Kristen Gray Gentrifikasi Bali — Tak dapat dipungkiri bahwa media sosial adalah pedang bermata dua. Beragam hal baik maupun buruk dapat diakses oleh siapapun di sana. Bahkan di era digital ini, banyak sekali kasus dan berita yang terendus dari sana.

Di awal tahun 2021 ini, jagat Twitter diramaikan oleh cuitan pengguna yang diketahui merupakan warga negara Amerika Serikat. Cuitan yang kini telah dihapus oleh penulisnya itu cukuplah kontroversial karena menyangkut urusan kenegaraan. Selain itu, kasus ini juga menciptakan banyak opini dari berbagai kalangan, karena disangkutpautkan dengan tensi rasisme dan menjadi perhatian internasional pula.

Kronologi Viralnya Cuitan Kristen Gray di Twitter

Kristen Gray namanya. Melalui akunnya yang bernama @kristentootie, wanita berumur 20-an itu mengisahkan tentang kisah hidupnya di Bali. Cerita ia awali dengan penjabaran tentang nasibnya saat di Amerika Serikat, dimana hidupnya terasa berkekurangan. Sepanjang 2019, wanita itu curhat kalau mendapatkan pekerjaan di Amerika sangatlah sulit.

Cuitan Kristen Gray

Tak tahan dengan kondisi itu, akhirnya ia dan kekasihnya yang juga seorang wanita memutuskan membeli tiket penerbangan ke Bali untuk satu kali jalan. Poin pertama yang dipermasalahkan pun muncul. Kristen Gray dan kekasihnya mengurus izin visa untuk berlibur. Namun hanya membeli tiket sekali jalan (bukan pulang-pergi selayaknya orang berlibur).

Cuitan Kristen Gray

Sesampainya di Bali, wanita itu mencoba peruntungan di bidang yang ia kuasai; desain grafis. Ia bercerita bahwa usahanya bisa dibilang penuh perjuangan. Namun dengan kerja kerasnya, ia pun berhasil mencapai stabilitas finansial di Pulau Dewata.

Cuitan Kristen Gray

Kristen Gray begitu puas dengan kehidupan barunya di Indonesia. Ia merasa banyak kebahagiaan yang dapat ditemukan di Bali. Salah satunya keamanan, biaya hidup yang sangat terjangkau sekalipun untuk bermewah-mewah, serta komunitas kulit hitam dan LGBT yang ia rasa begitu pas dengan mimpinya.

Merebaknya pandemi di Indonesia membuat wanita itu harus menetap lebih lama. Hingga menimbulkan asumsi bahwa visa kunjungannya telah kadaluwarsa. Di utas itu pula, Kristen Gray menjual buku yang berisi tips yang memiliki narasi ajakan agar banyak WNA yang pindah dan memulai hidup di Bali.

Muncullah masalah utamanya. Salah seorang warganet yang membeli buku tersebut membeberkan bahwa Kristen Gray memaparkan secara gamblang tentang tips untuk mengakali visa kunjungan ke Indonesia. Hal yang tentunya sangat bertentangan dengan prinsip negara kita yang mengacu pada hukum.

Digorengnya Isu Rasisme Terhadap Kulit Hitam dan LGBT

Cuitan Pendukung Kristen Gray

Bisa ditebak, warganet Indonesia pun mengeluarkan jurus ketikan pedasnya. Mulai dari kritik yang santun hingga hujatan mulai memenuhi beranda akun sosial media Kristen Gray. Opini pun terpecah. Ada yang fokus terhadap kesalahan yang Kristen Gray lakukan, ada yang hanya sekedar melontarkan ledekan rasis dan orientasi seksualnya, bahkan ada juga yang mendukungnya.

Merasa diserang, Kristen Gray dan beberapa warganet lain yang kebanyakan berasal dari luar negeri pun melakukan pembelaan. Lucunya, pembelaan yang dilakukan pun bukannya fokus pada inti konflik.

Kristen Gray malah playing victim (memainkan narasi kalau seakan-akan ia adalah korban) seolah hujatan yang ia dapat tak lain karena dirinya berkulit hitam dan LGBT. Yang menyedihkan, para pendukungnya juga menyebut kalau masyarakat kita terbelakang, tidak berpikiran terbuka, dan dengki dengan kehidupan orang lain. Padahal, Kristen Gray sendiri melanggar hukum.

