MALUT-POST DALAM Sejarah kita telah menyaksikan banyak perubahan besar terjadi dipengaruhi oelh pendidikan,teruma pendidikan formal.misalnya konsolidas kemerdekaan yang tidak terlepas dari sejrah mahasiswa, dan sebagai mahasiswa tentu perna mengenyam janjang pendidikan dasar dan menegah sejrah kemerdekan indonesia juga tidak terlepas dari dengan peristiwa Hirosima -Nagasaki, jenderal Hirohito terlebih dahulu bertanya tentang banyaknya guru yang masih hidup, bukan banyaknya prajurit yang masih hidup. padahal saat itu dunia dlam kondisi perang hinggga yang harus di pertanyakan lebih dahulu adalah persoalan pertahanan keamanan negara.

Pertanyaan Jenderal Hirohito mengenai jumlah guru yang masih hidup menjadi pelajaran penting. barangkali dari penghargaan yang besar terhadap guru itulah, saat ini jepang menjadi salah satu negara maju di dunia.jepang menjadi salah satu negara yang pertumbuhannya terbilang cepat. bagaimana dengn indonesia? sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, seharus bisa lebih maju dari negara lain jika sumber daya manusianya dapat di arahkan untutk mengelolah kekayaan alam yang dmikian dengan cara terbaik demi keadilaan sosial bagi seluruh rakyat.

Untuk mencapai manusia terbaik dalam mengelolah alam, maka pendidikn menjadi faktor penentuan sebgai medium untuk membentuk watak dan kepribadian,mengembangkan kemampuan intelektual, dan mengasah keterampilan manusia yng diharapkan berdasarkan pada ideologi negra. pendidkan menjadi faktorpenentu untuk menciptakan manusia yng di harapkan dalam UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, tujuan pendidikan adalah terbinanya potensi dan peserta didik menjadi manusia yang beriman, berilmu pengetahuan berakhal mulia, serta bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara.”

Dan untuk mencapai tujuan ini, kesejatraan guru adalah keharusan sehingga seorang guru tidak lagi berfikir dan bertanya mau makan apa besok, melainkan fokus mengembangkan potensi peserta didik, cara seimbang berdasarkan ukuran negara dan senantiasa beriktihar untuk membentuk insan pembaharu yang dapat pemimpin masa depan yang di pundak merekalah amanah kemerdekaan dapat dititipkan.

Pada beberapa hari yang lalu paemerintah Provinsi Maluku utara mengambil kebijakan untuk memotong upah guru honorer katanya kebijakan itu berdasarkan keputusan presiden. sementara tenagah honorer juga sangat dibutuhkn untk memnuhi kebutuhan dalam dunia pedidkan formal, sebagai medium terpenting utuk membentuk generasi menjadi agen pembahuruan.

Kebijakan ini barangkali berangkat dari paradigma pembangunan pemerintah yang seakan- akan memandang pembangunan insfrastruktur, sementara suprastruktur terpenuhi barangkali paradigma pembagunan kita harus diarahkan menyeimbangkan antra infrastruktur dan suprastruktur. semogah pemerinta dapat kembali melihat kebijakannya dalam memotong upah guru honorer dan semogah kedepannya kesejtraan guru menjadi prioritas.(*)

Nikmatilah hembusan angin di wajah, benang di tangan Anda, dan perasaan bebas ketika menerbangkan layang-layang. Mungkin sebagian dari kita mengetahui bahwa layang-layang berkaitan dengan daya angkat, dorong, tarik, dan tekanan angin.

Tanggal 8 Februari adalah hari Layang-layang. Sejak 470 SM, keberadaan layang-layang diyakini berasal dari China. Semula layang-layang diciptakan untuk memata-matai musuh dan mengirim pesan. Dalam perkembangannya, layang-layang menjadi hobi, olahraga dan kegiatan seni yang dilombakan dalam festival.

