatkan, konten tiruan, konten palsu, konten yang salah, dan konten yang dimanipulasi. Semua jenis dari hoax di atas dapat kita temui di internet setiap harinya.

Mereka yang Paling Rentan Termakan Berita Hoax

Orang Marah-marah Karena Hoax

Meskipun berita-berita hoax di atas kerap ditemui di internet, namun sudah banyak pula warganet yang dapat membedakan mana konten asli dan hoax. Apalagi mereka yang sedari kecil telah terpapar dengan pengetahuan akan internet, pastinya kemampuan untuk mengidentifikasi parameter keakuratan sebuah berita sudahlah bukan hal yang sulit.

Akan tetapi, tak dapat dipungkiri kalau angka dari mereka yang belum memiliki kemampuan tersebut masihlah tinggi. Mereka yang masuk dalam kategori ini biasanya adalah orang-orang dari lingkungan dengan tingkat edukasi rendah, lingkungan terpencil, atau orang-orang dengan usia lanjut.

Jangan salah, meskipun rasionya rendah, namun justru ini cukup berbahaya. Hoax bagaikan sebuah virus. Sekali dipercaya satu individu, maka individu tersebut akan menyebarkan ke orang lain. Begitu terus, hingga jumlahnya semakin banyak. Ketika jumlahnya tinggi, tak menutup kemungkinan bilamana orang yang tadinya tidak percaya berbalik menjadi percaya. Apalagi, terutama di Indonesia, kita hidup di lingkungan dimana mereka yang berjumlah lebih banyak cenderung lebih dijadikan acuan benar atau tidaknya sebuah informasi.

Kapan Pertama Kalinya Berita Hoax Muncul?

Tak ada yang dapat memastikan kapan pertama kalinya berita hoax muncul. Namun yang pasti sudah ada dari zaman dulu. Bedanya, zaman dulu penyebaran informasi tidak semasif saat ini.

Orang-orang di masa lampau cenderung menjadikan media cetak sebagai acuan informasi mereka. Dimana tentunya, media cetak yang dikelola oleh sebuah organisasi perusahaan pastinya adalah sarana informasi yang memiliki kredibilitas tinggi.

Belakangan Ini, Mengapa Berita Hoax Semakin Mudah Tersebar?

Internet. Di zaman dulu, internet belumlah muncul. Beda halnya dengan sekarang dimana seseorang bisa mengakses informasi melalui internet hanya dengan jari dalam hitungan detik. Belum lagi tren media sosial, media pemberitaan “pesanan” pihak tertentu, hingga forum-forum diskusi yang cenderung memiliki moderasi yang kurang ketat.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Bahkan di negara sekelas Amerika Serikat sekalipun, mereka menghadapi maraknya kampanye hitam pada saat Pemilu kemarin yang dikemas dalam kemasan hoax. Sebuah bukti dimana sekalipun angka mereka yang dapat menangkal hoax telah tinggi, namun bukan berarti hoax dapat dihindari.

Di kala pandemi ini, orang-orang cenderung menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Sosialisasi secara langsung mau tak mau dicekal guna meminimalisir penyebaran COVID-19 yang sedang mewabah. Orang-orang mau tak mau lari ke internet. Ada yang memaksimalkan untuk bertukar kabar, koordinasi saat bekerja, hingga sekedar mencari hiburan.

Masifnya penggunaan internet ini pula yang secara statistik mempengaruhi melonjaknya peristiwa persebaran hoax. Jadi, semua menjadi masuk akal untuk memahami mengapa berita hoax semakin mudah tersebar belakangan ini.

Melawan Hoax, Menyelamatkan Masyarakat

Ya, subjudul di atas tidaklah dibuat-buat. Hoax tak seremeh yang kita pikirkan. Hoax dapat mengeskalasi terjadi konflik, yang tadinya berawal dari individu ke individu, sampai berubah menjadi kelompok ke kelompok. Potensi kericuhan akibat hoax bukanlah hal yang mungkin.

Kita bisa melawan hoax dengan beragam cara. Namun poin fokus yang paling perlu diberi marka yaitu dengan cara mengedukasi diri sendiri terlebih dahulu. Sebelum membaca sebuah informasi yang beredar, pastikan terlebih dahulu bahwa informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Caranya? Dengan meriset kata kunci berita yang tersebar menggunakan mesin pencari, menganalisis dan mengedepankan logika dalam menentukan untuk percaya atau tidak terhadap sebuah informasi, hingga yang paling sederhana, tak perlu menyebarluaskan informasi yang kita sendiri pun masih ragu akan kebenarannya.

