MALUTPOST-TERNATE. Sejumlah tokoh muslim nasional, kembali menenrima penghargaan Moeslim Choice Award 2020 yang diselenggarakan majalah Moeslim Choice di Auditorium TVRI Jakarta, Senin (21/12) malam.

Sejumlah 25 tokoh muslim yang mendapat Moeslim Choice Award 2020 ini. Menariknya, Wali Kota Ternate, Burhan Abdurrahman menjadi salah satu penerima Moeslim Choise Award tahun ini, dengan kategori Governance Award. Penghargaan Governance Award ini diberikan kepada tujuh tokoh. Yakni Menteri PUPR Mochamad Basoeki Hadlmuljono, Mendagri Tito Karnavian, Menpar-RB Tjahjo Kumolo, Gubernur Sumsel H. Herman Deru, Wali Kota Ternate Burhan Abdurrahman, Bupati Kepulauan Meranti H. Irwan Nasir dan Hj. Ratu Tatuh Chasanah, Bupati Serang.

Wali Kota Burhan Abdurrahman, berhasil menyabet penghargaan ini, karena dinilai keberhasilannya dalam menghidupkan dan menjalankan program Barifola.

Barifola adalah sebuah pembangunan rumah bagi masyarakat yang tidak mampu, tanpa menggunakan anggaran APBN ataupun APBD.

Meski awalnya program tersebut berawal dari tradisi Paguyuban Keluarga Tidore, namun di bawah arahan Wali Kota Burhan Abdurrahman, gerakan tersebut akhirnya tidak hanya dikhususkan untuk masyarakat Tidore di Ternate saja. Dalam perkembangannya, Barifola juga menyasar rumah-rumah warga tidak mampu di daerah-daerah lain diseluruh penjuru Maluku Utara. Diantaranya, di halmahera, Obi, Sanana, dan Bacan, dll.

Selain itu penghargaan ini diberikan karena keberhasilan melakukan pembangunan di berbagai sektor di kota Ternate, sehingga kota Ternate mencapai kemajuan yang sangat signifikan dalam dua periode kepemimpinannya.

Moeslim Choice Award merupakan ajang pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh yang dinilai memberikan inspirasi, sumbangan besar dan signifikan terhadap perkembangan Islam, kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dilingkup Daerah, Nasional, hingga Global.

Event ini merupakan program tahunan yang digelar oleh Moeslim Choise Media Network (Majalah Moeslim Choise, Portal Berita Moeslimchoice.com, dan Channel Moeslimchoice.tv. Tahun 2020 ini merupakan yang ketiga kalinya digelar.

Burhan Abdurrahman, saat menyampaikan sambutan malam penerimaan penghargaan, mengatakan terima kasih atas penghargaan yang diberikan Moeslim Choice. Namun bagi dirinya, penghargaan ini lebih pantas diberikan kepada 40 mujahidin Barifola, yang bekerja tanpa pamrih, tanpa meminta upah. Hanya ingin membantu membangun rumah keluarga yang tidak mampu di Maluku Utara.

“Mujahidin Barifola ini bekerja dengan ikhlas, membangun rumah kaum duafa. Meski tanpa sokongan anggaran, baik APBD maupun APBN. Sampai saat ini, Alhamdulilah sudah ada 227 rumah.

Semoga dengan penghargaan ini, menjadi semangat bagi tim Mujahidin Barifola, untuk terus melakukan gerakan sosial membangun rumah warga tidak layak huni di Ternate maupun Maluku Utara,”tukasnya.

Terpisah, Kepala Bagian Protokol Kerjasama dan Komunikasi Pimpinan, Syaiful Arsyad menyampaikan, Wali Kota dalam beberapa hari di luar daerah, bukan untuk jalan-jalan. Tapi mengikuti beberapa kegiatan kedinasan yang tidak bisa diwakilkan. Diantaranya, menghadiri kegiatan Rakernas VIII Kota Pusaka Indonesia di Siak Sri Indrapurna Kabupaten Siak Provinsi Pekan Baru. Setelah itu Wali Kota menerima penghargaan Moeslim Choice Award atas keberhasilan program Barifola.

