MALUTPOST.TERNATE – Sikap ketidaktegasan wali kota Burhan Abdurrahman, terkait orang pertama menggunakan vaksin covid-19 Sinovac, menuai kritik. Akademisi Unkhair Nurdin I Muhammad menilai, sikap Walikota yang masih pikir-pikir, sebagai orang pertama yang divaksin tersebut justru menimbulkan keresahan di publik.

Menurutnya, sikap Wali Kota itu secara tidak langsung semakin membuat warga Ternate resah. Dengan begitu, jika vaksin ini resmi diterapkan di masyarakat, maka akan banyak warga yang menolak. “Harusnya Walikota dengan tegas mendukung kebijakan Presiden. Karena pelaksana kebijakan di tingkat daerah. Jika Walikota saja mengaku masih harus lihat dulu, bagaimana dengan masyarakat nanti,” tandasnya.

Nurdin menyampaikan, ketidaktegasan orang nomor satu di Pemkot itu, mengindikasikan bahwa Pemkot tidak serius melakukan penanganan terhadap wabah Covid ini. Sebab, Covid sampai saat ini tidak ditemukan obatnya dan tidak dapat dipastikan kapan akan berakhir. Belum lagi, saat ini tujuh Provinsi daerah Jawa dan Bali sudah kembali melakukan Pembatasan Sosial sebagaimana yang terjadi di awal penyerangan Covid.

“Harusnya daerah cepat melakukan antisipasi. Faktanya, pemerintah terlihat biasa-biasa saja, tidak ada lagi kegiatan tracking kontak, dan penjagaan setiap pintu masuk. Bahkan, pengawasan penerapan protokol kesehatan juga sudah tidak lagi berjalan. Kita takutkan jangan sampai terjadi ledakan ulang, dan sulit ditangani lagi. Apalagi fasilitas infrastruktur kesehatan di Ternate yang masih minim seperti ini,” tandasnya. (udy/yun)

MALUTPOST.TIDORE – Seluruh Tenaga Kesehatan (Nakes) di Kota Tidore Kepulauan (Tikep) akan divaksin. Untuk tahap pertama akan dimulai Januari hingga April 2020. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Tidore Kepulauan, Abdullah Maradjabessy Rabu (6/1).

Dikatakan Abdullah, langkah vaksin bagi Nakes di tahap pertama merupakan sebuah penghargaan karena mereka sebagai garda terdepan dalam melawan Covid-19. tenaga kesehatan adalah orang yang rentan terpapar virus corona,” ungkapnya.

Disebutkan Abdullah, tenaga kesehatan yang terdatar di Kota Tidore Kepulauan sebanyak 1.076 orang. jumlah ini sudah diinput lewat aplikasi online. “Jumlah ini sudah termasuk tenaga honor, tenaga sukarela dan PNS. Jadi ini sebenarnya menjadi penghargaan. Tapi kami belum tau berapa banyak vaksin yang akan diterima Pemkot Tikep,”akunya.

Dari tahap pertama akan dilanjutkan vasinasi tahap kedua. Di tahap kedua, akan dilakukan vaksinasi terhadap orang-orang yang bekerja di pelayanan publik. Seperti TNI, Polri, Perbankan, PLN, PDAM dan orang lanjut usia (lansia). Sedangkan tahap ketiga akan dilakukan vaksin terhadap orang yang bekerja ditempat kerumunan, utamanya pedagang di pasar. Sedangkan tahap empat untuk masyarakat umum.

Abdullah menjelaskan, pembuatan vaksin menggunakan beberapa metode. “Ada kuman yang hidup tapi dilemahkan lalu disuntik. Kalau vaksin Sinovac adalah kuman yang sudah dimatikan sehingga efek sampingnya sangat kecil,” ungkapnya.

Kata dia, vaksin Sinovac pernah diuji di Indonesia sejak Agustus kemarin. Pengujian tahap ketiga dilakukan da Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. “Mereka yang uji klinis ini sebanyak 1.600 orang. Termasuk Ridwan Kamil,” ungkap Abdullah.

