eSIM Card di Indonesia — Mulai dari tipe Full, Mini, Micro, hingga Nano, ukuran kartu SIM (SIMcard) pada ponsel terus dipangkas. Alasannya, karena teknologi yang disematkan di dalam ponsel akan semakin canggih seiring berjalannya waktu. Hasilnya, celah sekecil apapun di dalam bodi ponsel harus dimanfaatkan untuk meletakkan sistem lain.

Revolusi SIM Card di Indonesia

Tren ini tidak berhenti di ukuran nano yang bahkan sudah sangat kecil. Beberapa tahun belakangan, tren penggunaan eSIM Card atau kartu SIM non-fisik mulai menjamur di Indonesia. Para penyedia layanan telekomunikasi telah memulai lomba untuk merancang produk eSIM yang inovatif dengan strateginya masing-masing.

Serba-serbi eSIM Card di Indonesia

Smartfren adalah operator pertama yang membawa teknologi ini ke Indonesia. Berbeda dengan kartu SIM biasa, eSIM bersifat non-fisik. Cara pemakaiannya yaitu memanfaatkan teknologi barcode, dimana penggunanya memindai kode batang tersebut untuk mengaktifkan di ponselnya.

Sistem ini tentunya sangat inovatif, mengingat pengguna tidak perlu repot-repot membongkar pasang celah kartu SIM-nya. Apalagi, cara membuka tempat kartu SIM di ponsel kekinian cukup rumit. Ponsel berkonsep gawai kebanyakan mendesain bentuk ponselnya seminimalis mungkin. Membuka tempat kartu SIM memerlukan jarum khusus yang ditusukkan ke lubang dimana tempat kartu SIM tersebut tersimpan. Sayangnya, jarum tersebut tak selalu kita bawa.

Sayangnya, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) masih belum mengatur regulasi yang jelas mengenai sistem ini. Bisa dibilang, penggunaan eSIM di Indonesia tidak dilarang. Namun tanpa adanya regulasi, keamanan penggunaan masih dipertanyakan oleh para calon pengguna yang berminat dengan teknologi embedded SIM Card ini.

Keuntungan Ketika eSIM Card Sudah Didukung Mayoritas Ponsel

1) Lebih Murah

Jangan salah, produksi kartu SIM fisik tetap membutuhkan biaya. Biaya produksi benda mungil itu juga tidaklah sedikit. Dengan adanya inovasi ini, penyedia layanan operator telepon bisa menekan biaya produksi kartu SIM fisik. Dampaknya bagi pengguna yaitu harga paket internet akan lebih murah. Karena biaya untuk produksi kartu fisik oleh operator telepon akan dialokasikan untuk memanjakan pengguna mereka, dengan mempersembahkan biaya yang lebih terjangkau.

2) Teknologi Ponsel Waterproof akan Lebih Terjangkau

Teknologi anti air atau waterproof adalah salah satu hal yang diidam-idamkan hampir seluruh pemakai ponsel. Dengan pengaplikasian khusus eSIM pada ponsel, maka produsen ponsel akan lebih mudah untuk mewujudkan teknologi tersebut dengan biaya yang terjangkau. Mengapa demikian? Konsep ponsel khusus eSIM akan membuat desain ponsel tidak lagi memerlukan di sasis telepon. Implikasinya, improvisasi membuat bodi telepon yang tahan air akan lebih mudah diterapkan.

3) Tak Ada Lagi Gonta-Ganti Kartu SIM

Beberapa tahun sekali, tak jarang kartu SIM yang tersemat di ponsel kita tiba-tiba tidak dapat terbaca. Entah disebabkan oleh gangguan pada kuningan ponsel itu sendiri, atau karena fisik kartu SIM-nya yang sudah renta, namun hal ini sangat menyebalkan. Kita harus berkorban waktu dan biaya untuk pergi ke gerai resmi operator untuk mendapatkan fisik baru kartu nomor telepon kita. Setelah era eSIM berjaya, hal ini tak akan lagi kita temukan.

4) Aman

Sistem kartu non-fisik tentunya memaksimalkan teknologi digital yang dapat dengan mudah dikontrol oleh operator telepon. Di masa depan, kehilangan atau kerusakan ponsel tidak akan berdampak pada hilangnya nomor telepon. Pastinya, operator telepon penyedia eSIM akan membuat terobosan baru, dimana layanan laporan secara daring akan diciptakan. Mulai dari blokir hingga permintaan agar nomor yang sama kembali diaktifkan pastinya bisa dilakukan dengan mudah oleh pengguna.

Kata kunci digital marketing 2021 – Pemasaran digital atau digital marketing merupakan cara paling efektif dalam melakukan branding merk. Tren ini mulai muncul seiringan dengan meledaknya angka pengguna gawai layar sentuh sejak 2012 silam. Sebabnya, karena gawai layar sentuh dianggap lebih ramah pengguna dalam segi pengoperasiannya, sehingga banyak hal dapat dilakukan melaluinya.

Pada tahun 2020 ini, dunia diwarnai oleh banyak kejadian mengejutkan. Sebut saja pandemi, merebaknya kasus pencurian dan jual beli data, sentimen antar ras yang melahirkan jargon Black Lives Matter, hingga beberapa gerakan yang mengatasnamakan identitas kelompok, baik positif maupun negatif. Tren dan peristiwa yang terjadi selama tahun 2020 ini tentunya akan menjadi faktor yang membentuk pola keberhasilan bisnis pada 2021.

Lalu, konsep bisnis apa yang nantinya akan berbuah keberhasilan pada tahun depan? Berikut kami rangkum kata kunci digital marketing 2021 yang tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan arah konsep bisnis!

1) Bisnis yang Bisa Diakses dari Manapun dan Kapanpun

Bisnis yang Bisa Diakses dari Manapun dan Kapanpun

Semenjak COVID-19 melanda, semua orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Belajar, bekerja, hingga aktivitas lain yang selama ini dilakukan secara konvensional mulai dari perbankan hingga kesehatan, secara ajaib diadaptasi dalam bentuk daring. Tentunya, internet adalah komponen yang diandalkan untuk menunjang kegiatan tersebut.