Kristen Gray Gentrifikasi Bali — Tak dapat dipungkiri bahwa media sosial adalah pedang bermata dua. Beragam hal baik maupun buruk dapat diakses oleh siapapun di sana. Bahkan di era digital ini, banyak sekali kasus dan berita yang terendus dari sana.

Di awal tahun 2021 ini, jagat Twitter diramaikan oleh cuitan pengguna yang diketahui merupakan warga negara Amerika Serikat. Cuitan yang kini telah dihapus oleh penulisnya itu cukuplah kontroversial karena menyangkut urusan kenegaraan. Selain itu, kasus ini juga menciptakan banyak opini dari berbagai kalangan, karena disangkutpautkan dengan tensi rasisme dan menjadi perhatian internasional pula.

Kronologi Viralnya Cuitan Kristen Gray di Twitter

Kristen Gray namanya. Melalui akunnya yang bernama @kristentootie, wanita berumur 20-an itu mengisahkan tentang kisah hidupnya di Bali. Cerita ia awali dengan penjabaran tentang nasibnya saat di Amerika Serikat, dimana hidupnya terasa berkekurangan. Sepanjang 2019, wanita itu curhat kalau mendapatkan pekerjaan di Amerika sangatlah sulit.

Cuitan Kristen Gray

Tak tahan dengan kondisi itu, akhirnya ia dan kekasihnya yang juga seorang wanita memutuskan membeli tiket penerbangan ke Bali untuk satu kali jalan. Poin pertama yang dipermasalahkan pun muncul. Kristen Gray dan kekasihnya mengurus izin visa untuk berlibur. Namun hanya membeli tiket sekali jalan (bukan pulang-pergi selayaknya orang berlibur).

Cuitan Kristen Gray

Sesampainya di Bali, wanita itu mencoba peruntungan di bidang yang ia kuasai; desain grafis. Ia bercerita bahwa usahanya bisa dibilang penuh perjuangan. Namun dengan kerja kerasnya, ia pun berhasil mencapai stabilitas finansial di Pulau Dewata.

Cuitan Kristen Gray

Kristen Gray begitu puas dengan kehidupan barunya di Indonesia. Ia merasa banyak kebahagiaan yang dapat ditemukan di Bali. Salah satunya keamanan, biaya hidup yang sangat terjangkau sekalipun untuk bermewah-mewah, serta komunitas kulit hitam dan LGBT yang ia rasa begitu pas dengan mimpinya.

Merebaknya pandemi di Indonesia membuat wanita itu harus menetap lebih lama. Hingga menimbulkan asumsi bahwa visa kunjungannya telah kadaluwarsa. Di utas itu pula, Kristen Gray menjual buku yang berisi tips yang memiliki narasi ajakan agar banyak WNA yang pindah dan memulai hidup di Bali.

Muncullah masalah utamanya. Salah seorang warganet yang membeli buku tersebut membeberkan bahwa Kristen Gray memaparkan secara gamblang tentang tips untuk mengakali visa kunjungan ke Indonesia. Hal yang tentunya sangat bertentangan dengan prinsip negara kita yang mengacu pada hukum.

Digorengnya Isu Rasisme Terhadap Kulit Hitam dan LGBT

Cuitan Pendukung Kristen Gray

Bisa ditebak, warganet Indonesia pun mengeluarkan jurus ketikan pedasnya. Mulai dari kritik yang santun hingga hujatan mulai memenuhi beranda akun sosial media Kristen Gray. Opini pun terpecah. Ada yang fokus terhadap kesalahan yang Kristen Gray lakukan, ada yang hanya sekedar melontarkan ledekan rasis dan orientasi seksualnya, bahkan ada juga yang mendukungnya.

Merasa diserang, Kristen Gray dan beberapa warganet lain yang kebanyakan berasal dari luar negeri pun melakukan pembelaan. Lucunya, pembelaan yang dilakukan pun bukannya fokus pada inti konflik.

Kristen Gray malah playing victim (memainkan narasi kalau seakan-akan ia adalah korban) seolah hujatan yang ia dapat tak lain karena dirinya berkulit hitam dan LGBT. Yang menyedihkan, para pendukungnya juga menyebut kalau masyarakat kita terbelakang, tidak berpikiran terbuka, dan dengki dengan kehidupan orang lain. Padahal, Kristen Gray sendiri melanggar hukum.