Meski begitu, tingkat keamanan atau kelayakan vaksin masih harus diverifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) termasuk izin edarnya ditambah fatwa halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Karenanya, vaksin Sinivac belum bisa disuntik jika belum ada rekomendasi BPOM dan MUI. “Kalau sudah ada izin edar dari BPOM dan fatwa MUI baru bisa digunakan. Kalau pemerintah sudah keluarkan vaksin ini berarti sudah ada persetujuan dari BPOM,” tandasnya. (aby/aji)

MALUTPOST.JAILOLO – Dinas kesehatan (Dinkes) Pemkab Halmahera Barat memastikan 981 tenaga medis Halbar siap divaksin. Ini dilakukan karena pekerja medis sudah menjadi sasaran tahap pertama untuk diberi vaksin Sinovac virus Corona (Covid-19) asal China tersebut. “Kami belum mendapat informasi dari provinsi berapa jatah vaksin untuk Halbar. Tetapi kalau sesuai sasaran khusus seluruh SDM kesehatan, maka 981 tenaga medis Halbar akan divaksin tahap pertama,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Rofince Kalengit yang dikonfirmasi, Selasa (5/1).

Rofince mengatakan untuk vaksinasi warga belum dipastikan, karena sampai sekarang jatah dari provinsi belum diterima. “Jadi untuk tahap pertama difokuskan bagi tenaga kesehatan,” ungkap mantan Kepala Dinas KB Pemkan Halbar ini.

Diketahui, vaksin Covid-19 asal China yang didistribusikan PT Bio Farma ini tiba di Ternate, Senin (4/1). Jumlahnya 7.160 vaksin yang saat ini disimpan di Malaria Center Gedung IFK Kota Ternate dan tempat penyimpanan gedung Dinas Kesehatan Provinsi Malut. “Prinsipnya saat ini kami masih menunggu informasi dari pemerintah provinsi,” ucapnya.(din/met)

Target 800 Ribu Lebih Warga Malut Divaksin

MALUT POST – TERNATE. Vaksin Covid-19 jenis Sinovac yang didatangkan dari China, tiba di Ternate, Maluku Utara (Malut), kemarin (4/1). Sesuai rencana, para Tenaga Kesehatan (Nakes) yang akan divaksin pertama, selanjutnya pegawai pemerintah yang bekerja pada layanan umum. Selain itu, barulah diberikan ke masyarakat luas.

Sebagian orang yang akan menerima vaksin pertama kali, sejumlah tenaga medis resah. Mereka khawatir akan resiko pasca vaksin yang diberikan. Mereka juga belum mendapat informasi detail terkait keamanan dan keberhasilan vaksin tersebut. “Mungkin ini informasi hoax, tapi sangat membuat kami resah dan khawatir. Apalagi kami orang pertama yang menggunakan vaksin itu nanti, kan wajar bila ada kekhawatiran,” kata sejumlah pegawai Puskesmas di Kota Ternate secara terpisah.

Meski begitu, sejumlah tenaga kesehatan yang enggan namanya dikorankan ini mengaku, tetap siap, bila nanti akan diberi vaksin. “Walau was-was kami tetap siap divaksin,” ujar mereka.

Selain tenaga medis, para pegawai yang akan menjadi sasaran pemberian vaksin juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Bahkan beberapa pejabat di pemkot Ternate mengaku akan kabur bila dipanggil untuk vaksin. “Masalahnya tingkat keakuratannya hanya 60 persen. Bisa saja gagal. Kenapa langsung diterapkan. Harusnya dilakukan uji coba berulang kali dulu. Di banyak negara mereka bahkan menolak vaksin China ini,” kata salah satu Pejabat Eselon II di lingkup Pemkot tersebut.

Kekhawatiran yang sama juga datang dari Kota Ternate, bahkan secara terang-terangan ada yang enggan divaksin. “Saya dan keluarga tidak mau divaksin. Kami sehat tidak sakit. Selain itu sejau ini saya tidak dapat informasi dari pemerintah terhadap jaminan bahwa vaksin ini aman. Dan jika terjadi sesuatu langkah pencegahan seperti apa yang dilakukan nanti. Saya hanya terima informasi, vaksin ini ketika digunakan ada yang korban. Jadi wajar kalau saya tolak,” ujur Hasan Bahta, satu warga Kelurahan Bastiong ini.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Malut, dr. Inhar Sidi Umar mengatakan, pemerintah Provinsi Maluku Utara (Malut) telah menerima 7.160 dosis vaksin yang dikirim dari Pemerintah Pusat Vaksin jenis sinovac itu diterima Pemprov Malut, Senin (4/1) kemarin.