Sayangnya, kebutuhan hiburan dan sosialisasi adalah hal yang paling sulit diredam. Meskipun internet telah memiliki ragam jenis variasi media sosial, namun kebutuhan ini masih saja sulit untuk dipuaskan. Celah inilah yang tentunya sangat potensial bagi pelaku bisnis yang mampu membuat terobosan baru untuk menambalnya. Sudah pasti, digital marketing adalah media yang nantinya efisien untuk memperkenalkan brand inovatif ini.

2) Bisnis yang Mampu Menciptakan Kesetaraan Identitas

Bisnis yang Mampu Menciptakan Kesetaraan Identitas

Masih terekam jelas di kepala kita tatkala pertengahan tahun silam, demonstrasi besar-besaran akibat isu rasial meledak di bumi Amerika Serikat. Kejadian ini diawali oleh kasus yang kekerasan yang melibatkan kepolisian di sana. Kerusuhan pun tereskalasi karena anggapan terjadinya diskriminasi kulit hitam adalah sebab oknum polisi tersebut membunuh korban.

Selain itu, gerakan feminisme modern juga mulai vokal di kehidupan sehari-hari. Banyak produk-produk yang menyuarakan narasi untuk mencintai fisik sendiri guna menghapus standarisasi kecantikan perempuan. Saat ini, beberapa merk telah mengadopsi kampanye ini sebagai bagian dari program digital marketing mereka. Namun baru sedikit. Jadi artinya, celah ini masih sangat luas di 2021.

3) Bisnis yang Dapat Menjamin Kenyamanan dan Keamanan Data Pengguna

Bisnis yang Dapat Menjamin Kenyamanan dan Keamanan Data Pengguna

Pencurian data semakin meresahkan. Sayangnya, perusahaan besar sekalipun tidak dapat menjamin keamanan big data penggunanya. Bahkan, bisa jadi pula kalau di masa depan, undang-undang dan regulasi pemerintah akan mengatur penjaminan data pengguna. Di sinilah potensi itu. Pebisnis yang mampu menjamin keamanan data konsumennya akan memenangkan pasar.

Di 2021, tak menutup kemungkinan kalau fokus keamanan dan kenyamanan dalam memakai sebuah platform adalah hal yang banyak dijumpai dalam konsep digital marketing. Para pemilik bisnis akan berlomba-lomba menciptakan iklan digital yang merangsang psikologis pengguna, bahwa produk yang mereka luncurkan dapat terjamin keamanan sibernya.

4) Bisnis yang Sanggup Menawarkan Benefit Jangka Panjang

Bisnis yang Sanggup Menawarkan Benefit Jangka Panjang

Kembali karena merupakan dampak pandemi. Orang-orang cenderung mempertimbangkan banyak hal ketika ingin membuat keputusan pembelian. Hal ini tak lain karena pandemi membuat perekonomian menjadi surut, sehingga strategi finansial ikat pinggang banyak diterapkan.

Strategi ini telah diadopsi oleh perusahaan-perusahaan jual beli aset dalam meluncurkan strategi digital marketing mereka. Dengan menciptakan kata kunci yang merangsang psikologis, mereka sukses menjadi salah satu brand yang dianggap elegan dan tentunya menyadari banyak orang akan pentingnya aset di masa muda.


Di tahun 2021 mendatang, lahan pada digital marketing memiliki banyak hal potensial yang bisa diadopsi ke bisnis yang sedang dijalankan. Dengan konsep bisnis yang tepat, dan strategi digital marketing yang smooth dan tepat sasaran, maka bisnis akan mengalami kemajuan pesat.

Artinya, perusahaan baru sekalipun mampu menjadi penguasa segmen bisnis di pasar.

Prinsip kerja antivirus — Tentunya profis pernah mendengar istilah virus dalam perangkat komputer maupun gawai, kan? Virus yang dimaksud di sini berbeda dengan virus di dunia nyata, ya. Melainkan sebuah program yang sengaja diciptakan untuk mengacaukan, meretas, hingga menghapus data-data yang berada dalam sistem komputerisasi.

Saat ini, ragam merk antivirus sendiri telah menjamur di internet. Berbagai perusahaan teknologi berlomba-lomba menciptakan sebuah antivirus canggih yang bisa diakses penggunanya. Tipenya pun ada yang gratis maupun berbayar. Namun tentunya, antivirus berbayar memiliki sistem proteksi yang lebih canggih dan minim risiko.

Akan tetapi, pernahkah profis penasaran dengan prinsip kerja antivirus itu sendiri? Tentunya rumit. Namun, kami akan menyajikan dengan sesederhana mungkin mengenai bagaimana cara sebuah antivirus bekerja dalam melindungi perangkat profis.

Cara Antivirus Perangkat Bekerja

Pada dasarnya, metode antivirus bekerja adalah dengan pemindaian atau scanning pada setiap aktivitas di dalam perangkat. Seperti ketika ingin membuka dokumen, mengunduh berkas, hingga mengakses sebuah situs. Bilamana antivirus menemukan program yang mencurigakan, maka program tersebut akan diindikasikan sebagai virus. Di sinilah peran antivirus menghapus berkas tersebut dan mencegahnya melakukan duplikasi.

Tak hanya itu, antivirus juga melakukan pengecekan secara rutin pada setiap berkas di penyimpanan perangkat profis. Pengecekan ini bisa dilakukan secara otomatis maupun manual. Namun biasanya, antivirus berbayarlah yang bisa disetel untuk melakukan pengecekan otomatis secara rutin.

Analogi Antivirus Perangkat

Bila dianalogikan, antivirus adalah seorang intelijen kepolisian. Antivirus melakukan pengawasan secara ketat terhadap setiap celah penyimpanan di komputer maupun gawai. Untuk mengidentifikasi setiap program yang aman dan mencurigakan, antivirus bekerja berdasarkan daftar signature atau ciri-ciri virus. Persis seperti ciri-ciri orang, misal tinggi badan, warna kulit dan sebagainya. Kalau virus cirinya berupa rangkaian hexadesimal seperti pada gambar dibawah, maka kotak merah adalah contoh signature virus.