Fenomena Ini Sejatinya Telah Berjalan Cukup Lama

Konten YouTube Mencari Uang di Bali

Ketika mengetik kata kunci mengenai mencari uang di Bali, YouTube akan menampilkan banyak konten yang dibuat oleh para WNA di sana. Video yang tampil juga telah diunggah cukup lama oleh kreatornya. Hal ini tentu menjadi bukti kalau praktik serupa tentu sudah menjamur cukup lama di Bali.

Akankah Gentrifikasi Terjadi di Bali Kelak?

Kasus Kristen Gray dan banyak warga asing ilegal lainnya seharusnya cukup kuat untuk menjadi alarm bagi Ditjen Imigrasi. Tak dapat disangkal, mungkin hal ini akan tetap terpendam kalau kasus ini tidak viral. Entah sudah berapa banyak kerugian dari pajak yang dialami negara oleh maraknya praktik yang berjalan sejak lama ini.

Di sisi lain, mencuatnya pemberitaan Kristen Gray di media sosial juga harus diperhatikan agar pihak terkait mengambil tindakan preventif guna mencegah gentrifikasi di Bali. Karena bilamana ini terjadi, akan sangat berdampak pada penduduk lokal yang mayoritas penghasilannya tidak sebesar WNA yang menetap di sana.

Secara sederhana, gentrifikasi adalah kondisi dimana nilai (harga) sebidang tanah di sebuah wilayah yang mengalami kenaikan yang signifikan dan timpang dengan penghasilan masyarakat di sana. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pendatang yang memiliki uang lebih banyak dari segi kurs yang memutuskan untuk menetap di wilayah itu.

Ya, Kristen Gray menampar segenap Indonesia dan memperingatkan kita bahwa peluang terjadinya gentrifikasi di Bali sangatlah besar bilamana pemerintah beserta jajaran terkait tidak ambil langkah tegas.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengatakan pemerintah untuk sementara waktu melarang semua warga negara asing (WNA) masuk ke Indonesia. Hal ini menyikapi ditemukannya strain baru virus corona di Inggris beberapa waktu lalu, yang berdasarkan data ilmiah disebut memiliki tingkat penularan yang lebih cepat.

“Menyikapi hal tersebut, rapat kabinet terbatas tanggal 28 Desember 2020 memutuskan untuk menutup sementara, saya ulangi untuk menutup sementara dari tanggal 1 sampai 14 Januari 2021 masuknya warga negara asing atau WNA dari semua negara ke Indonesia,” ungkap Retno dalam konferensi pers, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (28/12).

Menlu Retno Marsudi dalam.jumpa pers secara virtual, Jumat, 7 Agustus 2020. (Foto: Kemenlu)

Menlu Retno Marsudi dalam.jumpa pers secara virtual, Jumat, 7 Agustus 2020. (Foto: Kemenlu)

Retno menjelaskan, untuk WNA yang tiba di Indonesia pada hari ini sampai 31 Desember 2020, diberlakukan aturan sesuai ketentuan dalam addendum surat edaran (SE) Satgas Penanganan Covid-19 nomor 3 tahun 2020. Yaitu menunjukkan hasil negatif melalui rapid test (RT) PCR di negara asal yang berlaku maksimal 2X24 jam sebelum jam keberangkatan dan dilampirkan pada saat pemeriksaan kesehatan.

Lanjutnya, pada saat mendarat di tanah air, WNA tersebut wajib melakukan RT PCR ulang, dan apabila hasilnya negatif, maka WNA harus melakukan karantina selama lima hari terhitung sejak tanggal kedatangan. Setelah melakukan karantina, WNA kemudian akan melakukan pemeriksaan ulang RT PCR, dan kalau hasilnya negatif, maka diperkenankan untuk melanjutkan perjalanan di Indonesia.

Penumpang yang memakai masker pelindung mengantre untuk uji antigen cepat di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, 22 Desember 2020. (Foto: Antara/Fauzan via Reuters)

Penumpang yang memakai masker pelindung mengantre untuk uji antigen cepat di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, 22 Desember 2020. (Foto: Antara/Fauzan via Reuters)

Untuk warga negara Indonesia (WNI) yang akan pulang ke Indonesia, maka diizinkan untuk kembali ke tanah air sesuai dengan UU Nomor 6 tahun 2011. WNI yang baru datang tersebut juga dikenakan aturan yang sama dengan WNA terkait tes dan karantina.

“Penutupan sementara perjalanan WNA ke Indonesia dikecualikan bagi kunjungan resmi pejabat setingkat menteri ke atas dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat,” ujar Retno.

