Rekam Jejak Mona Fandey — Mona Fandey namanya. Penyanyi dari Negeri Jiran ini adalah salah seorang pelaku dalam peristiwa kriminal yang cukup santer di Malaysia pada tahun 90-an silam.

Mona bisa dibilang ambisius dalam mengejar popularitasnya. Namun sayang, karir wanita kelahiran 1956 ini ternyata tak semulus yang ia kira. Meskipun mulai dikenal, namun namanya sempat redup karena kalah bersaing dengan penyanyi lokal lainnya.

Segala upaya ia lakukan untuk mengejar mimpinya menjadi orang terkenal. Bahkan, beberapa sumber media lokal pada masa itu mengatakan bahwa pernikahannya dengan Mohamad Nor Affandi Abdul Rahman—yang di masa itu merupakan pengusaha kaya—adalah salah satu caranya agar mendapat suntikan dana guna melambungkan karirnya.

Tak disangka, Mona Fandey malah memilih untuk banting setir. Melepas statusnya sebagai penyanyi, ia justru tak lagi mengadu nasib di dunia hiburan. Siapa yang mengira kalau pada akhirnya wanita ini memilih untuk menjadi dukun?

Karir Cemerlang di Dunia Perdukunan

Setelah merintis karir sebagai paranormal, justru namanya melejit. Tak hanya popularitas, pundi-pundi uang pun berhasil ia kumpulkan dari praktik pseudo-science yang kala itu masih tertanam kuat di kalangan rakyat Malaysia.

Seiring berjalannya waktu dimana karirnya semakin moncer, datanglah salah seorang klien yang merupakan politisi ternama. Mazlan Idris namanya. Permintaannya sudah bisa ditebak, tak jauh dari kelancaran agar menang dalam kontestasi politik dan kekuasaan.

Merasa telah menjadi dukun dengan rekam jejak yang baik dan jam terbang yang tinggi, tentu saja Mona Fandey tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Biaya yang ia patok untuk klien istimewanya itu sangatlah besar. Mona Fandey meminta Mazlan Idris untuk membawa tanda jadi berupa uang sejumlah RM 300.000. beberapa sumber bahkan mengatakan bahwa politisi itu juga membawa sertifikat tanah sebagai jaminan.

Pembunuhan Mazlan Idris

Sebagai seseorang yang berkonsultasi dengan hal yang dianggap tabu, tentu saja Mazlan Idris merahasiakan kunjungan tersebut ke seluruh anggota keluarga maupun teman-temannya. Kemudian sampailah dimana tanggal kunjungannya tiba.

Mazlan yang saat itu sendirian ke tempat praktik dukun langsung disambut oleh Mona dengan antusias. Kemudian, Mona membawa Mazlan di ruang ritual yang sudah didesain agar memberikan kesan klenik. Di ruangan itu, terdapat pula seorang bernama Juraimi yang merupakan asisten Mona.

Ritual dimulai. Mazlan diinstruksikan untuk berbaring dan memejamkan mata seiring dengan mantra-mantra yang dibacakan oleh Mona. Bukannya diberkati, Mazlan malah harus mati dipenggal di tangan dukun yang ia percayai.

Juraimi sempat kaget. Namun akhirnya ia paham kalau bosnya yang ternyata telah merencanakan semua ini. Masuklah suami Mona ke area pembantaian. Bukannya terkejut karena melihat sesosok mayat dengan kepala yang dipenggal, namun ia malah membantu istri dan karyawannya memutilasi jenazah mayat tersebut. Total bagian yang dimutilasi yaitu sebanyak 18 potongan, dan semuanya dikubur di gudang rumah mereka.

Apa yang terjadi setelahnya? Tentu saja mereka langsung merongrong harta yang dibawa oleh politisi malang itu. Hasil jarahan mereka bagi tiga. Juraimi mendapat uang bagiannya. Dan Mona bersama suami langsung membeli mobil baru serta barang-barang mewah lainnya.

Kejahatan Mereka “Hampir” Sempurna, Sampai Akhirnya…

Beberapa hari kemudian, polisi mendapat laporan kehilangan dari keluarga mendiang. Setelah pengembangan kasus yang cukup rumit, aparat berwajib sempat hampir putus asa mengingat tak ada satupun jejak yang mengarah guna kebutuhan investigasi kasus orang hilang tersebut.

Waktu berselang, sekelompok polisi melakukan operasi penggrebekan terhadap sebuah tempat yang mana di dalamnya diyakini sedang ada pesta narkoba. Sungguh sebuah kebetulan, ada Juraimi di sana. Karena efek dari narkotika dan miras, ia pun teler dan berbicara melantur saat diseret aparat. Di tengah kicauannya, ia malah menyebutkan bahwa dirinya pernah membunuh salah seorang politisi bernama Mazlan Idris.

Mendengar keterangan itu, polisi pun kembali mengembangkan kasus yang padahal hampir saja ditutup. Setelah penelusuran dan interogasi yang ketat terhadap Juraimi, akhirnya polisi berhasil mengungkap kasus pembunuhan yang keji ini dan menemukan lokasi dimana jasad Mazlan berada.

Akhir Hidup Mona Fandey

Dua tahun setelah kasus pembunuhan tersebut, pada 1995 akhirnya pengadilan mengetuk palu agar ketiga pelaku dihukum mati. Beberapa kali banding diajukan, namun semuanya ditolak mentah-mentah oleh hakim yang mengadili kasus fenomenal ini.

Pada 2 November 2001, usia Mona Fandey yang saat itu telah berada di angka 45 pun harus ditutup. Jenis hukuman mati yang ia dapatkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya adalah hukum gantung.

Mengapa Berita Hoax Semakin Mudah Tersebar ? – Milyaran pertukaran informasi terjadi setiap harinya di lalu lintas internet. Seseorang di titik paling timur dapat bertukar kabar dengan individu lain di titik paling barat dalam hitungan detik.

Digitalisasi telah mengubah pola komunikasi manusia di bumi. Terutama semenjak pandemi ini, pertukaran informasi secara daring semakin marak dan masif improvisasinya oleh para penggiat digital.

Globalisasi bisa dibilang adalah pedang bermata dua. Di satu sisi mampu menghapus sekat dan penghambat akibat jarak, namun di sisi lain dapat menciptakan konflik antar sesama akibat misinformasi. Misinformasi ini kebanyakan timbul akibat berita hoax.

Secara umum, berita hoax terbagi menjadi beberapa kategori. Konten bernuansa satire atau parodi, konten menyesatkan, konten tiruan, konten palsu, konten yang salah, dan konten yang dimanipulasi. Semua jenis dari hoax di atas dapat kita temui di internet setiap harinya.