Cara Kerja Pendeteksi Signature Antivirus

Anggaplah daftar signature virus ini seperti DPO (Daftar Pencarian Orang). Artinya, daftar signature tersebut harus rajin-rajin diperbaharui oleh pengembang program antivirus-nya. Setiap ada virus baru yang diketahui signature-nya, maka signature tersebut dimasukkan dalam program antivirus. Hal ini pula yang menjadikan kegiatan memperbarui versi aplikasi antivirus yang terpasang penting.

Seiring berkembangnya teknologi, kejahatan di internet pun semakin beragam. Para pemrogram virus seakan tak kehabisan akal untuk menciptakan virus yang minim terdeteksi antivirus. Signaturesignature baru tersebut disamarkan dengan teknik tertentu, salah satu contohnya teknik heuristic.

Kembali ke analogi, teknik menyamar ini diumpamakan sebagai penjahat yang sedang menyamar. Seperti misalnya, rambut aslinya hitam. Namun memakai wig berwarna pirang. Tujuannya satu, membuat si intelijen (antivirus) kesulitan untuk mengidentifikasi DPO (signature virus-virus baru).

Apakah Penggunaan Antivirus Efektif?

Secara teknis, tak ada satupun antivirus yang bisa memastikan keamanan sistem seratus persen. Terkadang, antivirus itu sendiri bahkan salah menafsirkan program, dimana sebenarnya program tersebut bersih, namun malah diidentifikasi sebagai signature virus.

Penjahat seringkali selangkah lebih maju dari intelijen kepolisian. Tak hanya di dunia nyata, di dunia virus pun demikian. Satu-satunya cara untuk menjauhi perangkat dari serangan virus adalah dengan tidak mengakses dan mengunduh berkas atau situs yang mencurigakan di internet.

Karena internet itu luas, dan kita tak akan pernah tahu ancaman apa yang ada di dalamnya.

Belum lama ini, perusahaan mobil Tesla di Amerika Serikat, meluncurkan fitur kecerdasan buatan swakemudi penuh atau Full-Self-Driving versi beta, yang kini sudah tersedia secara terbatas bagi para pengguna mobilnya.

Di balik penggarapan fitur ini ada sosok warga Indonesia, Moorissa Tjokro (26 tahun), yang berprofesi sebagai Autopilot Software Engineer atau insinyur perangkat lunak autopilot untuk Tesla di San Francisco, California.

“Sebagai Autopilot Software Engineer, bagian-bagian yang kita lakukan, mencakup computer vision, seperti gimana sih mobil itu (melihat) dan mendeteksi lingkungan di sekitar kita. Apa ada mobil di depan kita? Tempat sampah di kanan kita? Dan juga, gimana kita bisa bergerak atau yang namanya control and behavior planning, untuk ke kanan, ke kiri, maneuver in a certain way (manuver dengan cara tertentu.red),” ujar Moorissa Tjokro lewat wawancara dengan VOA belum lama ini.

Moorissa Tjokro, Autopilot Software Engineer Tesla, bersama rekan-rekan kerjanya (dok: Moorissa Tjokro)

Moorissa Tjokro, Autopilot Software Engineer Tesla, bersama rekan-rekan kerjanya (dok: Moorissa Tjokro)

Bekerja untuk Tesla sejak Desember 2018 silam, sebelum dipercaya menjadi Autopilot Software Engineer, Moorissa ditunjuk oleh Tesla untuk menjadi seorang Data Scientist, yang juga menangani perangkat lunak mobil.

“Sekitar dua tahun yang lalu, temanku sebenarnya intern (magang.red) di Tesla. Dan waktu itu dia sempat ngirimin resume-ku ke timnya. Dari situ, aku tuh sebenarnya enggak pernah apply, jadi langsung di kontak sama Tesla-nya sendiri. Dan dari situlah kita mulai proses interview,” kenangnya.

Sehari-harinya, perempuan kelahiran tahun 1994 ini bertugas untuk mengevaluasi perangkat lunak autopilot, serta melakukan pengujian terhadap kinerja mobil, juga mencari cara untuk meningkatkan kinerjanya.

“Kita pengin banget, gimana caranya bisa membuat sistem itu seaman mungkin. Jadi sebelum diluncurkan autopilot software-nya, kita selalu ada very rigorous testing (pengujian yang sangat ketat.red), yang giat dan menghitung semua risiko-risiko agar komputernya bisa benar-benar aman untuk semuanya,” jelas perempuan yang sudah menetap di Amerika sejak tahun 2011 ini.

Bekerja Hingga 70 Jam Seminggu

Fitur Full-Self-Driving ini adalah salah satu proyek terbesar Tesla yang ikut digarap oleh Moorissa, yang merupakan tingkat tertinggi dari sistem autopilot, di mana pengemudi tidak perlu lagi menginjak pedal rem dan gas.

“Karena kita pengin mobilnya benar-benar kerja sendiri. Apalagi kalau di tikungan-tikungan. Bukan cuman di jalan tol, tapi juga di jalan-jalan yang biasa,” tambah perempuan yang hobi melukis di waktu senggangnya ini.

Moorissa mengaku bahwa proses penggarapan fitur ini “benar-benar susah” dan telah memakan jam kerja yang sangat panjang, khususnya untuk tim autopilot, mencapai 60-70 jam seminggu.

Salah satu tugas Moorissa adalah menguji kinerja mobil Tesla beserta perangkat lunaknya (dok: Moorissa)

Salah satu tugas Moorissa adalah menguji kinerja mobil Tesla beserta perangkat lunaknya (dok: Moorissa)

Walau belum pernah berinteraksi secara langsung dengan CEO Elon Musk, banyak pekerjaan Moorissa yang khusus diserahkan langsung kepadanya.

“Sering ketemu di kantor dan banyak bagian dari kerjaan saya yang memang untuk dia atau untuk dipresentasikan ke dia,” ceritanya.

Mengingat tugasnya yang harus menguji perangkat lunak mobil, sebagai karyawan, Moorissa dibekali mobil Tesla yang bisa ia gunakan sehari-hari.