Fenomena Ini Sejatinya Telah Berjalan Cukup Lama

Konten YouTube Mencari Uang di Bali

Ketika mengetik kata kunci mengenai mencari uang di Bali, YouTube akan menampilkan banyak konten yang dibuat oleh para WNA di sana. Video yang tampil juga telah diunggah cukup lama oleh kreatornya. Hal ini tentu menjadi bukti kalau praktik serupa tentu sudah menjamur cukup lama di Bali.

Akankah Gentrifikasi Terjadi di Bali Kelak?

Kasus Kristen Gray dan banyak warga asing ilegal lainnya seharusnya cukup kuat untuk menjadi alarm bagi Ditjen Imigrasi. Tak dapat disangkal, mungkin hal ini akan tetap terpendam kalau kasus ini tidak viral. Entah sudah berapa banyak kerugian dari pajak yang dialami negara oleh maraknya praktik yang berjalan sejak lama ini.

Di sisi lain, mencuatnya pemberitaan Kristen Gray di media sosial juga harus diperhatikan agar pihak terkait mengambil tindakan preventif guna mencegah gentrifikasi di Bali. Karena bilamana ini terjadi, akan sangat berdampak pada penduduk lokal yang mayoritas penghasilannya tidak sebesar WNA yang menetap di sana.

Secara sederhana, gentrifikasi adalah kondisi dimana nilai (harga) sebidang tanah di sebuah wilayah yang mengalami kenaikan yang signifikan dan timpang dengan penghasilan masyarakat di sana. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pendatang yang memiliki uang lebih banyak dari segi kurs yang memutuskan untuk menetap di wilayah itu.

Ya, Kristen Gray menampar segenap Indonesia dan memperingatkan kita bahwa peluang terjadinya gentrifikasi di Bali sangatlah besar bilamana pemerintah beserta jajaran terkait tidak ambil langkah tegas.

Kemana orang Singapura berlibur? – Memiliki kawasan seluas 719 kilometer persegi, Singapura hanya sedikit lebih luas dari Jakarta (661 kilometer persegi). Kondisi ini membuat wilayah di Singapura cukup padat, sehingga masyarakat “Kota Singa” itu memiliki keterbatasan akses untuk hiburan.

Memang, terdapat beberapa tempat wisata kelas dunia di sana. Akan tetapi, jumlah yang terbatas tentunya membuat masyarakat Singapura cenderung mencari alternatif berlibur di luar negaranya.

Uniknya, kebiasaan berlibur orang Singapura ke luar negeri membentuk fenomena yang cukup menarik untuk diulas. Situasi tersebut membentuk segmen tersendiri yang seakan menjadi ciri khas setiap kategori dalam menentukan lokasi berlibur mereka.

1) Golongan Konglomerat dengan Umur 30 Tahun Keatas

Jamie Chua, konglomerat Singapura saat berlibur ke Jaipur, India
Jamie Chua, konglomerat Singapura saat berlibur ke Jaipur, India

Orang-orang ini akan memilih untuk berlibur ke negara-negara yang justru aneh di telinga para pelancong negara lain. India, Mesir, Switzerland, dan Afrika Selatan adalah favorit mereka.

Mengapa mereka memiliki destinasi ini? Mengapa tidak keliling Eropa atau Amerika? Jawabannya, karena mereka sudah bolak-balik ke sana saat kunjungan bisnis. Alhasil, lokasi mainstream tidak masuk ke bucket list mereka lagi.

2) Golongan Konglomerat dengan Umur 30 Tahun Kebawah

Para anak muda tajir ini lebih memilih menghabiskan waktunya untuk belanja baju di Paris, make-up di Amerika, dan berpesta di Beach Club Bali. Bali jadi destinasi favorit anak muda Singapura, karena selain pantainya yang indah, Bali juga memiliki wisata kuliner yang lezat bagi mereka.

Masakan Singapura tidak memiliki rasa yang sekuat masakan Indonesia, sehingga mereka cinta sekali dengan makanan Indonesia. Anak muda tajir melintir Singapura juga tidak pernah ketinggalan konser bergengsi macam Coachella.

