MALUTPOST.TERNATE IF alias Iksan, terdakwa perkara tindak pidana pencabulan terhadap anak menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Ternate, Kamis (14/1) kemarin. Sidang dengan agenda pembacaan putusan kemarin dipimpin hakim ketua Irwan Hamid. Dalam putusan, Majelis Hakim menegaskan, terdakwa IF alias Iksan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tipu muslihat pencabulan anak.

Sebagaimana dakwaan tunggal Jaksa Penuntut Umum (JPU). Karena itu terdakwa divonis pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 5 juta. Apabila denda yang dikenakan tidak dibayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama tiga bulan.

Hakim juga menetapkan, masa penangkapan dan penahanan yang dijalani terdakwa dikurangi seluruhnya dari vonis pidana dengan perintah terdakwa tetap ditahan. Sementara barang bukti yang dikembangkan ke saksi APG alais Amel yakni satu lembar kaos lengan pendek warna kuning motif garis-garis dan bergambar ditambah satu jeans 3/4 biru hijau serta satu celana dalam warna ungu.

Putusan Majelis Hakim diketahui lebih ringan dari tuntutan jaksa. Sebab dalam sidang tuntutan sebelumnya, terdakwa IF alias Iksan dituntut pidana penjara 6 tahun dan denda 1 miliar subsider 4 bulan penjara. Mempertanggungjawabkan perbuatannya, terdakwa Iksan diancam pidana dalam pasal 82 ayat (1) Undang-undang nomor 17 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

MALUTPOST-WEDA. Seorang gadis dengan inisial Mawar (18), asal Kecamatan Weda Selatan, nyaris diperkosa MJ (28) yang merupakan warga Desa Waimili Kecamatan Gane Timur Halmahera Selatan. Kejadiannya yaitu pada Senin (4/1) sekira pukul 09.00 WIT di salah satu kebun warga tepatnya di kilometer 3. Awalnya pelaku yang menggunakan sepeda motor menghampiri korban di jalan dua jalur depan pendopo Weda dan mengajaknya naik ke sepeda motornya. Tanpa berpikir panjang, korban pun mnegikuti ajakan pelaku.

Keduanya lalu berjalan menggunakan sepeda motor ke arah rumah sakit. Setelah itu balik lagi ke Pendopo. Tak lama kemudian tersangka mengarahkan kendaraannya menuju kilometer 3. Dalam perjalanannya, pelaku menyuruh korban untuk ikut dengannya. Korban yang sudah curiga, melarikan diri di salah satu lebun warga. Pelaku pun mengejarnya dan menarik lalu mencekik leher korban dan membantingnya sebanyak dua kali.

Korban terbaring di kebun warga tersebut, kemudian tersangka membuka celana dan memasukkan kemaluannya kedalam mulut korban sampai mengeluarkan cairan. Belum puas, tersangka mencoba melucuti pakaian korba. Namun korban melakukan melakukan perlawanan dengan mencakar wajah tersangka. Selanjutnya korban berteriak histeris meminta pertolongan.

Beruntung saat itu ada seorang lelaki yang melintasi jalan tersebut mendengar teriakan korban dan berusaha menolongnya. Melihat ada orang yang datang, pelaku langsung melarikan diri. Setelah menolongnya, korban ditemani saksi mata ini melaporkan kasus tersebut ke Polsek Weda. Saat dilaporkan, petugas langsung turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Karena diketahui pelaku berdomisili di Desa Loleo, maka polisi pun mengejar tersangka di Desa tersebut sekira pukul 12.30 WIT. Sayangnya saat itu, pelaku tidak berada di tempat.

Kemudian pukul 14.15 WIT polisi kembali mencari tersangka di rumah mertuanya di Desa Waimili Gane Timur. Di sana mereka hanya menemukan istri tersangka berada di Oba Sofifi Kecamatan Oba. Bersama istrinya, polisi langsung balik haluan ke Weda, dan menyuruh istrinya menanyakan posisi terakhir tersangka.

Setelah mengetahui keberadaannya, selanjutnya pukul 20.00 WIT polisi bersama istri tersangka yang dipimpin Kapolsek Weda IPTU Yogie Biantoro melakukan perjalanan ke Desa Loleolamo, Kecamatan Oba Tengah.

Tiba di Desa Loleolamo, petugas langsung menangkap tersangka atas bantuan istrinya. Saat itu tersangka sedang berdiri di tepi jalan poros Loleolamo Weda. Sempat melarikan diri menggunakan sepeda motor. Namun Polisi melepaskan tembakan peringatan, dan akhirnya mengamankan tersangka. “Tersangka sudah kami amankan untuk dimintai keterangan,” tandasnya. (mpf/met)

Hakim Inggris, Jumat (11/12), memutuskan dua pelaku kekerasan seksual paling berbahaya Inggris, termasuk seorang warga negara Indonesia (WNI), harus mendekam dalam penjara sedikitnya 40 tahun.Jaksa penuntut umum Inggris tadinya menuntut agar Reynhard Sinaga dan Joseph McCann dipenjara seumur hidup karena beratnya kejahatan yang mereka lakukan.

Namun, lima hakim pengadilan banding, termasuk Kepala Pengadilan Inggris dan Wales, Hakim Ketua Ian Burnett, menolak menjatuhkan hukuman seumur hidup.

“Kasus McCann dan (Reynhard) Sinaga, kendati sangat serius, menurut penilaian kami, tidak layak untuk diberlakukan hukuman seumur hidup,” kata Burnett dalam putusan itu.

Para hakim mengatakan kejahatan kedua laki-laki itu termasuk perkosaan paling serius yang pernah diadili di pengadilan Inggris dan Wales.

Mereka menambahkan kedua terdakwa itu tidak menunjukkan penyesalan. Para hakim menaikkan masa hukuman minimal yang harus dijalani dipenjara, dari 30 menjadi 40 tahun.

Reynhard, seorang WNI, dinyatakan bersalah melakukan 159 pelanggaran, termasuk 136 perkosaan dan delapan percobaan perkosaan, dalam empat persidangan berbeda yang dimulai pada Juni 2018 dan berakhir Desember lalu.

Laki-laki 36 tahun itu membujuk banyak laki-laki ke apartemennya di Manchester, Inggris, membius mereka dengan obat lalu memerkosa mereka, dan merekam tindakan perkosaan itu dengan kamera.

Polisi yakin dia mungkin telah menyerang 195 laki-laki. Hakim menyebutnya sebagai “seorang predator seksual berantai yang kejam” dan seorang “monster.”

McCann, 34 tahun, dipenjara pada Januari setelah mabuk dan menyerang 11 orang yang berusia antara 11 dan 71 di dan sekitar London, dan Inggris barat laut.

Hakim yang menghukumnya 37 tahun penjara atas dakwaan perkosaan, kekerasan seksual, penculikan dan pemenjaraan palsu, mengecam McCann sebagai seorang “pengecut, perundung (bully) yang kejam dan pedofil.”

JPU berwenang untuk mengajukan banding atas putusan tertentu di Inggris dan Wales, apabila putusan itu tampaknya “terlalu ringan.”

Hukuman seumur hidup biasanya hanya diberikan pada kasus pembunuhan yang paling serius.

Dalam sidang banding pada Oktober, Jaksa Michael Ellis mengatakan kejahatan kedua laki-laki itu termasuk “yang terburuk dan paling kejam di negara ini.”

Pada Jumat (11/12), dia mengatakan dia berharap agar putusan para hakim itu “memberi semacam penghiburan bagi para korban kejahatan yang keji itu.” [vm/ft]