“Karena kerjanya dengan mobil, juga dikasih perk (keuntungan.red) untuk drive mobilnya juga kemana-mana, biar bisa di-testing,” jelas Moorissa.

Perempuan di Dunia STEM Masih Jarang

Prestasi Moorissa di dunia STEM (Sains, Teknologi, Teknik/Engineering, Matematika) memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Tahun 2011, saat baru berusia 16 tahun, Moorissa mendapat beasiswa Wilson and Shannon Technology untuk kuliah di Seattle Central College. Pada waktu itu ia tidak bisa langsung kuliah di institusi besar atau universitas di Amerika, yang memiliki persyaratan umur minimal 18 tahun.

Tahun 2012, Moorissa yang telah memegang gelar Associate Degree atau D3 di bidang sains, lalu melanjutkan kuliah S1 jurusan Teknik Industri dan Statistik, di Georgia Institute of Technology di Atlanta.

Selain aktif berorganisasi di kampus, berbagai prestasi pun berhasil diraihnya, antara lain President’s Undergraduate Research Award dan nominasi Helen Grenga untuk insinyur perempuan terbaik di Georgia Tech. Tidak hanya itu, ia pun menjadi salah satu lulusan termuda di kampus, di umurnya yang baru 19 tahun, dengan predikat Summa Cum Laude.

Moorissa (ke-2 dari kanan) dan keluarga di acara kelulusan di Columbia University (dok: Moorissa)

 

Moorissa (ke-2 dari kanan) dan keluarga di acara kelulusan di Columbia University (dok: Moorissa)

Setelah lulus S1 tahun dan bekerja selama dua tahun di perusahaan pemasaran dan periklanan, MarkeTeam di Atlanta, tahun 2016 Moorissa lalu melanjutkan pendidikan S2 jurusan Data Science di Columbia University, di New York. Ia pun kembali menoreh prestasi dalam beberapa kompetisi, antara lain, juara 1 di ajang Columbia Annual Data Science Hackathon dan juara 1 di ajang Columbia Impact Hackacton.

Kecintaan Moorissa akan bidang matematika dan aljabar sejak dulu telah mendorongnya untuk terjun lebih dalam ke dunia STEM, sebuah bidang yang masih sangat jarang ditekuni oleh perempuan.

Berdasarkan data dari National Science Foundation di Amerika Serikat, jumlah perempuan yang memiliki gelar sarjana di bidang teknik dalam 20 tahun terakhir telah meningkat, namun jumlahnya masih tetap di bawah laki-laki.

Pada kenyataannya, menurut organisasi nirlaba, American Association of University Women yang bertujuan memajukan kesejahteraan perempuan melalui advokasi, pendidikan, dan penelitian, jumlah perempuan yang bekerja di bidang STEM, hanya 28 persen.

Organisasi ini juga mengatakan kesenjangan gender masih sangat tinggi di beberapa pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat dan dengan gaji yang tinggi di masa depan, seperti di bidang ilmu komputer dan teknik atau engineering.

Moorissa Tjokro bersama CEO Elon Musk dan tim Autopilot di acara peluncuran fitur FSD (dok: Moorissa)

Moorissa Tjokro bersama CEO Elon Musk dan tim Autopilot di acara peluncuran fitur FSD (dok: Moorissa)

Fakta ini terlihat di kantor Tesla, di mana hanya terdapat 6 Autopilot Engineer perempuan, termasuk Moorissa, dari total 110 Autopilot Engineer. Dua dari 6 perempuan tersebut kini fokus menjadi manajer produk.

“Jadi benar-benar jarang. Saya enggak tahu statistik di luar Silicon Valley, atau even di luar Tesla,” kata lulusan SMA Pelita Harapan di Indonesia ini.

Moorissa beruntung bahwa keinginannya untuk terjun ke dunia sains didukung oleh keluarganya, yang melihat prestasi gemilangnya di bidang yang ia cintai ini.

“Tapi sebenarnya yang bikin aku benar-benar tertarik untuk ke dunia ini adalah ayahku, karena aku benar-benar, (beranjak dewasa melihat Ayah sebagai inspirasi terbesar dalam hidupku). Dia seorang insinyur elektrik dan entrepreneur, dan aku bisa ngeliat kalau teknik-teknik insinyur, itu benar-benar fun, penuh tantangan, dan itu aku suka,” ceritanya.

Walau begitu, Moorissa mengatakan, ia merasa beruntung, karena tidak pernah mengalami diskriminasi atau perbedaan di dunia kerja yang masih didominasi oleh laki-laki ini. Meskipun menurutnya, perempuan cenderung lebih “nurut” dan mengiyakan.

“Mungkin ini karena saya dibesarkan di Indonesia, jadi juga sering ngomong sorry dan mungkin ini bukan cuman cewek aja, tapi minoritas-minoritas di bidang yang tertentu, gitu. Jadi self-esteem (rasa percaya diri.red) kita juga bisa turun, karena kita representing a minority (mewakili minoritas.red),” ungkapnya.

Mengingat masih jarang terlihat perempuan yang terjun ke dunia STEM, Moorissa melihat kurangnya panutan perempuan di dunia STEM sebagai “tantangan yang paling besar.” Hal ini menyebabkan kurangnya motivasi terhadap perempuan untuk mencapai posisi eksekutif, khususnya di dunia teknologi dan otomotif.

“Karena jarang ya, untuk bisa melihat posisi itu adalah perempuan, karena memang enggak ada, gitu. Hampir enggak ada,” ucap Moorissa.

Brenda Ekwurzel (kanan), Director of Climate Science di lembaga Union of Concerned Scientists, Washington, D.C. (dok: Brenda Ekwurzel)

Brenda Ekwurzel (kanan), Director of Climate Science di lembaga Union of Concerned Scientists, Washington, D.C. (dok: Brenda Ekwurzel)

Pernyataan ini dudukung juga oleh Brenda Ekwurzel, seorang ilmuwan senior di bidang iklim, yang juga adalah Director of Climate Science untuk program iklim dan energi di lembaga Union of Concerned Scientists di Washington, D.C. Menurutnya, kurangnya arahan yang diberikan mengenai karir di bidang STEM adalah salah satu faktor kendala.