3) Golongan Menengah dengan Umur 30 Tahun Keatas

Penjual di Jepang yang Melayani Turis Singapura yang Berlibur
Penjual di Jepang yang melayani turis Singapura yang berlibur

Mereka akan memilih untuk liburan di sekitar Asia Timur seperti beberapa kota di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan RRT. Agendanya biasanya berburu kuliner. Golongan ini memilih destinasi tersebut karena cenderung lebih terjangkau.

4) Golongan Menengah dengan Umur 30 Tahun Kebawah

Destinasi berlibur orang Singapura golongan bawah dengan umur di bawah 30 tahun
Destinasi berlibur orang Singapura golongan bawah dengan umur di bawah 30 tahun

Kalau anak mudanya, tentu saja lebih memilih ke tempat-tempat rekreasi seperti Disneyland Jepang dan Hongkong, atau Everland Korea Selatan. Ada juga yang sekedar berbelanja di Taiwan, bahkan main judi di Macau.

5) Golongan Bawah Semua Umur

Batam, destinasi berlibur favorit masyarakat Singapura golongan bawah
Batam, destinasi berlibur favorit masyarakat Singapura golongan bawah

Khusus golongan ini, tidak ada diferensiasi umur. Ya, seperti gambar di atas, Batam adalah destinasi utama para pelancong dengan golongan ini dalam menghabiskan waktu berlibur.

Ada beberapa alasan mengapa Batam menjadi destinasi favorit. Namun yang paling utama adalah karena jaraknya yang dekat, akses dan harga di sana juga bisa dibilang cukup murah bila dibandingkan dengan perekonomian masyarakat Singapura golongan bawah sekalipun.


Jadi, sudah tahu kan kemana orang Singapura berlibur?

eSIM Card di Indonesia — Mulai dari tipe Full, Mini, Micro, hingga Nano, ukuran kartu SIM (SIMcard) pada ponsel terus dipangkas. Alasannya, karena teknologi yang disematkan di dalam ponsel akan semakin canggih seiring berjalannya waktu. Hasilnya, celah sekecil apapun di dalam bodi ponsel harus dimanfaatkan untuk meletakkan sistem lain.

Revolusi SIM Card di Indonesia

Tren ini tidak berhenti di ukuran nano yang bahkan sudah sangat kecil. Beberapa tahun belakangan, tren penggunaan eSIM Card atau kartu SIM non-fisik mulai menjamur di Indonesia. Para penyedia layanan telekomunikasi telah memulai lomba untuk merancang produk eSIM yang inovatif dengan strateginya masing-masing.

Serba-serbi eSIM Card di Indonesia

Smartfren adalah operator pertama yang membawa teknologi ini ke Indonesia. Berbeda dengan kartu SIM biasa, eSIM bersifat non-fisik. Cara pemakaiannya yaitu memanfaatkan teknologi barcode, dimana penggunanya memindai kode batang tersebut untuk mengaktifkan di ponselnya.

Sistem ini tentunya sangat inovatif, mengingat pengguna tidak perlu repot-repot membongkar pasang celah kartu SIM-nya. Apalagi, cara membuka tempat kartu SIM di ponsel kekinian cukup rumit. Ponsel berkonsep gawai kebanyakan mendesain bentuk ponselnya seminimalis mungkin. Membuka tempat kartu SIM memerlukan jarum khusus yang ditusukkan ke lubang dimana tempat kartu SIM tersebut tersimpan. Sayangnya, jarum tersebut tak selalu kita bawa.

Sayangnya, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) masih belum mengatur regulasi yang jelas mengenai sistem ini. Bisa dibilang, penggunaan eSIM di Indonesia tidak dilarang. Namun tanpa adanya regulasi, keamanan penggunaan masih dipertanyakan oleh para calon pengguna yang berminat dengan teknologi embedded SIM Card ini.

Keuntungan Ketika eSIM Card Sudah Didukung Mayoritas Ponsel

1) Lebih Murah

Jangan salah, produksi kartu SIM fisik tetap membutuhkan biaya. Biaya produksi benda mungil itu juga tidaklah sedikit. Dengan adanya inovasi ini, penyedia layanan operator telepon bisa menekan biaya produksi kartu SIM fisik. Dampaknya bagi pengguna yaitu harga paket internet akan lebih murah. Karena biaya untuk produksi kartu fisik oleh operator telepon akan dialokasikan untuk memanjakan pengguna mereka, dengan mempersembahkan biaya yang lebih terjangkau.

