Kemana orang Singapura berlibur? – Memiliki kawasan seluas 719 kilometer persegi, Singapura hanya sedikit lebih luas dari Jakarta (661 kilometer persegi). Kondisi ini membuat wilayah di Singapura cukup padat, sehingga masyarakat “Kota Singa” itu memiliki keterbatasan akses untuk hiburan.

Memang, terdapat beberapa tempat wisata kelas dunia di sana. Akan tetapi, jumlah yang terbatas tentunya membuat masyarakat Singapura cenderung mencari alternatif berlibur di luar negaranya.

Uniknya, kebiasaan berlibur orang Singapura ke luar negeri membentuk fenomena yang cukup menarik untuk diulas. Situasi tersebut membentuk segmen tersendiri yang seakan menjadi ciri khas setiap kategori dalam menentukan lokasi berlibur mereka.

1) Golongan Konglomerat dengan Umur 30 Tahun Keatas

Jamie Chua, konglomerat Singapura saat berlibur ke Jaipur, India
Jamie Chua, konglomerat Singapura saat berlibur ke Jaipur, India

Orang-orang ini akan memilih untuk berlibur ke negara-negara yang justru aneh di telinga para pelancong negara lain. India, Mesir, Switzerland, dan Afrika Selatan adalah favorit mereka.

Mengapa mereka memiliki destinasi ini? Mengapa tidak keliling Eropa atau Amerika? Jawabannya, karena mereka sudah bolak-balik ke sana saat kunjungan bisnis. Alhasil, lokasi mainstream tidak masuk ke bucket list mereka lagi.

2) Golongan Konglomerat dengan Umur 30 Tahun Kebawah

Para anak muda tajir ini lebih memilih menghabiskan waktunya untuk belanja baju di Paris, make-up di Amerika, dan berpesta di Beach Club Bali. Bali jadi destinasi favorit anak muda Singapura, karena selain pantainya yang indah, Bali juga memiliki wisata kuliner yang lezat bagi mereka.

Masakan Singapura tidak memiliki rasa yang sekuat masakan Indonesia, sehingga mereka cinta sekali dengan makanan Indonesia. Anak muda tajir melintir Singapura juga tidak pernah ketinggalan konser bergengsi macam Coachella.

3) Golongan Menengah dengan Umur 30 Tahun Keatas

Penjual di Jepang yang Melayani Turis Singapura yang Berlibur
Penjual di Jepang yang melayani turis Singapura yang berlibur

Mereka akan memilih untuk liburan di sekitar Asia Timur seperti beberapa kota di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan RRT. Agendanya biasanya berburu kuliner. Golongan ini memilih destinasi tersebut karena cenderung lebih terjangkau.

4) Golongan Menengah dengan Umur 30 Tahun Kebawah

Destinasi berlibur orang Singapura golongan bawah dengan umur di bawah 30 tahun
Destinasi berlibur orang Singapura golongan bawah dengan umur di bawah 30 tahun

Kalau anak mudanya, tentu saja lebih memilih ke tempat-tempat rekreasi seperti Disneyland Jepang dan Hongkong, atau Everland Korea Selatan. Ada juga yang sekedar berbelanja di Taiwan, bahkan main judi di Macau.

5) Golongan Bawah Semua Umur

Batam, destinasi berlibur favorit masyarakat Singapura golongan bawah
Batam, destinasi berlibur favorit masyarakat Singapura golongan bawah

Khusus golongan ini, tidak ada diferensiasi umur. Ya, seperti gambar di atas, Batam adalah destinasi utama para pelancong dengan golongan ini dalam menghabiskan waktu berlibur.

Ada beberapa alasan mengapa Batam menjadi destinasi favorit. Namun yang paling utama adalah karena jaraknya yang dekat, akses dan harga di sana juga bisa dibilang cukup murah bila dibandingkan dengan perekonomian masyarakat Singapura golongan bawah sekalipun.


Jadi, sudah tahu kan kemana orang Singapura berlibur?