Vaksin tersebut selanjutnya akan didistribusikan ke Kabupaten dan Kota di Malut. “Sudah tiba tadi pagi (kemarin, red). Dalam waktu dekat vaksin ini akan kita distribusi ke 10 Kabupaten/ Kota,” jelasnya. (udy/cr-03/rul)

Pemerintah menyatakan hanya ada 32 juta penduduk yang menjadi peserta program vaksinasi gratis Covid-19. Jumlah ini hanya sekitar 14-24 persen dari keseluruhan target vaksinasi virus corona yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan, yakni sebanyak 107 juta penduduk.

Kelompok prioritas tersebut adalah 1.25 juta tenaga kesehatan dan 4.42 juta petugas pelayanan publik. Ada juga 26,4 juta orang penerima bantuan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS). Selebihnya, 75 juta jiwa penduduk lainnya harus menjalani vaksinasi dengan mengeluarkan ongkos sendiri atau mandiri.

Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Saleh Partaonan Daulay, menyarankan agar vaksinasi Covid-19 dilakukan secara gratis. Menurutnya jika partisipasi warga dalam program vaksin mandiri rendah, maka upaya pemerintah untuk meredam penyebaran virus corona tersebut gagal.

Ampul-ampul vaksin flu siap digunkan di sebuah rumah sakit di Taipei, Taiwan, 1 Oktober 2020. (Foto: ilustrasi/Reuters)

Ampul-ampul vaksin flu siap digunakan di sebuah rumah sakit di Taipei, Taiwan, 1 Oktober 2020. (Foto: ilustrasi/Reuters)

Saleh menegaskan vaksinasi hanya akan efektif apabila diberikan kepada 70 persen atau lebih warga masyarakat.

“Tapi bagi masyarakat yang mau, tanpa memandang mampu atau tidak mampu, ya digratiskan. Sekarang pemerintah hanya melihat yang tidak mampu saja yang digratiskan. Menurut saya kalau mereka mau (divaksin), baik mereka mampu atau tidak mampu, silakan digratiskan,” kata Saleh.

Apabila pemerintah tidak mampu untuk menggratiskan, maka ia berpendapat vaksin harus dipatok dengan harga yang tepat, artinya tidak terlalu mahal dan dengan nominal yang pasti. Rumah sakit pun harus mengikuti kebijakan pemerintah tersebut.

Lebih lanjut, Saleh menyatakan pemerintah setidaknya mengutamakan kota-kota besar yang rawan karena menurutnya kota-kota besar sangat terbuka dan tempat lalu lalang orang masuk dan keluar.

Selain itu, dia juga menambahkan harus adanya pemetaan untuk melihat mana yang masuk dalam zona merah, kuning dan hijau.

Presiden Joko Widodo meninjau pabrikk PT Bio Farma yang akan memproduksi vaksin Covid-19 di Bandung, Jawa Barat, Selasa, 11 Agustus 2020. (Foto: Biro Setpres via AFP)

Presiden Joko Widodo meninjau pabrik PT Bio Farma yang akan memproduksi vaksin Covid-19 di Bandung, Jawa Barat, Selasa, 11 Agustus 2020. (Foto: Biro Setpres via AFP)

Untuk zona hijau, tambahnya, masyarakat yang akan divaksin akan jauh lebih sedikit jumlahnya dibandingkan mereka yang ada di zona merah dan kuning.

Pemerintah, lanjut Saleh harus memastikan vaksin yang diberikan aman, efektif dan bisa meningkatkan imunitas masyarakat. Sosialisasi juga penting dilakukan agar masyarakat memiliki pemahaman terkait vaksinasi tersebut.

“Pemerintah juga harus melakukan sosialisasi supaya masyarakat paham. Sampai hari ini masyarakat masih berpikiran vaksinasi belum tentu aman sehingga sebagian dari mereka belum mau divaksin,” ujarnya.

Sejumlah masyarakat yang ditemui VOA mengaku mengetahui soal akan adanya vaksinasi virus corona, tetapi mereka tidak tahu informasi lebih lanjut terkait hal itu. Kekhawatiran dan rasa takut soal vaksin ini memang menyelimuti sebagian warga Jakarta yang ditemui VOA.