“Tidak punya mentor ketika kamu sedang mempelajari perjalanan karier yang berbeda dan mencari tahu apa yang perlu dilakukan untuk bisa sukses. Sebagai ilmuwan tidak hanya perlu mengerti soal sains dan melakukan penelitian. Ada banyak hal lainnya, seperti bagaimana mencari dana dan apa yang perlu dilakukan,” jelasnya kepada VOA.

Kini, dengan semakin banyak perempuan yang menempuh pendidikan secara formal dan berhasil sukses, perlu adanya lebih banyak arahan dan dukungan yang bisa meningkatkan karier mereka.

“Cari orang yang dapat membantumu, siapa pun mereka. Bertanya jika punya pertanyaan,” tambah Ekwurzel.

Moorissa pun tetap optimistis, terutama dengan adanya berbagai organisasi yang meningkatkan pemberdayaan perempuan di bidang STEM, seperti Society of Women Engineers.

“Ini sangatlah penting untuk generasi kita di masa depan,” tegasnya.

Moorissa Tjokro, Autopilot Software Engineer Tesla di San Francisco, CA (dok: Moorissa Tjokro)

Moorissa Tjokro, Autopilot Software Engineer Tesla di San Francisco, CA (dok: Moorissa Tjokro)

Dalam meraih cita-cita dalam bidang apa pun, pesan Moorissa hanyalah satu, yaitu “follow your heart” atau ikuti kata hati.

“Walau pun mungkin banyak orang yang enggak setuju atau berpikir keputusan kita bukan yang terbaik, we have to follow our hearts (dan) karena ketika kita follow our hearts, kita enggak mungkin nyesel,” pesan Moorissa.

“Dan ketika kita tahu apa yang kita suka, sebesar-besarnya tikungan, jalan, atau mountains, ada sedikit semangat untuk menekuni bidang tersebut,” pungkasnya.

Untuk ke depannya, Moorissa bercita-cita untuk membangun yayasan yang bertujuan untuk memberantas kemiskinan di Indonesia. (di/em)

Perkembangan teknologi, media dan telekomunikasi memainkan peran penting dalam perekonomian global. Berbagai inovasi akan meningkatkan produktivitas dalam setiap industri. Metrini Geopani melaporkan perusahaan rekrutmen IT pertama Indonesia, Geekhunter, berupaya mengatasi defisit talenta digital tahun 2030, menurut studi yang dilakukan Korn Ferry.

Simak laporan VOA mengenai peran Geekhunter yang melayani lebih dari 150 perusahaan pemasok tenaga IT di Indonesia dan beberapa negara lain.

Studi tahun 2016 yang dilakukan Korn Ferry menemukan bahwa sejumlah perusahaan tradisional berjuang mendapatkan talenta digital (tech talent) yang mereka butuhkan untuk memenuhi permintaan klien serta melakukan transformasi operasional secara digital.

TechinAsia Conference - Jakarta - 2019 (foto: courtesy).

TechinAsia Conference – Jakarta – 2019 (foto: courtesy).

Sebelum pandemi COVID-19, Talent Crunch menyatakan Indonesia telah menghadapi krisis talenta di mana defisit pekerja terampil dengan pendidikan tinggi (level A) akan mencapai 1,3 juta pada tahun 2020 dan mengalami penurunan pada tingkat 11,2% per tahun menjadi 3,8 juta pada tahun 2030. Itu setara dengan 29,9% dari angkatan kerja level A Indonesia pada tahun 2030.

Defisit talenta digital Indonesia itu berusaha diatasi Geekhunter dengan memasok pekerja IT ke sejumlah perusahaan. Perusahaan itu juga menyediakan berbagai pelatihan.

Geekhunter, perusahaan rekrutmen IT pertama di Indonesia, berupaya menghubungkan lebih dari 7.000 pekerja IT dengan sejumlah perusahaan. Perusahaan itu juga terlibat membangun ekosistem komunitas dalam bidang teknologi dan secara aktif berkolaborasi di seluruh Indonesia.

Ken Ratri Iswari, salah seorang pendiri Geekhunter menyatakan klien perusahaan pada awalnya kebanyakan berasal dari Singapura dan Malaysia. “Sekitar 70% klien perusahaan dari luar negeri dan 30% justru dari lokal, Indonesia. Ketika memasuki tahun 2015, ekonomi digital Indonesia mulai tumbuh dan banyak start up muncul serta adanya gerakan-gerakan dari pemerintah seperti gerakan 1.000 start up.”

Ken Iswari Techinasia Conference di Jakarta 2019 (foto: courtesy).

Ken Iswari Techinasia Conference di Jakarta 2019 (foto: courtesy).

Sebagai pemasok tenaga IT, Geekhunter yang berkantor di Jakarta dan Bandung, mulai melakukan pencarian dari 70.000 talenta yang ada dalam data base, komunitas digital dan ekosistem start up Indonesia untuk mendapatkan kandidat yang sesuai keahlian yang dibutuhkan oleh klien.

Malik Khrisna adalah seorang kandidat Geekhunter yang kini bekerja di perusahaan pembayaran secara online, sejenis PayPal, di Indonesia. Kepada VOA pemuda kelahiran Jakarta yang pernah kuliah di Malaysia itu menyampaikan Geekhunter membantunya menemukan karir yang ia impikan termasuk negosiasi gaji dan cakupan penuh layanan serta fasilitas yang disediakan perusahaan penerima mulai dari masa percobaan hingga menjadi pegawai tetap.

Malik Khrisna menjadi pembicara pada acara PMF - Swiss (foto: courtesy).

Malik Khrisna menjadi pembicara pada acara PMF – Swiss (foto: courtesy).

Pekerja IT yang bertemu dengan banyak headhunter sejak tahun 2015 itu membagikan pengalamannya tentang perusahaan headhunter yang menyediakan layanan yang bagus di Indonesia. “Yang saya perhatikan headhunter yang bagus itu bisa men-desaign jalur untuk karir progression (berlanjut), misalnya seperti saya di bidang produk, at the end pencapaian yang tertinggi pekerja IT bagian produk bisa dibilang jadi CPO, chief product officer. Oleh karena itu mereka bisa memberikan langkah-langkahnya.”

