MALUT-POST TERNATE Pemenfaat tol laut di kota Tidore kepulauan (Tikep) dinilai tidak maksimal pemanfaatnya. padahal keberadaan tol laut bertujuan untuk menekan disparitas harga antara wilayah. Ini diakui kepala PT pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) Cabang Ternate, Djasman baru-baru ini.

Djasman menjelaskan, Maluku Utara sendiri dilayani dua kapal tol laut yakni kapal logistik nusantara (loknus) 3 Loknus 5. Rute pelayaran Loknus 3, yakni dari surabaya Makassar jailolo Morotai Suarabaya. sedangkan Loknus 6 dimulai dari Surabaya Tidore Maba Buli Weda kemudian balik lagi ke surabaya.

Namun muatan angkut lebih banyak rute Morotai, ketimbang Tikep. Ini karena menurut dia penetapan tol laut di area Tikep tidak tepat sasaran, lantaran minim potensi,. ” yang punya potensi itu di Oba pulau Halmahera. kalau sekarang pelabuhan angkutan Trikora menjadi tidak maksimal, ” ujarnya.

Dia mengaku di Tikep memnag ada barang angkut hasil laut seperti ikan, tapi hanya sedikit. sehingga pemanfaatnya menjadi tidak maksimal. Kata dia, maslah ini sudah dikoordinasikan dengan pihak pemerintah kota (pemkot) Tikep. Bahkan tahun lalu pemkot telah menyampaikan surat ke kementerian perhubungan untuk pindakan rute tol laut dari pelabuhan Trikora Tikep ke Oba. sayangnya belum disetujui sampai sekarang. ” PELNI sebagai operator, tetap menjalankan instruksi pusat untuk melayani rute Tidore. Walaupun barang angkutannya tidak maksimal, ” akunya.

Dia mengaku Malut memiliki potensi angkutan balik yang cukup. Diantaranya potensi hasil bumi salah satunya kopra. Namun potensi itu lebih banyak di Oba bukan di pulau Tidore. karena itu, lebih baik ada rute ke Oba dengan memanfaatkan pelabuhan Gita,” kalau itu dimungkinkan, maka hasil bumi masyarakat Halmahera bisa diangkut melalui tol laut dengan biaya yang lebih murah. kan tujuan pemerintah menyediakan tol laut untuk mengurangi terisolasi masyarakt dan menekan biaya angkutan antara pulau, ” sambungan

Untuk saat ini lanjut dia, potensi angkutan muatan balik seperti hasil bumi da laut, tertinggi tinggi di Morotai, Jailolo, Weda dan Galela. Setiap tahun rata-rata 120 kontainer. kendati begitu, dia mengaku untuk tahun ini menurun karena lagi menunggu massa produksi kayu. ” kopra tetap dominan, 50 persen dari total muatan, ” katanya sembari menyampaikan, biaya angkut perkontainer dipatok RP 5,1 juta. (mg-01/udy)