“Saya dengar akan ada vaksinasi tapi saya ngeri ah, takut ga aman,” ujar seorang warga bernama Nadia. Sementara warga lainnya, Dodi, mengaku masih takut karena belum banyak mendengar informasi tentang vaksinasi.

Hal senada juga diungkapkan Vickry. “Tau sih mau ada vaksin tapi aku ga tau deh ikut atau nggak,” tukasnya.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menegaskan dalam waktu dekat pemerintah akan mendatangkan tiga juta dosis vaksin untuk mendukung program vaksinasi pemerintah.

Distribusi vaksin tersebut juga akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari pengiriman satu juta dosis vaksin dari pusat ke daerah. Meski demikian, Terawan enggan memastikan apakah vaksinasi bisa dilaksanakan pada bulan Desember 2020. [ft/ah]

Untuk memastikan keamanan dan keampuhan vaksin COVID-19 yang dikembangkan berbagai perusahaan farmasi di dunia dan sebelum mendapat izin resmi dari regulator yang berwenang, uji klinis tahap tiga sekaligus terakhir vaksin tersebut perlu melibatkan responden dalam jumlah besar. Ribuan orang di berbagai negara menjadi sukarelawan yang berpartisipasi dalam uji tersebut.

Dua partisipan, masing-masing seorang di Bandung, Indonesia, dan seorang lagi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, berbagi pengalaman mereka sebagai sukarelawan. Apa yang mereka harapkan seusai menjadi partisipan uji klinis ini?

Bermula dari SMS yang diterimanya, Herny Mulyani kemudian memutuskan untuk berpartisipasi dalam uji klinis tahap ketiga vaksin COVID-19. Perempuan yang berprofesi sebagai event manager di sebuah perusahaan berkedudukan di Abu Dhabi itu menduga departemen kesehatan setempat mengiriminya SMS tersebut berdasarkan data base rumah sakit yang pernah dikunjunginya.

SMS itu memberitahu tentang pelaksanaan uji vaksin tahap ketiga dan menyertakan tautan registrasi apabila ia berminat bergabung sebagai partisipan uji itu. Mengaku sebagai seorang risk taker, ia malah mengajak suaminya untuk bersama-sama mendaftarkan diri sebagai sukarelawan. Motivasinya?

Herny Mulyani, sukarelawan uji klinis fase tiga vaksin COVID-19 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (Foto: dokumentasi pribadi/Herny Mulyani)

Herny Mulyani, sukarelawan uji klinis fase tiga vaksin COVID-19 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (Foto: dokumentasi pribadi/Herny Mulyani)

“Aku nggak tahu bakal dapat benefit A B C D E. Yang terbersit dalam pikiran, aku ingin mendapatkan vaksin, ini saja,” jelas Herny.

Setelah melalui proses pendaftaran hingga cek kesehatan yang berlangsung dalam satu hari saja, Herny dan suaminya dinyatakan diterima sebagai volunteer.

Lain lagi kisah Adil Maulana, penyiar radio Klite di Bandung. Awalnya ia ragu-ragu ketika diajak istrinya, yang lebih dulu mendapat informasi mengenai kesempatan menjadi sukarelawan dalam uji klinis vaksin COVID-19, untuk bersama-sama mendaftarkan diri. “Dia sudah tahu informasinya lebih dulu, kemudian saya diajak. Saya pikir-pikir, nggak ada salahnya juga,” jelas Adil.

Lucunya, lanjut Adil, setelah keduanya mendaftarkan diri, justru sang istri yang tidak dipanggil menjadi sukarelawan. “Ada juga dorongan buat saya, motivasi saya. Kalaupun ternyata saya betul menerima vaksinnya dan saya kuat, berarti (vaksin) Sinovac memang cocok untuk orang Asia, atau untuk anak Bandunglah istilahnya. Saya bisa memberi gambaran buat yang mungkin nanti divaksin, bahwa tidak akan ada masalah,” imbuhnya.

Kedua sukarelawan ini sama-sama mengikuti uji klinis untuk vaksin yang dibuat oleh perusahaan farmasi China. Di Abu Dhabi, Herny mengikuti uji klinis untuk vaksin buatan Sinopharm, sedangkan Adil untuk Sinovac. Meskipun demikian, keduanya tidak tahu apakah suntikan yang mereka terima adalah vaksin yang dikembangkan kedua perusahaan itu ataukah plasebo.Karena tidak tahu persis itulah, mereka tetap menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan, seperti menerapkan social distancing dan mengenakan masker.