“Jadi beberapa hari di luar daerah, pak Wali mengikuti agenda pemerintah, tidak hanya di Jakarta. Tapi juga di beberapa daerah yang berbeda,” tuksnya. (udy/yun/adv)

MALUTPOST-TERNATE. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPP-PA) Kota Ternate bekerja sama dengan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Ternate menggelar peringatan Hari Ibu ke-92 pada, Sabtu (19/12) akhir pekan lalu. Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Gamalama Sahid Bella Hotel Ternate ini mengangkat tema “Perempuan Inspirasiku Untuk Kemajuan Bangsaku”.

Menteri PPPA RI, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Ketua I TP. PPK Kota Ternate Hj. Nurain A Tahir menyampaikan, peringatan Hari Ibu yang dirayakan setiap tahunnya adalah bentuk penghargaan kepada perjuangan perempuan indonesia dari masa ke masa. Perempuan mengisi ruang-ruang kontribusi dalam merebut kemerdekaan, menyuarakan berbagai permasalahan dan turut mencari serta menjadi solusi untuk mengantar Indonesia di titik sekarang, sehingga mampu mengangkat keberhasilan perempuan Indonesia mencapai kesetaraan.

“Karena itu sangat disayangkan apabila perempuan masih harus menghadapi berbagai ketimpangan mulai dari mengakses, berpartisipasi ikut menentukan arah serta menikmati manfaat pembangunan. Terlebih pandemi Covid-19 ini menempatkan perempuan dalam situasi yang lebih rentan,” ujarnya.

Meski begitu, perjuangan perempuan di era tatanan baru tetap harus mencerminkan perempuan penyemangat yang menjadi garda terdepan sebagai inspiration dalam keluarga dan masyarakat.

Pada peringatan Hari Ibu tingkat Kota Ternate kali ini. Lima orang perempuan inspiratif yang berasal dari berbagai bidang mendapat piagam penghargaan dan uang tunai dari DPP-PA Kota Ternate. Kisah perjuangan mereka di masa pandemi ini yang ditayangkan dalam video sangat menginspirasi.

Lima orang perempuan yang mendapat penghargaan itu adalah Hitija Ade (Tukang Ojek Perempuan) Ratih Lastika Sari, S.Farm. SIK,Apt (Polda Malut), Fadriah Syuaib (Seniman Perupa), Maryati Tomayou (Penyintas Covid-19), dan Nina Datarani (Pelaku UMKM). Lima sosok perempuan yang mendapat penghargaan ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi perempuan lainnya di Malut. (pn/rul)

MALUT POST – TERNATE. Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan Kelas II Kota Ternate, menerima penghargaan dalam pengelolaan anggaran sebagai Satuan Kerja Pengelola Anggaran Terbaik tahun 2020. Tidak hanya itu, KSOP juga mendapatkan tambahan penghargaan peringkat kedua terbaik penyaji laporan keuangan Tahun 2019 kategori UAPPA-W.

Kepala KSOP Kelas II Kota Ternate, Affan Tabona mengatakan, sebagai satuan kerja yang mengelola anggaran APBN, KSOP berkewajiban untuk patuh dan tunduk kepada perundangan-undangan yang berlaku sehingga menimbulkan perbuatan melawan hukum. “Kami sangat senang terhadap penghargaan yang diterima oleh KSOP kelas II Kota Ternate,” ujarnya

Sementara, Affan juga mengucapkan terima kasih kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Maluku Utara, yang selalu memberikan arahan dan petunjuk terkait dengan anggaran.

Semoga dengan penghargaan ini, kedepan KSOP lebih baik dalam pengelolaan anggaran. Penghargaan tersebut, diberikan dalam acara penyerahan DIPA Tahun 2021 lingkup provinsi Maluku Utara, yang dilaksanakan di gedung aula Nuku kantor Gubernur Maluku Utara di Sofifi.