Mereka yang Paling Rentan Termakan Berita Hoax

Orang Marah-marah Karena Hoax

Meskipun berita-berita hoax di atas kerap ditemui di internet, namun sudah banyak pula warganet yang dapat membedakan mana konten asli dan hoax. Apalagi mereka yang sedari kecil telah terpapar dengan pengetahuan akan internet, pastinya kemampuan untuk mengidentifikasi parameter keakuratan sebuah berita sudahlah bukan hal yang sulit.

Akan tetapi, tak dapat dipungkiri kalau angka dari mereka yang belum memiliki kemampuan tersebut masihlah tinggi. Mereka yang masuk dalam kategori ini biasanya adalah orang-orang dari lingkungan dengan tingkat edukasi rendah, lingkungan terpencil, atau orang-orang dengan usia lanjut.

Jangan salah, meskipun rasionya rendah, namun justru ini cukup berbahaya. Hoax bagaikan sebuah virus. Sekali dipercaya satu individu, maka individu tersebut akan menyebarkan ke orang lain. Begitu terus, hingga jumlahnya semakin banyak. Ketika jumlahnya tinggi, tak menutup kemungkinan bilamana orang yang tadinya tidak percaya berbalik menjadi percaya. Apalagi, terutama di Indonesia, kita hidup di lingkungan dimana mereka yang berjumlah lebih banyak cenderung lebih dijadikan acuan benar atau tidaknya sebuah informasi.

Kapan Pertama Kalinya Berita Hoax Muncul?

Tak ada yang dapat memastikan kapan pertama kalinya berita hoax muncul. Namun yang pasti sudah ada dari zaman dulu. Bedanya, zaman dulu penyebaran informasi tidak semasif saat ini.

Orang-orang di masa lampau cenderung menjadikan media cetak sebagai acuan informasi mereka. Dimana tentunya, media cetak yang dikelola oleh sebuah organisasi perusahaan pastinya adalah sarana informasi yang memiliki kredibilitas tinggi.

Belakangan Ini, Mengapa Berita Hoax Semakin Mudah Tersebar?

Internet. Di zaman dulu, internet belumlah muncul. Beda halnya dengan sekarang dimana seseorang bisa mengakses informasi melalui internet hanya dengan jari dalam hitungan detik. Belum lagi tren media sosial, media pemberitaan “pesanan” pihak tertentu, hingga forum-forum diskusi yang cenderung memiliki moderasi yang kurang ketat.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Bahkan di negara sekelas Amerika Serikat sekalipun, mereka menghadapi maraknya kampanye hitam pada saat Pemilu kemarin yang dikemas dalam kemasan hoax. Sebuah bukti dimana sekalipun angka mereka yang dapat menangkal hoax telah tinggi, namun bukan berarti hoax dapat dihindari.

Di kala pandemi ini, orang-orang cenderung menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Sosialisasi secara langsung mau tak mau dicekal guna meminimalisir penyebaran COVID-19 yang sedang mewabah. Orang-orang mau tak mau lari ke internet. Ada yang memaksimalkan untuk bertukar kabar, koordinasi saat bekerja, hingga sekedar mencari hiburan.

Masifnya penggunaan internet ini pula yang secara statistik mempengaruhi melonjaknya peristiwa persebaran hoax. Jadi, semua menjadi masuk akal untuk memahami mengapa berita hoax semakin mudah tersebar belakangan ini.

Melawan Hoax, Menyelamatkan Masyarakat

Ya, subjudul di atas tidaklah dibuat-buat. Hoax tak seremeh yang kita pikirkan. Hoax dapat mengeskalasi terjadi konflik, yang tadinya berawal dari individu ke individu, sampai berubah menjadi kelompok ke kelompok. Potensi kericuhan akibat hoax bukanlah hal yang mungkin.

Kita bisa melawan hoax dengan beragam cara. Namun poin fokus yang paling perlu diberi marka yaitu dengan cara mengedukasi diri sendiri terlebih dahulu. Sebelum membaca sebuah informasi yang beredar, pastikan terlebih dahulu bahwa informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Caranya? Dengan meriset kata kunci berita yang tersebar menggunakan mesin pencari, menganalisis dan mengedepankan logika dalam menentukan untuk percaya atau tidak terhadap sebuah informasi, hingga yang paling sederhana, tak perlu menyebarluaskan informasi yang kita sendiri pun masih ragu akan kebenarannya.

Cardboard Collectors, Sisi Buruk Negara Singapura — Pagi menyingsing di daratan Singapura. Jarum jam baru menunjukkan angka 5. Namun beberapa lansia nampak telah keluar dari suaka masing-masing seraya mendorong troli barang. Para lansia tersebut bukanlah ingin berbelanja, melainkan memulung kardus guna menyambung hidup. Mereka disebut mendapat label sebagai cardboard collectors.

Infografik Cardboard Collectors
Infografik Cardboard Collectors

Dari pagi buta hingga malam tiba, mereka mampu mengumpulkan hingga 300-400 kg kardus. Per kilogram kardusnya, mereka dibayar sebesar $ 0,04 atau Rp 425. Jika bekerja sepanjang bulan tanpa libur, penghasilan mereka di kisaran $ 900 – $ 1200. Angka yang cukup menggiurkan, bukan? Sayangnya, ini Singapura, bukan Indonesia. Dimana biaya hidup berkali lipat dari negara tercinta kita.

Penghasilan itupun harus dipotong lagi dengan biaya operasional mereka. Mereka biasanya menyewa van untuk mengangkut hasil buruan. Dengan menyewa van, mereka harus membayar biaya sewa, supir, dan bensin. Seringkali penghasilan mereka justru lebih kecil dibanding biaya operasional. Begitu miris.

Pembayaran cardboard collectors

Dimana Keluarga Mereka?

Ada dua faktor yang menyebabkan angka para pekerja lansia ini menjamur di Singapura. Pertama tren tidak menikah lebih tinggi dibanding negara lain. Hal ini menyebabkan ketika usia memasuki senja, mereka tak lain sebatang kara. Yang sialnya, tak semua lansia mendapatkan bantuan pokok dari pemerintah. Sementara di sisi lain, biaya hidup terus merangkak naik seiring majunya industri di Negara Singa itu.

Kedua, karena di sana sendiri orangtua bukanlah pertanggungjawaban wajib seorang anak. Memang, pekerjaan di sana notabene memiliki gaji yang mentereng. Namun ongkos hidup pun sama. Anak-anak mereka yang bekerja hanya mampu menghidupi diri dan keluarganya masing-masing. Itulah yang membuat para orangtua terlantar.

