Apakah profis memiliki teman yang mengaku-ngaku sebagai pengidap gangguan mental? Atau justru profis sendiri yang bertingkah demikian? Ada baiknya profis lebih menjaga jarak terhadap orang-orang tersebut. Karena sejatinya, sikap tersebut merupakan sesuatu yang sangat tidak etis.

Fenomena yang merangkak menjadi tren baru ini seakan menjadi momok tersendiri bagi banyak pihak, seperti orang tua dan tentunya individu-individu yang betul-betul mengidap penyakit ini. Sederhananya, romantisasi gangguan mental adalah kondisi dimana gangguan mental digambarkan sebagai sesuatu yang elegan, keren, unik, dan membuat pengidapnya seakan-akan berbeda dari yang lain.

Dengan gangguan yang diidap, penyandangnya seakan-akan harus mendapat prioritas dan kekhususan perhatian dari pergaulannya. Hal yang tentunya diidamkan banyak orang. Inilah yang membuat beberapa pelaku romantisasi ini seakan ketagihan dengan drama yang mereka ciptakan. Memangnya, siapa yang tak mau mendapatkan prioritas dari lingkungan sehari-hari?

Munculnya Fenomena Romantisasi Gangguan Mental

Ilustrasi Gangguan Mental
Ilustrasi Gangguan Mental

Siapa yang paling bertanggungjawab atas munculnya fenomena ini? Sederhana saja, film, novel, dan media sosial. Bisa dibilang, film dan novel yang mengambil latar belakang tokoh utama sebagai pengidap gangguan mental memiliki popularitas dan penggemar yang cukup tinggi di Indonesia.

Dalam film-film itu, sang tokoh seakan-akan begitu disiksa oleh batinnya sendiri. Namun namanya film, lika-liku kehidupan sang tokoh tentu saja akan menemui ujung yang bahagia. Premisnya seringkali berujung dimana sang tokoh akhirnya menemukan cinta sejatinya, orang yang menerima dirinya dan segala kekurangan yang ia miliki, serta banyak hal-hal indah lain.

Sebagai penikmat karya yang kebanyakan masih muda, hal tersebut tentunya dapat menjadi inspirasi bagi mereka dengan harapan dapat memiliki skenario hidup yang sama. Akan tetapi, para pelaku tidak sadar kalau tindakan mereka tak lebih dari sekedar pelarian dari kehidupan yang mungkin berada di bawah ekspektasi mereka sendiri.

Selfclaim Melalui Perwujudan Simbol dan Gambar di Media Sosial Remaja-Pemuda

Profis familiar dengan gambar-gambar di atas? Gangguan mental yang paling banyak diromantisasi ini kalau kita lihat adalah depresi, kecemasan, bipolar, OCD (Obsessive Compulsive Disorder), dan bahkan kondisi kepribadian seperti introvert—yang sejatinya adalah contoh miskonsepsi—. Sederhananya, punya gangguan mental itu dianggap anti mainstream.

“Gue punya gangguan mental, dong! Lo punya, nggak?”

Dalam pergaulan remaja-pemuda, romantisasi gangguan mental digambarkan seperti petikan di atas.

Gangguan mental atau abnormalitas itu malah diinginkan, terutama oleh kalangan remaja. Tidak jarang, mereka dengan sengaja ‘memunculkan’ gejala gangguan mental agar terlihat benar-benar seperti itu. Mulai dari gambar yang diunggah di media sosialnya, hingga perilaku sehari-hari.

Mengapa? Karena mereka ingin terlihat berbeda. Normal itu mainstream. Abnormal itu keren dan unik. Mereka bisa meraup perhatian orang-orang dengan menjadi berbeda. Sampai di sini, apakah profis sudah mulai merasa miris dengan fenomena ini?

Dampaknya pada Pengidap Gangguan Mental Sungguhan hingga bagi Psikolog

Gangguan Mental dari Kacamata Psikolog
Gangguan Mental dari Kacamata Psikolog

Tak seperti awal kemunculannya, saat ini fenomena tersebut mulai diendus oleh sebagian orang yang peka terhadap efek domino dari eksistensinya. Bisa dibilang, stigma negatif bagi orang-orang yang mengaku sebagai pengidap gangguan mental mulai muncul di beberapa kalangan.

Hal ini tentunya sangat merugikan mereka yang betul-betul membutuhkan pertolongan dari gangguan yang mereka idap. Para pengidap gangguan mental akan merasa semakin minder, tertekan, dan tak menutup kemungkinan akan menarik diri dari lingkup pertemanan. Semuanya adalah ulah dari para pemuda labil yang menjadikan gangguan mental sebagai ajang keren-kerenan saja.

Selain itu, profesi dari para Psikolog pun seakan terlecehkan. Remaja-pemuda yang sejatinya tak memiliki gangguan mental apapun berlomba-lomba untuk mengklaim dirinya adalah salah satu dari “orang spesial” tersebut. Kondisi ini disebut selfclaim, dimana seseorang mendiagnosis dirinya sendiri sebagai pengidap sebuah gangguan. Padahal kenyataannya, psikologisnya normal-normal saja.

Rentan Dijadikan Ajang Penipuan hingga Kejahatan Tindak Lanjut

Penipu yang Memakai Topeng Gangguan Mental
Penipu yang Memakai Topeng Gangguan Mental

Di media sosial Twitter, para pengguna acapkali mencuitkan pengalaman tak mengenakkan mereka dengan orang lain. Salah satunya dengan orang-orang yang menjual kalimat gangguan mental kepada calon korbannya. Modusnya sama, meraih keuntungan dari kebohongan yang ia karang.

Biasanya, orang-orang tak bertanggungjawab ini akan mendekati calon korbannya dengan cara menjual cerita sedih terlebih dahulu. Korban yang secara refleks mulai menumbuhkan simpati pun semakin terpancing oleh kebohongan yang para pelaku ceritakan. Seiring berjalannya waktu, pelaku-pelaku ini mulai berani meminta hal-hal yang ia anggap menguntungkan. Akan tetapi akhirnya pasti sama; habis manis sepah dibuang.

Gangguan Mental Bukanlah Sesuatu yang Menyenangkan untuk Dimiliki

Gangguan Mental Tidak Sekeren yang Orang-orang Pikirkan
Gangguan Mental Tidak Sekeren yang Orang-orang Pikirkan

Penulis menyadari betul bahwa di luar sana, banyak para pengidap gangguan mental yang sesungguhnya benar-benar membutuhkan pertolongan dari kita. Namun yang perlu digarisbawahi yaitu benar-benar sebuah pertolongan. Bukannya perhatian atau validasi bahwa gangguan mental yang mereka miliki itu indah.

Memang, segala bentuk distres tidak ada yang bisa diremehkan, karena kekuatan mental setiap orang berbeda. Ada orang-orang yang baru dimarahi sedikit saja langsung merasa down. Ada. Namun inti yang tertuang di sini adalah kurangnya pemahaman orang awam tentang seberapa dalam makna sebuah depresi, kecemasan, keputusan bunuh diri, selfharm, OCD, bipolar, dan berbagai kondisi lainnya.

Saat profis merasa stres karena besok harus melaksanakan tugas penting, bukan berarti profis depresi. Profis tidak suka bersosialisasi, bukan berarti profis memiliki gangguan kecemasan. Juga ketika profis lebih nyaman dengan penampilan yang rapi, bukan berarti Anda mengidap OCD.

Berhenti selfclaim, berhenti meromantisasi gangguan mental. Karena hal tersebut sangat tidak etis!