Muncul Strain Virus Corona Baru, Protokol Kesehatan Tiga M Tidak Cukup

Sementara itu, Pakar Epidemiologi dari Universitas Griffith, Australia Dicky Budiman mengatakan hampir semua virus yang ada pasti bermutasi. Sejak pertama kali ditemukan di Wuhan, China sampai detik ini, tercatat virus SarsCov 2 sudah bermutasi hingga 40 ribuan mutasi.

“Ini adalah pesan penting ketika di China tidak terkendali melahirkan mutasi, ketika di Inggris tidak terkendali melahirkan mutasi walaupun sebelumnya juga ada yang asalnya dari Afrika. Artinya pesan pentingnya adalah ketika kita pun Indonesia tidak mengendalikan pandemi dengan baik, dan memang saat ini situasinya tidak terkendali dengan baik, maka adanya strain baru itu besar kemungkinan terjadi. Tinggal masalah waktu,” ujarnya kepada VOA.

Apalagi, ujarnya strain baru corona yang ditemukan di Inggris ini sudah terbukti 40-70 persen lebih cepat menular. Maka dari itu, pemerintah tidak bisa lagi mengendalikan pandemi dengan cara yang sebelumnya. Dicky menjelaskan pemerintah harus lebih memasifkan lagi tiga T (tracing, treatment, testing).

“Ini sudah tanda yang cukup serius, karena artinya kita sudah tidak cukup tiga M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Tiga T ok, tapi itu harus betul-betul komitmen. Sekarang harus lima M, apa dua M lainnya? Yakni membatasi mobilisasi dan interaksi, dan menjauhi dan mencegah keramaian,” jelasnya.

Petugas bea cukai yang memakai masker pelindung bersiap untuk memeriksa penumpang di terminal kedatangan internasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta, di tengah wabah Covid-19 di Tangerang, 12 Maret 2020. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Petugas bea cukai yang memakai masker pelindung bersiap untuk memeriksa penumpang di terminal kedatangan internasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta, di tengah wabah Covid-19 di Tangerang, 12 Maret 2020. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Menurutnya, langkah pemerintah dengan menutup pintu kedatangan untuk WNA guna mencegah penularan strain baru virus corona sudah termasuk terlambat. Seharusnya, Indonesia melakukan kebijakan pengetatan kedatangan untuk seluruh WNA dari sejak ditemukannya virus ini di tanah air, seperti halnya yang dilakukan oleh Australia.

Ia menjelaskan, penemuan strain barus virus corona di Australia ditemukan ketika dilakukan karantina warga negaranya yang baru melakukan perjalanan dari Inggris. Maka dari itu, menurutnya ada tiga hal yang harus dilakukan pemerintah guna mencegah penularan varian virus corona baru di tanah air.

Pertama, adalah pengetatan di pintu masuk atau kedatangan di bandara, terutama WNI atau WNA yang baru datang dari negara-negara yang sudah memiliki kasus positif dari varian baru virus corona. Saat ini, ujar Dicky sudah 14 negara yang tercatat memiliki kasus positif virus corona dari mutasi baru tersebut.

Petugas memeriksa peti kemas berisi vaksin COVID-19 dari China Sinovac Biotech Ltd., saat tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dalam pengiriman pertama ke Indonesia, 6 Desember 2020. (Foto: Dhemas Reviyanto/Antara via Reuters)

Petugas memeriksa peti kemas berisi vaksin COVID-19 dari China Sinovac Biotech Ltd., saat tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dalam pengiriman pertama ke Indonesia, 6 Desember 2020. (Foto: Dhemas Reviyanto/Antara via Reuters)

“Kalau misalnya positif, dia harus di tes genom sequencing untuk lihat strain-nya, apakah dari UK (Inggris, red) apa bukan. Sambil menunggu, dia harus di karantina. Dan sebetulnya ini harus dilakukan terus menerus, jangan hanya sampai tanggal 14 Januari saja, selama pandemi masih berlangsung kalau bisa,” jelasnya.

Kedua, adalah dilakukannya community surveillance. Pemerintah harus melakukan pendataan minimal selama sebulan terakhir orang-orang yang datang dari Inggris ke Indonesia. Seperti contohnya kru pesawat, diplomat, atau WNI dan diperiksa kemana dan dimanakah orang-orang tersebut. Apabila yang bersangkutan mengalami sakit, segera dilakukan RT PCR.

“Yang ketiga, prospective surveillance. Jadi di Indonesia terutama wilayah yang punya bandara, itu ambil lima persen sampling kasus positif Covid-19, lalu diperiksa genomic sequencing-nya. Untuk mengetahui ada strain virus baru corona atau tidak,” jelasnya. [gi/ab]