Layang-layang Peter Pan. (Foto: Courtesy/Lianawati)

Layang-layang Peter Pan. (Foto: Courtesy/Lianawati)

Seorang warga Indonesia yang sudah lebih dari 50 kali menjadi juara lomba layang-layang di manca negara, Lianawati Lie, 62 tahun asal Surakarta, mengubah hobi bermain layang-layang itu menjadi profesi. Semasa sebelum pandemi, hampir setiap bulan ia mendapat undangan, baik untuk lomba maupun festival, terutama ke China, Australia, negara-negara di Eropa seperti Jerman dan Perancis serta ASEAN.

Kepada VOA ia mengaku, karena mempunyai enam orang kakak yang semuanya laki-laki, maka ia suka ikut bermain layang-layang sejak kecil. Kemudian setelah melihat perkembangan layang-layang yang semakin canggih, dalam arti tidak tradisional yang pipih dan berbentuk segitiga,

melainkan tiga dimensi, maka ia tergugah untuk mencoba membuat dan mengikuti berbagai festival sejak awal tahun 2000-an.

Namun kini dengan merebaknya pandemi, sejak tahun lalu Liana mengikuti festival layang-layang secara virtual yang diadakan di Weifang, Provinsi Shandong, China.

Lianawati bersama Sultan Brunei Bolkiah, ketika lomba di Brunei tahun 2018. (Foto: Courtesy/Lianawati)

Lianawati bersama Sultan Brunei Bolkiah, ketika lomba di Brunei tahun 2018. (Foto: Courtesy/Lianawati)

“Semua yang diundang itu memperagakan di negara masing-masing. Saya memeragakannya di lapangan Tegal Lega, Bandung. Saya menampilkan layangan dua dimensi yang bergambar barong. Peragaan mulai layangan apa yang ditampilkan, cara memasang sampai menerbangkannya. Nah video itu kami buat kemudian kami kirim ke Weifang itu”, ujar Lianawati.

Lianawati lebih suka mengambil tema wayang, seperti Hanoman (Kera Putih), dan Subali untuk ditampilkan dalam festival layang-layang di manca negara, terutama di Mangalore, India pada tahun 2020, karena tokoh wayang dari cerita Baratayudha itu sangat akrab bagi mereka.

Layang-layang Subali dari cerita Mahabarata. (Foto: Courtesy/Lianawati)

Layang-layang Subali dari cerita Mahabarata. (Foto: Courtesy/Lianawati)

Salah satu karya besar lainnya, layang-layang berbentuk Ulat Bulu sepanjang delapan meter yang mendapat penghargaan di Vietnam tahun 2009. Ketika ditanya bagaimana menerbangkan layang-layang sepanjang itu, Liana menjelaskan:

“Pada suatu hari di Indonesia ada wabah diserang ulat bulu. Maka saya terpikir untuk membuat ulat bulu, Nah kalau layang-layang ulat bulu itu dari balon, pastinya ada hitungannya sendiri. Yang menjadikan bisa terbang kalau bentuknya panjang, yang menentukan tali-tali yang tergantung dari besar/kecilnya layang-layang. Kalau ulat bulu, saya menggunakan 8 sampai 10 tali yang dipasangkan di tubuhnya.”

Lianawati bersama timnya yang terdiri dari lima orang, menggambar, memberi warna dan memasukkannya ke komputer beserta ukuran yang diinginkan. Kemudian memotong-motong kain dan menjahitnya, lalu diberi tali. Setelah semuanya jadi, maka uji coba terbang dilakukan di Lanud Sulaiman Bandung atau di pantai Pangandaran, Jawa Barat.

Karya layang-layangnya dikagumi banyak orang di berbagai negara karena keunikan bentuk dan warnanya. Maka Lianawatipun mengambil kesempatan ini dengan membawa bentuk kecil dari layang-layangnya untuk cindera mata dan dibagikan secara gratis. Akhirnya beberapa pengunjung tertarik untuk memesannya dan Lianawati mengirimnya untuk ekspor ke ASEAN dan Italia.