Mendapatkan Bantuan dari LSM

Ada beberapa lansia yang meskipun telah mendapatkan bantuan dari pemerintah, namun tetap menggeluti profesi ini. Namun ada juga yang tak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Akan tetapi, mereka semua dilindungi oleh sebuah LSM bernama HPHP (Happy People Helping People), dimana LSM tersebut menjamin kebutuhan dasar mereka untuk terus hidup .

Jadi sekalipun penghasilan mereka sedang menurun (karena stok kardus tidak selalu banyak), mereka tetap bisa makan dengan layak.


Belajar dari profesi cardboard collectors, sisi buruk bahkan dimiliki negara Singapura sekalipun dalam lingkup masyarakatnya. Itulah pentingnya mensyukuri anugerah dengan terlahir sebagai warga Indonesia.

Negara Paling Islami di Dunia — Setiap jam-jam salat, merdunya kumandang adzan tak pernah absen menggema di telinga kita. Masjid-masjid sahut menyahut, berusaha memanggil setiap umat Muslim di sekitarnya untuk menuntaskan kewajiban mereka. Apalagi kalau bukan ibadah. Wujud syukur dari seorang insan kepada Penciptanya.

Kondisi yang sama dapat ditemui pula di negara-negara lain, terutama yang penduduknya mayoritas pemeluk agama Islam. Bahkan, beberapa negara yang Islam bukanlah agama mayoritasnya pun mengizinkan praktik ini diberlakukan. Toleransi, sebuah kondisi indah dimana sesama umat saling menerima diversitas beragama.

Di balik kebiasaan ini, fakta mencengangkan justru menampar banyak umat Islam di dunia. Ketika banyak negara Timur Tengah yang berusaha menjadi seislami mungkin, ternyata harus kalah bilamana dikomparasikan dengan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an itu sendiri.

Negara manakah yang paling taat terhadap inti dari keislaman? Iakah, Arab Saudi? Palestina? Yaman? Suriah? Bukan, negara ini berada tenggara peta Dunia. Negara yang ternyata mayoritas penduduknya bukanlah orang Islam. Dan yang lebih menjadi pecut teguran, lima besar tertingginya bukanlah negara dengan mayoritas penduduk Islam.

Selandia Baru, Negara Paling Islami di Dunia

Pada tahun 2019 silam, cendikiawan Muslim dari seluruh dunia—termasuk Indonesia—menyusun sebuah data yang menampilkan hasil di luar prediksi. Negara paling Islami dalam tata kelola dan masyarakatnya yaitu Selandia Baru. Diikuti oleh Swedia, Islandia, Belanda, dan Swiss. Negara-negara Islam sendiri malah kurang Islami tata pemerintahan dan masyarakatnya.

Indeks Negara Paling Islami di Dunia
Indeks Negara Paling Islami di Dunia

Peringkat ini tidak menghitung ibadah personal seperti salat, berpuasa, haji. Aspek penghitungan diukur berdasarkan faktor-faktor masyarakat dan pemerintahan Islami sesuai Al Qur’an dan Hadits. Faktor yang dimasukkan ada 46, dipisah dalam empat kategori, mulai dari ekonomi, hukum dan pemerintah, kemanusiaan dan hak asasi, serta hubungan internasional.

Sudahkah Keislaman Tercermin dari Negara-negara yang Mengaku Islam?

Ini Emirat Arab adalah negara Islam pertama yang menduduki posisi paling tinggi dalam indeks tersebut. Sayangnya, peringkatnya cukup bontot, ke-44 dari 151. Kita pun demikian, peringkat 61. Sebagai negara dengan penduduk Muslim yang sangat tinggi, hal ini adalah sebuah pukulan telak agar kita lebih menginstropeksi diri.

Mengapa yang unggul justru adalah negara-negara yang penduduk mayoritasnya bukan Islam? Karena nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Islam yang terutama adalah nilai kemanusiaan. Rendahnya kepastian hukum, korupsi yang tinggi, sampai kebijakan ekonomi yang tidak konsisten, adalah alasan mengapa kita tak cukup Islami dari ketentuan yang tertera pada Al-Qur’an dan Hadits itu sendiri.

Sudahkah masyarakat dan pemerintah kita bersinergi dalam membangun kedisplinan, keadilan, dan kejujuran? Ah, mungkin teramat jauh. Tak perlu berangan-angan tinggi, barang yang tergeletak saja masih sering raib bilamana diletakkan sembarangan. Parahnya, kita malah menyalahkan pemilik barang dengan dalih “siapa suruh ditaruh sembarangan?”

Jepang, contohnya. Negara yang menduduki peringkat ke-16 pada indeks tersebut. Di Jepang, kalau pergi ke foodcourt misalnya, tas berisi barang berharga bisa ditinggal begitu saja di meja saat kita ke counter atau toilet. Dijamin tidak hilang. Islam mengajarkan kejujuran dan melarang keras praktik pencurian, bukan?

Soal lain-lain, misalnya suap. Islam mengajarkan bahwa baik yang disuap maupun yang menyuap itu dikutuk oleh Allah. Tapi berapa banyak diantara kita yang menyuap saat ada masalah birokrasi? Berapa yang kita bayar saat buat KTP yang mestinya gratis? Berapa yang kita bayar saat melanggar lalu lintas agar prosesnya dipercepat?

Kemudian, masalah pendidikan. Kualitas otak anak-anak di negara muslim secara rata-rata tak mampu unggul dalam kancah internasional. Padahal ayat pertama yang turun bisa ditafsirkan agar kita selalu belajar. Perintah untuk membaca, Iqra. Mirisnya, dalih bahwa ilmu agama lebih penting dibanding ilmu pengetahuan seringkali dijadikan tameng untuk mengelak.

Hal-hal di atas barulah beberapa aspek. Masih teramat banyak aspek lainnya yang dijadikan indikator penilaian.

Kemana orang Singapura berlibur? – Memiliki kawasan seluas 719 kilometer persegi, Singapura hanya sedikit lebih luas dari Jakarta (661 kilometer persegi). Kondisi ini membuat wilayah di Singapura cukup padat, sehingga masyarakat “Kota Singa” itu memiliki keterbatasan akses untuk hiburan.

Memang, terdapat beberapa tempat wisata kelas dunia di sana. Akan tetapi, jumlah yang terbatas tentunya membuat masyarakat Singapura cenderung mencari alternatif berlibur di luar negaranya.

Uniknya, kebiasaan berlibur orang Singapura ke luar negeri membentuk fenomena yang cukup menarik untuk diulas. Situasi tersebut membentuk segmen tersendiri yang seakan menjadi ciri khas setiap kategori dalam menentukan lokasi berlibur mereka.

