Calling Visa Israel diaktifkan — Meskipun riskan menimbulkan gesekan dalam internal kenegaraan, lagi-lagi Bapak Presiden Joko Widodo berpartisipasi dalam keputusan kontroversial. Yaitu memberi dukungan terhadap pengaktifan Calling Visa terhadap negara Israel.

Tak dapat dipungkiri, stigma negatif terhadap negara di Timur Tengah itu masih melekat pada banyak kepala masyarakat Indonesia. Tak lain dan tak bukan, alasannya disebabkan oleh karena konflik politik berkepanjangan antara Israel dan negara tetangganya, Palestina.

Walau kebencian ini masih acapkali disalahartikan sebagai konflik keagamaan, namun doktrin turun temurun yang didapati dari lingkungan dan keluarga membuat kebencian terhadap Israel seakan begitu besar.

Apa Itu Calling Visa?

Calling Visa adalah Visa khusus yang diberikan kepada negara-negara dengan kondisi yang rawan pada apek ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lain-lain. Pemberian Calling Visa dari Indonesia dapat diartikan sebagai sebuah tanda percaya terhadap negara-negara yang dianggap rawan tersebut, agar warga negaranya seakan-akan diajak untuk melakukan kegiatan berlibur, atau bahkan berbisnis di Indonesia.

Tak hanya Israel yang mendapat keistimewaan ini. Negara-negara rawan lain seperti Korea Utara, Afghanistan, Guinea-Bissau, Kamerun, Nigeria, Somalia, dan Liberia juga mendapatkan fasilitas yang sama. Konflik politik yang masih terjadi di sana membuat negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam mengasingkan bahkan memboikot produk mereka.

Pada penerapannya, Calling Visa di Indonesia memiliki tim khusus yang berperan untuk menyaring, sebagai upaya penyeleksian ketat sebelum Visa warga-warga negara tersebut disetujui.

Apakah Keputusan Mengaktifkan Calling Visa Israel oleh Pemerintah Sudah Benar?

Ranah benar dan salah dalam aspek pengambilan keputusan sangatlah abu-abu. Setiap individu memiliki pola pikir dan prioritasnya sendiri, sehingga setiap kebijakan tentunya tak dapat memuaskan hati semua orang. Apalagi, Indonesia memiliki pandangan politik yang beragam. Namun tetap, kepentingan umum adalah langkah yang wajib diambil.

Dalam sudut pandang beberapa pihak, hal ini mungkin dianggap mencederai langkah yang pernah diambil Presiden Soekarno. Dimana pada masanya dikenal sebagai sosok yang vokal dalam menyuarakan integritas Palestina.

Kemudian ada lagi perspektif keagamaan, dimana tak dapat dipungkiri beberapa ajaran menstigmatisasi Israel sebagai tokoh antagonis dalam peradaban manusia. Lantas, apakah langkah-langkah untuk meredam kesalahpahaman dan menyukseskan program ini telah diambil oleh pemerintah?

1) Komunikasi Terhadap Pihak-pihak yang Dianggap Memiliki Posisi Krusial dalam Kehidupan Bernegara

Berkaca dari rentetan demonstrasi RUU Cipta Kerja beberapa waktu lalu, pemerintah seharusnya belajar dari kesalahan yang nampaknya sepele. amun berbuntut panjang, yaitu komunikasi. Pemerintah harus mengakui bahwa pada Pancasila sendiri, suara musyawarah masih menempati posisi tertinggi.

Sudahkah pemerintah melakukan komunikasi terhadap petinggi-petinggi organisasi masyarakat yang selama ini dikenal memiliki basis masyarakat bervolume tinggi? Juga terhadap pemuka agama dan adat yang memiliki sudut pandang kontra terhadap kebijakan ini? Poin ini perlu menjadi perhatian penting guna mencegah terjadinya retakan akibat selisih paham.

Pemerintah cukup menjelaskan alasan-alasan penting mengapa kebijakan Calling Visa Israel perlu diaktifkan, serta menegaskan ulang posisi awal yang tetap membela Palestina guna meminimalisir luapan kemarahan beberapa bagian masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga harus bisa meyakinkan kalau program ini nantinya akan menyeleksi WNA Calling Visa dengan proses yang ketat dan rumit. Dengan ini, ak sembarang orang dari Israel bisa memasuki Indonesia.

2) Menjamin Keamanan WNA dengan Calling Visa dalam Menjalankan Aktivitas di Indonesia

Stigma negatif zionisme sukses menciptakan kebencian tersendiri terhadap Israel, bahkan kepada warga negaranya secara keseluruhan. Jangan sampai hal ini menimbulkan masalah baru di lingkup masyarakat apabila nantinya ada turis maupun pebisnis dari Israel yang berkunjung ke Indonesia.

Persekusi dan main hakim sendiri adalah budaya memalukan yang sampai saat ini masih mengakar pada pola berkehidupan masyarakat, terutama di lingkungan menengah ke bawah. Bilamana hal-hal tersebut kejadian pada WNA Israel, bukan tak mungkin Israel akan menutup pintu diplomasi yang Indonesia berusaha tawarkan.

3) Bersiap akan Risiko Jatuhnya Legitimasi Partai Politik Penguasa Rezim Sekarang

Sebaik-baiknya komunikasi tetaplah tak menutup kemungkinan dimana beberapa pihak masih tidak menerima kebijakan ini. Apalagi mengingat kebijakan ini memiliki sangkut paut dengan keyakinan dan agama. Maka langkah pengaktifan Calling Visa Israel harus siap pula disambut dengan gejolak yang ada.

Sekalipun pemerintah berhasil membuat kondisi secara umum tetap kondusif. Namun tetap, nama dan partai asal mereka yang saat ini menyatakan kesetujuannya akan kebijakan ini akan selalu diingat oleh segelintir pihak dengan stigma negatif. Hal ini dapat berpengaruh panjang pada perjalanan karir politik mereka. Juga bisa pula menimbulkan jatuhnya citra dan legitimasi partai yang memboncengi mereka.

Demi Kepentingan Umum

Presiden Joko Widodo Calling Visa Israel

Terlepas dari semua penjabaran di atas, langkah ini tentu bisa dibilang bijaksana mengingat Israel memiliki fasilitas teknologi potensial. Yang tak menutup kemungkinan dapat diadopsi demi kemakmuran rakyat Indonesia itu sendiri.

Ambillah contoh pertanian. Israel yang secara geografis memiliki tanah tandus mampu menyulap lahan mereka. sampai menjadi salah satu negara yang memiliki teknologi pertanian modern sekelas Belanda.

Melihat pola ini, nampaknya pemerintah memang sedang menyetir Indonesia ke arah kemajuan teknologi. Dengan dibukanya pintu diplomasi terhadap negara-negara maju, maka proses Transfer of Technology (ToT) pun dapat terwujud.

Apalagi dengan megaproyek pemindahan ibukota dan wacana pembangunan food estate yang kerap digadang-gadang. aka bantuan teknologi modern dari negara yang sudah lebih dulu menguasai kecanggihan itu perlu kita manfaatkan.