Acara tersebut dibuka oleh Wakil Gubernur, dihadiri oleh seluruh Kepala Daerah dan para Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) se-provinsi Maluku Utara. (pn/mg-03/yun)

Terpilihnya film “Perempuan Tanah Jahanam” atau “Impetigore” sebagai perwakilan film Indonesia untuk bersaing meraih nominasi di kategori film internasional terbaik di ajang Academy Awards 2021 atau Oscar ke-93 mendatang merupakan sebuah kejutan bagi insan perfilman Indonesia.

Pasalnya, ini adalah film horor pertama dalam sejarah, yang pernah diikutsertakan oleh Indonesia, dalam perhelatan ajang bergengsi ini.

“Saya senang, karena berarti genre horor sekarang sudah dianggap bukan film dengan kasta rendah lagi ya, jadi sekarang memang ada pergeseran di dunia, bahwa film horor juga sekarang dianggap film dengan genre yang serius,” papar Joko Anwar dalam wawancara melalui Skype dengan VOA belum lama ini.

(Ki-ka) sutradara Joko Anwar, aktris Maera Panigoro, aktor Chicco Jerikho, dan aktris Tara Basro, saat mewakili film "A Copy Of My Mind" di ajang Venice Film Festival ke-27 di Venesia, Italia, 11 September 2015 (Dok: Joel Ryan/Invision/AP)

(Ki-ka) sutradara Joko Anwar, aktris Maera Panigoro, aktor Chicco Jerikho, dan aktris Tara Basro, saat mewakili film “A Copy Of My Mind” di ajang Venice Film Festival ke-27 di Venesia, Italia, 11 September 2015 (Dok: Joel Ryan/Invision/AP)

Judul “Impetigore” yang digunakan untuk film ini di luar negeri sebenarnya diambil dari kata yang diciptakan sendiri oleh Joko Anwar, untuk menggambarkan kondisi dari anak-anak yang ada di dalam film.

“Nama penyakit yang mereka alami itu saya kasih nama “Impetigore.” Jadi satu nama yang saya ciptakan sendiri,” jelas Joko Anwar.

Film “Perempuan Tanah Jahanam” bercerita tentang kisah Maya yang diperankan oleh Tara Basro, yang pada suatu malam saat tengah bekerja sebagai pegawai tol hampir dibunuh oleh seseorang yang mengetahui latar belakang keluarganya.

Maya pun teringat akan fotonya bersama kedua orang tuanya di depan sebuah rumah besar yang terletak di desa terpencil. Dihadapi kesulitan keuangan, Maya berusaha menelusuri misteri latar belakang keluarganya, dengan harapan bahwa rumah besar tersebut bisa membantu hidupnya.

Ia pun lalu diantar oleh sahabatnya, Dini, yang diperankan oleh Marissa Anita, untuk pergi ke desa tersebut. Siapa yang menyangka jika berbagai misteri dan teror pun telah menanti mereka di desa yang ternyata terkutuk itu. Anehnya, tidak ada satu pun anak kecil yang hidup di desa tersebut.

Film ini menampilkan ketegangan yang intens di setiap adegan, ditambah dengan alunan musik dan pengambilan gambar yang bisa membuat bulu kuduk penonton berdiri setiap saat.

Film Horor di Oscar

Dalam sepanjang sejarah Oscar, hanya ada 10 film horor yang pernah berjaya dan meraih nominasi, yaitu “Rosemary’s Baby,” “The Exorcist,” “Jaws,” “Alien,” “The Fly,” “Misery,” “The Silence of the Lambs,” “The Sixth Sense,” “The Swan,” dan “Get Out.”

Di ajang Academy Awards yang diselenggarakan pada tahun 2018, film “Get out,” berhasil meraih empat nominasi bergengsi dan bahkan memenangkan satu diantaranya, yakni naskah asli terbaik.

“Kalau kita lihat, memang sekarang sudah enggak ada lagi tuh, genre. Film horor kalau dikerjakan dengan baik, tentunya hasilnya juga akan baik juga,” tambah Joko Anwar.