1) Golongan Konglomerat dengan Umur 30 Tahun Keatas

Jamie Chua, konglomerat Singapura saat berlibur ke Jaipur, India
Jamie Chua, konglomerat Singapura saat berlibur ke Jaipur, India

Orang-orang ini akan memilih untuk berlibur ke negara-negara yang justru aneh di telinga para pelancong negara lain. India, Mesir, Switzerland, dan Afrika Selatan adalah favorit mereka.

Mengapa mereka memiliki destinasi ini? Mengapa tidak keliling Eropa atau Amerika? Jawabannya, karena mereka sudah bolak-balik ke sana saat kunjungan bisnis. Alhasil, lokasi mainstream tidak masuk ke bucket list mereka lagi.

2) Golongan Konglomerat dengan Umur 30 Tahun Kebawah

Para anak muda tajir ini lebih memilih menghabiskan waktunya untuk belanja baju di Paris, make-up di Amerika, dan berpesta di Beach Club Bali. Bali jadi destinasi favorit anak muda Singapura, karena selain pantainya yang indah, Bali juga memiliki wisata kuliner yang lezat bagi mereka.

Masakan Singapura tidak memiliki rasa yang sekuat masakan Indonesia, sehingga mereka cinta sekali dengan makanan Indonesia. Anak muda tajir melintir Singapura juga tidak pernah ketinggalan konser bergengsi macam Coachella.

3) Golongan Menengah dengan Umur 30 Tahun Keatas

Penjual di Jepang yang Melayani Turis Singapura yang Berlibur
Penjual di Jepang yang melayani turis Singapura yang berlibur

Mereka akan memilih untuk liburan di sekitar Asia Timur seperti beberapa kota di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan RRT. Agendanya biasanya berburu kuliner. Golongan ini memilih destinasi tersebut karena cenderung lebih terjangkau.

4) Golongan Menengah dengan Umur 30 Tahun Kebawah

Destinasi berlibur orang Singapura golongan bawah dengan umur di bawah 30 tahun
Destinasi berlibur orang Singapura golongan bawah dengan umur di bawah 30 tahun

Kalau anak mudanya, tentu saja lebih memilih ke tempat-tempat rekreasi seperti Disneyland Jepang dan Hongkong, atau Everland Korea Selatan. Ada juga yang sekedar berbelanja di Taiwan, bahkan main judi di Macau.

5) Golongan Bawah Semua Umur

Batam, destinasi berlibur favorit masyarakat Singapura golongan bawah
Batam, destinasi berlibur favorit masyarakat Singapura golongan bawah

Khusus golongan ini, tidak ada diferensiasi umur. Ya, seperti gambar di atas, Batam adalah destinasi utama para pelancong dengan golongan ini dalam menghabiskan waktu berlibur.

Ada beberapa alasan mengapa Batam menjadi destinasi favorit. Namun yang paling utama adalah karena jaraknya yang dekat, akses dan harga di sana juga bisa dibilang cukup murah bila dibandingkan dengan perekonomian masyarakat Singapura golongan bawah sekalipun.


Jadi, sudah tahu kan kemana orang Singapura berlibur?

Ada istilah yang terus dipopulerkan untuk kejahatan lingkungan hidup, yaitu ekosida atau ecoside. Penamaan secara khusus itu penting, untuk memberi tekanan bahwa perusakan lingkungan adalah sebuah kejahatan. Namun, menurut Kepala Desk Politik, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional, Khalisah Khalid, itu bukan kampanye yang mudah.

“Memang kita dihadapkan pada kenyataan sulit, untuk membawa kejahatan ekosida masuk menjadi wacana publik atau wacana yang ada di pengambil kebijakan. Kita sudah memproduksi gagasan ini sejak 2004 kemudian 2005 menerbitan bukunya,” kata Khalisah.

Kepala Desk Politik,Walhi Nasional, Khalisah Khalid. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Kepala Desk Politik, Walhi Nasional, Khalisah Khalid. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Khalisah menyampaikan itu dalam paparan hasil riset Kejahatan Lingkungan Hidup (Ekosida) di Mata Publik. Acara diselenggarakan Walhi Kalimantan Tengah, Rabu (30/12) sore. Dia mengatakan, kejahatan sektor lingkungan, yang menyebabkan kerusakan luar biasa, telah terjadi selama bertahun-tahun di Indonesia. Kalimantan Tengah menjadi daerah yang bisa dijadikan contoh, bagaimana kebakaran hutan dan lahan terjadi sejak 1997 dan terus berulang, dengan dampak luar biasa dan tidak bisa dipulihkan.

Kampanye Lingkungan Dunia

Ekosida adalah prakarsa internasional. Setelah PBB menyepakati Statuta Roma pada 17 Juli 1998, yang memungkinkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengadili kejahatan kemanusiaan dan mencabut kekebalan hukum. Ada empat kejahatan yang ditangani ICC, yaitu kejahatan kemanusiaan, genosida, kejahatan perang, dan agresi. Pada 2011, Polly Higgins, seorang pengacara dari Inggris menginisiasi amandemen Statuta Roma. Dia ingin ekosida menjadi kejahatan yang bisa dibawa ke ICC. Namun, upaya itu belum berhasil hingga saat ini dan Higgins meninggal pada 2019.

Khalisa mengatakan, ICC sebenarnya memberi respon dan mengajak masyarakat global untuk memberikan perhatian serius kepada konfik agraria dan kejahatan lingkungan. Karena itulah, kampanye mengenai ekosida menjadi penting, khususnya di Indonesia, yang selama ini digawangi Walhi.

Lapindo Sidoarjo. (Foto: VOA/Petrus Riski)

Lapindo Sidoarjo. (Foto: VOA/Petrus Riski)

Walhi, yang mengkampanyekan ekosida sejak 2005, memperjuangkan penerapannya pertama kali dalam kasus Lumpur Lapindo.

“Sayangnya, kasus Lumpur Lapindo diputuskan dalam paripurna Komnas HAM bukan sebagai pelanggaran berat HAM, karena tidak ditemukan terminologi kejahatan ekosida dalam UU 26 tahun 2000, tentang Pengadilan HAM. Jadi, kita terbentur hukum yang formalistik,” tambah Khalisa.

Walhi sebenarnya berharap ada terobosan hukum yang diambil ketika itu, yang tujuannya memberikan keadlan bagi korban dan lingkungan. Namun, karena ekosida tidak menjadi perhatian, bahkan sampai saat ini, terobosan hukum semacam itu tidak pernah diambil.