Kepada VOA, Ken Iswari menjelaskan market size Indonesia yang terbesar di Asia Tenggara menyebabkan klien-klien perusahaan Geekhunter lebih memilih pekerja IT Indonesia. Selain hemat biaya, klien perusahaan asing itu juga menjadikan Indonesia sebagai tempat mereka beroperasi mendapatkan tenaga-tenaga pengembang piranti lunak berkualitas yang tidak kalah dibandingkan pekerja IT di negara mereka sendiri.

Forbes 2019 Powerful Women Panel Session - Jakarta - 2019 (foto: courtesy).

Forbes 2019 Powerful Women Panel Session – Jakarta – 2019 (foto: courtesy).

Ketika ditanya mengenai pengetahuan dan keterampilan digital yang dibutuhkan di lapangan pekerjaan, Ken menyebut talenta ABC, yang meliputi artificial intelligence, big data dan cloud computing. “Jadi ini 3 skill yang sekarang sudah banyak banget dicari dan ke depannya juga akan masih lebih banyak lagi dicari.”

Studi Korn Ferry memproyeksikan semua negara kecuali India pada tahun 2030 akan menghadapi defisit talenta dalam bidang teknologi, media dan telekomunikasi, termasuk Indonesia.

Malik yang pernah membuat start-up kemudian mengurusi fitur-fitur pembayaran, logistik, customer support improvement sebagai seorang produk manajer terus menambah pengetahuan dan mempertajam keahlian dalam bidang e-commerce. “Nah, itu pertama kali aku bermain dengan big data, machine learning atau cloud technology. Bersyukur sekali, saya bertemu Geekhunter yang sudah kenalin saya ke Bukalapak.”

Teknologi sendiri tidak dapat meningkatkan produktivitas yang diharapkan jika tidak ada cukup pekerja dengan keterampilan yang tepat. Demikian halnya Malik dan Ken yang terus mengasah ketrampilan, merekrut para pekerja IT Indonesia sekaligus mempertemukan dengan perusahaan, tempat pekerjaan yang mereka impikan. [mg/ka]

Seiring berjalannya waktu, teknologi yang kita kenal semakin mengalami perkembangan yang fantastis. Berawal dari hasrat yang manusia dambakan untuk memiliki kontrol yang simpel, terstruktur, dan efisien dalam menjalani kehidupan sehari-hari, hingga terciptalah bibit-bibit kemunculan teknologi tersebut. Prinsip Internet of Thing (IoT) telah diadopsi dalam sebuah inovasi brilian pada teknologi masa kini. Sistem fantastis ini disebut Smart Home System.

Smart Home System di Indonesia mungkin masih asing bagi telinga kita. Akan tetapi, dengan budaya transformasi teknologi Indonesia yang bisa dibilang sangat cepat, maka sistem komputerisasi yang mampu memudahkan kehidupan manusia ini akan sangat potensial untuk menjadi hal lumrah yang baru di sini.

Smart IR Control: Satu Kontrol untuk Satu Kehidupan

Smart IR System Control
Smart IR System Control

Bayangkan. Hari itu, profis pulang ke rumah dengan rasa lelah setelah bekerja seharian. Saat sampai, profis mendapati lampu dan pendingin ruangan telah menyala. Siapa yang menyalakan? Tentu saja sistem timer yang sebelumnya telah disetel agar ketika profis sampai di rumah, semuanya telah aktif dengan secara otomatis.

Tak harus menerapkan timer, sistem kontrol ini juga bisa dioperasikan secara manual. Menyalakan dan mematikan televisi, membuka dan menutup tirai, menyetel musik dari speaker, memadamkan kompor listrik yang profis lupa matikan, bahkan hingga menutup dan mengunci pintu, semuanya tercakup dalam sistem pengontrol tersentral yang disebut Smart IR Control. Nantinya, Smart IR Control ini dapat terkoneksi dengan smartphone milik profis, sehingga profis tidak perlu direpotkan dengan remot tambahan.

Selain itu, Smart Home System juga bisa diintegrasikan dengan monitor layar sentuh. Pada layar itu, fitur-fitur pengontrol di atas bisa profis setel. Ada juga beberapa indikator lain seperti suhu dan kelembaban udara ruangan, hingga notifikasi lain yang berhubungan dengan seisi rumah. Misalnya, ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun profis lupa mengunci pintu. Sistem akan mengirimkan pemberitahuan agar keamanan rumah tetap terjaga.

Cara kerjanya juga tidak serumit yang dikira. Di Indonesia sendiri, sudah banyak perusahaan yang menjual alat-alat yang dibutuhkan sekaligus instalasinya. Biayanya pun tak semahal yang profis bayangkan. Apalagi jika gemar bereksperimen, profis bisa juga mencoba melakukan instalasi sendiri, mengingat tutorialnya juga sudah banyak bertebaran di YouTube. Yang profis perlu sediakan yaitu biaya untuk internet, mengingat sistem ini membutuhkan jaringan nirkabel untuk tetap terhubung dengan smartphone dan biaya pemakaian listrik tentunya.

Kombinasi dengan Barang Unik dan Murah dari China

Smart and Unique System biasanya ditanamkan pada barang-barang China
Smart and Unique System biasanya ditanamkan pada barang-barang China

Tak dapat dipungkiri, Indonesia mulai kebanjiran barang-barang unik imporan China semenjak 2018 silam. Tak hanya murah, barang-barang tersebut juga sangat mudah didapatkan di ecommerce lokal. Aura kecanggihan di rumah bisa profis kembangkan lagi dengan mengkombinasikan semua sistem yang modern ini dengan barang-barang unik tersebut.