Amelia Hapsari, anggota the Academy of Motion Picture Arts and Sciences asal Indonesia pertama (dok: Amelia Hapsari)

Amelia Hapsari, anggota the Academy of Motion Picture Arts and Sciences asal Indonesia pertama (dok: Amelia Hapsari)

Walau memang sangat jarang ada film horor di ajang sebesar Oscar, khususnya untuk kategori film internasional terbaik atau yang dulu disebut sebagai kategori film berbahasa asing terbaik, menurut salah satu anggota dari Academy of Motion Picture Arts and Sciences (A.M.P.A.S) asal Indonesia pertama, Amelia Hapsari, “kesempatan itu selalu terbuka.”

Enggak ada rules-nya bahwa itu enggak bisa atau enggak akan mungkin,” jawab Amelia Hapsari saat diwawancara melalui Skype dengan VOA.

Ini adalah tahun pertama Amelia menjadi anggota (A.M.P.A.S) khusus bidang dokumenter, namun selain itu, ia juga bertugas untuk melakukan voting atau menjadi juri di kategori animasi pendek, film pendek, film terbaik, dan film internasional terbaik di ajang Academy Awards.

Promosi dan Kampanye Oscar

Setelah resmi terpilih sebagai perwakilan film suatu negara yang akan dikirim untuk bersaing mendapatkan nominasi Oscar, sebuah film masih harus melalui proses yang panjang, hingga akhirnya bisa mendapat nominasi.

“Banyak yang enggak tahu, pada saat kita mengirim film, itu enggak cuman mengirim film gitu aja. Ada budget lagi yang harus dikeluarkan untuk promote this film di sana, kepada juri-juri yang ada di sana. Mereka harus mengadakan screening-screening ke juri-juri, jadi istilahnya harus ada biaya tambahan untuk itu, gitu,” jelas aktor Lukman Sardi kepada reporter VOA, Made Yoni.

Hal ini dibenarkan oleh Amelia Hapsari yang mengatakan, selain perlu menarik perhatian ribuan anggota A.M.P.A.S untuk akhirnya mau menonton dan memberikan nominasi kepada sebuah film, ada hal-hal lain yang juga berlu dilakukan.

“Biasanya, dalam kompetisi untuk menjadi nominasi ini, banyak hal yang dilakukan untuk film-film itu (untuk) promosi. Pastinya dia harus kemudian mengusahakan supaya ditulis oleh kritikus-kritikus utama dari seluruh dunia, diberitakan di media-media, sehingga film-film ini masuk ke dalam kesadarannya para anggota Academy (A.M.P.A.S.red). Karena kan pastinya ya, ada banyak, ada puluhan film-film yang berusaha untuk masuk menjadi nominasi,” jelas Amelia.

Aktor Lukman Sardi (Courtesy: FFI)

Aktor Lukman Sardi (Courtesy: FFI)

Lukman Sardi menambahkan, maka dari itu film tersebut perlu mendapat dukungan yang kuat, misalnya dari pemerintah, seperti yang dilakukan sebelumnya saat film karya sutradara Mouly Surya, “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak,” menjadi perwakilan Indonesia untuk Oscar tahun 2018.

“Nah, ini pasti juga akan pemerintah akan men-support itu sih, menurut aku ya, karena melihat potensinya. Dan memang harus seperti itu. Enggak bisa cuman didiemin aja, ya udah kirim, abis itu didiemin aja, enggak bisa,” tegas Lukman Sardi.

Menurut Joko Anwar, walau telah terpilih menjadi perwakilan film dari Indonesia, kalau tidak ada yang mengetahui keberadaannya dan tidak ada yang menonton, tidak akan ada gunanya.

Namun, Joko Anwar juga menyadari, bahwa untuk mengadakan kampanye tentunya membutuhkan dana yang sangat besar.

“Kita kan film kecil ya, budget-nya saja mungkin enggak sampai satu juta US Dollars gitu. Jadi ya, saya rasa sih enggak bakal ada campaign,” ucap Joko Anwar.