Untuk menekan pemerintah dalam isu ini, Walhi melakukan riset kepada 1.000 responden di tujuh provinsi, seputar pemahaman mereka terkait ekosida. Hasilnya, lebih 85 persen reponden berumur 16-25 tahun sudah mengetahui, bahwa persoalan lingkungan hidup adalah persoalan struktural dan melibatkan korporasi sebagai kekuatan besarnya. Mereka juga tahu, bahwa ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah dan kemudahan izin yang diberikan.

Responden juga memahami bahwa hak atas lingkungan hidup adalah hak asasi manusia. Sebagian besar responden juga menilai, kejahatan lingkungan adalah pelanggaran berat HAM.

“Bahkan yang sudah tahu tentang ekosida itu angkanya lumayan besar, di atas 50 persen. Sebagai sebuah diskursus baru, mengenal kata ekosida saja itu sudah cukup sangat, meskipun perlu didalami lebih lanjut, sejauh mana pemahamannya,” lanjut Khalisa.

Libatkan Anak Muda Pedalaman

Aktivis Save Our Borneo lPinarsita Juliana. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Aktivis Save Our Borneo lPinarsita Juliana. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Aktivis lingkungan Pinarsita Juliana dari Save Our Borneo menyebut, pemahaman mengenai ekosida juga perlu bagi anak muda di kawasan pedalaman. Banyak aktivitas terkait lingkungan yang mulai diakrabi anak muda perkotaan, tetapi di pedesaan atau bahkan pedalaman, seperti Kalimantan Tengah, kampanye perlu lebih difokuskan. Juliana mengusulkan riset-riset terkait kejahatan lingkungan untuk lebih besar melibatkan anak muda pedalaman.

Sebagai aktivis yang terlibat dalam aksi advokasi di Kalimantan, Jualiana mengaku bisa memahami ekosida sebagai sesuatu yang tidak jauh dari genosida. Apalagi, dia dan banyak aktivis lain saat ini sedang melakukan advokasi untuk masyarakat adat Dayak di Kinipan, Kalimantan Tengah.

“Apa yang sedang terjadi di Kinipan saat ini adalah ekosida dalam bentuk deforestasi. Ketika ruang hidup mereka hilang, sumber daya alam mereka juga hampir habis, karena eksploitasi dari perkebunan kelapa sawit, yang mana ekosida ini, deforestasi ini, ujung-ujungnya bisa jadi kepunahan juga terhadap masyarakat adat Dayak Kinipan,” kata Juliana.

Pembakaran hutan di dekat perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kapuas, dekat Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Reuters).

Pembakaran hutan di dekat perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kapuas, dekat Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Reuters).

Juliana juga mengusulkan, wacana ekosida kini tidak lagi fokus dimasukkan dalam kebijakan pemerintah, tetapi masuk lebih dini melalui kurikulum sekolah.

“Sampai saat ini belum ada kurikulum di Indonesia yang berbasis lingkungan. Padahal masalah yang selalu kita hadapi selalu berkaian dengan lingkungan,” ujarnya.

Indikasi Korporasi Pelaku Ekosida

Akademisi hukum Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, Mariaty A Niun menilai perlu adanya kejelasan soal korporasi terkait tindak ekosida itu sendiri. Sebuah rumusan diperlukan, untuk menentukan korporasi semacam apa yang telah melakukan ekosida. Riset selanjutnya dalam tema ini, perlu memperhatikan hal itu, terutama jika ingin ekosida masuk dalam ranah hukum.

“Apakah semua korporasi itu kemudian menjadi pelaku kejahatan ekosida? Ketika kita lihat judul penelitiannya, kan pertanyaannya, berarti korporasi sebagai pelaku kejahatan lingkungan dan bisa jadi itu masuk dalam ekosida. Tetapi kemudian, korporasi yang seperti apa?” tanya Mariaty.

Karena itulah, dalam wacana ekosida ini, Mariaty memandang perlu ditetapkannya sebuah indikator.

“Kita mungkin tidak bisa mengkategorikan semua korporasi sebagai pelaku, ketika kita tidak mempunyai indikator,” tegasnya.

Melihat respon anak muda dalam riset Walhi, Mariaty juga memandang penting kampanye ekosida ke depan lebih banyak dilakukan di media sosial. [ns/ab]

Fakta mencengangkan tentang Jepang — Sebagai sebuah negara maju, kesan positif tentunya melekat di kepala kita ketika mendengar negara Jepang. Terbayang kecanggihan teknologi, kesopanan dan kedisiplinan budayanya, serta paras tampan dan cantik penduduknya.

Sayangnya, semua yang kasat mata ternyata tak sepenuhnya istimewa. Negara yang pernah memainkan peran antagonis di benua Asia ini ternyata memiliki banyak fakta mencengangkan nan kelam yang tak banyak diketahui orang. Apa saja? Berikut fakta mencengangkan tentang Jepang:

1) Fenomena Hikikomori yang Semakin Meresahkan

Hikikomori di Jepang

Di Jepang, Hikikomori adalah kondisi psikologis yang membuat orang menutup diri dari masyarakat, sering tinggal di rumah mereka, dan enggan bersosialisasi. Tak tanggung-tanggung, mereka yang terjerat dalam fenomena ini bisa berdiam diri di rumah sampai berbulan-bulan!

Kita mengenal Jepang sebagai negara yang sangat sistematis, terstruktur, dan maju. Terdengar elegan, namun ternyata inilah faktor pendorong timbulnya fenomena ini. Kemajuan itu menuntut masyarakatnya untuk selalu perfeksionis, hingga menciptakan kesan kaku dan dipenuhi tekanan.

Fenomena yang diidap oleh setengah juta penduduk Jepang ini kebanyakan dialami oleh penduduk berusia remaja hingga pemuda. Tekanan sosial dari lingkungan dan bahkan keluarga sendiri membuat mereka merasa lebih nyaman dengan kesendiriannya di rumah. Selain itu, bullying adalah penyebab terbanyak lainnya.

Para Hikikomori menjadi semakin banyak karena banyaknya siswa atau orang muda yang frustrasi dengan lingkungan mereka yang penuh dengan bully, kesempatan kerja yang sempit, atau bosan dengan kehidupan yang ada di sekitar mereka. Mereka akhirnya mengandalkan orang tua untuk terus menopang hidup mereka, tak sedikit yang berujung dengan bunuh diri karena merasa sia-sia.

2) Masalah Etika yang Begitu Kompleks

Di Jepang, hal yang mungkin dianggap remeh oleh manusia di belahan bumi lain dapat menjadi besar. Ketatnya budaya disiplin dan malu yang secara turun temurun melekatlah sebabnya. Sekali lagi, terdengar begitu ideal. Akan tetapi, dampaknya terhadap individu dapat berbuntut panjang.