2) Teknologi Ponsel Waterproof akan Lebih Terjangkau

Teknologi anti air atau waterproof adalah salah satu hal yang diidam-idamkan hampir seluruh pemakai ponsel. Dengan pengaplikasian khusus eSIM pada ponsel, maka produsen ponsel akan lebih mudah untuk mewujudkan teknologi tersebut dengan biaya yang terjangkau. Mengapa demikian? Konsep ponsel khusus eSIM akan membuat desain ponsel tidak lagi memerlukan di sasis telepon. Implikasinya, improvisasi membuat bodi telepon yang tahan air akan lebih mudah diterapkan.

3) Tak Ada Lagi Gonta-Ganti Kartu SIM

Beberapa tahun sekali, tak jarang kartu SIM yang tersemat di ponsel kita tiba-tiba tidak dapat terbaca. Entah disebabkan oleh gangguan pada kuningan ponsel itu sendiri, atau karena fisik kartu SIM-nya yang sudah renta, namun hal ini sangat menyebalkan. Kita harus berkorban waktu dan biaya untuk pergi ke gerai resmi operator untuk mendapatkan fisik baru kartu nomor telepon kita. Setelah era eSIM berjaya, hal ini tak akan lagi kita temukan.

4) Aman

Sistem kartu non-fisik tentunya memaksimalkan teknologi digital yang dapat dengan mudah dikontrol oleh operator telepon. Di masa depan, kehilangan atau kerusakan ponsel tidak akan berdampak pada hilangnya nomor telepon. Pastinya, operator telepon penyedia eSIM akan membuat terobosan baru, dimana layanan laporan secara daring akan diciptakan. Mulai dari blokir hingga permintaan agar nomor yang sama kembali diaktifkan pastinya bisa dilakukan dengan mudah oleh pengguna.

Antara Sumatera Timur dan Aceh — Bagi beberapa orang, konotasi negatif mengenai Aceh telah melekat. Masifnya isu separatisme mengenai daerah di ujung barat Nusantara tersebut membuat banyak asumsi yang timbul akan kesetiaannya terhadap Indonesia. Sayangnya semua itu salah.

Tujuh puluh tahunan silam, Aceh pernah menjadi benteng bagi keutuhan republik. Ketika nafas terakhir federasi Sumatera mencari dukungan dari enam belas bangsa di sana, Aceh dan Nias adalah dua bangsa yang secara tegas menunjukkan penolakan.

Terlahirnya Konsep Negara Sumatera Timur

Pada masa itu, Sumatera terbagi menjadi dua golongan, pro-republik dan pro-feodal. Pemikiran ini berasal dari Tanah Deli. Kaum pro-republik terpicu oleh semangat nasionalisme yang gencar bergelora di nusantara. Sementara kaum pro-feodal berisi para pendukung dari bangsawan Sumatera (terutama Melayu) yang tak ingin kehilangan kekuasaan mereka atas kerajaan di Sumatera.

Dalam memperjuangkan kepentingan politik itu, kaum pro-feodal menggalang dukungan dari masyarakat non-pribumi. Mereka membuka jalur kemudahan kepada para pekerja India, saudagar Tionghoa, dan kaum kolonial Belanda. Bahkan Belanda amat senang dengan niatan para sultan membentuk negara pro-Belanda ini dan menjadi sponsor di balik gerakan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kaum pro-republik justru semakin menguat. Menguatnya dukungan masyarakat ke kaum pro-republik pun membuat pro-feodal berusaha berkompromi dan mencari jalan keluar. Alhasil, tercetuslah konsep federasi Sumatera, dimana agar negara Sumatera menjadi negara federasi di dalam Indonesia. Dengan konsep ini, Sultan Melayu diharapkan memiliki integritasnya tersendiri sekalipun Indonesia telah berdiri kokoh.

Daud Bereuh, Pahlawan Keutuhan Indonesia dari Sumatera yang Jarang Dibahas

Daud Bereuh, tokoh Aceh yang Menolak Negara Sumatera Timur

Tengku Mansoer, bangsawan Melayu Sumatera Timur yang berperan menggawangi inisiasi ini berniat menyelenggarakan Muktamar Sumatera sebagai momentum deklarasi federasi Sumatera. Ia mengundang enam belas bangsa besar di Sumatera, termasuk Daud Bereuh yang saat itu memimpin Aceh.