Kepala Organisasi dan Pemberdayaan Daerah, APINDO Nasional, Dedy Widjaja Dharma mengatakan,“Lianawati itu pertandingan beberapa kali mendapat juara. Jadi lebih terkenal, layang-layangnya sangat bagus dan indah. Artinya, itu sangat terbuka untuk ekspor kita, karena itu salah satu hiburan khas Indonesia yang bisa dibagikan ke negara lain. Pembuatannya punya ketrampilan sendiri dan ciri khas itu yang bisa dijual ke negara lain”.

Pandemi tidak menghentikan hobi dan profesi Lianawati yang pernah menerima penghargaan dari Walikota Bourg, Perancis tahun 2019 itu. Kini ia memilih tinggal di Bali, yang sering menjadi tempat penyelenggaraan festival layang-layang tradisional yang tentunya mengangkat seni dan budaya Indonesia. [ps/em]

Cardboard Collectors, Sisi Buruk Negara Singapura — Pagi menyingsing di daratan Singapura. Jarum jam baru menunjukkan angka 5. Namun beberapa lansia nampak telah keluar dari suaka masing-masing seraya mendorong troli barang. Para lansia tersebut bukanlah ingin berbelanja, melainkan memulung kardus guna menyambung hidup. Mereka disebut mendapat label sebagai cardboard collectors.

Infografik Cardboard Collectors
Infografik Cardboard Collectors

Dari pagi buta hingga malam tiba, mereka mampu mengumpulkan hingga 300-400 kg kardus. Per kilogram kardusnya, mereka dibayar sebesar $ 0,04 atau Rp 425. Jika bekerja sepanjang bulan tanpa libur, penghasilan mereka di kisaran $ 900 – $ 1200. Angka yang cukup menggiurkan, bukan? Sayangnya, ini Singapura, bukan Indonesia. Dimana biaya hidup berkali lipat dari negara tercinta kita.

Penghasilan itupun harus dipotong lagi dengan biaya operasional mereka. Mereka biasanya menyewa van untuk mengangkut hasil buruan. Dengan menyewa van, mereka harus membayar biaya sewa, supir, dan bensin. Seringkali penghasilan mereka justru lebih kecil dibanding biaya operasional. Begitu miris.

Pembayaran cardboard collectors

Dimana Keluarga Mereka?

Ada dua faktor yang menyebabkan angka para pekerja lansia ini menjamur di Singapura. Pertama tren tidak menikah lebih tinggi dibanding negara lain. Hal ini menyebabkan ketika usia memasuki senja, mereka tak lain sebatang kara. Yang sialnya, tak semua lansia mendapatkan bantuan pokok dari pemerintah. Sementara di sisi lain, biaya hidup terus merangkak naik seiring majunya industri di Negara Singa itu.

Kedua, karena di sana sendiri orangtua bukanlah pertanggungjawaban wajib seorang anak. Memang, pekerjaan di sana notabene memiliki gaji yang mentereng. Namun ongkos hidup pun sama. Anak-anak mereka yang bekerja hanya mampu menghidupi diri dan keluarganya masing-masing. Itulah yang membuat para orangtua terlantar.

Mendapatkan Bantuan dari LSM

Ada beberapa lansia yang meskipun telah mendapatkan bantuan dari pemerintah, namun tetap menggeluti profesi ini. Namun ada juga yang tak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Akan tetapi, mereka semua dilindungi oleh sebuah LSM bernama HPHP (Happy People Helping People), dimana LSM tersebut menjamin kebutuhan dasar mereka untuk terus hidup .

Jadi sekalipun penghasilan mereka sedang menurun (karena stok kardus tidak selalu banyak), mereka tetap bisa makan dengan layak.


Belajar dari profesi cardboard collectors, sisi buruk bahkan dimiliki negara Singapura sekalipun dalam lingkup masyarakatnya. Itulah pentingnya mensyukuri anugerah dengan terlahir sebagai warga Indonesia.