Kelebihan “Perempuan Tanah Jahanam”

Prestasi film “Perempuan Tanah Jahanam” di industri film memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Film ini telah memborong 17 nominasi di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2020 mendatang, jumlah nominasi terbanyak yang pernah diraih oleh sebuah film dalam sepanjang sejarah FFI.

“Perempuan Tanah Jahanam menurut aku layak (jadi perwakilan film Indonesia di Oscar.red),” tegas Lukman Sardi, yang menjabat sebagai ketua FFI, kepada VOA.

Tidak hanya berprestasi di dalam negeri, film ini juga sudah diputar di berbagai festival film internasional, seperti Sitges Film Festival di Spanyol, International Film Festival Rotterdam di Belanda, Bucheon International Fantastic Film Festival di Korea Selatan, dan Sundance Film Festival di Amerika Serikat, Januari lalu.

Walau tidak mau berkomentar mengenai peluangnya, sebagai juri Oscar, Amelia Hapsari melihat “Perempuan Tanah Jahanam” sebagai film yang “punya nilai yang berbeda,” jika dibandingkan dengan perwakilan film-film Indonesia sebelumnya di ajang Oscar.

“Dia sudah datang ke Sundance ya, berarti sudah lebih dekat kan ke industri (film.red) di Amerika. Karena kan, Oscar itu tempatnya di Amerika. Mau enggak mau, amat banyak si anggota Academy (A.M.P.A.S.red) itu adanya di Amerika dan tentu saja amat banyak dari mereka yang sering datang ke Sundance,” ujar Amelia.

Film “Perempuan Tanah Jahanam” juga bisa ditonton secara online di Amerika Serikat, melalui platform layanan streaming berbayar, Shudder.

“”Impetigore” atau “Perempuan Tanah Jahanam” sudah masuk di berbagai list di Amerika, sebagai salah satu film horor terbaik tahun ini. Bahkan dibanding-bandingkan dengan beberapa judul film Amerika yang punya prestasi tahun ini, termasuk “Midsommar,” ungkap Joko Anwar.

“Ini membuat banyak publik Amerika kepengin menonton film “Perempuan Tanah Jahanam,” dan mudah-mudahan anggota Academy Awards juga, karena memang “Perempuan Tanah Jahanam” atau “Impetigore” sudah punya gaung, mereka juga ingin menontonnya, tanpa ada campaign dari kita,” tambahnya.

Dilirik Kritikus Film AS

Film “Impetigore” atau “Perempuan Tanah Jahanam” sudah banyak diberitakan di berbagai media bergengsi di Amerika Serikat, seperti Variety dan Hollywood Reporter. Banyak kritikus film Amerika yang juga telah mengulasnya. Salah satunya adalah situs ternama, RogerEbert.com, yang didirikan oleh mendiang kritikus film pemenang Pulitzer asal Amerika, Roger Ebert.

Melansir dari RogerEbert.com, situs ini memberi film “Perempuan Tanah Jahanam” 3,5 bintang, dan memuji Joko Anwar yang telah menciptakan suasana tegang di setiap adegan, juga kekuatan tokoh utama, Maya, yang diperankan oleh Tara Basro yang sangat memikat. Situs ini menyebut, “ketika darah mulai mengalir, para penonton akan ketagihan. Joko Anwar juga dianggap telah menghasilkan karya film yang efektif, cerdas, dan provokatif, namun juga menyeramkan.”

Rama Tampubolon (kiri) bersama aktor Iko Uwais (dok: Rama Tampubolon)

Rama Tampubolon (kiri) bersama aktor Iko Uwais (dok: Rama Tampubolon)

Pengamat sekaligus kritikus film di California, Rama Tampubolon, untuk RamaScreen.com yang telah banyak mengulas film Hollywood, memuji gaya pembuatan film Joko Anwar yang “berani dan penuh gaya,” ditambah lagi dengan “sinematografinya yang menarik.”

