MALUTPOST.TOBELO – Bencana banjir yang melanda tujuh kecamatan di Halmahera Utara (Halut), Sabtu (16/1) menyebabkan ribuan jiwa mengungsi. Merespon bencana ini, Majelis Wilayah Provinsi Maluku Utara Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) bersama dengan Majelis Daerah KAHMI Halmahera Utara dan Komisariat HMI Tobelo langsung menggalang bantuan dan menyalurkan kepada para pengungsi di Galela dan Kao, Halut.

“Penyaluran tahap pertama hari ini, KAHMI fokus kepada para pengungsi di kecamatan Galela. Insha Allah tahap kedua KAHMI akan salurkan kepada pengungsi di Kao Barat,” kata Seketaris Umum Majelis Wilayah KAHMI Malut, Hasby Yusuf, kemarin (18/1). Penyaluran di Kecamatan Galela KAHMI fokus pada lima titik pengungsi korban bencana banjir. Yaitu Desa Simau, Togawa, Soakonora, Igobula, dan titik pengungsian di Gereja Duma. Bahan bantuan yang disalurkan terdiri dari beras, minyak kelapa, teh, kopi, gula, supermie, makanan ringan dan tikar.

Hasby berharap, bantuan ini bisa meringankan beban para korban bencana khususnya mereka yang masih bertahan di lokasi pengungsian. “Kami berdoa bencana cepat berlalu dan masyarakat kembali beraktiftas seperti sediakala,” ujarnya. Ketua BKPRMI Malut ini juga berharap solidaritas kemanusiaan tetap terjaga.

Setiap bencana harus mengajarkan bahwa kemanusiaan itu lintas etnis dan agama. Membantu bukan karena kesamaan agama juga bukan karena kesamaan etnis tetapi karena panggilan nurani kemanusiaan. “KAHMI tentu akan terus peduli setiap bencana yang terajadi dan berharap pemerintah untuk lebih tanggap dalam melakukan respon bencana dengan anggaran sadar bencana. KAHMI berharap pemerintah mengevaluasi setiap kebijakan investasi dan lingkungan yang mengakibatkan bencana banjir terus terjadi di beberapa daerah di Indonesia dan terkhusus di Maluku Utara,” pungkasnya. (rls/rul)

MALUTPOST-TOBELO. Baru Senin (23/11) lalu, kita dikejutkan dengan aksi nekat salah satu remaja di Kecamatan Tobelo Utara, Kabupaten Halmahera Utara (Halut) yang mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Rabu (25/11) kemarin, peristiwa yang sama kembali terjadi. Kali ini peristiwa tersebut terjadi di Kecamatan Tobelo Tengah, tepatnya di Desa Kali Pitu. Tragisnya, korban bunuh diri hanya karena peristiwa sepele. Berdasarkan informasi yang dihimpun Malut Post, korban kasus gantung diri ini adalah RM alias Ripka (57). Ibu paruh baya yang diketahui adalah warga Esa WKO, Tobelo Tengah ini nekat gantung diri di rumah kebun mereka.

Mayat korban pertama kali ditemukan sang suami Yohanes Matameng, sekira pukul 07.00 WIT. Yohanes menceritakan, sebelum korban gantung diri pada Senin lalu, dia sempat terjadi cekcok dengan sang istri. Cekcok itu dikarenakan, ayam peliharaannya hilang. “Jadi waktu itu sekitar pukul 18.00 WIT, saya baru pulang membawa bentor, tiba-tiba istri saya marah. Karena seluruh ternak ayamnya hilang. Dia menuduh saya yang menjual ayam-ayam itu,” kenangnya.

Meski begitu, setelah sang istri marah, masalah tersebut lalu diselesaikan. Karena menganggap masalah itu sudah selesai, dia tidak lagi mengambil pusing. Lalu, keesokan harinya, Selasa (24/11), sang istri meminta izin ke Desa Kali Pitu untuk mengambil bambu. Yohanes sempat menawarkan tumpangan pada korban untuk ke Desa tujuan, namun ditolak.

Korban saat itu juga berpesan, jika dirinya tidak ada lagi maka jangan ditangisi. Karena, korban akan pergi jauh. Setelah menyampaikan itu korban lalu buru-buru pergi keluar rumah. “Karena firasat saya tidak enak, sekitar jam 7 pagi, saya lalu menuju ke Desa Kali Pitu. Setelah sampai ke rumah kebun, saya melihat korban sudah dalam keadaan gantung diri,” ungkapnya.

Kapolres Halmahera Utara (Halut) AKBP Priyo Utomo Teguh Santoso melalu Kasubag melalui Kasubag Humas. Iptu Mansur Basing, saat dikonfirmasi, membenarkan hal tersebut. Dikatakannya, setelah mendapatkan informasi, petugas langsung turun ke TKP serta mengumpulkan keterangan saksi-saksi. Keluarga korban menolak untuk dialkukan visum dan outopsi. Sehingga suami korban membuat pernyataan untuk tidak lagi ditindaklanjuti peristiwa bunuh diri sang istri tersebut. Sekadar diketahui, di Halmahera Utara (Halut) kasus gantung diri cukup tinggi.

Sesuai data yang dimiliki Polres Halut sepanjang tahun 2020, mulai Januari hingga 25 November terdapat 12 kasus bunuh diri. (cr-04/rul)