Seperti contoh, lampu speaker yang saat ini sedang viral. Bohlam lampu yang dilengkapi pengeras suara ini tentunya akan menambah kesan elegan pada rumah profis. Harganya pun tak mahal, bahkan beberapa penjual di ecommerce mematok harga di bawah seratus ribuan, loh! Dan itu hanya satu contoh. Karena selain lampu speaker ini, masih banyak barang-barang lain yang dapat menambah nilai unik dari rumah profis.

Meskipun belum semua barang-barang tersebut kompatibel dengan Smart IR Control, namun di masa mendatang apabila pertumbuhan implementasi Smart Home System melonjak, maka tak menutup kemungkinan para produsen akan menciptakan terobosan baru dimana semua barang-barang unik itu dapat terintegrasi dengan Smart IR Control, sehingga konsep Smart Home semakin menguat.

Konsep Smart Home Mulai Dilirik oleh Pengembang Properti

Ilustrasi Rumah di Komplek Smart Home
Ilustrasi Rumah di Komplek Smart Home

Pada kota-kota besar di pulau Jawa, beberapa pengembang properti mulai melirik sistem ini. Pengembang-pengembang raksasa seakan berlomba-lomba untuk membuat komplek perumahan yang setiap unitnya sudah full furnished dan dilengkapi sistem ini. Hal ini lumrah, mengingat usia pekerja produktif di Indonesia pada masa ini cukup tinggi.

Strategi para pengembang properti ini pun beragam. Mulai dari inovasi untuk menyediakan productive space, hingga harga yang diketok serendah mungkin, maka peminat dari rumah-rumah yang mereka kembangkan akan semakin tinggi. Yang artinya, menambah angka pengguna sistem rumah pintar di Indonesia.

Orang-orang muda pada era sekarang kebanyakan menjunjung tinggi kemudahan dan keunikan. Tentunya, Smart Home System adalah jawabannya. Dimana pada sistem ini, segala sesuatu dapat berjalan dengan mudah, cepat, dan tentunya membuat kita semakin akrab dengan teknologi. Ini merupakan sebuah kabar baik, karena dengan ini, Indonesia mulai bergerak ke arah negara yang modern. Satu dari banyak indikator yang membuat eksistensi merah putih semakin dipandang di dunia.

Inilah Masa Depan

Ilustrasi Smart Home di Masa Depan
Ilustrasi Smart Home di Masa Depan

Tak dapat dipungkiri, prediksi akan membludaknya rumah yang dilengkapi konsep Smart Home tentunya sangat realistis. Dengan segala kemewahan, kemudahan, dan tentunya biaya yang tak terlalu merobek kocek, angka rumah-rumah yang menerapkan sistem ini berpotensi mencapai puluhan ribu dalam beberapa tahun mendatang.

Inilah awal dari segala sistem yang modern. Setelah hadirnya smartphone yang dianggap sebagai barang paling canggih, Smart Home pun muncul. Dan jika waktu dimana konsep ini telah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah telah tiba, maka inovasi lain akan muncul. Kendaraan terbang, energi ramah lingkungan, dan gebrakan-gebrakan tak terduga lain yang tentunya akan sangat menopang kehidupan manusia.

Jika penerapan Smart Home System berhasil menyabet setidaknya enam puluh persen rumah di Indonesia, maka selamat. Indonesia telah maju lebih jauh sebagai negara yang modern, melek teknologi, dan tentunya dapat lebih produktif.

Siapa sangka kalau negara kecil yang pernah menjajah kita itu memiliki keterampilan agraria yang lebih hebat dibanding dengan Indonesia? Pertanian modern Belanda-lah yang membuat kemampuan mereka menjadi raksasa kedua dalam pengekspor hasil tani. Dan ini bukan hanya di Eropa, melainkan seluruh dunia. Mengalahkan ratusan negara lain yang lahannya lebih luas dan tanahnya lebih subur. Bahkan, ekspor hasil pertanian Belanda mencapai nilai perkiraan 94,5 miliar Euro (1 Euro = 16 ribu rupiah) pada 2019.

Pemerintah Belanda beberapa puluh tahun silam telah paham. Lahan di negara mereka kecil, letak geografis tak bisa membuat mereka produktif di sisi pemenuhan pangan di sepanjang tahun, serta penduduk mereka tidaklah sebanyak negara lain. Kelemahan itulah yang mendorong hasrat mereka untuk memodernisasi pertanian, sehingga aktivitas agraria tak melulu mengandalkan bantuan alam secara natural.

Universitas Wageningen, Pengusung Pertanian Modern Belanda

Universitas Wageningen di Belanda
Universitas Wageningen di Belanda

Bersama Universitas Wageningen, pemerintah Belanda bersinergi untuk mempelajari pertanian dengan ilmu sains. Riset dan penelitian yang mereka lakukan juga tak tanggung-tanggung. Tak heran, banyaknya uang yang pada tahap awal digelontorkan kini terbayar lunas dengan eksisnya nama Belanda di pasar pertanian.

Di Eropa, terdapat sebuah program yang bernama subsidi pertanian. Kerennya, Belanda adalah negara dengan status penerima subsidi terendah. Dari 59 miliar Euro anggaran pertanian Uni Eropa, Belanda hanya menerima sekitar 800 juta Euro. Dan dana tersebut, hampir seluruhnya dialokasikan untuk mendanai proyek menakjubkan yang ditelurkan oleh Universitas Wageningen.

Infografik Subsidi Pertanian Belanda
Infografik Subsidi Pertanian Belanda

Pemerintah Belanda juga menerapkan sistem yang unik bagi individu petani yang menerima subsidi tersebut. Setelah menerima dana, lahan milik petani akan dicek dan diteliti lebih dulu oleh pemerintah Belanda bersama ilmuwan dari Universitas Wageningen. Kemudian, pihak ilmuwan akan mengeluarkan rekomendasi tanaman yang paling ideal ditanam di lahan tersebut. Hal itu tentunya dapat membuat kegiatan pertanian lebih ekonomis dan tepat sasaran.

Dalam programnya, Universitas Wageningen akan meneliti berapa banyak air yang dibutuhkan satu jenis tanaman. Setelahnya, mereka akan membuat formulasi khusus yang dapat membuat kegiatan pertanian menjadi lebih hemat, produktif, dan menekan angka gagal panen. Salah satunya, tanaman tomat.