“Mengingat faktanya bahwa ini adalah film Indonesia, telah memberikan nilai tambah,” tutur Rama Tampubolon kepada VOA belum lama ini.

“Saya berharap “Impetigore” sukses. Semoga film ini bisa terus maju di musim penghargaan kali ini. Walau bagaimana pun nantinya, kita tahu kebenarannya. Joko dan sineas Indonesia lainnya telah membuat kami, orang Indonesia, sangat bangga,” tambah kritikus film asal Indonesia ini.

Kolaborasi Dengan Rumah Produksi Asing

Selain Rapi Films dan Base Entertainment Film, rumah produksi Ivanhoe Pictures dan CJ Entertainment ikut memproduksi film ini. Asal tahu saja, Ivanhoe Pictures – yang berbasis di AS – terlibat dalam pembuatan film-film blockbuster seperti “Crazy Rich Asians.”

Sedangkan CJ Entertainment yang berbasis di Korea Selatan, adalah rumah produksi untuk film “Parasite,” yang pernah mencetak sejarah di panggung Academy Awards. “Parasite” adalah film berbahasa asing pertama, yang berasih meraih piala Oscar untuk kategori film terbaik.

Namun, Joko Anwar menegaskan bahwa filmnya ini dipilih sebagai perwakilan film Indonesia di Academy Awards, bukan karena semata-mata diproduksi oleh perusahaan-perusahaan internasional. Hal ini juga tidak menentukan bagaimana nanti persaingannya di perhelatan Academy Awards.

“Belum tentu nanti perusahaan-perusahaan besar ini akan bikin campaign sih,” kata Joko Anwar sambil tertawa.

“Bagaimana nantinya dengan produser,” tambahnya.

Walau begitu, Amelia Hapsari melihat hal ini lagi-lagi sebagai salah satu nilai tambah dari film ini.

“Jadi di belakang “Perempuan Tanah Jahanam” ini ada mesin-mesin yang sudah pernah melakukan kampanye Oscar sebelumnya. Kemudian mereka pasti juga akan mengusahakan supaya “Perempuan Tanah Jahanam bisa kemudian lolos sebagai nominasi,” ujar Amelia Hapsari.

Terobosan di Dunia Film

Bagi Joko Anwar, terpilihnya film “Perempuan Tanah Jahanam” sebagai perwakilan film Indonesia di Academy Awards merupakan sebuah “terobosan” baru bagi Indonesia. Tidak hanya itu, film ini juga mendapatkan apresiasi yang baik di luar negeri.

“Banyak yang bilang, bahwa mereka pertama kali nonton film Indonesia dan mereka sangat menikmati “Perempuan Tanah Jahanam.” Jadi mereka kepengin lagi tahu film-film Indonesia yang lain, ‘seperti apa sih?’” ucap Joko Anwar.

Hal ini tentu membuat Joko Anwar senang bahwa hasil karyanya ini bisa menjadi “representasi yang baik untuk film Indonesia.”

“Kalau film horor, di setiap negara itu memang punya fans yang jumlahnya sama. Maksudnya, tidak pernah tidak ada,” tambahnya.

Walau perjalanan untuk meraih nominasi piala Oscar masih jauh bagi “Perempuan Tanah Jahanam,” Joko Anwar berharap, orang-orang di luar negeri akan tertarik untuk menontonnya.

“Ada antusiasme dari orang Amerika, terutama Academy Awards’ members, untuk menonton “Perempuan Tanah Jahanam,” itu sudah sesuatu yang menurut saya, misi “Impetigore” untuk jadi representasi film Indonesia sudah tercapai,” pungkas Joko Anwar.

Ajang Academy Awards ke-93 rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 25 April 2021 mendatang, di Los Angeles, California. Acara ini terpaksa mundur dua bulan, karena dampak dari penutupan bioskop, yang menunda banyak perilisan film, terkait pandemi COVID-19. Rencananya, nominasi akan diumumkan tanggal 15 Maret 2021. [di/ab]