Di Jepang, ada sebuah tradisi bernama Harakiri. Tradisi yang cukup fenomenal di zaman dahulu itu adalah cara orang Jepang untuk mempertahankan harga dirinya, baik karena kesalahan maupun rasa malu. Sayangnya, Harakiri ternyata bukanlah sesuatu yang enteng. Harakiri adalah jenis tindakan bunuh diri dengan menyobek perut menggunakan katana.

Fenomena Harakiri di Jepang

Meskipun dewasa ini praktik tersebut semakin menurun, akan tetapi para pelaku Harakiri masih ada, terutama dari mereka yang lahir dari latarbelakang keluarga yang kental budaya. Mirisnya, penyebabnya kebanyakan sepele. Rasa malu atau bersalah akibat perbuatan yang tak sejalan dengan konsep etika Jepang.

3) Jam Kerja yang Sangat Panjang, Namun Kontras dengan Produktivitas

Di Jepang, waktu untuk bekerja seakan mengisi 75 persen dari aktivitas harian orang dewasa. Budaya malu yang besar membuat mereka masih akan terus bekerja untuk pulang lebih larut dari senior mereka. Mereka juga malu bila harus membawa pulang pekerjaan mereka, sehingga negara tersebut masuk ke dalam salah satu negara dengan jumlah jam kerja paling panjang di dunia.

Jam kerja tertinggi di dunia

Dari tabel di atas, mungkin masih ada negara-negara gila kerja lain di atas Jepang. Akan tetapi, tabel produktivitas di Jepang juga menduduki urutan yang jomplang.

Produktivitas kerja tertinggi di dunia

Lagi-lagi, inilah yang menjadi faktor lain yang mendorong penduduk Jepang semakin merasa stres dalam menjalani kehidupan mereka. Pekerjaan dengan beban dan waktu yang menggembung, namun produktivitas dan penghasilan yang tak seberapa.

4) Masalah Populasi I; Tergerusnya Populasi Muda

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan dimana ras Jepang dapat punah dalam beberapa puluh tahun kedepan apabila masalah populasi tak kunjung terselesaikan. Miris, ungkapan tersebut bukanlah omong kosong semata. Semenjak tahun 2008 silam, angka kematian sudah melebihi angka kelahiran di Jepang.

Angka kelahiran dan kematian di Jepang

Penyebabnya bervariasi, namun rendahnya angka pernikahan adalah salah satu pendulang utamanya.

Angka pernikahan dan perceraian di Jepang

Dari grafik di atas, kita dapat melihat bahwa angka perceraian masih rendah, namun angka pernikahan terus menurun. Begitu pula dengan angka kelahiran yang lebih rendah daripada kematian. Hal ini menarik, karena rupanya ada kecenderungan dari penduduk Jepang yang cukup umum saat ini untuk menunda pernikahan, tidak menikah sama sekali, dan banyak juga yang menikah namun berkomitmen untuk tidak punya anak.

Selain itu, isu ketimpangan gender juga membuat wanita di Jepang enggan menikah, atau menikah tanpa mau memiliki anak. Dalam indeks Gender Gap oleh PBB, dari 149 negara, wanita Jepang ada di peringkat 110 sebagai negara dengan perbedaan status terbesar antara Lelaki dengan Wanita. Para wanita menyiasati hal ini dengan mengurangi “beban” mereka, dengan tidak mau mempunyai anak.

Untuk mengatasi tingkat kelahiran yang terus menurun ini, pemerintah Jepang melakukan banyak upaya seperti menjamin biaya sekolah anak, mendukung wanita untuk berkarir dan memiliki emansipasi sesuai perkembangan jaman. Bahkan Jepang mendukung para wanita untuk tidak berganti nama belakang setelah menikah, agar memberikan kesan bahwa wanita kini sudah setara dengan pria.

5) Masalah Populasi II; Overpopulasi Lansia

Lansia Jepang

Pola hidup sehat masyarakat Jepang membuat jumlah manula di sana sulit berkurang, karena hampir seluruhnya berumur panjang. Tercatat, Jepang memiliki lansia dengan jumlah terbanyak di dunia.

Negara Jepang memiliki lansia terbanyak

Hal ini tidak diinginkan pemerintah, karena lansia sudah tidak produktif. Mereka cenderung menjadi beban negara karena tidak bekerja, akan tapi terus membutuhkan biaya hidup. Banyak diantara mereka tidak memiliki pensiun sehingga mengandalkan pemerintah. Beberapa bahkan rela dipenjara demi bisa terjamin hidupnya.

Mereka beranggapan bahwa di penjara jauh lebih baik, karena makan mereka ditanggung. Mereka bahkan mendapat perawatan kesehatan gratis di penjara. Biaya panti jompo sangat mahal, mereka malu jika terus bergantung pada anak-anak mereka, sehingga penjaralah yang menjadi pilihan.

6) Maraknya Pernikahan Aneh

Bukan, ini bukan pernikahan sesama jenis. Bukan juga pernikahan dengan hewan. Melainkan;


Berefleksi dari fakta mencengangkan tentang Jepang di atas, sejatinya pencipta jargon Cahaya Asia itu bukanlah negara yang sempurna. Banyak masalah internal yang terjadi dalam dinamika kehidupan mereka.

Apakah profis siap tinggal di Jepang?

Bendera Brazil sangat rumit — Di antara jajaran negara yang terletak di Amerika Selatan, bisa dibilang Brazil memiliki keunikannya tersendiri. Kondisi geografis yang indah, demografis yang beragam, serta konflik yang kerap terpantik seakan menciptakan ciri khas tersendiri terhadap negara ini. Selain itu pula, bendera Brazil juga memiliki kekhususan yang jarang diketahui orang.

Bendera Brazil

Tampaknya, bendera negara terluas di Amerika Selatan ini cukup sederhana komposisinya. Hanya kotak hijau, belah ketupat kuning, lingkaran biru, tulisan Ordem E Progresso dengan latar putih, dan bintang-bintang. Tapi ternyata, komposisi yang membentuk bendera Brazil ini sangatlah kompleks.