Sungguh bijaksana Daud Bereuh yang menolak undangan tersebut, bahkan mengecamnya. Daud juga menyebutkan bahwa konsep federasi hanyalah rekaan Belanda untuk menancapkan tentakelnya di nusantara. Lewat suratnya, Daud Beureueh menyatakan dengan tegas;

Perasaan kedaerahan di Aceh tidak ada, sebab itu kita tidak bermaksud untuk membentuk suatu Aceh Raya dan lain-lain karena kita di sini adalah Republiken. Sebab itu juga, undangan dari wali negara Sumatera Timur itu kita pandang sebagai tidak ada saja, dan karena itulah tidak kita balas.

Di Aceh tidak terdapat salah paham sebagaimana diterangkan oleh Belanda itu, bahkan kita mengerti betul apa yang dimaksud oleh Belanda itu dengan Muktamar Sumateranya. Maksud Belanda ialah hendak mendiktekan kepada dr. Mansoer supaya menjalankan politik devide et impera-nya lagi. Sebab itu kita menolak adanya Muktamar Sumatera tersebut dan kita sendiri telah siap menanti segala kemungkinan yang bakal timbul dari sikap penolakan kita itu.

Kita yakin bahwa mereka yang menerima baik undangan dr. Mansoer tersebut, bukanlah orang Republiken. Tetapi mereka itu adalah kaki tangan dan budak kolonialisme Belanda yang selama ini sudah diberi makan roti.

Kesetiaan rakyat Aceh terhadap Pemerintah RI di Jakarta bukan dibuat-buat serta diada-adakan, tetapi kesetiaan yang tulus dan ikhlas yang keluar dari lubuk hati nurani dengan perhitungan dan perkiraan yang pasti. Rakyat Aceh tahu pasti bahwa kemerdekaan secara terpisah-pisah, daerah perdaerah, negara pernegara, tidak akan menguntungkan dan tidak akan membawa kepada kemerdekaan yang abadi.

Alasan Aceh Menolak Federasi Sumatera

Selain melihat ini sebagai akal-akalan Belanda, Aceh juga menunjukkan loyalitas untuk republik tatkala beberapa bangsa Sumatera lain masih ragu-ragu. Selain itu bangsa Aceh tidak pernah menganggap Sumatera sebagai satu kesatuan hingga didambakan adanya federalisme khusus Sumatera

Bagi orang Aceh, bangsa-bangsa Sumatera, seperti Lampung, Minang, maupun Palembang itu setara dengan bangsa-bangsa non-Sumatera. Tidak pernah ada ikatan khusus antara (misalnya) Aceh dan Palembang hanya karena keduanya sama-sama berasal dari Sumatera. Dari sini bangsa Aceh memandang federasi Sumatera adalah ide yang mengada-ada.

Sepemahaman dengan Aceh, Nias Menolak Pula Usulan Tersebut

Penolakan Nias akan Negara Sumatera Timur

Ternyata tak hanya Aceh. Dari enam belas bangsa di Sumatera kala itu, Nias pun menyatakan ketidaksetujuannya dengan wacana tersebut. Hal itu diungkapkan pemimpin Nias ketika utusan Tengku Mansoer datang ke Gunungsitoli.

Muktamar Sumatera itu sendiri sebenarnya tidak sukses. Sebagian besar tokoh undangan yang menyanggupi hadir sejatinya bukan para tokoh yang memiliki pengaruh besar di suku masing-masing. Sehingga Muktamar Sumatera ditutup dengan hasil yang sangat tidak memuaskan.

Berakhirnya Mimpi Federasi Sumatera Timur

Kemenangan pro-republik akhirnya menjadi pemenang antara pemikiran Sumatera Timur dan Aceh. Seiring berjalannya waktu, tokoh-tokoh penting setiap bangsa di Sumatera mulai berganti haluan menjadi pro-republik. Mayoritas tokoh Sumatera pada saat itu menyadari bahwa primordialisme bukanlah kunci dari keberhasilan kemerdekaan.

Selain itu, kekuatan pihak pro-republik terlampau besar untuk dihadapi kaum pro-feodal, baik dari aspek militer maupun dari aspek diplomasi internasional. Mimpi Negara Sumatera Timur luluh beberapa bulan kemudian, tatkala Negara Kesatuan Republik Indonesia diakui Belanda pada 27 December 1949. Hingga kemudian, entitas itu bubar pada tanggal 15 Agustus 1950.