Fikha Lismasari, ibu rumah tangga dengan tiga anak, biasanya berjalan-jalan sekeluarga pada masa liburan. Namun pandemi COVID-19 yang tidak jelas kapan berakhir ini, membuatnya enggan bepergian. Setelah berbulan-bulan tinggal di rumah saja, ia melihat tayangan mengenai tur virtual di televisi. Ditambah informasi dari sejumlah postingan di Facebook, ia pun akhirnya memperkenalkan wisata tersebut kepada anak-anaknya.

Seperti apakah tur virtual itu? Idfi Pancani, pemandu tur virtual, mengemukakan itu adalah kegiatan, “Di mana kita berjalan-jalan tidak seperti dalam kondisi riil, tetapi kita buat seolah-olah kita sedang berada di tempat yang sesungguhnya, dengan menggunakan platform serta media dan teknologi yang ada.”

Idfi Pancani, pemandu wisata virtual. (Photo courtesy: private)

Idfi Pancani, pemandu wisata virtual. (Photo courtesy: private)

Pada awalnya, acara jalan-jalan virtual ini memikat Fikha karena biaya yang dikutip penyelenggara adalah seikhlasnya. Tetapi begitu mengikutinya, ia melihat bahwa konten yang dikemas penyelenggara sangat menarik. Bukan hanya hiburan, peserta jalan-jalan juga memperoleh ilmu.

Misalnya, dalam perjalanan pertama yang mereka pilih, ke Amerika, pemandu mengemukakan, “Di Amerika ada Niagara Falls lho. Niagara Falls itu bukan air terjun tertinggi. Yang tertinggi apa ya? Ternyata di Venezuela. Kita diajak ke Venezuela. Tapi ini bukan yang tercantik, yang tercantik ternyata ada di Indonesia. Kemudian kita diajak ke Indonesia melihat air terjun yang cantik.”

Memperkenalkan keindahan salah satu destinasi wisata tercantik di dunia yang berlokasi di Indonesia, juga menjadi tujuan Ranny Iriani Tumundo. Ketua DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia Raja Ampat ini mengemukakan, meskipun tidak bertemu langsung dengan para peserta, kegiatan itu pada dasarnya menyenangkan karena ia mendapat kesempatan memberi edukasi mengenai Raja Ampat. Tetapi Ranny tidak ingin sekadar mempromosikannya.

“Saya ingin orang tahu bahwa Raja Ampat bukan hanya masalah indahnya laut atau alam lalu ayo datang. Tetapi begitu datang, ketika mereka pulang itu membawa apa. Masyarakat yang tinggal di sana, budayanya, mereka juga perlu dikenal dan diangkat. Jadi ketika tamunya benar-benar datang, dalam actual tour, mereka bisa melihat langsung yang mungkin dapat membantu perekonomian masyarakat.”

Peserta wisata virtual yang dipandu Ranny beragam. Ia pernah berkolaborasi dengan Idfi yang memiliki jadwal tetap memandu wisata virtual khusus untuk anak-anak melalui acara #piknikbarengidfi. Selebihnya ia berkolaborasi dengan berbagai pihak memandu peserta dewasa dari berbagai kalangan, termasuk orang-orang asing. Pengalaman menarik lainnya adalah mengisi acara perayaan ulang tahun dengan menyelenggarakan jalan-jalan ke Raja Ampat secara virtual.

Ketua DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia Raja Ampat, Ranny Iriani Tumundo (tengah). (Foto courtesy: privat)

Ketua DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia Raja Ampat, Ranny Iriani Tumundo (tengah). (Foto courtesy: privat)

Ranny mengatakan ia memandu rata-rata sekitar 70 peserta, meski pernah pula ia memandu hingga hampir 100 peserta. Sekarang dengan semakin banyaknya wisata virtual, ia melihat ada penurunan peserta. Sedangkan Idfi pernah memandu hingga 200 orang, sewaktu ia mengadakan perjalanan virtual ke Paris.

