Ini bukan bukan bisnis haute couture atau adibusana. Tapi bagi Fredi, bisnis yang satu ini memberinya ruang untuk mencurahkan aspirasi seninya di bidang rancang busana sekaligus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Setelah berhenti mengajar karena gaji yang kecil, Fredi sebetulnya mencoba berbagai bisnis, termasuk membuka bengkel sepeda motor. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Begitupun ketika ia membuka toko jahit pakaian pinggir jalan di Bogor.

Peruntungannya berubah setelah ia berbincang-bincang dengan kakak dan keponakannya yang gemar memelihara kucing. Mereka mengusulkan, mengapa ia tidak mencoba bisnis pakaian kucing.

Foto-foto pakaian kuncing (koleksi pribadi Fredi Lugina)

Foto-foto pakaian kucing (koleksi pribadi Fredi Lugina)

“Awalnya saya anggap itu aneh. Masak sih kucing atau anjing mengenakan pakaian? Tapi setelah saya search dan lihat di Google, eh lucu juga kalau kucing atau hewan pakai pakaian,” kata Fredi.

Bisnis pakaian kucing ini dimulainya sejak 2017. Awalnya terkesan kurang menjanjikan. Fredi menawarkan pakaian-pakaian kucing hasil karyanya secara online lewat media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Ia juga memasarkannya ke toko-toko hewan dengan sistem konsesi, dan sesekali menerima pesanan khusus. Namun, seiring perjalanan waktu, dan makin populernya sosial media, permintaan pun makin meningkat.

Semasa pandemi, pria berusia 39 tahun ini mengaku, bisnisnya meningkat 20 hingga 30 persen. Ia kini sibuk menerima pesanan dari para pemilik hewan peliharaan yang ingin kucing atau anjing mereka berpakaian mirip Superman, Thor, atau tokoh-tokoh imajinasi lain. Tak sedikit juga pecinta hewan yang memesan pakaian seragam perawat, polisi, tentara atau bahkan busana Muslim. Beberapa pelangganya bahkan dari luar negeri.

Foto-foto pakaian kucing (Koleksi Pribadi Fredi Lugina)

Foto-foto pakaian kucing (Koleksi Pribadi Fredi Lugina)

Setiap bulannya Fredi kini meraup pendapatan sekitar 2,5 hingga 3 juta rupiah. Pakaian-pakaian itu dipasarkan dari harga 100 ribu hingga 150 ribu rupiah per potong.Sesekali Fredi menerima pesanan khusus dan harganya bisa melambung hingga lima ratus ribu rupiah.

Risma Sandra Irawan, seorang warga Jakarta, adalah satu pelanggan setia Fredi. Risma mengaku, ia rajin membeli pakaian kucing sekedar untuk bersenang-senang dan menyalurkan stres.

Ia telah membeli sedikitnya 30 pakain untuk kucing kesayangannya, Sogan. Ia bahkan tak jarang memesan khusus pakaian untuk acara-acara khusus seperti Idul Fitri dan Natal.

“Karena aku kan punya TikTok untuk kucing aku. Follower-nya itu sudah 60 ribu. Karena semakin banyak follower, aku makin kreatif. Semakin banyak gaya dan pakaian yang aku harus punya,” katanya.

Komang Trisanti gemar kenakan pakaian untuk kucing kesayangan (koleksi pribadi).

Komang Trisanti gemar kenakan pakaian untuk kucing kesayangan (koleksi pribadi).

Komang Trisanti, juga seorang pelanggan Fredi, mengaku senang memiliki koleksi pakaian untuk empat kucing kesayangannya.

“Sebenarnya untuk lucu-lucuan saja sih. Karena saya kan punya beberapa kucing. Saya tuh suka banget sama kucing. Iseng-iseng saya melihat iklan di aplikasi Marketplace, ada yang jual pakaian kucing. Saya beli, eh ternyata lucu ketika dikenakan ke kucing saya,” komentarnya.

Menurut Fredi, sementara banyak orang yang menilai pakaian-pakaian hasil karyanya menarik, tak jarang ia mendapat kritikan di media sosial terkait kesejahteraan hewan. Seorang warga Amerika, katanya, pernah mengecamnya karena dengan memproduksi pakaian hewan seperti membuka peluang terjadinya perlakuan keji terhadap hewan.

Fredi sendiri tidak membantahnya, dan ia selalu menyarankan para pelanggannya untuk tidak terlalu lama mengenakan pakaian pada hewan peliharaan mereka untuk menghindari terjadinya stres pada hewan.

“Produk saya ini hanya sekadar aksesoris. Hewan itu sudah memiliki pakaian yang paling sempurna, yang diberikan oleh Tuhan, yaitu bulu-bulu mereka,“ jelas Fredi.

Menyusul booming foto atau video di media sosial tentang hewan peliharaan yang didandani, dan seringkali dengan pose atau pakaian yang semakin aneh, beberapa kelompok kesejahteraan hewan telah mengeluarkan pedoman untuk membuat pemilik lebih sadar akan tanda-tanda stres yang mungkin dialami hewan peliharaan mereka. [ab/uh]

MALUTPOST-TERNATE. Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Ternate masuk ke jaringan swalayan Alfamidi di Kota Ternate sejak 15 November. Tercatat ada 1 jenis produk.

Branch Manager Alfamidi Manado, Deni Firmanto mengatakan, apa yang mereka lakukan sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi daerah dengan mengerakkan UMKM. “Kita tidak hanya dukung dari segi investasi tapi UMKM juga. karena itu, kita dorong pelaku UMKM lokal untuk memasarkan produknya di Alfamidi,” ujarnya.

Produk yang dipasarkan yaitu sirup yaitu sirup buah pala, abon ikan, lada putih, lada hitam, kopi rempah, kopi guraka, kacang kenari, bubur kenari, selai kenari, kenari gula merah, kenari krenyes, siput kenari, real choco (creamer). Menurut dia, dengan dipasarkan produk UMKM melalui Alfamidi, maka wisatawan yang ke Ternate bisa membeli oleh-oleh kas daerah di Alfamidi.

Dia menjelaskan sistem penjualan produk ini juga sudah pakai barcode dan berada posisi paling depan, sehingga mudah dilihat pengunjung Alfamidi. “Kita pakai baracode agar bisa transaksi di kasir seperti produk lainnya,” ungkapnya. Dia juga menuturkan produk UMKM termasuk produk UMKM termasuk produk baru yang masuk di Alfamidi, sehingga akan dievaluasi tiap bulan untuk melihat pasarnya. Dia optimistis sambutan pasarkan bagus, karena masyarakat lebih dipermudah untuk mendapat produk lokal. “Alfamidi juga yang kami jual,” pungkasnya (tr-02/onk)

Peliput : Suryani S. Tawari