Budidaya Tomat dalam Ruangan di Belanda
Budidaya Tomat dalam Ruangan di Belanda

Menanam satu kilo tomat di lahan terbuka membutuhkan 60 liter air. Sementara dengan bantuan pertanian modern Belanda, hanya 15 liter air yang dibutuhkan.

Kombinasi Otak dan Teknologi yang Merupakan Kunci Keberhasilan Pertanian Modern di Belanda

Drone dan Tablet untuk Mengawasi Lahan Pertanian di Belanda
Drone dan Tablet untuk Mengawasi Lahan Pertanian di Belanda

Dengan bantuan komputer dan robot, segala sesuatu yang mustahil menjadi mungkin di tangan Belanda. Upaya pemanfaatan potensi pertanian juga dapat berjalan dengan presisi yang optimal. Mereka mampu menentukan dengan tepat di mana, bagaimana dan efisiensi suatu tanaman dapat tumbuh secara maksimal.

Salah satunya pemanfaatan lampu LED dan penghangat ruangan. Pertanian modern di Belanda mengusung konsep pertanian di dalam ruangan. Dengan bantuan cahaya LED yang dimodifikasi agar serupa dengan cahaya matahari, serta penghangat ruangan yang intensitasnya sesuai dengan suhu sinar ultraviolet, maka produktivitas pertanian dapat berjalan sepanjang waktu. Sekalipun pada saat musim dingin.

Selain itu, adapula konsep pertanian vertikal. Dimana tanaman dibuat dengan konsep hidroponik dan disusun secara vertikal. Susunan ini tentunya akan menghemat ruang penanaman, dan sudah pasti dapat meningkatkan hasil dari kegiatan pertanian itu sendiri.

Perkenalkan, Greenbot. Traktor robot yang bukanlah merupakan benda asing lagi bagi petani Belanda. Robot akan mengikuti jalurnya pada rute yang telah diprogram. Robot jenius ini juga akan berhenti secara otomatis jika dihalangi oleh hambatan, dan petani pengelolanya akan diinformasikan melalui pesan teks.

Tak hanya pembajakan lahan, robot-robot lain pun turut berkontribusi dalam pengelolaan sistem pengairan, hingga proses pemetikan saat musim panen telah tiba.

Dan atas seluruh bantuan teknologi yang dikombinasikan dengan otak yang tak lelah mencari inovasi, pertanian di Belanda dapat menjadi besar dan seteratur itu.

Pertanian Terorganisir yang Memikirkan Pula Tentang Keseimbangan Alam

Kawasan Pertanian di Utara Belanda
Kawasan Pertanian di Utara Belanda

Banyak wilayah di Belanda yang berada di dataran rendah. Selain itu, dua sungai besar di Eropa, sungai Meuse dan Rhine, bermuara di kawasan Belanda. Praktis, negara kincir angin ini memiliki potensi diserang banjir dengan frekuensi yang lumayan bilamana terjadi hujan lebat maupun salju di negara dataran tinggi, seperti Jerman dan Belgia.

Pemerintah Belanda yang menyadari celah ini telah melakukan antisipasi sejak tiga puluh tahun silam. Selain pembangunan tata wilayah yang dimodifikasi sedemikian rupa agar tidak terlalu merusak alam, mereka juga membuat agar tanah tetap cocok untuk dihuni dan dijadikan lahan produktif oleh penduduknya.

Di musim dingin, lahan-lahan pertanian yang kosong dijadikan sebagai kawasan banjir kanal agar air dapat mengalir dan tertampung dengan baik. Dengan metode dan sikap kooperatif dari para petani yang rela lahannya dijadikan aliran air di musim dingin, Belanda tak perlu lagi repot-repot membangun tanggul raksasa untuk mengatasi potensi banjir.

Selain itu, pemisahan wilayah pertanian dan perkotaan juga dilakukan secara terukur. Kawasan pertanian pun memiliki lahan khusus untuk beberapa habitat asli seperti burung air untuk dapat tetap merasakan kehidupan yang identik dengan spesies aslinya. Bahkan, di beberapa provinsi, dibuat pula cagar alam dan suaka margasatwa yang jauh dari pemukiman manusia agar kesejahteraan hewan dapat terwujudkan.

Dilirik oleh China

Alumni Mahasiswa/i dari Negeri Tirai Bambu di Belanda
Alumni Mahasiswa/i dari Negeri Tirai Bambu di Belanda

China diketahui merupakan salah satu negara yang cukup gemar mengirimkan mahasiswanya untuk menuntut ilmu ke Belanda. Mengingat besarnya populasi di China, pemerintah China merangsang pemuda-pemudi mereka untuk belajar di Universitas Wageningen. Dengan cara ini, China berharap mendapatkan pengetahuan tentang produksi massal barang-barang pertanian dan teknologi pertanian.

Tak hanya pemuda-pemudi China, orang-orang pemerintahan di China pun demikian. Mereka terus menjaga hubungan baik dengan Belanda dengan cara melakukan kunjungan rutin dengan harapan mendapat inspirasi mengenai pertanian modern di Belanda. Dengan cara ini, China optimis dapat mencukupi kebutuhan pangan warga mereka yang menyentuh angka miliaran.


Jujur, akuilah bilamana industri agraria Indonesia kalah dari Belanda, telak. Negara kita dikenal sebagai negara agraris, namun impor bahan makanan masih saja diberlakukan di sini. Sementara Belanda, lahannya kecil dan penduduknya jauh lebih sedikit, tetapi sanggup untuk merajai pasar pertanian internasional.

Namun bukan berarti kita pun tidak bisa. Selama ada kemauan dan niat yang tinggi dalam pengembangan teknologi dan sumber daya manusia, bukan tak mungkin di masa depan Indonesia akan menyabet predikat yang sama.

Di sisi lain, pengembangan teknologi di bidang pertanian jugalah hal yang mulia. Karena bilamana sebagian besar negara di dunia mampu mengimplementasikan sistem modern ini, maka niscayalah. Kelaparan akan sirna dari atas bumi manusia.