Perjalanan ke luar negeri secara virtual memang menyenangkan, jelas Idfi. “Bukan murah juga sih, tapi murah banget. Tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, tidak perlu apply visa, tidak perlu pesan tiket, hanya dengan beberapa ribu rupiah, peserta dapat mencapai negeri impiannya.”

Berdasarkan destinasi atau konten, Idfi bisa menerapkan harga 25 ribu hingga 100 ribu rupiah. Meskipun begitu, ia juga menyelenggarakan kegiatan di mana peserta dapat membayar seikhlasnya.

Sementara itu, pengalaman apa yang disajikan oleh Ranny dalam jalan-jalan virtualnya? Karena Raja Ampat terkenal di dunia sebagai destinasi wisata premium dengan julukan “Surga Dunia di Bawah Laut,” Ranny juga mengajak peserta turut menyelam secara virtual. Selain merinci cara mengenakan peralatan selam, dalam konten yang disusunnya sendiri, ia juga berbagi tips selama menyelam.

Ranny Iriani Tumundo, mengajak peserta wisata virtual untuk ikut 'menyelam' dan menikmati keindahan bawah laut di Raja Ampat. (Foto courtesy: pribadi)

Ranny Iriani Tumundo, mengajak peserta wisata virtual untuk ikut ‘menyelam’ dan menikmati keindahan bawah laut di Raja Ampat. (Foto courtesy: pribadi)

Berdasarkan komentar peserta, ternyata tur virtual memiliki fungsi lain. Ranny mengatakan, “Sebelum orang ke destinasi, mereka jadi mengumpulkan informasi banyak-banyak. Oh iya, tampilannya akan seperti ini yang akan kita lihat. Jadi virtual tour punya fungsi juga seperti itu sekarang menurut menurut saya. Ada beberapa tamu atau peserta virtual tour langsung bilang, ‘Oh, seperti itu, ya. Aduh, kepengen, kepengen. Jadi minat untuk datangnya bis dipicu, distimulasi dari virtual tour.”

Mengapa Ranny tidak memiliki jadwal sendiri dan lebih senang berkolaborasi? Baginya cara ini tidak begitu riskan dibandingkan dengan memandu dan mengoperasikan peralatan kerjanya sekaligus. Alasan lainnya? Masalah jaringan atau koneksi Internet di tempatnya yang tidak stabil.

Tetapi masalah terakhir itu bukan hanya dihadapi oleh Ranny di Papua. Fikha yang bermukim di sekitar Jakarta juga mengemukakan masalah yang sama. Namun demikian, ini tidak menghalangi keinginan keluarganya untuk kembali mengikuti kegiatan jalan-jalan virtual ke luar negeri. Meskipun belum pernah mengikuti perjalanan dengan sesama orang dewasa, ia sudah merasa senang dan menikmati perjalanan virtual bersama anak-anaknya ke Amerika, Perancis, Jepang, Korea dan Swiss.

Fikha Lismasari bersama tiga buah hatinya. (Foto courtesy: pribadi)

Fikha Lismasari bersama tiga buah hatinya. (Foto courtesy: pribadi)

Cerita lucu disampaikan oleh Fikha. Ia menyebarkan informasi mengenai tur virtual itu ke grup orang tua murid di aplikasi WhatsApp. Akhirnya, dalam perjalanan virtual pertama ke Amerika, anaknya senang karena dapat bertemu dengan teman-temannya. “Terus akhirnya mereka janjian lagi. ‘Nanti kita ke Paris ya, nanti kita ke London ya,” jelasnya.

Idfi menegaskan bahwa kegiatan virtual ini memang menjadi sarana mengobati kerinduan untuk berjalan-jalan lagi. Tetapi lebih dari itu, ia memandang bahwa inilah sarana bagi para pelaku wisata dalam ikhtiar mereka mencari rezeki, yang sempat terhenti karena pandemi. [uh/ab]