Lingkaran Biru yang Berada di dalam Bendera Brazil Membentuk Pola Rumit

Bagian biru bendera Brazil

Bilamana diperbesar, barulah banyak orang menyadari bahwa titik bintang yang bertengger di bagian biru bendera Brazil memiliki makna tersendiri. Semua bintang disusun menurut konstelasi yang terlihat di langit Rio de Janeiro tanggal 15 November 1889 pukul 8.30 pagi waktu setempat. Ukuran besar kecilnya bintang menyesuaikan dengan luas wilayah masing-masing state di Brazil. Penjelasan mengenai konstelasi bintang dalam bendera Brazil ialah sebagai berikut:

  1. Procyon, melambangkan state Amazonas. Bintang ditempatkan paling kiri melambangkan lokasi state Amazonas yang berada paling barat di Brazil.
  2. Canis Major, melambangkan state Mato Grosso, Amapá, Rondônia, Roraima, dan Tocantins;
  3. Canopus, melambangkan state Goiás;
  4. Spica, melambangkan state Pará. Bintang ditempatkan di atas tulisan Ordem E Progresso melambangkan lokasi state Pará yang berada di atas garis khatulistiwa;
  5. Hydra, melambangkan state Mato Grosso do Sul dan Acre;
  6. Crux Australis, melambangkan state São Paulo, Rio de Janeiro, Bahia, Minas Gerais, dan Espírito Santo;
  7. Sigma Octantis, melambangkan state Distrito Federal atau Brasília yang merupakan ibu kota Brazil;
  8. Triangulum Australe, melambangkan state Rio Grande do Sul, Santa Catarina, dan Paraná;
  9. Scorpius, melambangkan state Piauí, Maranhão, Ceará, Alagoas, Sergipe, Paraíba, Rio Grande do Norte, dan Pernambuco. Bintang-bintang ditempatkan paling kanan melambangkan lokasi semua state yang berada paling timur di Brazil.

Aturan Rumit Lain dalam Menggambar Bendera Brazil

Selain bintang-bintang yang rumitnya bukan main, penulisan Ordem E Progresso juga memiliki aturan sendiri. Huruf P dalam kalimat itu harus berada tepat di bagian diameter vertikal lingkaran. Setiap huruf dalam tulisan Ordem dan Progresso ditulis dengan tinggi 0.33 meter dan lebar 0.30 meter. Tulisan E ditulis dengan tinggi 0.30 meter dan lebar 0.25 meter.


Dari pemaparan mengenai bendera Brazil yang ternyata sangat rumit, sudah sewajarnya kita menanamkan rasa bersyukur karena Indonesia memiliki bendera yang sederhana, namun mampu menuangkan makna filosofis yang begitu dalam.

Prinsip kerja antivirus — Tentunya profis pernah mendengar istilah virus dalam perangkat komputer maupun gawai, kan? Virus yang dimaksud di sini berbeda dengan virus di dunia nyata, ya. Melainkan sebuah program yang sengaja diciptakan untuk mengacaukan, meretas, hingga menghapus data-data yang berada dalam sistem komputerisasi.

Saat ini, ragam merk antivirus sendiri telah menjamur di internet. Berbagai perusahaan teknologi berlomba-lomba menciptakan sebuah antivirus canggih yang bisa diakses penggunanya. Tipenya pun ada yang gratis maupun berbayar. Namun tentunya, antivirus berbayar memiliki sistem proteksi yang lebih canggih dan minim risiko.

Akan tetapi, pernahkah profis penasaran dengan prinsip kerja antivirus itu sendiri? Tentunya rumit. Namun, kami akan menyajikan dengan sesederhana mungkin mengenai bagaimana cara sebuah antivirus bekerja dalam melindungi perangkat profis.

Cara Antivirus Perangkat Bekerja

Pada dasarnya, metode antivirus bekerja adalah dengan pemindaian atau scanning pada setiap aktivitas di dalam perangkat. Seperti ketika ingin membuka dokumen, mengunduh berkas, hingga mengakses sebuah situs. Bilamana antivirus menemukan program yang mencurigakan, maka program tersebut akan diindikasikan sebagai virus. Di sinilah peran antivirus menghapus berkas tersebut dan mencegahnya melakukan duplikasi.

Tak hanya itu, antivirus juga melakukan pengecekan secara rutin pada setiap berkas di penyimpanan perangkat profis. Pengecekan ini bisa dilakukan secara otomatis maupun manual. Namun biasanya, antivirus berbayarlah yang bisa disetel untuk melakukan pengecekan otomatis secara rutin.

Analogi Antivirus Perangkat

Bila dianalogikan, antivirus adalah seorang intelijen kepolisian. Antivirus melakukan pengawasan secara ketat terhadap setiap celah penyimpanan di komputer maupun gawai. Untuk mengidentifikasi setiap program yang aman dan mencurigakan, antivirus bekerja berdasarkan daftar signature atau ciri-ciri virus. Persis seperti ciri-ciri orang, misal tinggi badan, warna kulit dan sebagainya. Kalau virus cirinya berupa rangkaian hexadesimal seperti pada gambar dibawah, maka kotak merah adalah contoh signature virus.

Cara Kerja Pendeteksi Signature Antivirus

Anggaplah daftar signature virus ini seperti DPO (Daftar Pencarian Orang). Artinya, daftar signature tersebut harus rajin-rajin diperbaharui oleh pengembang program antivirus-nya. Setiap ada virus baru yang diketahui signature-nya, maka signature tersebut dimasukkan dalam program antivirus. Hal ini pula yang menjadikan kegiatan memperbarui versi aplikasi antivirus yang terpasang penting.

Seiring berkembangnya teknologi, kejahatan di internet pun semakin beragam. Para pemrogram virus seakan tak kehabisan akal untuk menciptakan virus yang minim terdeteksi antivirus. Signaturesignature baru tersebut disamarkan dengan teknik tertentu, salah satu contohnya teknik heuristic.

Kembali ke analogi, teknik menyamar ini diumpamakan sebagai penjahat yang sedang menyamar. Seperti misalnya, rambut aslinya hitam. Namun memakai wig berwarna pirang. Tujuannya satu, membuat si intelijen (antivirus) kesulitan untuk mengidentifikasi DPO (signature virus-virus baru).

Apakah Penggunaan Antivirus Efektif?

Secara teknis, tak ada satupun antivirus yang bisa memastikan keamanan sistem seratus persen. Terkadang, antivirus itu sendiri bahkan salah menafsirkan program, dimana sebenarnya program tersebut bersih, namun malah diidentifikasi sebagai signature virus.

Penjahat seringkali selangkah lebih maju dari intelijen kepolisian. Tak hanya di dunia nyata, di dunia virus pun demikian. Satu-satunya cara untuk menjauhi perangkat dari serangan virus adalah dengan tidak mengakses dan mengunduh berkas atau situs yang mencurigakan di internet.

Karena internet itu luas, dan kita tak akan pernah tahu ancaman apa yang ada di dalamnya.