“Kewajibannya sama, kita tetap harus melakukan protokol kesehatan, social distancing, tetap harus memakai masker. Tetap lho, nggak mentang-mentang karena saya volunteer, saya boleh berbuat apa-apa, nggak,” jelasnya.

Kondisi mereka dipantau setiap satu atau dua hari sekali, dan setiap periode tertentu mereka menjalani pemeriksaan kesehatan.

Apa saja yang mereka alami selama mendapat suntikan-suntikan itu?

Herny mengaku merasakan gejala yang biasa dialami sewaktu diimunisasi yang kemudian hilang sendiri dalam tiga hari kemudian tanpa minum obat.

Adil Maulana bersama Wali Kota Bandung Yana Mulyana yang pernah menjadi pasien COVID-19. (Foto: pribadi)

Adil Maulana bersama Wali Kota Bandung Yana Mulyana yang pernah menjadi pasien COVID-19. (Foto: pribadi)

Begitupun Adil yang sempat merasakan ada yang berbeda seusai suntikan dosis kedua, dibandingkan dengan pengalamannya setelah suntikan pertama.

“Ada nyeri otot, kemudian ada agak lemas. Tapi kebetulan keluhan-keluhan itu tidak lama, semua normal kembali. Kurang lebih hampir empat hari,” jelasnya.

Meskipun tidak ada pembatasan yang ia rasakan, setelah tes ke-dua itu Adil diharuskan untuk meminta izin dulu ke dokter apabila ia harus bepergian keluar kota. Ia juga harus melaporkan tujuan, berapa lama bepergian serta keluhan yang mungkin ia alami selama itu.

Bagi Herny, menjadi sukarelawan mendatangkan hal yang tidak diduga-duganya. Ia bebas bepergian di antara tujuh emirat yang tergabung dalam Uni Emirat Arab tanpa menjalani tes COVID wajib. Asal tahu saja, warga nonsukarelawan akan terkena denda yang banyak apabila tidak melakukan tes wajib itu setiap keluar masuk suatu negara.

Beberapa peralatan kesehatan (hadiah) untuk sukarelawan. (Foto: dokumen pribadi/Herny Mulyani)

Beberapa peralatan kesehatan (hadiah) untuk sukarelawan. (Foto: dokumen pribadi/Herny Mulyani)

“Bahkan kalau lewat darat dari Dubai, ada jalur khusus untuk volunteer, red mark, lurus jadi tidak usah mengantre, tinggal memperlihatkan aplikasi saya yang ada tulisan nama, data dan status saya sebagai volunteer. Alhamdulillah saya tidak pernah kesusahan untuk ikut tes-tes itu,” tambah Herny.

Sejumlah alat kesehatan, serta voucher belanja di supermarket yang ia terima juga dianggapnya sebagai rezeki tidak terduga.

Serupa tapi tak sama bagi Adil. Meski tidak menerima kemudahan seperti sukarelawan di Abu Dhabi, Adil menerima uang saku sebagai pengganti ongkos transportasi sewaktu pemeriksaan kesehatan serta asuransi kesehatan selama menjadi sukarelawan.

Lantas setelah menjadi sukarelawan, apa yang mereka harapkan dari vaksin-vaksin yang diujicobakan di negara masing-masing?

Herny berharap vaksin produksi Sinopharm itu efektif. Ia telah mulai beraktivitas di luar rumah sejak Agustus lalu dan hingga kini ia bersyukur karena kondisi ia dan suaminya baik-baik saja. Selain itu, berdasarkan kabar yang ia terima, dari 31 ribu sukarelawan di Abu Dhabi dan Dubai di Uni Emirat Arab, hanya satu yang positif terjangkit virus corona.

Sementara itu, mengingat banyak di antara kasus meninggal adalah tenaga medis, Adil berharap apabila vaksin yang diujicobakan itu terbukti aman, maka, “Para tenaga medis dulu mungkin ya, yang didahulukan mendapatkan vaksinnya. Dan juga mungkin orang yang lebih tua.” [uh/ka/ab]