Alasan mengapa inflasi dibutuhkan — Di Indonesia, pemahaman akan kata ‘inflasi’ masih seringkali mengalami miskonsepsi atau kesalahan penafsiran. Ketika mendengar inflasi, pikiran kita langsung mengarah pada stigma negatif yang merujuk kepada kondisi perekonomian yang memburuk.

Inflasi bukanlah hal yang mengerikan dalam perekonomian suatu negara. Secara keseluruhan, inflasi justru dibutuhkan agar kondisi ekonomi nasional mengalami kemajuan. Akan tetapi yang perlu digarisbawahi, tingkat inflasi yang dimaksud pun haruslah sesuai dan masih dalam kategori inflasi yang sehat.

Antara Harga (Consumer Price Index (CPI)) dan Inflasi yang Dibutuhkan di Indonesia

Sejak dulu, harga-harga barang maupun jasa di Indonesia memanglah mengalami peningkatan. Indikator ini yang kemungkinan besar dijadikan acuan untuk memberi cap buruk terhadap perekonomian negara, sehingga masyarakat awam menganggap inflasi di Indonesia tinggi dan sulit dikontrol.

Inflasi dan CPI di Indonesia dari Tahun ke Tahun

Mungkin ini akan cukup mengejutkan. Namun setelah menilik grafik inflasi Indonesia sampai tahun 2018 di atas, ternyata angka inflasi kita setiap tahunnya berada dalam tren menurun dan bahkan sedang menuju ke arah inflasi yang sehat. Dari mana indikatornya? Peraturan Menteri Keuangan telah menetapkan standar tersebut dan kemudian dijadikan acuan bagi Bank Indonesia dalam menjalankan tugas.

Bagaimana bisa tingkat CPI dan Inflasi di Indonesia saling bertolak belakang? Pada dasarnya ini adalah pola aritmatika sederhana. Inflasi adalah turunan pertama (first derivative) dari harga. Rumusnya seperti di bawah ini;

Rumus Inflasi

Sukseskah Indonesia Menciptakan Inflasi yang Dibutuhkan?

Grafik Inflasi per Tahun di Indonesia

Kalau melihat data historis, kita berhasil menurunkan persentase inflasi yang dari sebelumnya dua digit (tahun 2000-an), menjadi di bawah lima persen (tahun 2016-sekarang). Prestasi kita ini sering dijadikan contoh keberhasilan pengendalian inflasi, bahkan oleh banyak negara di lingkup internasional!

Pernah mendengar tentang perekonomian Indonesia yang digadang-gadang memiliki pertumbuhan yang signifikan? Secara kasat mata, mungkin banyak dari kita yang menganggap pernyataan tersebut tak lebih dari omong kosong belaka. Namun dari kacamata perekonomian, grafik sukses membuktikan hal tersebut. Dari segi kontrol terhadap inflasi, bisa dibilang, Indonesia berhasil menyabet keunggulan.

Bagaimana Pandangan Ekonomi dalam Menyikapi Kenaikan Harga?

Ekonomi Pembelian

Tak hanya pengusaha, seorang karyawan pun tentunya akan diuntungkan apabila barang dan jasa mengalami kenaikan. Alasannya pun cukup sederhana, kenaikan nilai sebuah barang dapat ditafsirkan sebagai potensi untuk mengembangkan usaha agar menjadi lebih besar, karena tentu saja omset akan ikut naik.

Kenaikan omset adalah peluang perusahaan untuk bisa mengambil langkah ekspansi, baik itu pembukaan pabrik baru maupun penambahan mesin produksi baru. Dampak positifnya bagi masyarakat non-pengusaha, berkembangnya dunia usaha dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan juga potensi kenaikan gaji.

Apabila semua pihak diuntungkan dari segi finansial, maka roda perekonomian akan berjalan dengan pesat. Pembelian akan terjadi dengan impulsif karena orang-orang memiliki daya. Semuanya akan bergerak pesat dalam putaran yang kencang. Selama pemangku kebijakan bisa mengendalikan putaran tersebut agar stabil dan tidak menabrak satu sama lain, maka perekonomian kita akan terus baik-baik saja, bahkan tak menutup kemungkinan mengantarkan negara ke perekonomian yang maju.

Alasan Mengapa Inflasi Dibutuhkan

Inflasi Sehat yang Dibutuhkan

Apabila tak ada inflasi, maka semuanya akan berjalan stagnan, atau bahkan mengalami kemunduran (deflasi). Tidak perlu berangan-angan untuk menikmati kondisi dimana semua harga pokok mengalami penurunan, namun pendapatan meningkat. Karena hal tersebut mustahil adanya.

Perekonomian diciptakan untuk menjaga stabilitas ketersediaan barang. Barang memiliki batas, namun keinginan manusia tak terbatas. Itulah sebabnya kontrol harga (yang merupakan indikator yang sering dikaitkan dengan inflasi) dibutuhkan untuk mencegah kelangkaan sebuah barang.

Jangan salah juga, justru, deflasi dapat berdampak lebih buruk ketimbang inflasi. Inflasi yang tinggi adalah penyakit, namun deflasi justru merupakan penyakit yang sangat sulit untuk disembuhkan. Bila deflasi terjadi, perekonomian akan stagnan, atau bahkan menurun. Gaji pekerja pun akan terdampak dari menurunnya omset para pengusaha. Kalau kondisi deflasi? Tidak ada yang mau beli barang hari ini. Masyarakat memilih untuk menunda konsumsi karena menunggu harga turun. Tunda dan terus tunda. Akibatnya, ekonomi lesu.

Indikator Inflasi Sehat yang Dibutuhkan

Inflasi Sehat yang Dibutuhkan

Kesimpulannya, inflasi itu memang bagus. Akan tetapi tidak sembarang inflasi. Semua orang tentunya menginginkan inflasi yang rendah dan stabil.

• Rendah

Standar rendah setiap negara memiliki hitungan ekonometriknya masing-masing, dan akan menunjukkan persentase yang berbeda-beda. Untuk Indonesia, angka inflasi yang sehat adalah 2–4% per tahun. Jadi tidak terlalu tinggi dan memberatkan, namun kenaikan harga tetap ada supaya hal-hal positif yang sebelumnya telah dijabarkan dapat terwujud. Ini tidak mudah dicapai dan setiap prosesnya patut disyukuri.

• Stabil

Stabil yang dimaksud di sini berarti tidak naik turun secara drastis. Naik atau turun sah-sah saja, tetapi harus perlahan dan sesuai perkiraan. Ini sangat penting agar masyarakat dan pengusaha bisa merencanakan keuangan dengan baik. Investor juga akan yakin dengan kekuatan ekonomi kita karena ada kepastian harga di dalam lingkup perekonomian negara.